
Sudah hampir malam, Raisa belum juga pulang ke apartemen. Rangga yang sudah tiba dua jam lalu mulai gelisah. Walau tadi siang ia sempat mencurigai Raisa bersekongkol tidak baik dengan Om Adam, tapi Rangga tetap mengkhawatirkan Raisa. Sudah puluhan kali ia menelepon ke ponsel Raisa. Tapi ponsel Raisa tidak aktif.
Ranggapun mencoba menghubungi teman-teman Raisa, tapi ternyata Raisa tak bersama mereka. Ketika menelepon ke Daffa, Daffa mengatakan sedang memberi pelajaran pada Om Adam di sebuah tempat, Rangga segera bergegas pergi ke sana. Ia akan cari tahu mengenai Raisa.
Setelah tiba di tempat yang disebutkan Daffa, Rangga langsung masuk ke ruangan yang dijaga anak buah Daffa. Di sana Om Adam sedang diinterogasi oleh Daffa.
"Ayo, ngaku! Om Adam kan yang mencelakakan aku waktu itu?!"
"Bukan! Bukan aku!" jawab Om Adam tersenyum sinis.
"Dengar! Aku kemarin masih bertoleransi untuk memberi usaha pada Om Adam! Tapi kali ini tidak lagi! Om tetap punya niat jahat pada kami, anak-anak Papa Arya! Andai Papa masih hidup, tentunya beliau tidak mau punya adik yang jadi musuh dalam selimut untuk keluarganya!" suara Daffa semakin tinggi.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak! Bukan aku yang mencelakakan kamu!" jawab Om Adam.
"Lalu siapa, kalau bukan Om Adam hah?!" Daffa mencengkeram kerah baju Om Adam. Lalu menghempaskannya.
"Aku tahu! Pasti seseorang yang dendam pada keluarga kita!" Rangga menghampiri Daffa dan Om Adam. Daffa mengerutkan keningnya.
"Kak David! Dia pasti orangnya! Bukan begitu Om? Dan Om yang membocorkan informasi tentang kepulangan Kak Daffa! Iya kan?!" Rangga memicingkan matanya menatap Om Adam.
Om Adam tidak menjawab. Ia hanya diam.
"Kalau saja Om bukan adik Papa, sudah dari dulu Om tak kan dibiarkan ikut mengelola bisnis Papa! Om sudah dapat warisan dari Kakek! Bahkan Papa memberikan warisan bagiannya untuk Om Adam! Apa itu tidak cukup?! Masih kurang?! Mau berapa banyak lagi Om hamburkan?!" Daffa memukul Rahang Om Adam hingga Om Adam terjungkal.
Om merintih kesakitan. Karena tangannya masih terikat sehingga tidak dapat bangun.
"Sekarang jawab pertanyaanku! Dimana Raisa?! Terakhir kali anak buahku melihat Om berbicara dengan Raisa di apotek!" Rangga memegang kedua rahang Om Adam dengan keras. Om Adam meringis kesakitan karena pipinya lebam.
"Mana kutahu! Kamu kan suaminya!" jawab Om Adam kesal.
"Cepat katakan! Dimana Raisa!" bentak Rangga lagi.
"Aku tidak tahu! Mungkin dia benar-benar pergi meninggalkanmu!" jawab Om Adam kemudian terkekeh.
Bugh!
Rangga memukul Om Adam hingga Om Adam terjungkal lagi.
"Aku pergi dulu! Aku harus mencari Raisa," ucap Rangga pelan pada Daffa. Daffa mengangguk.
Rangga meninggalkan tempat itu dengan perasaan berkecamuk. Sepertinya Om Adam jujur, tidak mengetahui kemana Raisa pergi.
Sepanjang malam Rangga mencari Raisa. Di sepanjang jalan, dan di tempat-tempat keramaian, Rangga mencari. Tapi hasilnya nihil.
"Apa benar kamu ingin meninggalkanku, Raisa? Kamu sudah membuat kesepakatan dengan Om Adam? Tapi apa untungnya?" gumam Rangga.
Rangga pulang ke apartemen dengan letih. Setelah sekedar mengisi perut, Rangga yang makan dengan tidak berselera, Rangga membersihkan badan, kemudian langsung pergi tidur
Sementara itu di tempat lain, Raisa yang masih tak sadarkan diri, berada di sebuah ranjang bambu di dalam ruangan yang temaram. Hanya ada sedikit cahaya yang menerobos dari celah angin-angin.
__ADS_1
Seorang penjaga kamar itu membawa sebuah ember berisi air. Dengan gerakan cepat, ia menyiramkan air itu pada wajah Raisa.
Raisa yang cukup lama pingsanpun terbangun karena kaget. Bukan hanya wajahnya, tubuhnya juga basah kuyup.
"Baguslah kamu bangun! Si Bos akan datang melihat kamu!" kata penjaga kamar itu.
Raisa melipat lututnya hingga menyentuh dagu. Raisa mulai menggigil kedinginan.
Terdengar langkah kaki mendekat ke kamar itu diiringi langkah kaki di belakangnya. Tak lama, seseorang masuk. Ternyata itu adalah orang yang tadi siang mengancam Rangga.
"Hmmm .... kau sudah bangun. Mirip sih sama adikku. Tapi Si B*jingan itu tak kan pernah bisa menebus kesalahannya dengan menikahi gadis yang mirip dengan adikku! Si k*ny*k itu harus menderita! Mati pelan-pelan!" teriak orang yang bernama David.
"Kamu akan kami sekap di sini! Biar Si B*jing*an itu kelimpungan mencarimu!" David tersenyum sinis.
"Apa salahku?! Aku tidak tahu apa-apa persoalan kalian! Lepaskan aku!" teriak Raisa.
"Kesalahanmu? Kamu mirip dengan adikku! Jadi, aku tak akan membiarkan lelaki bre*ngs*k itu hidup bahagia!" tegas David.
"Kunci lagi pintunya! Jangan sampai dia kabur!" kata David pada penjaga pintu kamar itu.
David bergegas keluar. Penjaga kamar itupun keluar. Pintu kamar langsung dikunci dari luar.
🌺🌺🌺🌺🌺
Tengah malam, tiba-tiba Raisa merasa tubuhnya diserang rasa dingin yang amat sangat. Ia menggigil kedinginan. Ia sudah meringkuk dan mengepalkan tangannya untuk mengendalikan rasa dinginnya. Tapi rasa dingin itu bukannya pergi, malah semakin menjadi.
Penjaga itu panik. Ia segera memanggil temannya untuk menyiapkan mobil. Setelah mobil siap, ia mengangkat tubuh Raisa untuk dibawa kedalam mobil. Diletakkannya Raisa di jok belakang kemudi. Raisa sudah tak sadarkan diri.
"Tuan! Maaf mengganggu! Perempuan yang kita sekap itu, sakit. Saya akan membawanya ke rumah sakit," Penjaga itu menelepon David
"Bodoh! Kau bawa saja ke rumah dokter Vira, dokter keluargaku! Terlalu beresiko kalau di bawa ke rumah sakit! Nanti aku menyusul!" kata David.
"Baik, Tuan!"
Tapi sebelum ke rumah dokter Vira, anak buah David itu pergi ke rumahnya terlebih dahulu, meminta pakaian pada istrinya untuk mengganti pakaian Raisa yang basah. Istrinya penjaga itu tanpa banyak bertanya, mengganti pakaian Raisa yang basah dengan pakaian darinya yang sudah tidak muat.
Kemudian Raisapun dibawa ke rumah dokter Vira. David tiba bersamaan dengan mobil yang membawa Raisa. David meminta maaf pada dokter Vira karena mengganggu istirahat dokter Vira.
"Tak apa Pak David. Sudah jadi tugas saya sebagai seorang dokter. Ayo, bawa masuk pasiennya," kata dokter Vira.
Setelah diperiksa, disuntik dan diberi obat, merekapun meninggalkan rumah dokter Vira.
Didalam mobil, David memikirkan ucapan dokter Vira.
"Pasien kedinginan. Entah apa yang terjadi Pak David? Saya harap pasien diberi minuman yang hangat dan tidur dengan diberi selimut. Cepat diminum obatnya agar besok dia bangun dalam keadaan bugar," kata dokter Vira.
"Baik, dokter. Sebenarnya kami menemukannya tergeletak dipinggir jalan sewaktu hujan tadi sore," jawab David berbohong.
Ketika tiba di sebuah rumah tempat menyekap Raisa, mereka membawa Raisa ke kamar itu lagi. Tapi kali ini anak buah David memberikan bantal dan selimut untuk Raisa tidur. Raisapun siuman dari pingsannya. Ia kebingungan karena pakaiannya telah berubah.
__ADS_1
"A-apa yang terjadi? Kenapa pakaiankku berubah? Mana pakaianku?" tanya Raisa.
"Pakaian kamu basah. Istriku yang sudah menggantinya. Minumlah air hangat ini dan juga obat dari dokter ini," kata laki-laki itu.
"O-obat?" Raisa bingung.
"Kamu pingsan. Kamu harus minum obat supaya cepat pulih. Aku tidak ada masalah denganmu. Aku tidak mau bermasalah kalau terjadi apa-apa denganmu. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada Rangga!" ucap David.
"Saya tidak akan melawan, apalagi kabur dari sini. Saya memang ingin pergi dari hidup Mas Rangga. Tolong sembunyikan saya dari Mas Rangga. Saya tidak ingin bertemu dan kembali padanya," kata Raisa.
David terkejut mendengar perkataan Raisa. Karena wanita itu kelihatan bersungguh-sungguh dengan perkataannya.
"Entah apa yang terjadi diantara kalian. Baiklah, saya akan menyembunyikan kamu. Asal kamu berjanji tidak akan kabur, saya akan memperlakukan kamu tidak seperti tawanan," kata David dengan pandangan menyelidik.
"Saya tidak akan kabur. Anda tenang saja. Saya tidak ingin bertemu Mas Rangga," ucap Raisa.
David menatap Raisa. Memang mirip! Seketika netra David berkaca-kaca teringat Rena, adiknya. David buru-buru memalingkan muka untuk menghapus air matanya yang hampir menetes.
Setelah Raisa minum obat dan meminum air hangat secukupnya. David dan anak buahnya meninggalkan kamar itu. Raisa merebahkan diri di ranjang bambu. Bantal dan selimut dari mereka membuat tidur Raisa lebih nyaman.
Esok harinya Raisa bangun dengan keadaan yang lebih baik. Tubuhnya serasa sehat. Pintupun di buka. Seorang wanita paruh baya masuk ke kamar.
"Nona, saya diperintahkan Tuan David untuk mengantar Nona untuk membersihkan diri. Ini ada beberapa potong pakaian untuk Nona dari Tuan David," kata wanita paruh baya itu.
"Terimakasih, Bu," Raisa menerima paper bag berisi pakaian.
"Mulai hari ini, Nona bisa membantu Bu Asih menyiapkan makanan untuk pekerja di kebun. Saya akan tetap memantau Nona. Jadi jangan coba-coba Nona ingkar pada janji Nona," kata penjaga yang kemarin menolong Raisa
"Itu tidak akan terjadi. Saya akan tepati janji saya," jawab Raisa.
Raisapun kemudian diantar ke kamar mandi oleh wanita paruh baya yang bernama Bu Asih. Setelah Raisa masuk kamar mandi, Bu Asih melanjutkan pekerjaannya memasak di dapur.
Sementara itu, Rangga menghubungi seorang temannya yang bekerja sebagai detektif swasta. Rangga meminta pada temannya itu untuk mencari keberadaan Raisa. Kemungkinan Raisa di culik. Itu berdasarkan info yang didapat dari orang-orang di sekitar gedung tempat pameran dan apotek tempat terakhir kali Raisa terlihat.
Pameran lukisan hari kedua yang merupakan hari terakhir, dilalui Rangga dengan perasaan tak tenang. Para pengunjung pameran ramai melihat lukisan Rangga. Malah beberapa orang sudah melakukan penawaran untuk membeli lukisan di sana. Rangga menyerahkan transaksi jual beli lukisan pada asistennya yang telah ditunjuk.
Rangga pergi ke sebuah ruangan tertutup untuk beristirahat. Sambil melihat-lihat galeri di ponselnya, ia melihat-lihat foto-foto Raisa. Dari dalam hatinya timbul pertanyaan, apakah Raisa benar-benar mengadakan kesepakatan dengan Om Adam atau tidak. Kalau Raisa memang jujur tidak bersekongkol dengan Om Adam, dan Raisa benar-benar di culik. Di culik oleh siapa? Bahkan sampai saat ini tidak ada telepon ataupun pesan yang meminta uang tebusan.
Perasaan Rangga jadi tak menentu. Antara perasaan bersalah dan juga kemungkinan Raisa berkhianat padanya. Oleh sebab itu Rangga harus menemukan Raisa secepatnya. Agar semuanya menjadi jelas. Sehingga Rangga dapat mengambil keputusan yang tepat mengenai nasib pernikahannya dengan Raisa.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Rangga segera membuka pesan itu.
Pesan apakah dan dari siapa?
TO BE CONTINUED
Maaf Ya reader karena Othor tidak bisa cepat2 up. Coba para reader lebih banyak lagi untuk komen, like dan vote. supaya Othor semangat up.
__ADS_1