
Anak buah Om Adam mengurus keperluan pernikahan Rangga dan Raisa atas arahan Om Adam. Dengan sedikit permainan uang, segala birokrasi surat untuk keperluan menikah dapat dipercepat dan dipermudah.
Untuk urusan make up, pakaian pengantin, dan acara syukuran pernikahan juga sudah ditangani oleh Om Adam dengan campur tangan kenalan-kenalannya yang biasa menangani acara pernikahan. Kalau uang yang berbicara, apapun akan cepat terselesaikan.
Raisa ditemani Titin untuk sementara bermalam di hotel yang mempunyai jarak tempuh satu jam perjalanan ke villa yang Rangga tempati.
Om Adam sengaja tidak mempertemukan pasangan calon pengantin itu agar ada sensasi 'kejutan' ketika calon pengantin itu bertemu.
Hari sudah malam tapi Raisa tidak dapat tidur. Jantungnya merasa berdebar tidak karuan. Kalau kemarin malam, Raisa mengalami hal yang sama ketika akan dinikahi Pak Beni, tapi kali ini jantungnya lebih cepat lagi berdetak.
Raisa membayangkan hal-hal yang akan dilalui bersama Rangga. Apakah Rangga akan kambuh sewaktu-waktu? Apakah ia bisa menghadapi Rangga yang masih belum move on dari masa lalu? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang ada dipikirannya. Hal itu cukup mengganggu pikirannya. Terlintas juga dipikirannya apakah ia kabur lagi saja dari pernikahan ini? Tapi pikiran itu cepat ditepisnya. Bagaimanapun Rangga telah melepaskannya dari jeratan ibu tiri dan saudara-saudara tirinya. Ia bisa bebas dari mereka. Tapi apakah tidak akan seperti keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya?
"Hei! Calon pengantin kok melamun aja! Ngelamun jorok ya?" Titin mengagetkan Raisa.
"Ceuceu ...., ngagetin aja!" Raisa memukul pelan bahu Titin.
"Ceu ..., apa penyakit gilanya Tuan Rangga gak akan kambuh lagi ya?" Raisa tak bisa menyimpan lagi pergolakan batinnya.
"Hush! Beliau bukan gila! Cuma stress sedikit aja. Itu juga sudah lama sekali. Sudah benar-benar sembuh sekarang," Titin merasa menyesal waktu itu pernah membicarakan tentang masa lalu majikannya pada Raisa.
"Sama saja, Ceu! Kalau sampai di rawat di RSJ itu kan gila!" Raisa mencoba berdebat.
"Enggak! Enggak! Stop berbicara seperti itu! Maaf saya pernah cerita yang enggak-enggak. Padahal saya tidak tahu kebenarannya. Karena itu sepuluh tahun yang lalu. Saya masih kecil. Belum bekerja di sana. Saya cuma mendengar dari orang-orang," Titin mencoba menjelaskan.
"Dengar! Kamu itu beruntung akan dinikahi Tuan Rangga. Dia tampan, tajir, dari keluarga terpandang, siapa coba yang akan menolak? Gadis-gadis di sekitar villa juga pasti mau kalau diajak nikah Tuan Rangga," kata Titin lagi.
"Saya aja yang sudah lama bekerja di sana enggak diajak nikah. Eh ... kamu yang baru bekerja di sana udah diajak nikah. Itu kan namanya beruntung,"
"Ya udah, Ceu Titin aja ya yang jadi pengantin besok," tawar Raisa.
"Eit! Jangan atuh! Nanti saya bisa dimarahin sama yayang Bebeb!" jawab Titin.
"Emangnya Ceu Titin udah punya pacar?" tanya Raisa.
"Ada! Tapi rahasia!" jawab Titin penuh misteri
"Kasih tahu dong, Ceu, siapa pacarnya? Yang gagah, yang macho pastinya ya?"
"He he he, iya," Titin tersipu malu.
Akhirnya malam itu dihabiskan dengan mengobrol sepanjang malam.
"Memangnya Nyonya Rena itu kenapa sampai membuat Tuan Rangga depresi?" tanya Raisa ingin tahu.
"Hei jangan panggil lagi 'Tuan' Rangga! Besok beliau jadi suamimu!" ujar Titin.
"Iya, iya! Cepat cerita dong!" kata Raisa tidak sabar
"Begini lho ya yang saya dengar dari Bu Irah," lalu mengalirlah cerita tentang pernikahan Rangga dan Rena. Raisa memang telah mendengarnya dari Om Adam. Cuma Raisa ingin tahu versi lain dari orang yang bukan keluarga Rangga.
Ketika menjelang dini hari, barulah mereka terlelap. Ketika pintu kamar hotel diketuk, Titin bangun dengan tergesa.
"Waduh, gawat! Kita kesiangan karena ngobrol semalaman!" Titin segera mengguncang-guncang tubuh Raisa.
"Raisa! Cepat bangun! Kita kesiangan! Itu sepertinya tukang riasnya sudah datang!"
"Hah?!" Raisa yang kaget, langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan badan.
*******
"Apaaa?! Adam! Aku ini Mamanya! Kenapa kamu mendadak sekali menikahkan anakku! Aku baru diberitahu sekarang! Kamu ... keterlaluan!" pekik Nyonya Cindy ketika diberitahu Om Adam perihal pernikahan Rangga.
"Masalahnya mumpung momennya sangat tepat! Aku enggak mau Rangga berubah pikiran. Rangga harus menolong gadis itu dari jeratan ibu tirinya yang menjadikan gadis itu sebagai penebus hutang pada seorang kakek-kakek tuan tanah!" jawab Om Adam membela diri.
"Kamu itu sembrono! Kamu kira pernikahan itu main-main? Mereka tidak saling mencintai! Aku khawatir .....," Nyonya Cindy akan meneruskan kalimatnya, tapi Om Adam cepat memotong.
"Gadis itu mirip Rena! Aku yakin, lambat laun Rangga akan mencintai gadis itu. Begitupun gadis itu. Dia cuma gadis kampung. Tidak akan macam-macam,"
__ADS_1
"Wajah mirip mendiang istri Rangga tidak dapat jadi jaminan Rangga akan mencintainya. Pasti ada perbedaan karakter. Kamu bikin aku pusing saja Adam!" Nyonya Cindy memijit pelipisnya.
"Sudahlah Kak Cindy! Kak Cindy tidak usah banyak pikiran. Pokoknya aku sebagai Omnya akan membantu Rangga agar move on dari masa lalunya dengan membuka lembaran baru bersama Raisa,"
"Ya sudah. Nanti tolong videokan proses akad nikahnya. Setelah selesai, aku juga mau menyapa menantuku dan mau bicara sama Rangga," kata Nyonya Cindy pada akhirnya.
'Oke!" jawab Om Adam.
Dan pernikahan itupun terjadi. Raisa yang telah didandani cantik dengan kebaya pengantin modern, membuat Rangga pangling. Ketika Raisa memasuki ruangan tempat akad nikah, Rangga dibuat terpesona. Berkali-kali Rangga melirik Raisa, ketika ia sudah siap mengucapkan ijab kabul.
"Sah!" pada akhirnya orang-orang berteriak dengan lega setelah Rangga mengucapkan ijab kabul akad nikah.
Raisa mencium punggung tangan Rangga dengan hati berdebar-debar. Rangga mencium kening Raisa setelah membaca do'a diatas ubun-ubun Raisa.
Semua ART Rangga dan orang-orang suruhan Om Adam dikerahkan untuk membagikan nasi kotak kepada para tetangga satu RT sekitar villa itu. Rencana semula akan ada acara syukuran dengan mengundang para tetangga.Tapi Rangga menolak. Rangga tak suka keramaian. Akhirnya Om Adam mengalah dengan merubah acara menjadi membagikan nasi kotak sebagai syukuran dan pemberitahuan tentang pernikahan Rangga. Pernikahan itu hanya dihadiri beberapa orang saja termasuk para ART Rangga dan anak buah Om Adam.
Mereka melakukan sesi foto-foto alakadarnya dan menikmati hidangan yang telah disediakan.
Setelah acara selesai, Titin dan Bu Irah membawa Raisa ke salah satu kamar dilantai dua yang telah dihias menjadi kamar pengantin.
"Selamat menempuh hidup baru ya, Nyonya! Cepat berikan kabar baik dengan kehadiran Tuan Rangga Junior!" bisik Titin.
Wajah Raisa langsung bersemu merah mendengar bisikan dari Titin. Titin terkekeh geli melihatnya.
"Semoga Nyonya Raisa dan Tuan Rangga berbahagia dan cepat dikaruniai momongan," ucap Bu Irah juga.
Bu Irah dan Titin pun meninggalkan Raisa di kamar itu sendirian. Raisa yang masih merasa berdebar-debar, memutuskan untuk mengganti pakaian pengantinnya dengan pakaian rumah.
Cekrek!
Pintu kamar pun dibuka dari luar. Raisa mengurungkan niatnya untuk berganti pakaian. Ia memilih tetap duduk di pinggir ranjang.
Rangga masuk ke kamar dan menutup kembali pintu kamar itu. Ada kecanggungan diantara mereka.
Terdengar bunyi dering hp. Om Adam telah memberikan hp baru untuk Rangga. Sudah lama Rangga tak menyentuh bahkan berinteraksi dengan siapapun melalui benda pipih itu. Karena Rangga memang memutuskan interaksi dengan dunia luar. Ia ingin hidup menyendiri saja. Kalaupun Mamanya atau kakak dan adiknya rindu, mereka akan menelepon lewat hp Pak Dani.
"Mama ingin bicara dengan menantu Mama!" kata Nyonya Cindy.
"Mama ingin bicara dengnmu," kata Rangga sambil memberikan hp itu pada Raisa.
Dengan sedikit gemetar, Raisa menerima benda pipih itu. Dengan gugup, ia menyapa mertuanya.
"Hallo, Nyonya?" sapa Raisa.
'Hmm .... cantik! Memang mirip Rena!' gumam Nyonya Cindy dalam hati.
"Ck! Raisa, jangan panggil Nyonya dong! Panggil Mama, Oke? Sekarang saya ini Mama kamu juga," kata Nyonya Cindy.
"Iya, Ma," jawab Raisa.
"Kamu cantik sekali! Tak salah Rangga menikahimu! Mama titip Rangga ya! Ingatkan dia jika berbuat salah. Jangan segan-segan lapor pada Mama kalau dia menyakiti hatimu. Kalian suami istri sekarang. Apapun permasalahan yang timbul, hadapi bersama. Kamu jangan cepat menyerah ya, Raisa. Kamu harus sabar punya suami seperti Rangga," nasehat Nyonya Cindy sambil tersenyum.
"Baik, Ma," jawab Raisa sambil menunduk.
"Jangan menunduk dong! Lihat Mama! Kamu tidak perlu segan pada Mama. Anggap Mama seperti Mama kamu,"
Raisa mengangkat wajahnya melihat pada layar hp. Di sana terlihat Nyonya Cindy sedang tersenyum padanya dengan tulus.
"Maaf keluarga Rangga tak menghadiri acara spesial kalian. Karena Omnya Rangga mendadak memberitahukannya. Mama sebenarnya marah pada dia. Tapi ya sudahlah! Yang terpenting acara sudah berjalan lancar. Kalian telah sah menjadi sepasang suami istri. Mama bahagia, Rangga ada yang mendampingi setelah sekian lama menyendiri. Cintai Rangga dan sayangi Rangga ya nak!"
"Ya, Mama. Saya akan berusaha menjadi istri yang baik untuk ..., untuk .... Mas ... R-Rang-ga," Raisa merasa gugup untuk menyebut nama suaminya.
Nyonya Cindy kembali tersenyum.
"Ya sudah, berikan hp nya pada Rangga..Mama mau bicara sama Rangga," kata Nyonya Cindy.
Raisa memberikan hp itu pada Rangga.
__ADS_1
"Rangga. Kamu sekarang punya tanggungjawab lagi menjadi kepala keluarga. Mama minta, kamu menjadikan masa lalu sebagai pelajaran bagimu. Cintai dan sayangi Raisa ya nak. Kalian jangan lepas berkomunikasi tentang apapun. Semua harus dibicarakan. Jangan pernah menyimpan permasalahan dan kesusahan sendiri. Susah senang harus tetap bersama," kata Nyonya Cindy memberi wejangan pada anaknya.
"Ya, Mama," jawab Rangga.
"Jaga diri baik-baik. Selalu jaga kesehatan. Mama belum bisa berkunjung ke sana. Semoga kamu yang bisa berkunjung ke sini sama istrimu," kata Nyonya Cindy.
Percakapanpun berakhir. Rangga memasukkan hpnya pada saku tuxedonya. Rangga menatap Raisa. Kemudian ia duduk disamping Raisa.
"Om Adam menyuruh kita bermalam di hotel. Tapi aku menolak. Kita habiskan waktu di sini saja. Di sini suasananya lebih tenang dan lebih privacy. Aku belum siap keluar dan bertemu banyak orang," kata Rangga.
"Terserah Tuan eh Mas Rangga saja. Aku nurut saja," jawab Raisa.
"Pernikahan ini membuat aku canggung. Kita belum lama saling mengenal. Jadi kamu jangan terlalu berharap akan seperti pernikahan pada umumnya. Biarkan kita saling mengenal dulu. Jadi, kamu tidur di sini, dan aku tidur di kamarku. Kamu harap mengerti," kata Rangga membuat Raisa sedikit terkejut. Ada rasa kecewa dalam hatinya mengapa suaminya seperti tidak menginginkannya.
"Apa aku tidak layak jadi istrimu?" tanya Raisa dengan berani.
Rangga terdiam sejenak sambil menatap tajam Raisa. Kemudian ia menghela nafas.
"Bukan begitu. Aku hanya ....,"
"Lalu kenapa Mas menikahiku? Untuk apa?" Raisa merasa menanyakan pertanyaan bodoh. Ia tahu Rangga menolong Raisa untuk terbebas dari ibu tirinya. Tapi Raisa ingin tahu alasan lain. Orang seperti Rangga tidak mungkin sembarangan menikahi wanita kan?
"Kukira kamu tahu alasannya," jawab Rangga.
"Aku ingin tahu alasan lainnya,"
"Nanti kamu marah kalau aku mengatakannya," kata Rangga.
"Katakan saja. Aku tidak akan marah," ucap Raisa yakin.
"Baiklah, kalau kamu ingin tahu," kata Rangga menjeda, "Karena kamu seperti Rena. Aku seolah-olah menolong Rena,"
"Sudah kuduga!" gumam Raisa yang masih dapat didengar Rangga.
"Bagaimana pendapatmumu?" Rangga ingin tahu.
"Dari awal aku sudah tidak berharap lebih padamu," ujar Raisa merasa miris.
"Kau gadis yang pemberani dan lugas,"
"Berbeda dengan Renamu bukan?"
Rangga hanya diam. Ia lalu berdiri.
"Istirahatlah. Aku juga mau beristirahat. Ingat, jangan membebani pikiranmu dengan hal-hal yang akan membuatmu tidak nyaman. Jalani saja pernikahan ini seperti air mengalir. Kamu aman dari keluargamu. Dan aku juga tidak terganggu dengan adanya dirimu di rumah ini," kata Rangga dingin.
"Om Adam sudah membelikanmu beberapa pakaian untuk kau pakai sehari-hari. Jangan kau pakai lagi pakaian-pakaian kumuhmu. Kamu sudah menjadi Nyonya Rangga sekarang. Kamu juga harus menjaga sikap," ucap Rangga lagi kemudian ia beranjak pergi meninggalkan kamar itu.
Raisa merasa gemas dan marah. Ia memukul di udara.
"Huh! Dingin dan sombong sekali dia! Dasar tidak punya perasaan! Ngomong seenaknya sendiri aja! Dasar orang gila!" gerutu Raisa dalam hati.
"Kalau bukan karena terpaksa, aku tidak mau menikah denganmu! Kamu memang tampan, tapi hatimu terbuat dari batu!" gerutu Raisa lagi.
Dengan perasaan yang marah, Raisa mengganti pakaian pengantinnya dengan pakaian rumah. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Hmmm .... empuk dan nyaman sekali kasur ini. Hoam .... aku jadi ngantuk! Gara-gara ngobrol semalaman dengan Ceu Titin, aku jadi kurang tidur. Lebih baik aku tidur sekarang, daripada memikirkan laki-laki menyebalkan itu!" gumam Raisa.
Tak lama kemudian Raisa sudah terlelap kenalan mimpi.
Sementara Rangga di kamarnya sedang menatap lukisan Rena. Buliran bening membasahi pipi Rangga
"Rena, maafkan aku. Aku sedang berusaha membuka lembaran baru hidupku. Jangan kau anggap aku mengkhianatimu. Aku masih tetap mencintaimu. Hanya kamu wanita istimewaku," gumam Rangga lirih.
🌺 🌺 🌺 🌺 🌺
Wah .... gimana nih pernikahan mereka? Raisa dianggap apa? Apakah Raisa bisa menaklukkan hati Rangga? ikuti terus ya cerita ini. Jangan lupa berikan ulasan, vote , like dan komentarmu yang bikin Othor semangat menulis. Ternyata menulis novel itu butuh mood yang tinggi. Kalau gak mood, satu bab juga gak bakalan jadi-jadi. Happy reading!
__ADS_1