TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 8. RASANYA MENJADI NYONYA MUDA


__ADS_3

Malam harinya, Raisa diberitahu Pak Dani untuk makan malam di meja makan. Bagi Rangga, ini pertama kalinya ia makan di meja makan setelah sekian lama selalu makan di kamar. Rangga ingin supaya para ART di rumah itu menganggap pernikahannya pernikahan yang wajar dan normal seperti orang lain pada umumnya.


Setelah hidangan siap, Rangga mengajak Raisa untuk ke meja makan. Mereka duduk berdampingan. Sebagai seorang istri, Raisa mencoba untuk bersikap seperti istri-istri pada umumnya yang melayani suaminya makan. Rangga diam saja, membiarkan Raisa mengambilkan nasi dan lauk pauknya.


"Terimakasih," kata Rangga.


Setelah melayani Rangga, Raisapun mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Merekapun kemudian makan dengan hening. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu. Hanya makan malam dengan hidangan biasa. Raisa tidak menemui kesulitan. Sebelumnya Raisa malah membayangkan makan di meja makan ala-ala orang kaya yang penuh dengan table manner dan alat-alat makan yang bermacam-macam yang cukup membingungkan.


"Besok aku mulai privat seni kriya lagi. Kalau kamu mau, kamu boleh ikut privat," kata Rangga.


Raisa menghentikan makannya sejenak..Ia menatap suaminya. Ada angin apa, suaminya bersikap baik, pikir Raisa.


"Kenapa?" tanya Rangga heran.


"Enggak kenapa-kenapa," jawab Raisa lalu melanjutkan makan.


"Rena juga dulu suka menemaniku melukis. Sekarang aku sedang belajar seni kriya, jadi kamu juga harus menemaniku," ucap Rangga.


"Ooh ...," komentar Raisa singkat.


"Besok pagi sekitar jam 10, kita kan pergi ke Supermarket. Aku mau kamu membeli pakaian lagi. Kamu harus punya pakaian pergi dan pakaian ke pesta. Barangkali ada acara sewaktu-waktu. Juga pakaian sehari-hari yang dibelikan Om Adam tak cocok untukmu. Kamu masih kelihatan udik. Rena itu wanita berkelas. Kamu harus setidaknya menyamai gaya berpakaiannya," kata Rangga panjang lebar. Ia telah menyelesaikan makannya. Ia kemudian menyeka mulutnya dengan tisu lalu meminum air bening di depannya.


Raisa mendelik mendengar Rangga menyebutnya kelihatan udik.


"Oh ya? Katanya aku tidak mungkin disandingkan dengan Renamu? Lalu bagaimana dengan Resty? Apa dia juga wanita berkelas?" sindir Raisa.


Rangga terdiam. Rupanya Raisa telah tahu banyak tentang masa lalunya. Semua orangpun tahu, Resty berasal dari panti asuhan. Hanya karena kegigihan Ranggalah akhirnya dulu keluarga Rangga menerima Resty untuk bertunangan dengan Rangga. Tapi apa yang diperbuat Resty. Setelah Rangga memperjuangkannya, Resty malah pergi tanpa pesan. Hingga membuat batal pertunangan.


"Cukup! Kamu tidak berhak untuk membahas masa laluku! Kita hanya akan membahas masa depan!" Rangga bersiap berdiri dan mendorong kursinya ke belakang.


"Bagaimana orang yang masih terjebak pada kenangan masa lalu? Apa bisa disebut menyongsong masa depan?" sindir Raisa lagi.


Rangga terlihat menahan diri untuk marah. Gadis itu memang terlalu lugas. Baru pagi tadi sudah resmi menjadi istrinya, dia sudah berani mengkritik suaminya.


"Jangan jadi orang sok tahu! Kamu tidak tahu apa-apa!" ucap Rangga dengan wajah memerah menahan marah.


Dengan langkah cepat, Rangga meninggalkan Raisa sendirian di ruang makan. Rangga langsung masuk ke kamarnya. Kamar yang biasa membuatnya nyaman untuk menyendiri.


"Dasar kulkas!" gerutu Raisa.


Semalam Raisa tidur dengan nyenyak. Makanya ia bangun shubuh dengan badan terasa segar dan bugar. Setelah mandi dan menjalankan shalat shubuh, Raisa berniat mencuci pakaiannya dan pakaian suaminya. Lagipula ia ingin membangunkan suaminya untuk shalat shubuh.


Tok!


Tok!


Tok!


Raisa memberanikan diri mengetuk pintu kamar Rangga. Tak lama terdengar pergerakan di dalam kamar. Suara langkah kaki yang mendekat ke pintu kamar.


Cekrek!


Pintu kamarpun terbuka. Tampak wajah tampan Rangga walau dalam keadaan bangun tidur. Raisa terpana sejenak. Tapi buru-buru ia menguasai dirinya.


"Maaf. Saya mau mengambil pakaian kotor Mas. Sekalian membangunkan Mas untuk shalat shubuh," kata Raisa.


"Kamu tidak perlu repot-repot mencuci pakaian! Nanti si Titin yang ke sini mengambil pakaian kotormu dan pakaian kotorku untuk dicuci," sahut Rangga.


"Kamu tidak perlu melakukan pekerjaan rumah. Kamu itu istriku. Biarkan si Titin yang mencuci pakaian kita,"


"Oh iya, aku lupa mengatakannya padamu sebelumnya. Kamu bisa melakukan hal-hal yang kamu sukai kalau kau bosan. Kamu juga bisa ikut berkebun denganku nanti setelah sarapan. Atau kamu mau melakukan apa terserah," kata Rangga lagi.


"Ya sudah. Mas sudah shalat shubuh belum? Lain kali saya ingin shalat berjamaah dengan Mas," ucap Raisa.


Rangga mendengus. Merasa kesal.


"Aku sedang marah pada Tuhanku. Aku tidak mau shalat,"


"Mas! Shalatlah! Sebelum Mas dishalatkan orang lain!"


Rangga membelalakkan netranya. Ia merasa tak percaya Raisa akan mengucapkan begitu padanya.


"Mas sudah umur berapa?"


"Empat puluh tahun," jawab Rangga malas.


"Kita tidak pernah tahu umur kita sampai usia berapa. Mbak Rena meninggal setelah melahirkan. Dia syahid. Dia masuk surga. Sedangkan Mas? Menjalankan shalat saja tidak mau. Apa mungkin bisa masuk surga? Apa mungkin bisa bertemu Mbak Rena dan anakmu nanti di sana?"

__ADS_1


Kata-kata Raisa telak menohok Rangga. Rangga jadi malu. Rangga jadi sadar, ternyata ia mengecewakan Rena. Padahal Rangga ingin bertemu Rena di surga setelah kematiannya suatu saat nanti.


Tanpa berkata apa-apa, Rangga meninggalkan Raisa yang masih berdiri didepan pintu kamar Rangga. Rangga masuk ke kamar mandi. Terdengar suara kran air yang dibuka. Rupanya Rangga sedang berwudhu. Raisapun masuk ke kamar Rangga.


"Kamu mau apa? Pergilah! Aku mau shalat. Kamu puas?!" Rangga keluar dari kamar mandi.


Raisa yang sedang duduk di ranjang sontak bangun. Netranya sempat melirik lukisan itu. Ternyata masih ada di sana. Tanpa berkata apa-apa, Raisa segera keluar dari kamar Rangga.


Rangga segera menghamparkan sajadahnya. Tak lupa ia mengambil sarung dari lemarinya. Setelah memakai sarung, ia segera melaksanakan shalat shubuh. Setelah shalat, ia merasakan kedamaian. Kata-kata Raisa terngiang-ngiang kembali di telinganya. Tiba-tiba air matanya jatuh membasahi pipinya.


"Dia benar! Bagaimana aku bisa bertemu Rena jika aku tidak menjalankan perintah-Mu ya Allah? Apakah pantas pendosa sepertiku bisa masuk ke surga-Mu? Aku bukannya mendekatkan diri pada-Mu. Aku justru beberapa tahun menjauhi-Mu, memusuhi-Mu karena telah merenggut Rena dan anakku. Apakah layak aku dimaafkan oleh-Mu?" lirih Rangga dengan berlinang air mata.


"Terimakasih Raisa. Kau telah menyadarkanku," gumam Rangga.


Ketika Raisa sedang membereskan kamarnya, Titin datang mengetuk pintu kamar Raisa. Raisa segera membukanya.


"Boleh saya masuk Nyonya?"


"Ceuceu! Jangan formal begitu ah!" Raisa menepuk bahu Titin.


Titin tersenyum kemudian masuk ke kamar Raisa. Ia memandang ranjang dan isi kamar itu.


"Kayaknya ada yang habis beres-beres sprei nih!" kata Titin.


"Iya. Emang kenapa?" jawab Raisa balik bertanya.


"Bagaimana malam pertamamu? Seru?" bisik Titin.


Raisa mencebik. Ia berusaha setenang mungkin. Tidak mungkin ia akan jujur pada Titin kalau ia dan Rangga tidur di kamar masing-masing.


"Ck! Rahasia!" jawab Raisa.


"Aku tidak aneh ya. Kalau orang kaya memang punya kamar masing-masing walau suami istri. Karena mereka punya privacy, katanya. Tapi kalau bobo kan pasti bareng dong ya di salah satu kamar kalian," ucap Titin.


Raisa tidak ingin terpancing. Ia harus menjaga rapat-rapat rahasia pernikahannya. Jangankan bobo bareng, bicara berdua juga jarang.


"Jangan kepo ah! Rahasia!" jawab Raisa lagi. Titin terkekeh.


"Aku mau bantuin Ceuceu nyuci ya? Biar enggak bete," kata Raisa.


"Ceu Titin!" Raisa merasa jengah karena Titin menggodanya terus.


"Sudah ah! Kalau keterusan ngobrol, nanti Ceuceu si semprot Bu Irah! Ayo, mana pakaian kotornya, mau dicuci,"


"Nih, pakaian kotorku. Kalau pakaian Mas Rangga, sebentar, tadi Mas Rangga katanya mau mandi dikamarnya. Aku ambil dulu ya. Ceu Titin tunggu aja di sini," kata Raisa. Raisa tidak ingin Titin curiga. Titin mengangguk. Raisapun pergi ke kamar Rangga.


Kebetulan kamar Rangga terbuka sedikit. Kepala Raisa masuk ke sana sedikit.


"Mas, Mas Rangga?" panggilnya.


Sepi. Raisa melihat tidak ada Rangga di sana. Raisapun masuk ke kamar itu. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Raisa terkejut, Rangga juga terkejut.


Rangga terlihat hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya. Bagian dadanya terekspos jelas. Walau sudah berusia 40 tahun, tubuh Rangga masih terlihat gagah dengan dada bidang dan perut six pack.


"Aw! Ma-maaf!" pekik Raisa sambil menutup mukanya.


Rangga mendengus kesal karena Raisa telah membuatnya terkejut


"Lain kali ketuk pintu dulu! Bikin kaget saja!"


"Maaf. Tadi habisnya pintu terbuka sedikit. Dan di dalam tidak ada siapa-siapa," jawab Raisa memalingkan muka sambil tangannya menutupi pandangannya.


"Mau apa ke sini?" tanya Rangga.


Raisa menggerutu dalam hati.


'Memangnya mau apa lagi selain ngambil pakaian kotor suamiku?' katanya dalam hati.


"Mau mengambil pakaian kotor Mas Rangga. Titin sudah menunggu di kamarku. Mau di cuci Titin," jawab Raisa.


"Kamu enggak bilang apa-apa kan tentang kita?" Rangga mendekati Raisa. Aroma sabun menyeruak Indra penciuman Raisa. Segar dan wangi tubuh Rangga.


"Eng-enggak! Cuma bilang Mas Rangga sedang mandi di kamar Mas Rangga," jawab Raisa kikuk.


"Hmmm..... Ya sudah, sana ambil pakaian kotorku di keranjang!" kata Rangga kemudian beranjak menuju lemari pakaiannya.


Raisa buru-buru mengambil pakaian kotor Rangga di keranjang. Rangga dengan santainya memakai kaos yang diambil dari lemari. Tanpa menoleh, Raisa segera keluar dari kamar Rangga sebelum Rangga memakai ****** *****.

__ADS_1


Titin menyeringai di depan pintu kamar Raisa melihat Raisa tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Diapain sama Tuan Rangga? Kok tadi kayak menjerit?"


"Ng anu ..., ada tikus lewat. Jadi kaget," jawab Raisa sekenanya.


"Tikus? Masa sih ada tikus?" Titin menggelengkan kepalanya heran. Tapi ia segera menerima pakaian kotor dari Raisa. Titin segera memasukkan ke keranjang cucian untuk dibawanya ke tempat mencuci di lantai bawah.


Raisa merasa lega karena Titin tidak banyak bertanya-tanya lagi.


"Ayo kita berangkat sekarang ke kebun!" terdengar suara Rangga si belakang Raisa.


Raisa membalikkan badan. Ia terpana melihat Rangga. Baru kali ini Rangga terlihat rapi untuk pergi ke kebun.


"Kenapa? Heran? Supaya aku tidak dianggap tukang kebun lagi oleh istriku," ucap Rangga sambil tersenyum.


Ah, melihat Rangga tersenyum manis, Raisa jadi merasa heran. Suaminya itu kadang ketus dan dingin, menakutkan, tapi kadang bersikap manis. Benar-benar membingungkan!


"Ayo tunggu apa lagi?" ajak Rangga lagi.


"Oh i-iya..Sebentar. Saya ganti baju dulu," jawab Raisa.


"Tidak usah! Cukup yang itu saja! Nanti agak siangan sedikit barulah ganti baju. Nanti kita akan ke supermarket,"


"Sebelum ke kebun, kita sarapan dulu," ajak Rangga sambil menuruni anak tangga. Raisa mengikutinya si belakang.


Mereka kemudian seakan di meja makan. Bu Irah memasak nasi goreng untuk pasangan pengantin baru itu. Rangga tampak lahap menikmati sarapannya. Raisa melirik dari ekor matanya.


Setelah selesai sarapan, merekapun pergi ke garasi. Raisa heran, Tidak ada supir yang biasa mengantar Rangga ke kebun.


Rangga seperti tahu yang dipikirkan Raisa. Ia segera merogoh kunci dari sakunya.


"Kita naik motor saja menikmati udara pagi," Rangga menuntun sebuah motor keluar dari garasi. Setelah menyelahnya, Rangga melihat ke arah Raisa.


"Ayo naik!"


Raisa yang sempat tertegun melihat perubahan Rangga, segera naik di belakang Rangga. Raisa duduk menyamping. Raisa sempat bingung untuk memegang pada apa agar ia tidak terjatuh. Tapi tangan Rangga segera membimbing tangan Raisa untuk memegang pada perut Rangga. Satu tangannya melingkar pada perut Rangga.


"Pegang yang kuat ya, biar gak jatuh. Kita akan melewati jalanan yang sedikit bergelombang," kata Rangga.


"Bukannya kita mau ke kebun?" tanya Raisa


"Kita jalan-jalan dulu melihat kebun teh," jawab Rangga.


Raisa hanya membulatkan netranya tanpa menyahut. Sejak kapan Rangga jadi membuka diri untuk dilihat banyak orang. Bukannya dia selalu bersembunyi dari orang-orang? Dia selalu menyendiri.


Motor yang mereka tumpangi menyusuri jalanan kampung yang memang benar kata Rangga, sedikit bergelombang. Raisa mengeratkan pegangannya pada perut Rangga. Di pinggir jalan banyak orang-orang yang sedang berjalan. Mereka tampaknya akan bekerja di kebun teh yang sebagian besar adalah ibu-ibu.


"Wah, pengantin baru. Sedang jalan-jalan ya Aden?"


"Mau nengok kebun ya Tuan?"


"Aden tumben jalan-jalan,"


Begitulah komentar ibu-ibu pemetik teh itu melihat Rangga yang hari itu berkeliaran di jalanan kampung.


"Iya Bu, permisi duluan," balas Rangga ramah. Raisa pun mengangguk sambil tersenyum pada serombongan ibu-ibu yang sedang berjalan itu.


Setelah sampai di kebun teh yang Rangga tuju. Rangga mengajak Raisa untuk berjalan ke tanah yang agak tinggi. Motor Rangga ditinggal setelah menguncinya.


Raisa berjalan mendahului Rangga. Setelah sampai di tempat yang tertinggi, Raisa dibuat takjub dengan pemandangan di depannya. Hamparan kebun teh yang terlihat hijau cukup memanjakan matanya.


"Indah sekali bukan dilihat dari sini?" tanpa disadari Rangga sudah ada di sebelah Raisa.


"Indah banget!" puji Raisa.


"Raisa. Mulai hari ini, jadilah temanku. Aku selama ini menyendiri. Disini aku tidak punya teman. Hanya Om Adam yang selalu mengunjungiku," ucap Rangga.


"Kalau kemarin-kemarin aku bersikap dingin dan kaku padamu, maafkan. Aku ingin berubah lebih baik. Aku butuh support kamu," ucapnya lagi.


Raisa menoleh pada Rangga. Kemudian mengangguk. Kekesalannya kemarin akan sikap dan ucapan Rangga menguap begitu saja mendengar penuturan Rangga.


"Kamu Nyonya muda di rumah kita. Sudah sepantasnya kamu yang mengatur rumah itu. Kita tidak usah canggung dengan status kita yang suami istri. Kita berteman dulu. Kita perlu penyesuaian," kata Rangga yang tanpa aba-aba tiba-tiba saja menggenggam tangan Raisa.


Raisa dibuat kebat kebit dengan kelembutan sikap Rangga. Duh, dari kemarin-kemarin kek bersikap manis begini.


Akankah sikap Rangga tetap manis? Kita lihat nanti ya. Jangan lupa terus ikuti ceritaku. Jangan lupa tinggalkan jejakmu. Maaf telat up karena ada kegiatan. Semoga saya tetap semangat menulis dengan dukungan kalian. Love you para readersku!

__ADS_1


__ADS_2