TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 14. RAHASIA OM ADAM (Part 1)


__ADS_3

Sebaiknya Bab ini dibaca malam hari. Biar gak batal puasanya.


Setelah terjadi perdebatan, akhirnya Raisa memilih pasrah terhadap keputusan Rangga. Bagaimanapun sebuah keluarga baru lebih baik hidup mandiri, tidak bergantung pada orangtuanya.


Azas manfaat, itulah yang menyebabkan Raisa mengalah. Apartemen itu dibeli Rangga hasil keringatnya sendiri ketika akan berumahtangga dengan Rena dulu. Daripada Raisa bersikukuh tidak mau tinggal di sana, maka mereka harus mencari kontrakan karena untuk membeli rumah ataupun menyewa apartemen lain itu butuh waktu. Sedangkan Rangga ingin segera pindah dan hidup mandiri.


Setelah melihat apartemen, Rangga mengajak Raisa ke toko yang menjual ponsel. Rangga membelikan Raisa sebuah ponsel keluaran terbaru yang cocok untuk Raisa. Sebuah ponsel berwarna silver sudah Raisa miliki. Ia tinggal belajar cara menggunakannya.


Karena Raisa sebelumnya sudah pernah menggunakan ponsel jadul, tak butuh waktu lama, Raisa cepat paham cara menggunakan fitur-fitur yang ada di ponsel canggihnya. Rangga memang pandai membuat Raisa melupakan kekesalan Raisa tentang sejarah apartemen itu. Raisa asyik mencoba-coba menggunakan berbagai fitur yang ada di ponsel itu. Hingga ketika sampai di rumah mertuanya pun tak disadarinya.


"Raisa. Sudah sampai," kata Rangga.


"Oh. Sudah sampai ya? Maaf, keasyikan main hp," ucap Raisa malu. Iapun segera turun dari mobil. Ia tak mau kalau sampai Rangga yang membukakan pintu mobil. Ia terbiasa mandiri.


"Besok kamu dijemput Pak Wira untuk ke Bogor. Kamu ke sana untuk mengemas barang-barang kita di villa. Nanti aku akan menyusul dua hari lagi. Pekerjaanku sedang banyak-banyaknya Jadi enggak bisa bareng," kata Rangga.


"Iya, Mas," jawab Raisa.


🌻🌻🌻🌻🌻


Pak Wira menjemput Raisa ketika hari sudah sore. Ada urusan keluarga Pak Wira yang tidak dapat ditunda. Sehingga Pak Wira bisa menjemput Raisa sore menjelang malam.


Lebih dari satu jam, mobil yang ditumpangi Raisa hampir sampai villa. Itu karena tadi terjadi kemacetan di jalur ramai karena waktunya para pekerja pulang. Tapi tiba-tiba saja mobil yang dikendarai Pak Wira itu sedikit oleng. Pak Wira menghentikan mobil itu. Kemudian keluar untuk memeriksa ban mobil. Ternyata benar! Salah satu ban belakang mobil itu bocor. Rupanya ada paku yang menancap pada ban itu.


"Nyonya, satu ban belakang mobil ini bocor. Saya akan mengganti ban. Tapi barangkali Nyonya lama menunggu, saya akan cari pengendara motor yang mau mengantarkan Nyonya pulang ke vila," kata Pak Wira menghampiri Raisa yang duduk dekat jendela.


"Tidak usah, Pak Wira! Saya jalan kaki saja. Sudah dekat ini kok," Raisa keluar dari mobil.


"Benar tidak apa-apa Nyonya kalau jalan kaki?" Pak Wira ingin memastikan.


"Tidak apa-apa. Pak Wira tenang saja. Saya duluan ya," Raisa melenggang pergi. Pak Wira mengangguk hormat.


Raisapun jalan kaki menuju villa. Memang sedikit lagi sampai. Raisa menggelengkan kepala dengan kejadian itu.


"Ada-ada saja!" gumamnya.


Raisa meraih pintu gerbang. Ternyata tak dikunci. Mobil Om Adam terparkir di halaman villa. Kalau ada urusan, Om Adam memang kadang suka menginap di villa itu. Urusan apa, Raisapun tak tahu. Mungkin urusan bisnis atau mungkin urusan keluarga. Karena rumah Om Adam menurut yang Raisa dengar, berada di luar kota. Tapi dimana, Raisa tak tahu.


Raisa memutuskan untuk masuk diam-diam saja ke villa itu. Selain supaya tidak mengganggu Om Adam, juga Raisa tidak ingin merepotkan para ART yang akan sibuk melayaninya bila tahu ia datang.


Dengan menggunakan kunci duplikat, Raisa membuka pintu depan bagian villa itu. Iapun mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan.


Samar-samar, terdengar suara ******* dan erangan. Padahal hari baru saja beranjak malam. Suasana yang sepi dan senyap, membuat suara-suara itu semakin jelas terdengar ketika secara perlahan, Raisa mendekati sebuah kamar di lantai satu itu.


"Iya, terus sayang ...., hmmm iya, jilat di situ....., enak sayang ..., hmmm....," terdengar suara seorang laki-laki seperti sedang mengg*ram keen*kan.


Deg!


'''Itu seperti suara Om Adam!' gumam Raisa dalam hati, 'Sedang apa Om Adam?'


"Sekarang sep*ng, cantik!" terdengar lagi suara Om Adam. Terdengar suara-suara aneh.


'Suara apa itu?!' Raisa semakin penasaran. Didekatkannya telinganya pada daun pintu kamar itu.


"Argh ....! Cukup sayang! Sekarang saatnya ke nirwana!" suara Om Adam terdengar lagi.


Terdengar suara ranjang berd*rit, seperti terjadi pergerakan di sana. Tak lama suara ranjang berd*rit semakin intens diiringi suara d*sahan seorang wanita.


"Ah, ah ...Om ...! lebih cepat lagi Om!"


Deg!


Raisa kembali dibuat terkejut.


'Suara Ceu Titin?!' Raisa hampir tak percaya. Itu memang suara Titin!

__ADS_1


"Bagaimana, Tin? En*k? Kamu selalu ket*gihan kan?" suara Om Adam sedikit terengah.


"Iya, Om! Terus Om! Lebih dalam lagi Om! Aahh ...!" Titin memekik.


Netra Raisa membulat lebar. Mulutnya yang terperangah segera di bekapnya. Raisa mengerti sekarang. Raisa mengerti aktivitas yang sedang dilakukan dua orang dewasa itu.


"Kamu suka? Kamu suka ini, hmm?!"


"Suka Om! Shh ....!"


Terdengar suara-suara itu lagi.


Raisa bergidik jijik. Ternyata kedua orang yang dikenalnya itu melakukan hal menjijikan! Di saat orang lain sedang beribadah menghadap Sang Khalik, mereka melakukan perbuatan tak sen*noh.


Raisa hampir saja menggedor pintu kamar. Tapi pikiran warasnya segera bekerja. Ia tak boleh gegabah. Bisa saja nanti Om Adam marah dan akan bertindak menyakitinya. Tidak ada Rangga di sini. Ia takut Om Adam bertindak di luar nalar.


Raisa memutuskan untuk naik saja ke lantai dua. Ia akan kembali ke lantai satu nanti. Ia akan menunaikan shalat maghrib terlebih dahulu. Selanjutnya ia akan menginterogasi Titin. Ia akan mencari tahu celah kelemahan Om Adam.


Setelah selesai shalat, Raisa turun lagi ke lantai bawah. Ia duduk di ruang tengah, dekat kamar dimana dua orang itu berada. Raisa menunggu mereka sambil melihat-lihat fitur ponsel barunya.


Benar saja! Setengah jam kemudian, terdengar suara handle pintu diputar. Pintu kamarpun terbuka. Ternyata Titin yang keluar lebih dulu. Ia belum menyadari ada Raisa di ruang tengah. Barulah setelah ia menutup pintu kamar, ketika balik badan, ia mendapati Raisa yang tengah duduk santai sambil memandang ke arahnya.


"Nyo-nyonya Raisa!" pekik Titin terkejut.


"Hallo Ceu Titin?!" Raisa tersenyum seperti mengintimidasi.


Dengan perasaan kikuk dan jantung yang berdebar, Titin menghampiri Raisa.


"Ceu Titin seperti habis bekerja berat. Keringatnya sampai netes-netes dari dahi ke leher," ujar Raisa.


"Nyonya sudah lama datang?" Titin malah bertanya.


"Aku sudah satu jam yang lalu tiba di sini. Kukira tak ada siapa-siapa. Ternyata ada tamu," sindir Raisa


Titin langsung berlutut dihadapan Raisa.


"Memangnya kenapa?" tanya Raisa.


"Saya masih mau bekerja di sini! hiks hiks!" Titin menangis.


Lalu Titin bangkit dan mengajak Raisa untuk naik ke lantai dua.


"Saya ingin menceritakan sesuatu pada Nyonya! Supaya Nyonya tahu alasan saya melakukan hal itu," kata Titin.


"Itu urusanmu, Ceu Titin! Yang aku sesalkan, mengapa kalian melakukannya di rumah ini?! Bikin dosa dan bikin sial semuanya!" kata Raisa kesal.


"Pelankan suara Nyonya! Ayo kita ke atas saja! Saya takut Om Adam bangun. Saya takut Om Adam nanti berbuat nekat pada Nyonya!" kata Titin dengan suara pelan.


Raisapun menuruti perkataan Titin. Titin menarik tangan Raisa agar segera naik ke lantai dua. Setelah berada di lantai dua, Raisa membukakan pintu kamarnya. Raisa dan Titin pun masuk kamar Raisa. Pintu kamarpun ditutup.


Raisa duduk di ranjang. Titin memindahkan kursi yang berada di depan meja rias menjadi menghadap Raisa.


"Sudah berapa lama Ceu Titin melakukan itu dengan Om Adam? Apakah yayang bebeb yang Ceu Titin maksud itu adalah Om Adam?" tanya Raisa.


Titin menghela nafas. Ia seperti akan memuntahkan beban berat yang mengganjal hatinya selama ini.


"Saya akan menceritakannya dari awal," ucap Titin.


Flash back


Titin POV


Awalnya saya naksir salah satu anak buah Om Adam yang bernama Rama. Wajahnya lumayan tampan. Bodynya bagus. Terlihat macho. Karena sering mendampingi Om Adam yang mengunjungi Tuan Rangga, kami jadi sering bertemu. Selagi Om Adam berbincang dengan Tuan Rangga, saya dan Kang Rama pun berbincang. Saling curhat dan saling berbagi cerita. Kamipun akhirnya jadian.


Lama-lama, kami tidak hanya sekedar bertemu di villa ini. Tapi juga bertemu di luar. Kami sering jalan bareng. Sampai akhirnya kami janjian di hotel. Kami melakukan 'itu' di hotel. Dan itu sering kami lakukan karena ket*gihan. Hingga suatu hari, karena kangen, kami melakukannya di dalam mobil Om Adam yang diparkir di garasi Tuan Rangga. Tuan Rangga sedang tidak ada waktu itu. Tuan Rangga belum pulang dari kebun. Om Adam sedang beristirahat di kamar tamu villa ini.

__ADS_1


Tapi entah mengapa, Om Adam cepat sekali beristirahatnya. Om Adam memergoki kami yang sedang berc*nt*. Bahkan Om Adam merekam kami yang kelimpungan memakai pakaian kami yang berserakan.


"Lakn*t kalian! Kalian melakukan hal tak senonoh di mobilku! Akan aku adukan hal ini ke Rangga! Biar kau dipecat, Titin! Kau juga Rama! Akan kuberitahu istrimu kalau kau main gila sama pembantu Rangga!" geram Om Adam.


Aku terkesiap! Rama juga terlihat pucat. Aku tak menyangka, ternyata Kang Rama sudah punya istri. Dia membohongiku.


"Ampun, Tuan! Jangan beritahu istri saya!" kata Rama menghiba.


"Ja-jadi Kang Rama sudah beristri?!" teriakku.


Rama tertunduk lesu. Tidak berani menatap saya dan Om Adam.


"Sekarang lebih pilih mana? Masih bekerja pada saya dan masih menjalin hubungan dengan Titin tapi video ini saya beritahu istrimu, atau kamu berhenti bekerja dan mengakhiri hubunganmu dengan Titin, tapi rahasiamu ini aman. Tidak ada orang lain yang tahu selain saya!" kata Om Adam tajam.


"Sa-saya berhenti saja, Tuan! Tolong rahasiakan ini dari istri saya ataupun orang lain! Maafkan saya, Titin. Saya sudah membohongimu! Saya sebenarnya sudah beristri," ucap Rama sambil menunduk.


Plak!!


Kutampar wajah Kang Rama karena aku tak kuasa menahan amarah. Kang Rama diam saja, tak merespon. Ia hanya meringis kesakitan.


"Kau, b*jing*an! Katanya kamu akan menikahiku! Dasar lelaki b*aya!" teriakku emosi.


"Maaf! Saya pamit pergi.Tin! Saya berhenti, Tuan! Saya minta gaji saya bulan ini Tuan!" kata Rama.


"Oke," Om Adam mengetik diponselnya.


"Sudah kutransfer ke rekeningmu! Sekarang pergilah!" ucap Om Adam.


"Baik. Terimakasih. Saya pergi!" Rama beringsut keluar dari mobil dan segera pergi dari tempat itu tanpa menoleh lagi.


Aku merasa sakit hati dan kecewa pada Kang Rama. Tapi urusanku belum selesai. Om Adam memandangku dengan tatapan yang seperti akan menerkamku.


"Urusan kita belum selesai, manis! Gimana kalau kuberitahu Rangga, kalau pembantunya main gila di tempatnya?"


"Jangan, Om! Saya mohon!" aku bersujud meminta belas kasihan.


Om Adam tertawa keras.


"Baik. Tapi ada syaratnya! Itu kalau kamu mau, maka kamu aman. Tak akan ada yang tahu kejadian ini," kata Om Adam menyeringai.


"Apapun syaratnya, Om! Saya akan lakukan! Asalkan jangan beritahu Tuan Rangga dan orang-orang! Juga jangan sebar video itu, Om!" ucapku memelas.


Om Adam menatapku dari ujung rambut sampai kaki. Kemudian matanya tertuju pada d*d*ku. Ia menelan salivanya. Rupanya aku tadi belum mengancingkan baju secara benar. Aku belum mengancingkan baju bagian atasku. sehingga b*lahan dua gunung kembarku terekspos. Aku segera mengancingkan kancing bajuku yang belum terpasang dengan benar.


"Kau ikutlah! Kita akan ke hotel!" katanya tanpa menunggu persetujuanku. Ia langsung naik mobil dan duduk di balik kemudi. Aku yang duduk di belakangnya jadi tercekat mendengarnya.


"Ke ho-hotel, Om?" aku langsung paham apa yang diinginkannya. Duda berusaha 50 tahun itu butuh p*lampiasan. Ia sudah menduda selama dua tahun. Ia telah bercerai dengan istrinya. Tak tahu penyebabnya apa. Tapi akupun tak tahu apa selama dua tahun itu ia mel*mpiaskan hasratnya pada wanita yang bisa ia bayar atau tidak


"Ya! Kamu mau kan?" tanyanya.


"Iya, Om!" terpaksa aku harus menuruti kemauannya.


Sejak saat itu, setiap Om Adam mau, aku harus melayaninya. Dalam satu minggu bisa tiga kali atau empat kali. Kami melakukannya di hotel, atau kadang di kamar dipaviliunku bila para ART lain sedang pergi.


Dan selama Tuan Rangga dan Nyonya Raisa ke Jakarta, kami kerap melakukannya di kamar tamu villa ini. Kamar yang biasa Om Adam tempati bila menginap di villa ini.


Pak Dani dan Bu Irah bukanya tidak tahu. Mereka tahu, tapi karena diancam oleh Om Adam, makanya mereka bungkam.


Makin lama, aku makin ketagihan dengan permainan Om Adam. Perm*inan r*anjangnya memang lebih hebat dari Kang Rama. Stamina laki-laki paruh baya itu luar biasa!


Aku merasa seperti istri rahasianya. Aku yang semula terpaksa melakukannya karena ancamannya lama-lama aku merasa nyaman dan merasa cukup kebutuhan batinku terpenuhi. Apalagi aku juga sering diberi uang, barang berharga ataupun makanan enak.


Tapi ada satu rahasia yang baru aku ketahui tentang Om Adam. Tapi aku takut mengatakannya.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


Hai Readers! Tolong tinggalkan jejak ya! Terimakasih!


__ADS_2