
POV Rangga
"Kalau Mas disuruh memilih, Mas pilih siapa, aku atau Resty?"
"Ya kamu lah! Kamu itu istriku. Sedangkan Resty hanya masa lalu. Hubungan aku dan dia sudah selesai sejak dia pergi meninggalkan aku tanpa pesan,"
"Beneran?"
"Benar!"
"Gak bohong?"
"Ngapain aku bohong,"
"Aku mohon pengertianmu. Cuma karena rasa kemanusiaan, aku menolong dia. Penyakitnya sudah parah, dia cuma sebatang kara. Dia tidak punya siapa-siapa lagi."
"Tapi tidak dengan melupakan kewajibanmu kan Mas? Bulan kemarin Mas tidak mengantarku ke dokter obgyn karena Mas ngurusin dia,"
"Iya, maafkan aku, sayang. Waktu itu dia drop. Perawatnya panik dan terus-terusan nelpon aku. Aku jadi tidak mengingat hal lainnya,"
"Termasuk melupakan istrimu?"
"Sudahlah, sayang. Aku tidak berpikir ke situ. Aku juga panik mendengar dia drop. Kamu itu baik-baik saja kan? Aku janji, bulan ini akan mengantarmu periksa ke dokter,"
"Baik. Aku pegang janji kamu. Awas kalau ingkar janji lagi,"
Dan aku ingkar janji lagi pada Rena karena Resty tidak mau melepas genggaman tangannya. Ia ingin aku mendampingi pengobatannya sampai selesai.
"Aku mohon, Mas. Usiaku tidak lama lagi. Ijinkan aku bersamamu. Temani aku menjalani pengobatan yang menyakitkan ini. Setelah aku mati, kamu bisa fokus mengurus istrimu," pinta Resty.
"Tapi Resty ...,"
"Aku ingin bahagia di akhir usiaku, walau kamu bukan milikku lagi. Kuharap istrimu mengerti. Dia wanita yang baik," kata Resty.
Kata-kata Resty membuatku tidak bisa menolak. Aku non aktifkan saja hpku agar aku tidak terganggu urusan lainnya. Aku tidak bisa berpikir jernih kalau sedang panik melihatnya lemah dan pucat pasi begitu.
Ingatan tentang hal itu membuat rasa bersalahku pada Rena Istriku semakin mendalam. Aku menyesalkan kedatangan Resty lagi dalam hidupku dan lemahnya aku untuk menolak keinginannya. Hubungan kami yang dulu selama 5 tahun tidak dapat dilupakan begitu saja.
Walau rasa cintaku yang tinggal sedikit itu pada Resty, tapi dampaknya begitu besar. Aku mengecewakan istriku, seluruh keluargaku dan keluarganya. Dan yang fatalnya, membuat istriku stres di saat hamil 4 bulan hingga melahirkan prematur di usia kehamilan menginjak 8 bulan dan menyebabkan istriku terkena Eklampsia.
Lalu haruskah sekarang aku menerima wanita lain lagi untuk masuk dalam kehidupanku. Sedangkan aku telah mengecewakan banyak orang.
Masih ingat rekaman suara istriku ketika perutnya kontraksi akan melahirkan. Rupanya Wulan sengaja merekamnya atas permintaan istriku untuk diperdengarkan padaku karena istriku merasa tidak akan bertemu lagi denganku.
"Mas, aku tahu kamu lebih berat ke dia. Karena kalian sudah menjalin hubungan sangat lama sebelum dengan aku. shhh .....," terdengar Rena meringis menahan sakit.
"Untuk itu aku ikhlaskan kamu dengan dia. Shhh .... setelah aku melahirkan, aku ingin kita bercerai. Anakku akan bersamaku. Jangan cari diriku dan anakku. Aku akan pergi jauh. Anakku hanya milikku," kata Rena sambil menahan sakit
Itulah kata-kata terakhirnya yang sempat di rekam adikku, Wulan. Dan kata-katanya terbukti. Dia pergi jauh dan tak akan kembali sambil membawa anakku serta. Rena telah menghukumku dengan telak. Aku tidak berdaya. Hukuman ini bahkan lebih pedih dari perceraian.
Rena, wanita dalam hidupku. Yang telah mengobati luka hatiku akibat ditinggal pergi Resty. Yang telah membuat duniaku berwarna kembali. Apalagi kehadiran calon buah hatiku diperutnya, membuat aku semakin sayang padanya.
__ADS_1
Tapi, kehadiran mantan kekasihku kembali, membuat aku sedikit goyah. Aku yang semula marah, akhirnya luluh setelah mendengar penjelasan Resty tentang alasan mengapa dia pergi ketika sudah merencanakan pertunangan. Ternyata dia sakit kanker. Setelah dokter memvonis hidupnya tak lama lagi, dia datang lagi padaku. Bukan untuk meminta kembali. Tapi untuk minta ditemani di sisa hidupnya.
Walau ada rasa sesak mengapa Resty harus datang lagi. Tapi kesalahan bukan mutlak padanya. Aku juga bersalah. Aku yang telah memberinya harapan untuk menemaninya. Walau tidak ada ikatan apapun lagi. Tapi kebersamaan kami dalam menemaninya berobat, telah melukai sangat dalam hati istriku.
Kukira Rena maklum. Kukira Rena kuat. Aku memang lelaki brengsek. Tidak peka. Egois. Maunya Rena mengerti diriku. Tapi aku tidak mengerti perasaannya.
Sekarang aku harus menikahi Raisa, gadis yang tidak lama kukenal dan salah seorang ARTku. Untuk alasan kemanusiaan.
Dia memang cantik. Dia mirip Rena, mendiang istriku. Tapi mereka punya kepribadian yang berbeda. Rena anggun, lembut, pemikirannya dewasa dan berpendidikan. Keluarganya juga sama terpandangnya dengan keluargaku. Sedangkan Raisa kulihat cenderung ceplas ceplos, barbar, emosional dan kekanak-kanakan. Raisa juga cuma gadis kampung yang aku yakin pendidikannya paling tinggi hanya SMA. Raisa memang masih muda. Kuperkirakan usianya sekitar 20 tahun. Tapi Rena juga dulu sewaktu menikah denganku berusia 22 tahun.
Lukisan Rena yang berada dalam kamarkupun aku lukis pada waktu aku baru menikah dengan Rena. Kini setelah sepuluh tahun berlalu, aku melihat Raisa seperti melihat Rena pada waktu awal-awal menikah.
Aku sempat terhanyut oleh kehadiran Raisa di villaku, karena mengingatkanku pada Renaku. Tapi setelah mengetahui wataknya, aku jadi kurang suka. Aku memberi pelajaran yang membuatnya malu. Aku puas melihat wajahnya yang pucat setelah mengetahui siapa diriku. Tadinya dia mengira aku hanyalah karyawan majikannya karena pakaian kebunku yang lusuh. Dia mengira aku tukang kebun. Sungguh lancang sekali perilakunya. Bahkan menuduhku menaruh hati padanya.
Walau ada sedikit rasa kasihan dan sesal telah membuat gadis itu jadi murung dan tidak seperti semula sewaktu pertama kali datang ke villa itu.
Om Adam pun sangat antusias dan mendorong aku untuk membayarkan hutang keluarga gadis itu dan menikahi gadis itu. Entah apa penyebabnya Om Adam begitu aktif dan agak.memaksaku.
Om Adam mendesakku untuk menikahi Raisa. Om Adam mempengaruhiku untuk membuka lembaran baru. Raisa hanya gadis kampung yang polos dan tak berambisi pada harta ataupun status sosial. Raisa hanya butuh perlindungan dari tindakan semena-mena Ibu tiri dan saudara-saudara tirinya.
Bahkan karena sangat terdesak, Raisa tidak akan mempermasalahkan masa laluku. Ia tidak akan menolak untuk dinikahi.
“Oke. Dia sekarang tidak akan mempermasalahkan masa laluku. Tapi bagaimana kehidupan setelah pernikahan? Apa lama-lama ia akan tetap tidak mempermasalahkan masa laluku yang pernah depresi?” aku mencoba berargumen dengan Om Adam.
“Percayalah. Itu tak jadi masalah selama kamu tetap bersikap baik padanya. Tunjukkan bahwa kamu sudah sembuh,” jawab Om Adam.
“Apa dia juga mau menerimanya jika tahu aku tidak mencintainya?” tanyaku lagi.
“Percayalah. Mamamu pasti setuju. Dia tidak akan mempermasalahkan latar belakang gadis itu. Yang terpenting dia bisa membuatmu bahagia,”
“Kamu sudah mengecewakan istrimu yang dulu, setidaknya sekarang kamu harus berusaha menjadi suami yang baik untuk istrimu yang sekarang. Itu adalah penebus kesalahanmu di masa lalu. Tuhan akan melihat usahamu memperbaiki diri. Rena juga di alam sana pasti akan senang melihat kamu menjadi pribadi yang lebih baik,” Om Adam tak bosan-bosan menasehatiku.
Akhirnya aku menyerah. Aku menuruti saran dari Om Adam. Aku akan mencoba membuka hatiku untuk membuka lembaran baru. Aku akan menikahi Raisa. Secara penampilan, dia cantik. Hanya tinggal dipoles sedikit, dia akan menyamai Renaku. Orang yang tak pernah tahu Rena telah tiada pasti akan terkecoh. Aku harus membimbingnya banyak hal. Agar ia dapat menyesuaikan diri dengan kehidupanku dan keluargaku.
POV Rangga off
Sementara itu keesokan harinya, di rumah Raisa, telah ramai dengan orang-orang yang akan menyaksikan akad nikah Raisa dengan Pak Beni. Raisa hanya bisa berdo'a menunggu keajaiban datang. Ia berharap ada seseorang yang akan menolongnya keluar dari permasalahannya. Ia juga mencari-cari celah agar ia bisa melarikan diri dari pernikahan yang tak diinginkannya itu. Tapi ternyata hal itu sangat sulit.
Raisa dijaga ketat oleh orang-orang suruhan Pak Beni. Keluarga ibu tirinya pun tidak mengijinkan Raisa keluar kamar. Ia hanya diperbolehkan ke kamar mandi. Itupun dijaga dengan ketat. Makan pun hanya di kamar sejak kemarin.
“Ya Allah .... tolonglah Hambamu. Aku tak ingin menghabiskan masa mudaku dengan melayani laki-laki tua yang punya banyak istri dan anak. Bahkan sudah bercucu. Kirimkan oleh-Mu seorang pangeran untukku, yang akan membawaku pergi jauh dari Pak Beni dan keluarga ibu tiriku,” gumam Raisa dalam hati.
Do'anya terkabul. Di saat mereka sedang menunggu kedatangan penghulu, Om Adam datang dengan para bodyguardnya untuk bernegosiasi membatalkan pernikahan Pak Beni dan Raisa.
Tentu saja Pak Beni dengan licik menaikkan uang tebusan hutang Bu Hety agar Om Adam mundur membantu Raisa. Tapi ternyata Om Adam tidak mundur.
“Aku sudah diutus oleh keponakanku untuk menebus hutang keluarga Raisa yang dibebankan kepada Raisa. Jadi, batalkan pernikahan ini. Raisa akan dinikahi Rangga, keponakanku,” kata Om Adam.
“He he he .... tidak semudah itu. Hutang Bu Hety memang Cuma 20 juta. Tapi setelah dihitung dengan bunga jadi 50 juta. Tapi aku tidak mau melepaskan calon istri cantikku kalau kau tidak menebusnya jadi 200 juta,” kata Pak Beni tertawa licik.
“Oke. Toni berikan koper padaku!” perintah Om Adam.
__ADS_1
Bodyguard yang bernama Toni mendekati Om Adam kemudian menyerahkan 2 buah koper berisi uang. Om Adam melemparkan satu koper dihadapan Pak Beni.
“Itu uang 200 juta seperti yang kamu pinta! Hutang lunas! Urusan selesai! Kamu harus tinggalkan tempat ini dan jangan coba-coba ganggu Raisa lagi! Kalau sampai kamu mengusik Raisa, aku pastikan kamu akan menyesal telah berurusan denganku!” ancam.Om Adam.
“Dan kalian! Ini juga uang 200 juta untuk menebus rumah ini dari penguasaan kalian! Berikan sertifikat tanah rumah ini! Atau kalian akan menyesal tak akan mendapatkan sepeserpun dariku dan malahan kalian akan masuk penjara karena kalian telah menyekap Raisa!” teriak Om Adam sambil melempar koper berisi 200 juta pada Bu Hety, ibu tiri Raisa.
Ketika Bu Hety akan mengambil koper itu, salah seorang bodyguard Om Adam mennginjak koper itu. Bu Hety jadi terkejut.
“Mana sertifikat tanah ini?!” bentak orang itu.
Dengan segera, Sisil pergi ke kamar ibunya, kemudian dengan rasa takut campur berseri-seri karena akan menerima uang, Sisil menyerahkan sertifikat tanah.ltu pada Om Adam
Pak Beni berdecak.
"Kalian tidak mau menyerahkan sertifikat tanah itu padaku. Kalian juga tidak mau membayar hutang," gerutu Pak Beni pada Bu Hety.
"Kalian sudah mendapatkan apa yang kalian mau! Sekarang secepatnya kalian harus pergi dari sini. Jangan coba-coba mendekati Raisa ataupun cari perkara dengan mengusik Raisa. Karena itu artinya kalian sudah bosan hidup karena akan berurusan denagnku! Camkan itu!" teriak Om Adam.
Rombongan keluarga Pak Beni bergegas pergi dari tempat itu. Sedangkan Bu Hety meminta waktu untuk berkemas-kemas.
"Saya dan anak-anak saya akan pindah ke kota. Jadi beri sedikit waktu untuk kami berkemas-kemas dan mengurus surat pindah," punya Bu Hety.
"Baik. Aku beri kalian waktu hingga 1 jam untuk berkemas-kemas. Dua orang anak buahku akan mengawasi kalian hingga pergi meninggalkan desa ini!" kata Om Adam.
Raisa yang telah didandani ala pengantin, dibawa On Adam masuk ke mobilnya. Dua orang bodyguard duduk di depan dengan salah seorang menyetir mobil itu. Sedangkan bodyguard dua orang lagi mengawasi keluarga Bu Hety di rumah itu.
Raisa duduk di belakang dengan Om Adam.
"Bapak siapa?" Raisa merasa belum mengenal laki-laki matang itu.
"Saya Om Adam. Omnya Rangga, majikanmu," jawab Om Adam.
"Tuan Rangga?! Jadi bukan Om yang ...," Raisa tak melanjutkan kalimatnya.
"Ha ha ha ...! Saya sudah tua! Saya melakukan ini disuruh Rangga," jawabnya lagi.
Raisa berdecih dalam hati. Kenapa harus Rangga. Kenapa bukan orang lain saja.
"Dia mengkhawatirkan dirimu. Dia akan menikahimu besok," ucap Om Adam.
Raisa membulatkan netranya. Kenapa semua laki-laki yang menginginkannya, terlalu terburu-buru ingin menikahinya.
"Camkan perkataanku baik-baik!"
Lalu bla bla bla Om Adam mengatakan sesuatu yang sangat penting yang harus Raisa ingat dan laksanakan.
Tidak ada pilihan lain. Raisa harus menuruti perkataan Om Adam. Ia juga harus mau menikah dengan Rangga. Apakah dirinya bisa bertahan dalam pernikahan itu? batinnya bertanya-tanya.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
TO BE CONTINUED
__ADS_1