TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 11. JALAN SAMA OM?


__ADS_3

"Mas ..., Mas Rangga ....!" sekali lagi Raisa memanggil suaminya.


Rangga yang dari tadi asyik memainkan ponselnya segera mendongkak dan melihat ke arah pintu kamar mandi yang berada di kamar itu.


"Ada apa?" tanya Rangga.


"Mmm .... bisa gak tolong ambilkan pakaianku?" ucap Raisa ragu-ragu.


"Enggak bisa. Aku lagi sibuk. Ambil saja sendiri. Lagipula pakai saja pakaian di sini," jawab Rangga.


Raisa melotot mendengar jawaban Rangga. Enak saja, bisa-bisa nanti aku dibilang cewek penggoda lagi, pikir Raisa.


"Mas ....!" rengek Raisa.


"Pakai baju disini aja Raisa! Tidak akan terjadi apa-apa!" kata Rangga.


"Janji? Mas Rangga jangan ngintip,"


"Janji! Enggak akan ngintip!"


"Beneran? Awas kalau ngintip! Cepetan menghadap ke tembok!"


"Ngapain sih menghadap ke tembok segala! Udah, tutup mata aja, nih!" Rangga menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


Raisa dengan perlahan berjalan ke koper yang ia simpan dekat lemari sambil memegang erat handuk yang melilit tubuhnya. Raisa takut handuk itu jatuh merosot.


Raisa berjongkok memilih pakaian d*l*m dan pakaian rumah. Rangga diam-diam mengintip dari sela-sela jari tangannya.


Glek!


Rangga menelan salivanya. Rangga melihat p*ha mulus Raisa. Juga bahu Raisa yang terbuka karena masih memakai handuk.


Detik berikutnya, Rangga menahan nafas. Tampak Raisa sedang memakai c*lan* d*l*m warna pink tanpa membuka handuknya. Kemudian ketika Raisa akan memakai b*a warna hitam tiba-tiba handuknya merosot jatuh.


"Aaaaa ....!" pekik Raisa sambil cepat-cepat mengaitkan pengait b*a nya. Raisa spontan melihat ke arah Rangga yang sedang duduk menutup mata.


Sekilas Rangga dapat melihat tubuh Raisa seluruhnya. Matanya membelalak melihat pemandangan indah seorang wanita lagi setelah sekian lama tidak melihat pemandangan indah seperti itu.


"Awas! Jangan ngintip!" ancam Raisa.


Cepat-cepat Rangga merapatkan jari-jarinya karena tidak mau ketahuan mengintip.


"Apaan sih! Dari tadi juga enggak ngintip!" ujar Rangga.


Raisa dengan cepat memakai memakai celana selutut kemudian memakai t-shirt.


"Udah belum?" tanya Rangga. Persis seperti main petak umpet saja, pikir Rangga sambil bibirnya menyunggingkan senyum.


"Udah!" jawab Raisa.


Ranggapun membuka telapak tangannya dari matanya. Ia tersenyum canggung. Raisa juga jadi merasa canggung.


Rangga segera bergeser dari sisi ranjang. Ia memberi akses Raisa untuk tidur di ranjang dekat dinding. Sementara Raisa masih menyisir rambutnya sambil bercermin.


Setelah Raisa selesai menyisir rambutnya, Raisa segara naik ke ranjang. Ia segera memposisikan diri di dekat dinding.


Rangga yang lebih dulu membaringkan badan, memiringkan tubuhnya membelakangi Raisa. Rangga ingin menyembunyikan sesuatu yang bangun di tubuhnya.


"F*ck! Kenapa sih harus tegang disaat begini! Bikin malu aja!" maki Rangga pada diri sendiri.


Raisapun segera membaringkan tubuhnya sambil memunggungi Rangga. Ia menghadap dinding. Mereka memang merasa lelah setelah menempuh perjalanan tadi pagi. Dan mereka ingin tidur siang untuk memulihkan tenaga.


Kamar Rangga di rumah Mamanya itu kini telah berganti suasana. Tidak terkesan maskulin lagi. Mamanya telah merubah kamar itu menjadi kamar keluarga. Karena anak dan cucunya kerap menginap di rumah itu. Jadi selama Rangga tidak pernah pulang ke rumah itu, kamar itu benar-benar sudah berubah.


Tak butuh waktu lama, keduanya terlelap tidur. Ranggapun untungnya dapat menjinakkan ularnya hingga ikut tertidur.


******


Sore hari, mereka berdua bangun dari tidur. Setelah mandi dan berpakaian, Rangga mengajak Raisa berjalan-jalan di sekitar rumah Nyonya Cindy. Rumah Nyonya Cindy berada di sebuah kawasan elit ibukota. Rumah-rumah di kawasan itu besar-besar dengan pagar rumah yang tinggi. Sudah dapat di tebak, mereka yang tinggal di kawasan itu jarang berinteraksi satu dengan yang lain. Beruntungnya dulu keluarga Arya Diningrat tinggal di komplek menengah kebawah. Sehingga Daffa, Rangga, dan Wulan pada waktu masih kecil masih bisa berinteraksi dengan teman-teman sebayanya sekitar rumah mereka.


Ketika mereka beranjak remaja, mereka sekeluarga pindah ke kawasan elit itu seiring ekonomi keluarga itu yang semakin beranjak naik. Kedua orangtua mereka perlu menaikkan pergaulan dengan orang-orang kalangan atas untuk dapat menaikkan 'nilai jual' perusahaan. Karena bagaimanapun profil keluarga menjadi salah satu kepercayaan para investor atau para kolega agar mereka mau dan percaya bekerjasama dengan perusahaannya.

__ADS_1


"Kita jalan-jalan ke minimarket dekat sini. Di dekat mini market itu juga ada taman. Nanti setelah kita jalan-jalan, kita ke rumah sakit lagi. Aku belum melihat Kak Daffa. Lagipula aku yang akan giliran jaga Kak Daffa. Kamu bisa pulang sama Pak Wira," kata Rangga menjelaskan kegiatan yang akan mereka lakukan sore itu.


Raisa mengangguk. Rangga memindai penampilan Raisa sore itu. Raisa memakai pakaian yang dibelikan Rangga. Hanya saja sendal yang dipakai Raisa adalah sendal pilihan Raisa waktu itu.


"Oke, tak apa. Tidak buruk. Kamu cantik. Kamu terlihat seperti Rena waktu awal-awal baru nikah," kata Rangga. Perkataan Rangga sontak saja membuat mood Raisa memburuk.


Kenapa Rangga selalu bicarakan Rena di saat bersama Raisa. Tidak bisakah sebentar saja melupakan Rena dari pikirannya? Raisa mengarahkan pandangannya ke arah lain untuk menghalau perasaannya yang mendadak buruk.


"Ma, kami pergi dulu," pamit Rangga.


"Iya, hati-hati. Nanti Raisa pulangnya jangan malam-malam. Kasihan," pesan Nyonya Cindy.


"Iya, Ma," jawab Rangga.


Mereka lalu masuk ke mobil. Mobil pun berangkat dengan kecepatan lambat. Pak Wira tahu, Rangga dan Raisa ingin menikmati pemandangan sekitar kompleks perumahan tempat tinggal Rangga dulu. Apalagi Rangga. Rangga seperti diajak bernostalgia dengan kawasan itu. Kawasan tempat tinggalnya dulu sewaktu belum menikah dengan Rena.


Ada banyak perubahan yang terjadi setelah sepuluh tahun Rangga baru ke sana lagi. Kenangan masa remaja Rangga bersama Kakak dan adiknya. Rangga tampak tersenyum sendiri mengingat kejadian lucu di sebuah tempat nongkrong anak muda yang kini berubah menjadi sebuah tempat kursus bahasa asing.


Raisa yang melihat Rangga sedang senyum-senyum sendiri sedang mengingat hal yang lucu tapi tak mau membaginya dengan dirinya, membuat Raisa malas untuk membuka percakapan. Raisa memandang ke luar jendela mobil.


Pikirannya jauh mengingat kembali ucapan Om Adam pada waktu Om Adam menawarkan bantuan yang di berikan Rangga untuk menyelamatkan Raisa dari pernikahan dengan Pak Beni.


"Rangga memintaku untuk membayar hutang keluargamu pada Pak Beni. Tapi ada syaratnya. Kamu harus mau menikah dengan Rangga. Itu sebagai balas jasa pada Rangga. Rangga memang telah sembuh dari depresinya. Tapi dia belum move on dari mengingat Rena. Pesan Om, buatlah Rangga jatuh cinta padamu! Kamu mirip Rena waktu muda. Buatlah Rangga melupakan Rena. Buatlah Rangga kini hanya mencintaimu," kata Om Adam waktu itu.


Raisa berdecak mengingat itu semua. Bagaimana bisa dia lepas dari satu pernikahan yang tak diinginkan, jatuh pada pernikahan yang tak diinginkan lainnya. Dulu ia pernah memimpikan akan menikah dengan lelaki yang sangat mencintainya. Tapi ternyata, dia menikah dengan orang yang tidak mencintainya. Lelaki itu hanya mencintai istri masa lalunya. Raisa harus menahan perasaannya ketika suaminya selalu menyebut nama istri masa lalunya. Walau Rena telah tiada, tapi kenangan bersamanya tampaknya tidak bisa hilang dari ingatan Rangga. Rangga hanya ingin memenuhi permintaan Mamanya yang menyuruhnya menikah lagi.


"Kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Rangga menoleh ketika mendengar Raisa berdecak.


"Bukan urusanmu!" ketus Raisa. Percuma saja kalau Raisa curhat tentang ketidaksukaannya pada Rangga yang selalu menghubung-hubungkan dirinya dengan Rena. Raisa tidak suka disamakan dengan Rena. Raisa tidak suka Rangga menyuruhnya untuk menjadi seperti Rena.


"Aku kan hanya bertanya. Siapa tahu aku bisa membantu. Kalau tidak mau dibantu ya sudah," Rangga terlihat marah karena mendapat perkataan Raisa yang membuatnya tersinggung.


Raisa memilih bersikap bodo amat. Sikap itu akan membuatnya tidak sakit hati bila Rangga menyebut-nyebut nama Rena lagi.


Mobil pun sampai di mini market. Pak Wira turun duluan. Ia langsung membukakan pintu untuk Rangga. Sedangkan Raisa memilih membuka sendiri pintunya.


"Saya bisa sendiri, Pak Wira," kata Raisa ketika Pak Wira akan beranjak membukakan pintu untuk Raisa.


Mereka berjalan masuk ke mini market. Raisa langsung mengambil keranjang. Tapi ia tidak tahu akan belanja apa. Makanya Raisa menunggu Rangga yang jalan duluan memilih barang-barang yang akan dibeli.


"Kita akan beli minuman ringan dan camilan untuk yang jaga Daffa," Rangga tahu kebingungan Raisa.


"Kamu juga bisa ambil yang kamu inginkan untuk di rumah nanti sepulang dari rumah sakit," kata Rangga lagi.


Setelah mengambil makanan dan minuman yang akan dibeli, mereka membawa belanjaan itu ke kasir. Setelah Rangga membayar belanjaan, merekapun keluar dari mini market itu.


"Kamu ambillah yang akan kamu makan atau minum. Kita nanti ke taman itu. Aku mau nyimpan belanjaan ini dulu ke mobil," kata Rangga. Raisa mengangguk. Ia mengambil sebuah es krim yang tadi dipilihnya.


Ketika Rangga sedang ke mobilnya, Raisa berjalan ke arah taman. Disana ada beberapa orang yang sedang menikmati suasana taman juga.


Raisa segera duduk di bangku taman yang kosong. Ia membuka bungkus es krim coklat stik kesukaannya. Ketika ia tengah asyik menikmati es krimnya, ada seorang pemuda yang menghampirinya.


"Hai, boleh aku duduk di sini?" tanya pemuda itu.


"Boleh. Bangku ini milik umum kok," jawab Raisa. Pemuda itu tersenyum. Lalu duduk di sebelah Raisa.


"Namaku Devan. Namamu siapa?" tanya pemuda itu.


Raisa yang masih asyik menikmati es krimnya sekilas melirik pemuda itu. Tampan. Raisa menikmati lagi es krimnya tanpa sungkan.


"Raisa," jawab Raisa masih cuek.


Pemuda itu tersenyum melihat Raisa yang lucu memakan es krim. Sudut bibir Raisa sedikit belepotan.


"Kamu lucu. Di sudut bibirmu belepotan es krim tuh," kata pemuda yang bernama Devan.


Raisa menghentikan makan es krim. Ia mengusap sudut bibirnya. Bukannya hilang, justru tambah belepotan.


"Ha ha ha! Biar kubantu membersihkannya ya. Maaf," Devan mengusap sudut bibir Raisa dengan tisu.


"Terimakasih," ucap Raisa jadi tersipu malu.

__ADS_1


"Aku tadi juga belanja di mini market itu. Kamu sedang jalan ya sama Ommu? Mana Ommu?"


"Om?" Raisa tampak kaget.


"Ya. Dia om kamu kan?"


Raisa merasa geli. Benar juga sih. Usia Rangga dan usianya terpaut 20 tahun. Raisa tertawa dalam hati.


"Iya. Omku," Raisa mengiyakan saja daripada memperpanjang pertanyaan pemuda itu. Lagipula jadi istri juga serasa jadi orang lain.


"Raisa!" sebuah suara memanggil Raisa. Raisa dan Devan menoleh pada asal suara. Lelaki itu berjalan menghampiri Raisa. Siapa lagi kalau bukan Rangga.


"Kamu di sini rupanya," kata Rangga. Rangga langsung menatap tajam pada pemuda yang duduk di samping Raisa.


"Hallo, Om. Saya teman barunya Raisa. Om mau duduk di sini? Kalau gitu saya pergi ya Raisa. Semoga kapan-kapan kita bisa jumpa lagi. Mari Om!" kata Devan tanpa menunggu jawaban lelaki yang dikiranya Omnya Raisa. Tatapan tajam Rangga cukup membuatnya mengerti akan ketidaksukaan lelaki itu padanya.


"Ya. Sampai jumpa lagi," jawab Raisa sambil melambaikan tangan.


Rangga yang masih dengan wajah dinginnya, duduk di samping Raisa. Melihat Raisa bersikap manis pada lelaki lain, Rangga merasa tak suka.


"Di Jakarta ini, kamu jangan sembarangan kenalan. Karena banyak orang-orang jahat dengan modus berkenalan, akhirnya di tipu, di culik, diperkosa bahkan di bunuh," kata Rangga.


"Devan kelihatannya pemuda baik-baik kok. Enggak ada tampang penjahat," Raisa menghabiskan bagian es krim terakhirnya.


"Justru itu, sekarang itu banyak penjahat tampangnya seperti orang baik-baik. Kamu harus hati-hati," ucap Rangga sambil meminum minuman bersoda kaleng.


"Kurasa dia bukan orang jahat kok. Buktinya Devan kelihatan takut lihat Mas. Makanya, punya muka tuh senyum dikit kek. Jangan datar dan dingin gitu. Bikin orang lain takut aja. Devan pikir Omnya Raisa galak banget tampangnya," kata Raisa sambil terkekeh.


"Apa? Om? Dia kira aku Om kamu?" tanya Rangga.


"Iya. Dia kira Mas itu Om aku. Tadi dia juga belanja di mini market itu," jawab Raisa.


"Terus, kamu bilang apa?"


"Ya, aku meng-iya kan saja. Lagipula usia kita terpaut jauh kan ya. Biar aja orang lain berpikir begitu. Biar enggak banyak tanya," jawab Raisa enteng.


"Itu salah, Raisa! Kamu jangan seperti itu! Kamu itu sudah punya suami. Kalau ada yang menggodamu bagaimana,"


"Biar aja! Lagi pula punya suami juga kayak bukan suamiku. Yang ada dipikirannya hanya wanita lain. Yang dicintainya hanya wanita lain," Raisa berdiri kemudian membuang bungkus es krimnya pada tong sampah tak jauh dari tempatnya duduk tadi.


Rangga mengejar Raisa, kemudian mencekal bahu Raisa.


"Apa maksud kamu wanita lain? Maksud kamu Rena?"


"Siapa lagi?" Raisa malas membicarakan wanita masa lalu Rangga. Ia berjalan ke bangku taman lagi dan duduk sambil menopang wajahnya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada pahanya.


Rangga ikut duduk kembali di bangku taman itu.


"Kamu dari awal juga tahu kan kisah masa laluku dari Om Adam? Kamu harus maklum. Lagi pula hubungan kita .....," Rangga tak meneruskan ucapannya.


"Oke! Mas cuma menolongku! Tidak lebih dari itu! Aku harus patuh dan mengikuti kemauan Mas untuk bersandiwara di depan keluarga Mas? Itu kan yang Mas mau?!" kata Raisa dengan nada tinggi.


Netranya menantang netra Rangga.


"Jadi, jangan larang aku untuk dekat dengan cowok lain! Bodo amat Mas masih terobsesi Kak Rena!Aku mau cari pacar! Aku juga berhak mencari kebahagiaanku!"


"Raisa!" panggil Rangga marah.


"Ayo cepat masuk ke mobil! Sudah cukup kamu membual! Kamu jangan coba-coba bertindak sesukamu! Kamu itu istriku! Kamu sudah punya suami!"


Keributan diantara mereka membuat orang yang berada di taman itu menoleh pada mereka. Melihat orang-orang yang memperhatikan mereka berdua, Rangga segera menarik tangan Raisa untuk pergi dari taman itu.


"Dengar! Jangan membahas ini lagi, oke? Apa mau, kamu dikembalikan pada keluargamu?" ancam Rangga dengan suara pelan.


Raisa tercekat. Ancaman Rangga membuatnya takut. Raisa menggelengkan kepalanya. Sedikit ancaman dari Rangga agaknya dapat membuat gadis belia itu bungkam.


"Jadilah gadis penurut! Kamu aman, aku juga nyaman. Itu baru adil," kata Rangga lagi dengan senyum smirknya.


TO BE CONTINUED


Terimakasih ya yang masih setia mengikuti ceritaku. Jangan lupa beri rating pada cerita ini. Juga vote, like dan komenmu ya! Love love deh sekebon!

__ADS_1


__ADS_2