TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 25. TERGODA


__ADS_3

Varrel POV


Sekretaris baru itu namanya Mely. Ia menggantikan sekretaris lamaku yang bernama Laras. Laras mengundurkan diri setelah mulai mengandung anak kedua. Ia akan fokus menjadi ibu rumah tangga saja katanya.


Mulanya Mely bekerja secara profesional, persis seperti Laras dahulu. Istriku, Wulan juga merasa puas dengan kinerja Mely. Jabatan Wakil Direktur pada istriku, yang membuatnya harus mengatur waktu urusan di perusahaan dan urusan rumah tangga. Ia tidak ingin anak-anak kehilangan sosok ibu karena bekerja di kantor. Oleh sebab itu, Wulan sewaktu-waktu ke kantor untuk membantuku mengurus perusahaan.


Perusahaan milik Kak Rangga sedang maju pesat sewaktu ditinggalkan Kak Rangga. Kak Rangga mengalami depresi karena permasalahan rumah tangganya. Ia harus di rawat di RSJ. Wulan mengambil alih mengelola perusahaan. Karena Wulan hamil, Wulan memintaku membantunya. Lama-kelamaan Wulan menyerahkan tampuk kepemimpinan perusahaan kepadaku. Wulan banyak membantuku dalam menjalankan perusahaan. Maklumlah, keluarganya keluarga pengusaha. Darah bisnis mengalir dirinya. Aku yang awam karena basicku yang hanyalah karyawan biasa, sedikit demi sedikit berhasil mengelola perusahaan berkat campur tangan Wulan.


Seharusnya aku bersyukur mempunyai seorang istri yang bukan hanya cantik, tapi juga menerimaku apa adanya. Latar belakangku yang dari keluarga biasa, tak membuat dia goyah untuk terus melanjutkan hubungan hingga ke pelaminan. Dia dengan gigih meyakinkan keluarganya untuk menerimaku.


Aku bahagia sekali bisa menikahinya. Ia gadis tercantik di kampusku. Ia adik tingkatku. Keluarganya juga adalah keluarga kaya. Anak seorang pengusaha bernama Arya Diningrat. Aku sebenarnya agak minder. Tapi berkat dorongan Wulan, aku yang mencintainya dengan tulus, berani melamarnya. Setelah terganjal restu, berkat kesungguhan dan ketulusanku, akupun di terima menjadi bagian dari keluarga Arya Diningrat.


Pernikahan kami berjalan dengan manis dan romantis. Seperti dalam menjalankan roda perusahaan, semuanya lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Riak-riak kecil dalam rumah tangga menjadi bumbu dalam berumah tangga. Semuanya selalu dapat diselesaikan dengan baik. Aku dan istriku akan kembali romantis dan panas di ranjang. Tapi naas. Ketika aku sudah punya dua anak, karena kehadiran seorang sekretaris yang selalu menggodaku, pertahanan ku jebol. Aku mengkhianati janji suci pernikahan. Aku selingkuh.


Begini awal mulanya. Selama 1 bulan pertama, Mely bersikap biasa saja. Ia menunjukkan kinerja yang bagus sebagai sekretaris. Hubungan kami profesional, layaknya atasan dan bawahan. Tidak ada yang istimewa. Semua berjalan normal-normal saja. Urusan di kantor dan urusan di rumah berjalan seperti biasanya.


Hingga memasuki bulan ke dua, Mely mulai berulah. Dia mulai genit padaku. Pakaiannya juga s*xy, tidak seperti awal-awal yang berpakaian kerja pada umumnya. Bila akan menghadapku untuk menyerahkan berkas, dia seperti sengaja membuka dua kancing kemeja bagian atasnya. Sehingga dua bukit k*mbarnya terlihat menyembul. Apalagi roknya yang mini, dia sengaja duduk dengan paha terbuka, sehingga terlihatlah kain segitiga yang dipakainya. Rupanya dia tidak memakai celana pendek atau sejenisnya untuk ********** bila duduk di sofa ketika sedang berdiskusi.


Suatu malam, kami baru saja menyelesaikan meeting dengan klien di sebuah restoran privat room. Setelah klien permisi pergi, aku meregangkan kedua tanganku yang terasa kaku dan pegal, karena hampir beberapa jam kami meeting.


Melihat itu, Mely menghampiriku dan menyentuh kedua bahuku.


"Bapak pegal ya pak? Saya pijit ya Pak, supaya agak enakan," katanya langsung tanpa menungguku menjawab.


Mulanya aku akan mengatakan keberatan. Tapi karena dia sudah keburu memijit bahuku dan terasa enak, akhirnya aku membiarkan saja. Pijitannya enak. Membuat otot-otot di bahu, leher dan pangkal lenganku jadi tidak kaku lagi. Lama-lama, Mely seperti sengaja mengg*sek-g*sekkan buah d*d*nya pada punggungku.


Aku yang merasa ada benda kenyal di punggungku, membuatku terpancing g*irah. Kondisiku yang sedang lelah, mendapat hiburan gratis demikian, membuatku terlena. Dan ketika aku menoleh, kancing-kancing baju Mely sudah terbuka.


Br* warna merah dengan isinya yang lumayan besar, menggoda imanku. Dengan berani, Mely duduk di pangkuanku sambil mengalungkan tangannya di leherku. Aku menelan saliva melihat pemandangan indah itu dari dekat. Aku terpesona melihat buah d*d*nya.


Mely seperti mengerti keinginanku. Dia menurunkan dua cup br*nya ke bawah. Menyembullah bulatan kenyal itu di depan wajahku. Puncaknya yang terlihat berwarna pink, terlihat menggemaskan. Tapi aku masih belum berani bereaksi.


Lalu tangan Mely membimbingku untuk menyentuh bukit k*mbarnya. Tak membuang kesempatan, akupun merem*s-rem*as bukit k*mbar itu secara bergantian. Akupun tidak tahan, hingga bibirku mendarat di sana. menghis*pnya seperti bayi yang kehausan. kadang juga menjil*-jilatnya dan mengg*gitnya pelan.


Badan Mely melengkung dan menahan d*sahannya. Matanya terpejam merasakan kenikmatan dariku. Aku semakin bersemangat. Aku semakin beringas menikmati buah d*d*nya.


Dering dari ponselku membuyarkan kenikm*tan yang baru kami raih. Rupanya telepon dari istriku. Terpaksa aku menghentikan aktivitasku. Aku tersadar, aku telah mengkhianatinya. Dengan gugup, aku menjawab teleponnya.


📲 "Mas, meetingnya udah selesai belum? Badan Alisa panas! Panasnya tinggi sekali! Kita harus membawanya ke rumah sakit," kata Wulan.


📲 "Aku sudah selesai meetingnya. Oke, Mas pulang sekarang," jawabku.


Setelah mengakhiri telepon, Mely akan menci*mku. Tapi aku menahannya.


"Anakku sakit. Aku harus cepat pulang untuk membawanya ke rumah sakit," kataku.

__ADS_1


"Ck. Kenapa istrimu tidak langsung saja membawanya sendiri sih. Kenapa harus nunggu Pak Bos," keluh Mely kesal.


"Sttt ...., kita lanjutkan nanti ya. Besok-besok," kataku memberinya harapan. Aku sebenarnya merutuki diriku sendiri yang malah memberinya peluang untuk melanjutkan aktivitas panas seperti tadi.


"Oke deh," sahutnya sambil cemberut.


Aku mengacak puncak kepalanya sambil tersenyum. Kamipun akhirnya pulang. Mely kuantar pulang terlebih dahulu. Ketika akan turun dari mobil, dia menyambar bibirku sekilas. Tentu saja aku terkejut. Tapi ci*man singkat itu membuatku jadi ingin cepat-cepat bertemu lagi dengannya di kantor besok pagi.


Entah setan mana yang merasuki diriku hingga aku selingkuh dan selingkuh lagi dengan Mely. Aku tidak memikirkan bagaimana kalau sampai ketahuan istriku. Yang ada di otakku waktu itu hanya perasaan tergila-gila dengan tingkahnya yang manja dan menggemaskan. Juga kelihaiannya dalam memijat. Terus terang saja, Wulan, istriku tidak pandai memijat. Aku yang terbuai oleh pijatan Mely, membuat kami berhubungan semakin jauh.


Sebelum pulang kantor, aku selalu menyempatkan dulu dipijat oleh Mely. Disaat orang lain di kantorku meninggalkan kantor, kami berdua malah asyik bercint*.


Setelah memijat, selanjutnya Mely mens*rvisku. Dia memang pandai sekali melay*niku. Dia memberikan pelay*nan pada j*niorku. Dijil*t-jilatnya, di k*c*knya oleh tangannya, dik*l*mnya hingga dihisapnya berkali-kali. Aku seperti melayang ke awan. Kadang aku juga gantian yang melay*ninya. Kumainkan lidahku pada inti kew*nitaanya.


"Mas Varrel ....!" jerit Mely ketika berada di puncak Kenikm*tan. Mely sudah berani memanggilku Mas di saat berdua. Hanya di depan orang lain saja kami memanggil formal sebagai atasan dan bawahan.


Kalau sudah begitu, aku langsung mengh*jamnya bertubi-tubi dengan berbagai posisi. Berkali-kali hingga kami lemas lunglai.


Kami sering melakukannya di kantor. Kadang juga di hotel. Aku jadi sering berbohong pada istriku jika aku terlambat pulang. Apalagi istriku yang mulai jarang ke kantor karena kesibukannya mengurus anak-anak, membuatku lebih leluasa membohonginya.


Entah itu kesi*lanku yang telah tiba karena sering membohongi istriku, suatu hari ketika affairku dengan Mely menginjak dua bulan, istriku tiba-tiba ke kantor. Padahal sewaktu sarapan pagi, dia tak mengatakan apa-apa.


Brak!


Tiba-tiba pintu ruanganku dibuka dengan keras. Aku dan Mely yang sedang ***-*** jadi terkejut. Posisi Mely yang woman on top membuatku mendorongnya ketika melihat aku kepergok istriku.


"Wulan! Tunggu Wulan! Ini tidak seperti yang kamu lihat!" ucapku panik sambil menyl*tingkan celana panjangku yang melorot hingga betis dan mengancingkan kemejaku yang acak-acakan.


Aku sudah membuat Wulan marah dan terluka. Barulah aku dilanda ketakutan kalau Wulan akan meminta cerai. Sungguh, aku tidak berniat menceraikannya. Tidak ada dalam otakku untuk menikahi Mely. Aku hanya ingin bersenang-senang saja dengannya.


Aku ditampar oleh Wulan. Bahkan j*niorku ditendangnya ketika aku akan memisahkan Wulan yang menjambak rambut Mely.


"Rasakan pengkhianat! Semoga kamu imp*ten setelah ini, b*jing*n!" umpat Wulan.


Aku meringis kesakitan dan menjauh dari Wulan. Aku takut kena amukannya lagi. Wulan jadi sangat brutal dan kasar. Seumur-umur, aku baru melihatnya begitu. Dia selama ini adalah wanita yang lembut dan anggun.


Wulan mempermalukan Mely di depan kepala-kepala divisi. Untungnya Wulan tidak mempermalukanku. Dia mungkin masih memikirkan kalau aibku adalah aibnya juga.


Tapi ancamannya sungguh membuatku ketakutan dan kalut setengah mati. Dia akan mengajukan cerai dan mengambil hak asuh anak kami.


Dia mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhanku dengan meminta rekaman CCTV ke petugas keamanan gedung kantor. Sungguh aku tidak memperhitungkan sebelumnya. Aku tak tahu kalau Wulan memasang CCTV diruanganku. Dia juga menelepon pihak bank untuk meminta rincian penggunaaan kartu kreditku. Hancurlah aku! Aku memang beberapa waktu lalu memanjakan Mely dengan memenuhi permintaannya untuk membeli tas-tas branded dan baju-baju branded. Bahkan aku membelikannya lingerie untuk dipakainya ketika kami check in di hotel.


Ancamannya yang akan mengadukan perselingkuhanku dengan Mely pada Kak Rangga, membuatku ketar-ketir. Kemungkinan besar aku akan dipecat. Dan yang lebih ngeri lagi adalah aku pasti akan dihajar habis-habisan oleh Kak Rangga dan Kak Daffa, kakak Wulan.


Aku sudah berusaha membujuk Wulan, bahkan memohon-mohon padanya. Tapi tak sedikitpun Wulan merasa iba. Aku dicuekannya. Dia pulang naik mobilnya, aku susul. Tiba di rumah, aku melihat Wulan mengeluarkan koper besar di halaman rumah. Perasaanku mulai merasa tidak enak. Ternyata benar saja. Koper itu berisi pakaianku.

__ADS_1


"Mulai hari ini, pergilah dari sini! Pergilah dengan selingkuhanmu! Aku ingin tahu, apakah selingkuhanmu benar-benar mencintaimu setelah kamu tidak punya apa-apa!" kata Wulan sambil menutup pintu.


Aku mengejar Wulan. Tapi pintu keburu ditutup. Berulangkali aku mengetuk pintu rumah sambil memanggil-manggil namanya. Tapi tak digubrisnya. Akhirnya karena aku capek tak dapat respon, akupun pergi sambil menyeret koperku.


Aku bingung mau kemana. Perutku keroncongan. Aku baru ingat belum makan siang. Aku pergi ke sebuah restoran untuk mengisi perut. Akupun makan dengan lahap.


Tapi ketika aku menyodorkan kartu kreditku untuk bayar bill, ternyata kartu kreditku tak dapat digunakan. Sudah berulang kali digesek di mesin EDC, tapi tetap tidak dapat digunakan.


"Maaf, Pak. Kartu kredit anda tidak dapat digunakan," kata pelayan restoran sambil menyerahkan kembali kartu kreditku.


"Bagaimana mungkin? Coba dicoba sekali lagi," pintaku.


"Maaf, Pak. Saya tadi sudah mencobanya beberapa kali. Tapi tetap tidak bisa. Anda mungkin bisa menanyakannya ke pihak bank," kata pelayan restoran itu Abul menunduk.


Terpaksa aku menelepon ke pihak bank dengan perasaan kesal. Dan jawaban dari pihak bank ternyata membuatku kaget. Pemilik perusahaan katanya telah memerintahkan pihak bank agar memblokir seluruh rekening aku sebagai direktur PT. Angkasa Raya. Aku merasa lemas. Ternyata Kak Rangga sudah mendapat aduan dari Wulan.


"Maaf, Pak. Anda harus membayar tunai saja," kata pelayan itu ketika melihatku seperti orang yang kebingungan.


Dengan perasaan malu , kesal, campur aduk, aku membayar tunai bill itu. Untung saja ada beberapa lembar seratus ribuan di dompetku.


Aku melanjutkan perjalananku ke kosannya Mely. Aku memang sempat beberapa kali mengantarkannya ke kosannya Mely. Bahkan aku pernah bermalam di sana dan membohongi istriku dengan mengatakan pada istriku kalau aku ada pekerjaan ke luar kota. Maksudnya aku ingin menumpahkan kekesalanku pada Mely. Gara-gara dia, hidupku berantakan. Karirku pasti hancur akibat perselingkuhan ini.


Tapi ketika aku tiba di kosannya Mely. Mely sedang mengeluarkan kopernya dari kamar kosannya. Wajahnya tampak lebam. Dia malah menghardikku.


"Mau apa kesini?! Laki-laki kere sepertimu bikin aku susah saja!"


"Apa kamu bilang?! Aku begini karena ulah kamu j*l*ng! Andai kamu tidak menggodaku, pernikahanku akan baik-baik saja, dan karirku akan baik-baik saja!" ucapku sambil mengepalkan tanganku menahan marah.


"Dasar laki-laki buaya! Jangan mengambinghitamkan aku! Sekali b*jing*n tetap aja b*jing*n! Kan kamu yang tergila-gila padaku! Lihat apa yang sudah Kakak istrimu lakukan! Aku dihajar oleh anak buahnya!"


"Huh ..., ternyata yang kaya itu keluarga istrimu! Aku salah menerima tawaran seseorang untuk menghancurkan rumah tanggamu! Kukira aku dapat keuntungan sekaligus dengan mendapatkan dirimu! Aku dapat bayaran atas kerjaku dan dapat kekayaan dari laki-laki yang tergila-gila padaku! Ternyata kamu cuma numpang kaya dari istrimu!" cerocos Mely sinis.


"Diam, j*l*ng! Kurobek mulut lancangmu!" darahku serasa mendidih mendengar penghinaannya.


Kujambak rambutnya sampai ia tengadah.


"Lepaskan, miskin!" makinya sambil meringis.


"Siapa orang yang telah menyuruhmu, k*p*rat! Ternyata aku dijebak oleh perempuan j*la"ng sepertimu! Aku menyesal telah mengkhianati istriku yang baik dengan berselingkuh dengan perempuan l*cur sepertimu!" tangan kananku menjambak rambutnya, tangan kiriku menjepit kedua pipinya.


Kondisi kosannya yang sepi karena semua penghuninya sedang keluar bekerja, membuat aku leluasa menyalurkan amarahku pada Mely.


Tapi tiba-tiba beberapa orang laki-laki menghampiri kami dan langsung memukulku. Aku terjatuh mendapat serangan dari mereka. Mereka membantu Mely yang juga ikut terjatuh. Lalu dengan cepat, mereka membawa pergi Mely dan kopernya.


Aku berusaha keras mengejar mereka. Tapi mereka cepat sekali pergi dengan mobilnya. Siapa mereka sebenarnya? Apa mereka sekongkolannya Mely?

__ADS_1


TO BE CONTINUED


__ADS_2