TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 16. AKU BUKAN RENA!


__ADS_3

Raisa sedikit merasa tenang setelah Rangga mengatakan bahwa ada orang suruhan Rangga yang akan mengawasi dari jauh. Raisapun tidak melakukan hal lain selain mengemasi barang-barangnya dan barang-barang Rangga.


Barang-barangnya hanya sedikit, jadi tidak terlalu merepotkan ketika mengemasnya ke dalam koper dan tas besar. Sedangkan barang-barang Rangga banyak. Raisa berinisiatif mengemas pakaian-pakaian Rangga terlebih dahulu. Sedangkan barang-barang yang lain, nanti menunggu Rangga.


Raisapun tidak ingin memanggil salah satu ART untuk membantunya. Raisa takut privacy Rangga terganggu bila melibatkan ARTnya. Untuk mengemas pakaian Rangga pun, Raisa tak lepas dari arahan Rangga. Raisa juga video call bila ia bingung.


Setelah makan malam, Raisa melanjutkan lagi berkemas. Hingga tak terasa, ia tertidur di kamar Rangga karena kelelahan. Raisa tertidur sambil duduk telungkup pada tas besar.


Ketika ia merasa tubuhnya melayang, Raisa terbangun. Betapa terkejutnya ternyata Rangga yang mengangkat badannya.


"Mas .... Rangga?" ucap Raisa diantara kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul.


"Kamu ceroboh sekali! Kamu tidak mengunci pintu! Kalau ada seseorang yang berniat jahat padamu bagaimana?" bisik Rangga.


"Katanya lusa baru kesini? Kok sekarang udah datang?" tanya Raisa. Raisa mengalungkan tangannya pada leher Rangga karena takut jatuh.


"Urusanku sudah beres. Aku juga tidak ingin membuat istriku kelelahan berkemas sendirian," jawab Rangga. Rangga membaringkan Raisa ke ranjang.


Raisa belum mau melepaskan tangannya di leher Rangga. Sehingga Rangga masih membungkuk diatas tubuh Raisa.


"Mas ...,"


"Raisa ....,"


Ada yang bergejolak di tubuh mereka. Pandangan mereka beradu. Wajah mereka sudah tidak berjarak. Entah siapa yang memulai, bibir mereka saling berpag*utan.


Meski Raisa masih belum berpengalaman, Raisa berusaha mengimbangi Rangga. Ci*man mereka semakin panas dan Berg*irah. Tanpa sadar pakaian yang tadi mereka pakai sudah berserakan di lantai. Dan ketika Rangga mengatakan sesuatu, barulah Raisa menyadari apa yang akan ia hadapi sekarang.


"Bolehkah?" izin Rangga.


Raisa mengangguk malu-malu.


Rangga tersenyum senang. Setelah mendapat lampu hijau dari Raisa, iapun segera beraksi.


Rangga yang sudah sepuluh tahun berpuasa itu, antusias. Ia mel*mat semua yang dijumpainya. Dari mulai leher Raisa hingga ke bagian inti.


Raisa yang baru pertama kali merasakannya, seperti dibawa melayang ke awang-awang. Ia seperti cacing kepanasan yang bergerak pelan ke sana-kemari menahan geli sekaligus n*kmat.


Hingga tiba saatnya Rangga akan memasukkan ularnya pada sangkarnya. Dengan menahan nafas, Raisa menerima t*kanan dari Rangga.


Raisa memekik kesakitan ketika ular Rangga masuk dengan sempurna. Air mata Raisa sampai mengalir menahan sakit. Rangga segera mel*mata bibir Raisa untuk mengalihkan rasa sakit.


"Enggak apa-apa sayang. Nanti juga enggak sakit lagi," hibur Rangga.


Rangga mulai bergerak. Raisa yang mengerang kesakitan, lama-lama mulai mend*sah. Sekuat tenaga Raisa menahan untuk tidak m*nd*sah, tapi mulutnya tanpa sadar meloloskan suara Ken*km*tan itu. Ternyata begini rasanya yang membuat Ceu Titin nakal. Pikir Raisa.


Lama-lama Raisapun ikut bergerak untuk mengimbangi Rangga. Dan ketika gerakan Rangga semakin cepat, dan Raisa merasa ada sesuatu yang akan meledak, Rangga meneriakkan sebuah nama yang membuat g*irahnya seketika hancur lebur.


"Renaaa ....!"


Raisa tertegun sejenak mendengarnya. Kemudian dengan cepat, Raisa mendorong Rangga hingga Rangga terjatuh ke samping. Rangga terkejut mendapat sikap kasar Raisa. Ia belum menyadari apa yang sudah dilakukannya.


Ken*matan yang baru dirasakannya lagi menjadi menguap begitu saja akibat sikap Raisa.


"Kamu kenapa sih?!" tanya Rangga kesal tanpa rasa bersalah


"Aku bukan Rena! Mas sadar gak?" ucap Raisa marah.


OMG! Rangga baru ingat. Ternyata mulutnya tidak bisa dikompromi. Si*l! Si*al!


"Ma-af. tadi aku ....,"


"Mas membayangkan melakukannya dengan Kak Rena. Iya kan?!" setitik cairan bening lolos dari sudut mata Raisa.


"Raisa, bukan begitu. Aku ....," ada perasaan bersalah di hati Rangga.


"Mas tidak pernah menerima kehadiranku di hatimu. Hati Mas Rangga sudah penuh dengan Kak Rena," Raisa bangkit dengan tubuh polosnya. Ia melihat bercak darah dan bekas p*rcint**n mereka di sprey. Ia tersenyum getir. Raisa segera meraih pakaiannya yang berserakan di lantai. Kemudian dengan cepat ia memakainya.


"Raisa! Tunggu! Dengarkan dulu penjelasanku!" Rangga pun bangkit dengan tubuh polosnya. Ia meraih bahu Raisa.


"Kenapa kamu selalu cemburu dengan Rena?! Dia sudah tidak ada! Dia tidak bisa apa-apa! Dia sudah meninggal!" ucap Rangga berusaha menghentikan Raisa agar tidak pergi dari kamar Rangga.


"Kak Rena memang sudah meninggal! Dia tidak bisa apa-apa. Tapi sikap Mas Rangga menyakitkanku! Mas Rangga selalu menghadirkan Kak Rena dalam angan dan pikiran Mas Rangga! Lalu aku harus menerimanya, begitu? Tidak! Aku tidak bisa dianggap sebagai Kak Rena! Aku Raisa! Raisa! Gadis kampung yang tak dianggap ada!" setelah berkata demikian, Raisa menghempaskan tangan Rangga dari bahunya, kemudian segera pergi dari kamar itu.


Raisa segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamar. Ia jatuh terduduk sambil menyandarkan tubuhnya di pintu kamar. Ia terisak sedih.

__ADS_1


"Ya Allah ..., salahkah aku kalau aku ingin dicintai suamiku?" gumamnya sambil terisak.


Di kamar Rangga, Ranggapun duduk terdiam di ranjang.


"Raisa...., maafkan aku....," gumam Rangga. Hatinya benar-benar menyesal telah menghancurkan momen romantis bersama istrinya.


Esok paginya Rangga disibukkan dengan usahanya menjegal Om Adam agar tidak bisa menggunakan aset perusahaan untuk kepentingannya sendiri. Rangga sebagai salah satu pemilik perusahaan, mengadakan sidak untuk melihat bagaimana Om Adam memimpin perusahaan selama ini.


Rangga juga telah menyewa jasa seorang akuntan untuk mengaudit laporan keuangan dan mendata ulang aset-aset perusahaan.


Hal ini membuat Om Adam kelimpungan. Rekening Om Adampun dibekukan sementara oleh bank atas permintaan Rangga sebagai salah satu cara untuk memperlancar proses penyelidikan dan audit.


Sedangkan hubungan Rangga dengan Raisa seperti sedang perang dingin. Walau serumah, Raisa tak bertegur sapa dengan Rangga. Sikap Raisa begitu dingin pada Rangga.


Rangga yang sedang banyak urusan, tidak ambil pusing dengan sikap Raisa. Bahkan sampai mereka kembali ke Jakarta, sikap keduanya masih menjaga jarak.


Rangga dan Raisa mulai menempati apartemen. Mereka juga tidur terpisah. Rangga di kamar utama, Raisa di kamar satunya.


Suatu hari, Nyonya Cindy, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, mengunjungi apartemen Rangga. Nyonya Cindy datang pada pukul 8 malam.


"Ma? Mama kok datang ke sini malam-malam?" Rangga terkejut mendapat kunjungan mendadak dari Mamanya. Rangga mencium tangan Mamanya.


"Mama mau menginap di sini malam ini," Nyonya Cindy melangkah masuk ke dalam apartemen.


Rangga masih terpaku di pintu. Ia merasa kebingungan akan beralasan apa bila ketahuan dirinya dan Raisa tidur terpisah.


"Raisa ...., kamu sedang apa?" Nyonya Cindy masuk ke kamar Raisa ketika ia tidak mendapati Raisa di ruangan lain.


"Ma? Mama kapan datang?" Raisa juga terkejut melihat mertuanya datang ke apartemen. Ia yang sedang membereskan pakaian di lemari segera mencium tangan mertuanya.


"Kamu sedang apa, malam-malam di kamar ini? Bukannya kamar kamu dan Rangga yang di sebelah sana?" tanya Nyonya Cindy lagi.


"Raisa sedang beres-beres kamar, Ma. Iya kan Raisa? Kami masih belum selesai beres-beres apartemen ini sejak kepindahan kami ke sini," Rangga yang menjawab.


Nyonya Cindy melangkah menuju kamar utama. Ia pun tanpa minta persetujuan dari Rangga dan Raisa, langsung masuk ke kamar utama.


"Iya, Ma. Masih banyak yang perlu kami bereskan. Maaf apartemen ini masih berantakan," jawab Raisa sambil mengekor di belakang mertuanya. Ranggapun ikut masuk ke kamar. Rangga takut Mamanya mengendus ketidakberesan rumahtangganya.


"Kamar ini kok dekorasinya sama seperti dulu? Padahal teman Mama yang dulu menyewa apartemen ini sudah merubahnya. Kok kembali seperti dulu sih Rangga?" tanya Mamanya.


"Jangan bilang kamu belum move on dari bayang-bayang rumahtanggamu yang dulu, Rangga!" Mamanya Rangga langsung memotong perkataan Rangga. Ia menatap tajam pada Rangga.


"Enggak dong, Ma! Raisa juga setuju dan menyukai dekorasi kamar yang seperti ini, iya kan Raisa?" Rangga menatap Raisa. Netranya seakan memohon pada Raisa agar mengiyakan ucapan Rangga.


Tapi Raisa hanya tersenyum sinis sambil memalingkan muka ke arah lain. Netra Nyonya Cindy memicing. Ia mengendus ketidakberesan hubungan Rangga dan Raisa.


"Raisa, Mama mau minum teh hangat. Tolong buatkan ya," pinta Nyonya Cindy.


"Oh baik, Ma. Maaf, Raisa jadi lupa ngasih minum Mama," jawab Raisa. Raisa kemudian segera ke pantry untuk membuat teh.


"Rangga, kamu itu apa-apaan?! Kamu tidak menghargai perasaan istrimu?! Masa lalu memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Simpanlah di sudut hatimu yang lain. Kamu sekarang punya Raisa! Hargai dia! Cintai dia, nak! Jangan sakiti dia!" bisik Mamanya Rangga sambil mendekat pada Rangga.


Nyonya Cindypun melirik pada sebuah lukisa yang ditutup kain. Ia segera menghampiri lukisan.


"Ma!" Rangga berniat melarang Mamanya membuka lukisan itu. Tapi terlambat!


"Hmmm .... sudah Mama duga! Lukisan ini juga masih ada di kamar kamu. Mama sita lukisan ini! Kalau kau tidak mau, Mama akan mengajak Raisa tinggal di rumah Mama! Biar sewaktu-waktu, Mama bisa mengembalikan dia ke kampungnya," ucap Nyonya Cindy.


"Ma! Jangan, Ma!" Rangga berusaha merebut lukisan itu.


"Pilih mana, Rangga?! lukisan ini, atau rumah tanggamu hancur?!"


Rangga berdecak sambil menjambak rambutnya sendiri. Ia tampak gusar.


"Baiklah! Kalau kamu lebih memilih lukisan ini, malam ini juga Mama ajak Raisa ke rumah Mama!" ucapan Nyonya Cindy tidak main-main.


"Oke! Silahkan bawa lukisan itu!" jawab Rangga terlihat kesal.


"Kamu tidak ikhlas. Baik, Mama ajak pulang Raisa," ucap Mama, " Raisa!" panggil Nyonya Cindy.


"Jangan, Ma! Rangga mohon. Biarkan Raisa di sini! Bawa saja lukisan itu!" kata Rangga pada akhirnya.


Nyonya Cindy tersenyum puas. Gertakannya berhasil. Rangga memang perlu diberi pelajaran agar tidak melakukan kesalahan dalam rumahtangganya lagi.


"Iya Ma? Ini air tehnya sudah jadi," kata Raisa sambil membawa secangkir teh.

__ADS_1


"Bawa saja ke kamar sana. Mama mau tidur di kamar itu," kata Nyonya Cindy sambil berjalan menuju kamar Raisa, melewati Rangga yang masih berdiri terdiam.


Raisa melihat pada Rangga dan melirik sebuah lukisan tertutup kain yang dibawa mertuanya. Tanpa berkata-kata, Raisa langsung mengikuti mertuanya masuk ke kamarnya.


"Kamu selama ini tidur di sini?" Nyonya Cindy duduk di ranjang. Diletakkannya lukisan itu di dekat nakas.


"Mmm ....," Raisa bingung antara ingin jujur atau berbohong. Raisa meletakkan cangkir di nakas.


"Tehnya Ma. Mumpung masih hangat," kata Raisa tidak juga menjawab pertanyaan mertuanya.


"Katakan saja sejujurnya. Biar Mama nanti nasehati Rangga," ujar Nyonya Cindy sambil mengambil cangkir kemudian menyeruput teh hangat.


Raisa tetap bungkam. Wajahnya menunduk.


"Diammu sudah cukup sebagai jawaban buat Mama. Rangga keterlaluan! Kalau kamu meninggalkan dia, baru tahu rasa!"


Raisa mendongkak ketika mendengar perkataan Mamanya.


"Ti-tidak Ma! Raisa tidak mau meninggalkan Mas Rangga," kata Raisa.


Nyonya Cindy menyunggingkan senyum. Tahulah ia kalau Raisa sudah mencintai Rangga.


"Kenapa?"


"Saya dengar, Mas Rangga pernah depresi. Saya tidak mau itu terjadi lagi pada Mas Rangga," jawab Raisa.


Nyonya Cindy tersenyum semakin lebar. Ia merasa senang, ada seseorang yang mencintai Rangga dengan tulus.


"Sini, Mama kasih tahu, supaya suamimu itu panik," kata Nyonya Cindy.


"Panik, Ma?" Raisa merasa heran.


"Sekali-kali harus di kasih shock therapy. Biar dia ngerasa kalau kamu itu sangat berharga," jelas Nyonya Cindy.


"Sini, Mama bisikin caranya," Raisapun mendekatkan telinganya. Nyonya Cindy membisikkan sesuatu. Raisa tampak manggut-manggut. Setelah itu mereka berdua tertawa.


Rangga datang dan berdiri di pintu kamar Raisa.


"Kayak yang senang banget. Enggak ngajak-ngajak nih?" Rangga bersidekap.


"Oh, ini urusan wanita. Laki-laki dilarang nimbrung," jawab Nyonya Cindy. Nyonya Cindy dan Raisa tertawa. Tapi wajah Raisa masih masam ketika pandangan Raisa bertemu dengan Rangga.


"Ayo ke kamar, Raisa. Mama di sini mau istirahat," ajak Rangga.


"Raisa boleh tidur sama Mama kan, Ma?" Raisa memohon pada mertuanya tanpa menggubris Rangga.


"Raisa ....," panggil Rangga.


Raisa menangkupkan kedua tangannya pada mertuanya. Berharap mertuanya membolehkan keinginannya.


"Masa aku tidur sendiri sih. Jangan dong, Ma!" Rangga merayu Mamanya.


"Hmmm ...., lebih baik, kamu temani suamimu deh, Raisa. Mungkin Rangga sudah menyadari kesalahannya," kata Nyonya Cindy.


" Ck, Apaan sih Mama," keluh Rangga.


Nyonya Cindy menyentuh bahu Raisa sambil memberi isyarat anggukan dan kedipan matanya pada Raisa. Raisa menghela nafas. Ia tidak mungkin bersikukuh tetap di kamar itu. Raisa pun bangkit, dan berjalan melewati Rangga untuk ke kamar Rangga.


Tampak lengkungan senyum di bibir Rangga. Ia segera menyusul Raisa ke kamar setelah ia melakukan kissbye pada Mamanya. Nyonya Cindy hanya tersenyum sambil menggelang-gelengkan kepalanya.


Raisa seperti biasa, memilih berbaring dekat dinding. Ia memunggungi Rangga. Setelah mengunci pintu kamar, Ranggapun ikut berbaring di samping Raisa. Tubuhnya sengaja miring menghadap punggung Raisa. Ia merapatkan tubuhnya pada Raisa. Satu tangannya melingkar di perut Raisa. Raisa mengenyahkan tangan Rangga. Tapi Rangga tetap tidak mau menyerah.


"Cuma mau peluk aja. Tolong jangan nolak dong," kata Rangga.


"Awas kalau macam-macam," ancam Raisa.


"Cuma satu macam aja kok," ujar Rangga sambil tersenyum.


Tak lama merekapun terlelap ke alam mimpi.


So, bagaimana esok harinya ya? Apa yang Raisa rencanakan seperti yang dibisikkan Nyonya Cindy?


Ikuti terus ceritanya. Jangan lupa selalu tinggalkan jejak. Terimakasih ......


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2