TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 24. MASALAH WULAN


__ADS_3

(Wulan) Kak, aku akan bercerai dengan Mas Varrel. Mas Varrel selingkuh!


Sebuah pesan dari Wulan, adik Rangga, membuat netra Rangga melotot tak percaya membaca pesan chat yang masuk.


(Rangga) Kamu jangan mengambil keputusan gegabah jika sedang emosi. Selidiki. Bicarakan baik-baik dulu.


(Wulan) Aku sudah menyelidikinya! Dan itu benar! Mas Varrel berselingkuh dengan sekretaris baru!


(Rangga) Oke. Kita harus bertemu. Ceritakan kronologinya.


(Wulan) Aku akan ke apartemen Kak Rangga nanti malam.


(Rangga) OK


Rangga menghela nafas panjang. Ia dan Raisa juga belum ada titik temu, sekarang ditambah rumah tangga adiknya diambang perceraian. Rangga berharap badai yang melanda keluarganya dapat reda dan akan ada pelangi sesudah badai. Seluruh keluarganya akan bahagia setelah melewati segala cobaan hidup.


Sore hari telah tiba. Pameran lukisan berjalan lancar dan sukses. Seluruh lukisan Rangga laku terjual. Rangga dan beberapa orang yang ditunjuk Rangga sebagai panitia merayakan keberhasilan pameran itu dengan makan-makan di sebuah restoran setelah acara pameran selesai.


Bibir Rangga tak henti-hentinya tersenyum membalas ucapan selamat dari orang-orang yang terlibat di acara itu. Mamanya tidak bisa hadir karena sedang menghadiri undangan para investor untuk pengembangan perusahaan di Surabaya dari sejak pameran hingga pameran selesai. Tapi Mamanya menyempatkan Video call ketika pembukaan pameran, dan penutupan pameran.


Walau usianya tidak muda lagi tapi Nyonya Cindy tetap aktif dan energik beraktifitas di perusahan walau hanya di belakang layar.


Ketika acara perayaan keberhasilan pamerannya telah usai, Rangga kembali ke apartemen. Apartemen serasa sepi tanpa adanya Raisa.


Rangga tidak berniat melaporkan hilangnya Raisa. Karena ia tidak mau permasalahannya dengan Raisa terendus media. Lagi pula Rangga masih sangsi dengan Raisa perihal perjanjian dengan Om Adam. Jadi Rangga hanya menyuruh seseorang untuk mencari keberadaan Raisa.


Ketika sedang termenung, terdengar suara ketukan pintu. Sepertinya itu Wulan. Rangga segera membukakan pintu.


Benar saja! Wulan yang datang. Wulan datang bersama dua anaknya. Robi dan Alisa.


"Pakde ....!" pekik kedua bocah itu sambil menghambur ke arah Rangga ketika pintu dibuka.


Rangga agak terkejut oleh tingkah spontan kedua keponakannya. Tapi setelahnya bibir Rangga tersenyum sambil merengkuh mereka.


"Anak-anak Pakde ....!"


Robi dan Alisa berebutan ingin dipeluk Rangga. Rangga memeluk kedua bocah itu sambil membawa mereka masuk apartemen. Sedangkan Wulan ikut masuk dengan wajah sendu. Rangga yang melihatnya segera melepas pelukan pada kedua keponakannya.


"Om punya PS. Kalian mau main? Ada di kamar Pakde! Kalau kalian mau soft drink, ambil aja di kulkas!" tawar Rangga.


"Mau, mau! Horeee!" teriak kedua bocah itu. Mereka segera berlari ke pantry untuk mengambil soft drink di kulkas. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, mereka berlari menuju kamar Rangga. Setelah heboh menyalakan PS, tak lama merekapun asyik main PS.


Rangga mengajak Wulan duduk di ruang tamu. Rangga merasa trenyuh melihat wajah Wulan yang sayu dan tidak bersemangat.


"Kamu mau minum dulu?" tawar Rangga.


Wulan menggeleng.


Rangga menghela nafas. Ia perlu menyiapkan dirinya untuk mendengar cerita Wulan. Ia tahu, ia akan emosi mendengar cerita Wulan.


"Begini ceritanya Kak," Wulan pun mulai bercerita.


Flashback


Wulan POV


Tiga bulan lalu, PT. Angkasa Raya membuka lowongan pekerjaan untuk posisi sekretaris. Dari sekian banyak pelamar, akhirnya terpilihlah wanita yang bernama Mely untuk menjadi sekretaris baru di perusahaan itu.


Aku sudah pernah melihatnya. Dia wanita yang cantik, sexy, dan cerdas. Untuk beberapa hari, aku yang melihat kinerjanya, cukup puas. Dia tampak profesional.


Setelah itu aku jarang ke kantor karena aku harus mengurus anak-anakku. Walau ada ART dirumahku, tapi aku yang mendampingi mereka belajar, menyiapkan makanan mereka ketika akan berangkat sekolah dan sepulang sekolah, mengantar jemput mereka sekolah, juga menyiapkan makan malam untuk kami sekeluarga. Aku hanya sesekali ke kantor. Karena aku hanya membantu Mas Varrel menyelesaikan urusannya di kantor sewaktu-waktu. Karena tampuk pimpinan berada di tangan Mas Varrel.

__ADS_1


Selain itu juga aku harus menghadiri pernikahan sahabatku beberapa hari karena dia tinggal di luar kota. Aku sempat mengajak Mas Varrel. Tapi dia bilang tidak bisa karena sedang banyak pekerjaan.


Aku diminta Kania, sahabatku untuk membantunya menyiapkan acara pernikahannya. Walau sudah ada WO, tapi Kania ingin aku membantunya dalam hal-hal detail pernak-pernik pernikahan yang tidak bisa dilakukan WO.


Dan rupanya itulah awal mula bencana yang menimpa keluargaku. Mas Varrel selingkuh dengan sekretaris baru itu. Dan aku baru mengetahuinya setelah dua bulan.


Pagi tadi aku tanpa memberitahu Mas Varrel akan ke kantor untuk mengecek laporan perusahaan. Tadinya aku akan memberitahukan Mas Varrel. Tapi entah firasat atau apa, aku tiba-tiba ingin memberi kejutan pada suamiku. Sewaktu pagi kami sarapan, aku tidak berkata apa-apa pada Mas Varrel. Mas Varrelpun bersikap biasa. Tidak ada hal yang mencurigakan dari sikapnya.


Ya, aku memang mengelola perusahaan Kak Rangga secara bersama-sama dengan Mas Varrel. Mas Varrel mulanya merasa asing dengan dunia barunya untuk mengelola sebuah perusahaan yang lumayan besar setelah Kak Rangga depresi. Aku yang mengajarinya banyak hal. Karena sebelumnya, Mas Varrel hanyalah karyawan biasa sebuah perusahaan kecil. Tapi karena ketulusan cintanya, aku bersedia dinikahinya. Keluargakupun menerima Mas Varrel setelah melihat kesungguhan dan ketulusan Mas Varrel.


Keluar dari lift yang membawaku ke lantai 15 , tempat ruangan Mas Varrel berada, aku tidak mendapati sekretaris yang biasanya ada duduk di depan ruangan Direktur, yang merupakan meja kerjanya.


Dengan perlahan aku berjalan menghampiri pintu ruangan Direktur. Samar-samar kudengar seperti suara dua orang yang sedang berbicara.


Sebentar, itu bukan suara orang berbicara. Itu seperti suara er*ng*an dan des*h*n! Dengan gerakan cepat, kubuka pintu ruangan itu.


Mataku terbelalak menyaksikan dua orang berlainan jenis sedang Berg*m*l di sofa dengan masing-masing dalam keadaan setengah telanj*ng. Dan kedua orang itu adalah Mas Varrel dan Mely, sekretaris Mas Varrel.


Mereka yang sedang asyik bercint*pun terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba dan membuka dengan keras pintu itu.


Mas Varrel panik luar biasa. Ia buru-buru mendorong tubuh Mely agar menyingkir dari atas tubuhnya. Iapun buru-buru memperbaiki kain segitiga dan celana panjangnya yang sudah melorot sampai betis.


"Wulan! Tunggu Wulan! Ini tidak seperti yang kamu lihat!" ucap Varrel panik sambil menyl*tingkan celana panjangnya dan mengancingkan kemejanya.


Aku mendekat dengan mata panas dan kemarahan yang siap meledak.


"Oh, tidak seperti yang aku lihat? Lalu kalian sedang apa? Dengan pakaian kalian yang acak-acakan itu? Dengan kamu yang ada di bawah wanita j*l*ng itu sambil memegang pinggulnya? Apaaa?!!" teriak Wulan berapi-api.


Plak!


Plak!


Dua tamparan keras mendarat di pipi Varrel dari tanganku. Tak cukup hanya itu, kutarik rambut sekretarisnya hingga ia sempoyongan yang sedang membetulkan pakaiannya.


Mas Varrel mencoba meleraiku. Aku langsung menendang bagian sensitifnya.


"Rasakan pengkhianat! Semoga kamu imp*ten setelah ini, b*jing*n!" umpatku dengan bar-bar. Baru kali ini aku berbicara dan bertindak kasar. Selama ini aku adalah wanita lembut dan anggun. Tapi melihat perselingkuhan suamiku dengan sekretarisku, jiwa bar-barku muncul.


Mas Varrel mengaduh kesakitan. Kesempatan itu aku manfaatkan dengan menyeret Mely keluar dari ruangan itu. Aku meraih telepon dan memijit angka sambil tanganku yang satunya tak lepas dari rambut Mely yang kujambak.


"Kumpulkan Kepala Divisi! Cepatlah ke lantai 15!" ucapku di sambungan telepon.


Varrel yang masih kesakitan terbelalak. Dengan berjalan tertatih menahan sakit, ia mencoba menghampiriku.


"Wulan! Apa yang kau lakukan?! Jangan seperti itu!" ucapnya sambil meringis.


Mely yang berusaha memberontak, semakin kutambah cengkraman tanganku pada rambutnya. Beberapa helai rambutnya terlihat rontok.


"Awas kalau kamu mendekat! Dan kamu j*l*ng, jangan coba-coba kabur dariku! Kalian belum tahu, begini-begini, aku preman di kampus dulu! Salah kalau kalian mau bermain-main denganku!" gertakku asal. Sebenarnya aku ingin tertawa karena tentu saja ucapanku tidak benar. Aku terkenal gadis yang lemah lembut dan anggun sejak dahulu dari sejak masih kuliah, walau aku pemain karate pemegang sabuk hitam.


Tak lama para kepala Divisi berdatangan. Mereka heran dengan tindakanku yang sedang menjambak Mely.


Sebelum mereka bertanya, aku langsung memberi pengumuman. Wajah Varrel pucat melihat mereka semua.


"Lihatlah, ini sekretaris baru perusahaan. Dia seorang j*l*ng yang merayu suamiku! Mulai hari ini, dia ku pecat! Sekian terimakasih. Bawa wanita ini keluar dari perusahaan!" ucapku tegas.


Dengan tatapan keheranan dan penuh tanda tanya, para kepala divisi itu pergi meninggalkan lantai 15. Mereka hanya bisik-bisik. Dua orang dari mereka membawa Mely pergi. Sedangkan Mas Varrel seperti bernafas lega karena Wulan tidak mempermalukannya di depan para bawahannya.


"Aku bisa jalan sendiri!" hardik Mely ketika dua orang kepala divisi mencoba meraih bahunya.


"Kau kira sudah menang? Kamu hanya pecundang!" teriak Mely sambil menatap Wulan tajam.

__ADS_1


Aku berjalan cepat untuk menghampiri Mely. Dua orang kepala divisi menjauh dari tubuh Mely ketika aku memberi kode agar menjauh. Mas Varrel akan mencegahku. Tapi pandangan tajam dan wajah dinginku mengurungkannya.


Mely seperti bersiap mendapat seranganku. Tapi dia salah. Aku hanya ingin berkata padanya.


"Ambillah suamiku kalau kau suka! Dia itu hanya laki-laki biasa, yang tak punya apa-apa! Aku yang mengangkat derajatnya hingga di posisi seperti sekarang! Sebentar lagi pun Kakakku akan menendangnya. Perusahaan ini milik Kakakku. Dia hanya bekerja pada Kakakku," kataku pelan setengah berbisik sambil mengejeknya.


Mely seperti terkejut. Kemudian ia buru-buru melanjutkan langkahnya menuju lift. Setelah lift itu terbuka, dua orang kepala divisi dan Mely menyusul masuk ke dalam lift itu.


Aku bersidekap memandang hingga pintu lift itu menutup. Setelah itu aku menghela nafas panjang. Aku merasa speechless dengan apa yang kualami hari ini.


Ketika Aku masuk ke ruangan Direktur, tampak Mas Varrel sedang berjalan mondar - mandir. Setelah melihat aku berada di ruangan itu iapun mendekat. Ia terlihat tidak kesakitan lagi. Entah menahan sakit.


"Sayang, terimakasih tidak mempermalukanku. Maafkan aku sayang. Aku khilaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Dia yang menggodaku. Aku ....,"


"Stop! Aku tidak ingin disentuh tangan kotormu! Aku jijik! Bersiaplah! Karena setelah hari ini, aku akan mengusulkan pemecatanmu pada Kak Rangga. Dan aku juga akan mengurus perceraian secepatnya,"


"Sayang! Jangan begitu! Kita selesaikan baik-baik! Aku melakukan kesalahan satu kali, tapi kenapa kamu setega itu," ucap Varrel memelas.


"Satu kali?! Aku curiga bukan hanya sekarang kau berbuat begitu!" Aku langsung menelepon pihak keamanan gedung.


"Saya memerlukan rekaman CCTV gedung ini dua bulan kebelakang. Ya, sekarang. Saya akan ke sana. Setelah ini jangan menerima telepon dari siapapun!"


Varrel terkejut mendengar aku yang akan meminta rekaman CCTV gedung itu. Dan makin dibuat terkejut ketika aku menelepon bank.


"Maaf, boleh minta bantuannya? Saya ingin rincian pengeluaran kartu kredit atas nama Varrel Aditya, Direktur PT Angkasa Raya,"


"Sayang ...., kamu ....," Varrel tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Hancurlah ia! Istrinya begitu cerdik.


"Oh begitu. Baiklah. Nanti Pak Rangga yang akan menelepon Anda," kataku. Permintaanku ditolak. Bank hanya bisa memberikan informasi kepada atasan Direktur. Tentu saja atasan Direktur adalah pemilik perusahaan.


Aku balik badan untuk pergi dari ruangan itu. Aku sudah tidak peduli pada laki-laki itu. Aku benar-benar muak dan ingin muntah setelah melihat perselingkuhannya dengan sekretaris itu.


"Wulan sayaang....,"


"Berhentilah bilang sayang! Aku tak mau mendengar dari mulut kotormu! Lihat saja, setelah ini kamu tidak akan pernah bisa melihat Robi dan Alisa! Aku yang akan mengambil hak asuhnya!" kataku.


"Wulan! Wulan! Tunggu!" Varrel mengejarku. Aku tak memperdulikannya. Aku langsung menutup lift, sehingga ia tidak bisa satu lift denganku.


Setelah aku meminta rekaman CCTV pada petugas keamanan gedung, aku langsung pulang ke rumah. Kumasukkan beberapa pakaian suamiku kedalam koper. Ketika mobil Mas Varrel tiba di halaman rumah, aku melemparkan koper itu keluar.


"Mulai hari ini, pergilah dari sini! Pergilah dengan selingkuhanmu! Aku ingin tahu, apakah selingkuhanmu benar-benar mencintaimu setelah kamu tidak punya apa-apa!" kataku dengan geram.


Mas Varrel mengetuk-ngetuk pintu sambil memanggil-manggil namaku. Setelah merasa capek tidak direspon, apalagi dibukakan pintu, Mas Varrel pergi dengan mobilnya.


Wulan POV off


Flashback off


Rangga mengepalkan tangannya mendengar penuturan Wulan. Rahangnya mengeras.


"Besok aku akan menelepon bank untuk mengecek rincian pengeluaran kartu kredit Varrel. Itu bisa untuk bukti perselingkuhan Varrel di pengadilan nanti," kata Rangga.


"Ya. Aku yakin, banyak pengeluaran yang Mas Varrel keluarkan untuk selingkuhannya itu," sahut Wulan.


"Aku tidak habis pikir. Varrel itu kan sangat mencintaimu. Makanya kami menyetujui kamu menikah dengannya dulu,"


"Aku juga rasanya hampir tak percaya. Kepercayaanku selama ini runtuh seketika melihat pengkhianatannya! Aku tidak bisa menerima ini semua. Aku tidak terima diperlakukan begini!" Wulan sesenggukan menahan tangis.


"Sudah! Tabahkan hatimu! Kamu tidak perlu menangisi pria yang sudah menyakiti hatimu," ucap Rangga. Tiba-tiba saja Rangga teringat ulahnya dulu yang mengecewakan Rena.


"Mungkin ini karma. Walau aku dulu tidak selingkuh, tapi sikapku yang perhatian pada Resty, telah membuat Rena terluka. Maafkan Kakak, Wulan! Kamu yang harus menanggung karma karena ulah Kakak!" Rangga menggenggam tangan Wulan dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Kakak beradik itu lalu berpelukan saling berbagi kesedihan dan saling menguatkan. Rangga berjanji dalam hati, akan membuat Varrel, adik iparnya kehilangan segalanya.


TO BE CONTINUED


__ADS_2