TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 17. CEMBURU


__ADS_3

Pagi itu Raisa sudah bersiap untuk daftar ulang ke kampus. Setelah itu rencananya ia akan memulai kursus memasaknya hari itu.


Setelah selesai sarapan, Rangga dan Raisa masuk ke mobil. Rangga sebelum ke kantor, mengantarkan Raisa terlebih dahulu ke kampus. Setelah sampai, Raisa mencium tangan Rangga. Walau masih kesal, tapi sebisa mungkin Raisa masih menghargai Rangga sebagai suami.


"Senyum dong!" goda Rangga. Raisa hanya mencebikkan bibirnya kemudian langsung turun tanpa menoleh lagi. Rangga menghela nafas. Rangga belum bisa mencairkan sikap Raisa yang menjadi dingin padanya. Ranggapun melanjutkan perjalanan menuju ke perusahaan.


Ketika di kampus, tak sengaja Raisa berpapasan dengan cowok yang waktu dulu ketemu di taman.


"Hei! Kamu Raisa kan?!" sapa cowok itu.


Raisa berhenti. Ia mengamati cowok di depannya. Tak lama kemudian seulas senyum tersungging di bibir Raisa.


"Devan ya?" kata Raisa.


"Kamu kuliah di sini?" tanya cowok yang bernama Devan.


"Aku mau daftar ulang," jawab Raisa


"Ooh .... kamu Mahasiswa baru?"


"Ya, begitulah,"


"Wah ke depannya kita akan sering ketemu ya. Nanti aku yang akan mengospek kamu,"


"Oh kuliah di sini juga?! Wah, berarti aku harus manggil Kak ya. Kak Devan,"


Devan tertawa. Ia merasa gembira bisa bertemu dan sekampus dengan gadis yang dicarinya sewaktu pertama kali bertemu di taman.


"Aku mau daftar ulang dulu ya Kak," kata Raisa.


"Aku antar ya?" tawar Devan.


"Boleh. Kalau Kak Devan enggak sibuk," jawab Raisa. Raisa bersyukur ada yang dikenalnya di kampus yang masih asing baginya.


"Enggak. Santai aja,"


"Makasih ya Kak,"


Merekapun berjalan masuk kampus menuju ruang daftar ulang Mahasiswa baru.


Ketika berpapasan dengan teman-teman seangkatannya, teman-teman Devan heboh melihat orang nomor satu di BEM sedang berjalan dengan seorang gadis cantik.


"Wah, wah, wah ...., lihat ada yang bawa cewek baru nih!" teriak salah satu dari temannya.


"Rupanya ada yang udah punya gandengan woi " teriak temannya yang lain.


"Apaan sih kalian, heboh banget, kayak yang baru lihat cewek cakep aja!" ujar Devan. Raisa jadi malu karena jadi pusat perhatian.


"Kenalin kita dong!" pinta mereka.


Seorang dari teman Devan menyodorkan tangannya. Membuat teman-temanya yang lain mengikutinya.


"Gue Obi,"


"Raisa,"


"Gue Jack,"


"Fahmi,"


"Hai, Gue Steven,"


"Oke, Kenalannya sudah. Gue mau ngantar Raisa daftar ulang. Cabut dulu ya ...!" kata Devan.


"Raisa!" seru teman Devan yang bernama Jack.


"Ya?" Raisa menoleh ketika ia bersiap beranjak dari tempat itu.


"Hati-hati!" kata Jack.


"Terimakasih," jawab Raisa.


"Karena Devan belum jinak! Selama ini belum ada satu cewekpun yang bisa mendekatinya. Semua cewek ngeri pada Devan," kata Jack kemudian yang di sambut dengan tawa cekikikan teman-temanannya yang lain.


"Si*lan lu Jack!" maki Devan.


"Kenapa memangnya Kak? Kok cewek-cewek pada takut?" tanya Raisa.


"Udah ah, yuuk kita cabut aja! Jangan dengerin si Jack! Suka ngelantur dia kalau ngomong," kata Devan sambil menarik pelan tangan Raisa.

__ADS_1


"Karena Devan belum di suntik Rabies! Ha ha ha .....!" Jack tertawa, teman-temannya yang lainpun ikut tertawa.


Devan hanya geleng-geleng kepala sambil mengacungkan kepalan tangannya pada Jack.


🌼🌼🌼🌼🌼


"Makasih ya Kak, udah nganterin daftar ulang," kata Raisa.


"Iya, sama-sama. Habis ini mau terus pulang atau mau kemana?" tanya Devan.


"Aku mau ke tempat kursus memasak. Hari ini ada jadwal cooking class," jawab Raisa.


"Hah?! Serius kamu ikut cooking class?" Devan merasa heran.


"Iya. Kenapa memangnya?"


"Kamu hobi masak?"


"Ya, begitulah."


"Pinter masak pasti ya,"


"Enggak juga. Makanya ikut kursus masak. Suatu saat pengen buka usaha sih. Seperti toko kue atau cafe gitu,"


"Hmm .... calon istri idaman," gumam Devan.


"Apa?" Raisa tidak begitu jelas mendengar gumaman Devan.


"Enggak, enggak! Lupakan!" jawab Devan panik karena tidak sengaja bicara yang tidak-tidak.


"Aku antar ya ke tempat kursus?" tawar Devan.


"Enggak usah! Aku mau naik gr*b," tolak Raisa.


"Oh itu kayaknya gr*bnya udah datang!" seru Raisa.


"Aku pergi ya!" Raisa beranjak menghampiri pengemudi gr*b yang berhenti tak jauh dari tempat Raisa tadi berdiri.


"Oke! Hati-hati di jalan!" teriak Devan setelah melihat Raisa tampak berbicara dengan pengemudi Gr*b kemudian masuk ke mobil itu.


Ditempat kursus, Raisa banyak mendapat teman baru. Dalam satu kelas ada 18 orang termasuk dirinya. Ada yang ibu rumah tangga, karyawan, pekerja kantoran, mahasiswa, dan juga pelajar.


Peralatan yang digunakan cukup lengkap dan modern. Dibimbing oleh seorang chef profesional bernama William. Kami memanggilnya Chef William. Usianya sekitar 30 tahunan. Wajahnya tampan khas oriental. Chef William orangnya ramah dan menyenangkan. Pemaparan dan praktek memasak yang diterangkannya membuat semua peserta cooking class puas dan mengerti. Dengan sabar, ia pun membimbing peserta yang masih belum bisa ataupun belum mengerti.


Setelah dua jam, kelaspun selesai. Raisa merasa puas praktek membuat short pastry atau kue pie dan croissant pastrynya berhasil. Rasanya sangat pas. Tampilan kuenya juga rapi dan bagus. Sehingga ia mendapat pujian dari Chef William.


Raisapun keluar dari tempat kursus bersama seorang teman baru bernama Vega. Dia mahasiswa juga yang kuliah di Universitas lain. Hobinya yang memasak membuat ia juga mengambil kursus memasak itu.


"Kamu pulang sendiri atau dijemput!" tanya Vega.


"Dijemput," jawab Raisa.


"Kalau jemputanmu lama, ikut mobil aku aja yuk," ajak Vega.


"Enggak ah. Sebentar lagi juga datang kok," Raisa sedang chatan dengan Rangga. Katanya, supir sudah dalam perjalanan menjemput Raisa.


"Eh, ga, itu jemputanku udah datang. Duluan ya, daaah ...!"


"Daaah ...!" balas Vega kemudian masuk ke mobilnya. Iapun menyusul Vega keluar dari tempat parkir mobil.


Hari-hari selanjutnya Raisa disibukkan dengan kegiatan Orientasi pengenalan kampus. Raisa yang dikenal dikalangan kakak tingkatnya karena kedekatannya dengan Devan, membuat Raisa menjadi primadona untuk dikerjai oleh panitia orientasi Mahasiswa baru. Bukan dikerjai yang keterlaluan sih. Cuma lama-lama Raisa jadi kesal juga karena ia disuruh ngombalin Devan, disuruh merayu Devan pake suruh nyanyi-nyanyi segala. Jadi seperti Raisa yang mengejar-ngejar Devan. Lebih kesalnya lagi, Devan membiarkan saja ulah teman-temannya pada Raisa. Malah Devan senyum-senyum kalau Raisa sedang di kerjai panitia.


Sementara hubungan Raisa dengan Rangga semakin memburuk. Kesibukan Rangga dan kesibukan Raisa membuat mereka menjadikan apartemen mereka seperti terminal. Tempat untuk istirahat saja tanpa ada interaksi yang berarti sebagai sepasang suami istri.


Saran dari mertuanya pun belum Raisa laksanakan, karena Rangga terlihat sibuk. Setelah kegiatan orientasi Mahasiswa baru tinggal satu hari lagi, Raisa meminta Rangga untuk menjemputnya.


Dengan menurunkan ego, Raisa sejak semalam meminta Rangga menjemputnya besok. Tentu saja Rangga merasa senang karena Raisa yang duluan meminta tolong. Ketegangan diantara merekapun mulai mencair. Ternyata Rangga tipe yang harus diberi pancingan supaya sikap dinginnya mencair.


"Kamu dijemput?" tanya Devan ketika kegiatan Orientasi Mahasiswa baru selesai. Semua Mahasiswa baru bersiap pulang. Raisa sudah berdiri dipinggir jalan.


"Di jemput," jawab Raisa.


Devanpun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mengobrol dengan Raisa. Cukup lama Raisa menunggu Rangga menjemputnya. Tapi nampaknya Rangga terjebak macet. Hari sudah sangat sore.


"Ini sudah sore. Kalau yang menjemputmu tidak datang, biar kuantar. Aku ambil motor dulu," kata Devan.


"Enggak usah, Kak! Nanti juga datang. Cuma karena macet aja," kata Raisa sambil melihat ponselnya. ada chat masuk dari Rangga yang memberitahukan kalau jalanan macet.


"Kita siap-siap aja. Siapa tahu macetnya lama. Sebentar, aku ambil motor dulu," kata Devan. Raisa ingin mencegah, tapi Devan sudah melesat masuk ke gerbang. Ternyata motornya disimpan di pos satpam. Tak butuh waktu lama, Devan sudah naik motor menghampiri Raisa.

__ADS_1


"Ayo, naik," ajak Devan.


Raisa tampak ragu-ragu. Devan meyakinkan Raisa lagi untuk naik motornya.


Tapi ketika Raisa baru saja naik ke motor Devan, Rangga sudah datang menjemput. Raisa jadi turun lagi dari motor


"Itu jemputanku sudah datang. Maaf ya, aku enggak jadi," kata Raisa


Dari jauh Rangga yang melihat Raisa duduk di motor seorang cowok, menjadi kesal. Setelah dekat, Rangga keluar dari mobil menghampiri Raisa dan Devan. Rangga hanya memakai kemeja. Jasnya di sampirkan di jok mobil.


"Hallo, Om, ketemu lagi. Apa kabar Om?" Devan menyodorkan tangannya untuk mengajak bersalaman dengan Devan. Rangga mengernyit.


"Ini lho Devan. Yang waktu itu kita ketemu di taman setelah dari mini market," jelas Raisa. Ranggapun ingat. Ia membalas jabatan tangan Devan


"Baik. Kamu kuliah di sini juga?" tanya Rangga dingin.


"Iya, Om. Tapi saya Kakak tingkatnya Raisa," jawab Devan.


"Kak Devan ini ketua BEM lho," kata Raisa sambil tersenyum.


"Oh ya?" Rangga merasa tak senang melihat Raisa membanggakan Devan.


"Ya sudah, ayo pulang," Rangga menarik tangan Raisa.


"Aku pulang dulu ya Kak!" kata Raisa pada Devan. Devan hanya mengacungkan jempolnya. Ia masih merasa tertegun dengan sikap dinginnya laki-laki yang dikiranya Omnya Raisa itu.


"Kamu jangan terlalu dekat dengan laki-laki itu! Ingat! Kamu sudah punya suami!" kata Rangga setelah berada di mobil.


"Lho, kita kan cuma berteman!" jawab Raisa.


"Aku laki-laki! Aku tahu, dia ada rasa sama kamu!" ucap Rangga yang membuat Raisa tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Hari-hari selanjutnya, Rangga kerap mengantar jemput Raisa ke tempat kursus memasak yang jadwalnya dua kali seminggu untuk dua bulan. Bulan ketiga akan menjadi satu minggu sekali. Itu yang Raisa baca dari brosur.


Raisapun mulai kuliah. Bila kebetulan ada jadwal kuliah pagi, Raisa berangkat dengan Rangga diantar supir. Tapi bila jadwal kuliahnya siang, Raisa naik taksi atau juga gr*b. Pulangnya pun kadang hanya dijemput supir bila Rangga sibuk.


Tapi akhir-akhir ini, hati Rangga merasa tidak tenang. Walau hubungannya dengan Raisa sudah membaik, tapi melihat kedekatan Raisa dengan Devan, membuat Rangga dilanda kecemasan. Ia takut Raisa akan berpaling dari dirinya yang sudah berumur matang.


Rangga takut Raisa tergoda oleh pesona Devan. Masih muda, ganteng, jadi ketua BEM, cowok populer di kampus itu, cewek mana yang tidak jatuh hati.


Oleh sebab itu, Rangga harus melakukan sesuatu. Ketika Rangga menjemput Raisa sore itu Rangga sengaja memakai kemeja yang digulung hingga siku.. Rambutnya diberi Pomade dengan gaya trendy anak muda jaman sekarang.


Raisa sampai terpana melihat penampilan Rangga tak tak seperti biasanya. Devan juga sempat terkejut melihat penampilan Rangga. Rangga terlihat lebih muda dan lebih tampan.


"Tadinya saya mau minta izin pada Om, untuk mengajak Raisa jalan-jalan," kata Devan memberanikan diri.


Raisa sampai terkejut mendengar penuturan Devan yang berani pada Rangga. Rangga apalagi. Ia merasa kesal karena Raisa ternyata belum bercerita pada Devan kalau Raisa sudah bersuami.


"Maaf, Tapi Raisa itu sudah bersuami. Tidak selayaknya kamu mengajak jalan wanita yang sudah bersuami," jawab Rangga.


"Su-sudah bersuami, Om?" Devan tergagap karena terkejutnya.


"Iya. Kalau kamu belum tahu, aku itu suami Raisa," kata Rangga tersenyum sinis.


"Ternyata Raisa belum memberitahukan kamu," kata Rangga menatap tajam pada Devan kemudian beralih pada Raisa.


"Mmm ...., sebenarnya aku mau memberitahu Kak Devan. Hanya saja belum ada waktu yang tepat," Raisa mencoba untuk menyembunyikan ketakutannya akan tatapan Rangga.


"Jadi benar, Om Rangga ini suami kamu? Bukan Om kamu?" tanya Devan. Raisa mengangguk.


"Waktu di taman itu sebenarnya aku mau ngasih tahu kamu kalau dia itu suamiku. Tapi kamu sudah duluan menebak kalau dia itu Omku. Ya sudah, aku iyakan saja. Maaf. Cuma supaya cepat aja, gak tanya-tanya yang lain," kata Raisa merasa menyesal.


"Maaf, saya baru tahu. Maafkan saya Om," kata Devan kemudian segera berlalu.


"Kak Devan, kita itu berteman. Tidak ada salahnya kan kalau kita berteman?" Raisa menghentikan langkah Devan. Devan pun menoleh.


"Kamu tidak salah. Saya yang salah," jawab Devan. Kemudian segera mempercepat langkahnya. Hatinya begitu kecewa dan terluka. Karena Raisa tidak memberitahunya kalau Raisa sudah bersuami. Padahal angannya sudah membumbung tinggi pada Raisa.


"Kubilang juga apa!" Rangga menyentil dahi Raisa.


"Dia menyukaimu! Kamu jangan pura-pura bodoh!" Rangga pergi menuju pintu mobil di balik kemudi.


Raisa tahu Rangga juga marah. Ia buru-buru menyusul Rangga masuk ke mobil.


"Maaf!" ucap Raisa setelah duduk disamping Rangga di dalam mobil. Rangga hanya melengos tanpa menjawab apa-apa.


"Mas Rangga jangan cemburu. Aku enggak ada perasaan apa-apa sama Kak Devan. Cuma salahnya aku belum memberitahu Kak Devan kalau Mas Rangga itu suamiku," kata Raisa.


Rangga hanya berdecak. Benarkah dirinya merasa cemburu? Ia tak senang melihat kedekatan Raisa dan Devan. Ia juga takut Raisa jatuh cinta pada Devan. Apa itu artinya Rangga telah mencintai Raisa?

__ADS_1


TO BE CONTINUED


Maaf ya saya telat up karena kesibukan bertambah, sebentar lagi lebaran. Mudah-mudahan sih setelah ini bisa up cepat. Bahkan crazy up.


__ADS_2