TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 18. CINTAI AKU


__ADS_3

Semua peserta kursus memasak berdebar-debar. Pasalnya Chef William akan berkeliling melihat peserta kursus mempraktekkan cara memasak mereka membuat pastry pilihan mereka yang telah diajarkan Chef William selama tujuh kali pertemuan itu.


Berada di dekat Chef William membuat mereka grogi. Keramahan dan kesabaran Chef William dalam membimbing peserta kursus memasak, menjadi pesona tersendiri bagi mereka.


Walau bidang yang dikuasai Chef William berkaitan dan identik dengan wanita, tapi kesan macho dan gentle masih melekat dalam diri Chef William. Mereka jadi membayangkan, andai punya suami yang pandai memasak, tentunya setiap hari akan dimanjakan dengan masakan-masakan lezat sang suami.


Raisa memilih membuat choux yaitu kue yang dikenal dengan kue sus. Ketika Chef William menghampiri Raisa yang sedang membuat choux, Chef William tersenyum puas melihat Raisa yang terampil membuat kue.


"Kamu memang berbakat, Raisa! Kamu akan jadi orang sukses kalau kamu menekuni bisnis pastry dan bakery," puji Chef William.


"Aamiin ...., terimakasih Chef," ucap Raisa.


Chef William pun berpindah melihat Vega yang juga sedang sibuk membuat puff. Sekali-kali Chef William memberi saran pada Vega. Vega menuruti saran Chef William. Dan setelah berkeliling ke semua peserta kursus, Chef William mempersilahkan peserta kursus untuk mengumpulkan hasil buatannya ke depan dengan memberi nama pembuatnya. Chef William akan mencicipi kue buatan peserta kursus. Chef William merasa senang, karena seluruh peserta didiknya telah menguasai membuat berbagai pastry.


Ketika waktunya pulang, Raisa dan Vega yang pulang belakangan, keluar ruangan beriringan dengan Chef William.


"Kalian ada waktu enggak?" tanya Chef William.


"Kenapa memangnya Chef? Kami enggak ada acara. Palingan kami langsung pulang," jawab Vega.


"Bisa enggak saya minta tolong pada kalian untuk memilihkan kado untuk Mama saya?" tanya Chef William.


"Mamanya ulangtahun ya Chef?" tanya Raisa.


"Iya. Bingung mau ngasih apa ya?" ujar Chef William.


"Kirain buat pacar Chef," goda Vega.


"Ha ha ha ..., belum ada. Makanya saya minta kalian membantu saya pilihkan kado," jawab Chef William.


"Masa sih Chef? Padahal cewek-cewek udah ngantri lho mau sama Chef," canda Vega yang naksir Chef William. Vega menyenggol Raisa untuk memberitahu bahwa ini kesempatan emas untuk Vega mengungkapkan perasaan.


"Ngantri apa? Ngantri mau nagih hutang ya? Ha ha ha ....!" Chef William membalas candaan Vega.


"Memangnya kesukaan Mamanya Chef apa?" Raisa menyenggol Vega yang tampak berbinar-binar.


"Mama suka apa ya? Banyak sih. Memasak, menyulam, juga melukis. Banyak lagi sih yang lainnya. Soalnya Mama banyak waktu luang setelah Papa meninggal," jawab Chef William.


"Papanya Chef sudah meninggal. Turut berduka cita chef," kata Vega yang di ikuti Raisa. Chef hanya mengangguk.


"Kalau alat-alat buat melukis gimana Chef?" usul Raisa, "Soalnya kalau melukis, bisa diselesaikan nanti dan enggak terlalu melelahkan,"


"Boleh juga usul kamu, Raisa," puji Chef William.


"Jadi mau beli alat-alat lukisnya kemana Chef?" tanya Vega.


"Di Mall dekat sini aja. Kalian ikut mobil saya aja," kata Chef William.


"Selain alat-alat lukis, mungkin Chef juga memberi barang yang lain Chef, seperti tas, atau perhiasan mungkin?" Vega memberi saran karena tidak terlalu suka dengan aktivitas melukis.


"Iya, boleh. Sepertinya perhiasan ya. Mama suka mengoleksi gelang," kata Chef William.


"Nah itu Chef! Mamanya pasti senang dapat dua kado," kata Vega.


Raisa menelepon Rangga, ketika akan masuk ke mobil Chef William. Raisa menjauh terlebih dahulu dari mobil Chef William.


📲 "Mas, nanti supir jemputnya satu jam lagi aja. Aku mau nganter teman dulu ke mall beli kado," kata Raisa.


📲 "Temannya cowok apa cewek?" tanya Rangga.


📲 "Mmm .... cewek," bohong Raisa.


📲 "Oke," kata Rangga.


"Kamu udah nelpon ke supir kamu?" tanya Vega.


"Udah dikasih tahu sama yang di rumah," jawab Raisa.


Vega langsung masuk ke mobil dibagian depan, disamping Chef William. Sedang Raisa duduk di belakang. Chef William melihat Raisa dari kaca yang ada di depannya.


"Raisa tinggal dimana?" tanya Chef William.


"Di jalan YYYY, Chef," jawab Raisa.


"Oh, itu kan daerah yang ada apartemennya. Kamu tinggal di apartemen?" tanya Chef William lagi sambil menjalankan mobilnya.


"He he he ...., iya Chef," jawab Raisa.

__ADS_1


"Kalau aku di jalan XYZ Chef. Chef sekali-kali mainlah ke rumah saya," Vega tanpa diminta menyebutkan alamat rumahnya.


"Iya. Nanti kapan-kapan. Raisa, kamu kuliah di Unevirsitas B? Fakultas apa?" Chef William agaknya lebih suka berbicara dengan Raisa. Hal ini membuat Vega mengerti. Sepertinya chef William menyukai Raisa.


"Fakultas Ekonomi, Chef. Jurusan Akuntansi," jawab Raisa. Raisa merasa tidak enak, Chef William mengacuhkan Vega.


"Oh, saya dulu pernah kuliah di sana. Fakultas Ekonomi juga, jurusan Managemen. Tapi cuma satu tahun, kemudian pindah ke Universitas U. Ngambil jurusan Pendidikan Tataboga," jelas Chef William.


"S2nya di Amerika ya Chef?" tanya Vega.


"Iya. Kebetulan ada keluarga Tante di sana. Jadi informasinya lebih jelas dan lengkap di sana, makanya saya melanjutkan ke sana," kata Chef William.


"Chef William ini punya restoran lho, Raisa! Restorannya wow banget lagi! Uang kita gak bakalan kejangkau kalau makan di sana!" ucap Vega. Tampaknya Vega tahu banyak tentang Chef William.


"Ha ha ha ....! Untuk kalian, gratis! Kalian tinggal chat saya aja kapan kalian akan ke restoran saya, nanti saya akan bilang ke manager restoran saya untuk menjamu kalian," kata Chef William.


"Wah.... benarkah Chef?! Raisa ...., kita nanti makan di restoran Chef William! Kapan kamu bisa nya?" Vega terlihat girang sekali.


"Mungkin Minggu depan," jawab Raisa kalem.


Chef William tersenyum, melihat Raisa dari kaca di depannya. Vega melirik Chef William. Vega semakin yakin kalau Chef William menyukai Raisa.


Di mall, mereka ke toko yang menjual alat-alat lukis. Setelah memilihnya, Chef William pun membayarnya, setelah dibungkus kertas kado dan diberi kartu ucapan ulangtahun, merekapun pergi ke toko perhiasan.


Aktivitas Raisa tak luput dari pandangan sepasang mata yang melihatnya sejak Raisa masuk ke toko perhiasan itu.


Raisa terlihat tertawa-tawa ketika gelang itu dicoba pada pergelangan tangannya. Vega menggoda Raisa dan Chef William. Membuat keduanya terlihat malu-malu.


Sepasang mata itu mengeratkan rahangnya. Makanan yang sedang dinikmatinya menjadi tak berselera lagi baginya.


Dua orang kolega bisnisnya yang berada dihadapannya tidak menyadari perubahan mimik yang terjadi pada laki-laki dihadapannya.


Ketika Raisa keluar dari toko perhiasan itu, laki-laki itu minta ijin untuk keluar dulu pada kolega bisnisnya. Ia mengikuti Raisa dengan diam-diam.


Ya, siapa lagi kalau bukan Rangga, suami Raisa. Rangga benar-benar heran karena Raisa berbohong. Walau ada teman wanita di sampingnya, tapi ada seorang laki-laki bersamanya.


Rangga tidak tahu itu siapa. Keakraban Raisa dengan laki-laki itu membuatnya seperti ada yang terbakar. Rangga terbakar cemburu. Karena ia tidak pernah mengajak Raisa jalan-jalan selama tinggal di apartemen. Apalagi membelikann perhiasan. Tidak pernah!


Rangga mengira laki-laki itu membelikan Raisa perhiasan. Dan itu membuat Rangga sebagai suami Raisa merasa terhina dan kalah telak.


Belum lagi melihat keakraban Raisa dengan kakak tingkatnya waktu Rangga menjemput Raisa waktu itu. Rangga merasa terancam. Ternyata Raisa menjadi incaran laki-laki. Mana laki-laki itu keren-keren dan ganteng-ganteng lagi!


Sambil menunggu pesanan datang, mereka tampak berbincang. Rangga melihat laki-laki disamping Raisa sering melirik Raisa. Terlihat binar ketertarikan laki-laki itu pada Raisa.


Merekapun menikmati makanan dan minuman yang telah datang disajikan oleh pelayan restoran. Raisa merasa kikuk karena baru pertama kalinya memakan masakan Jepang.


Satu wanita dan satu laki-laki itu hanya tersenyum simpul melihat Raisa yang agak kebingungan. Dengan telaten, laki-laki itu mengajari Raisa cara memakaan makanan Jepang itu. Ada beberapa makanan yang memang harus di masak sendiri oleh pengunjung restoran di meja pengunjung restoran itu. Sehingga bagi Raisa yang baru pertama kalinya, menjadi kebingungan.


Rangga berdecak. Itu memang kesalahannya. Raisa belum pernah dibawanya ke restoran Jepang, sehingga sikap Raisa memalukan bagi Rangga. Sebagai suami, Rangga belum terlalu banyak mengenalkan Raisa pada kehidupan kota. Rangga merasa frustasi. Ia merasa tak becus sebagai suami yang merupakan salah satu pemilik dan pemimpin perusahaan.


Raisa masih muda, cantik, polos, dan baik. Tak aneh sudah dua orang laki-laki yang berusaha mendekati Raisa. Itu karena status pernikahan mereka yang belum di publikasikan ke masyarakat umum.


Ketika Raisa akan masuk ke mobil bersama Chef William dan Vega di tempat parkir, Rangga memanggil Raisa. Melihat Rangga, seketika wajah Raisa menjadi pucat.


"Chef, Vega ..., saya duluan ya. Itu suami saya manggil," kata Raisa.


"Su-suami?" kata Chef William dan Vega hampir bersamaan.


"Iya. Supir enggak bisa jemput, jadi suamiku jemput ke sini," kata Raisa beralasan. Chef William dan Vega hanya melongo melihat Raisa berjalan menjauh menuju Rangga yang berdiri dekat mobilnya.


"Mas ....,"


"Jelaskan nanti di mobil!" kata Rangga tajam. Raisa mengangguk patuh. Ia sudah pasrah akan kena marah Rangga.


Rangga menatap Chef William dan Vega sekilas. Lalu kemudian segera masuk ke mobil. Mobilpun melaju meninggalkan tempat parkir.


"Mas, aku ...,"


"Siapa laki-laki itu?!" sambar Rangga tak sabar


"Itu, Chef William. Guru kursus memasak. Kalau yang wanita, Vega, teman kursusku," jawab Raisa pelan.


"Kenapa kamu bohong. Kamu bilang pergi dengan cewek," Rangga menginterogasi.


"Ya ... kan dengan Vega. Kalau bilang dengan cowok juga, aku takut Mas gak ijinin. Maaf," kata Raisa menunduk.


"Kenapa kamu enggak terus terang saja? Siapa tahu, kalau kamu jujur, aku akan kasih ijin," kata Rangga, " Kalau kamu enggak jujur gini, aku jadi curiga, jangan-jangan ....," Rangga tak melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Enggak, Mas! Aku enggak ada apa-apa! Sungguh!" Raisa menutup mulut Rangga dengan tangannya. Kemudian Raisa melepaskan tangannya.


"Aku cuma mau mempraktekkan saran dari Mama," kata Raisa sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa mobil.


"Saran dari Mama?" Rangga merasa heran.


"Iya. Supaya bikin Mas Rangga cemburu,"


Cit!


Rem diberhentikan dadakan oleh Rangga.


"Mama kasih saran ke kamu begitu?" Rangga geleng-geleng kepala. Apalagi dengan kepolosan Raisa dengan memberitahukan saran dari Mamanya.


"Beneran, itu cuma ngejalanin saran dari Mama? Bukannya kamu naksir Chef itu?" selidik Rangga.


"Enggak, Mas! Aku berani sumpah!"


"Terus kamu tadi memakai gelang. Kamu dikasih gelang?" tanya Rangga.


"Enggaklah Mas! Itu kado untuk mamanya!"


"Aku enggak percaya. Aku mau bukti,"


"Bukti apa sih Mas? Aku udah beneran jujur!"


"Bukti kalau kamu cuma mencintai aku," ujar Rangga masih dengan wajah datarnya.


"Aku juga mau Mas hanya mencintai aku. Bukan Rena! Rena hanya masa lalu!" sungut Raisa.


"Eh ..., kok malah mengalihkan pembicaraan?" Rangga menatap Raisa kesal.


Cup!


Raisa dengan tiba-tiba mengecup bibir Rangga. Rangga terkejut sekaligus senang. Senyumnya mengembang.


"Itu bukti cinta aku. Aku sudah bersuami. Tentu saja aku hanya mencintai suamiku," Raisa menatap lurus ke depan. Tidak berani menatap Rangga. Ia memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya. Rangga menatap Raisa tanpa berkedip. Lalu tiba-tiba ....


Rangga mel*mat bibir Raisa. Untung mobil Rangga menepi di tempat sepi. Sehingga tidak terganggu oleh lalu lalang kendaraan lain yang melewati jalan itu.


Raisa mendorong dada Rangga dengan pelan ketika ia terengah hampir kehabisan nafas.


"Itu bukti cintaku. Kamu masih ragu? Maafkan aku kalau sikapku kemarin-kemarin melukai hatimu. Aku sadar, kamu adalah masa depanku. Aku tidak mungkin menengok ke belakang lagi. Aku ingin membuka lembaran baru bersamamu. Kamu mau kan? Kita dari awal lagi untuk saling cinta dan saling percaya," kata Rangga.


"Tentu saja aku mau, Mas. Aku hanya ingin dicintai, bukan untuk disakiti dan dibandingkan," sahut Raisa.


"Tapi ... kalau sikap Mas Rangga tetap sama, menyuruhku menjadi seperti Kak Rena, maaf ....,"


Rangga menutup mulut Raisa dengan tangan Rangga, menatap Raisa penuh permohonan.


"Tolong, maafkan aku. Aku janji akan berubah. Jangan pergi tinggalkan aku," Rangga menatap Raisa sambil merapikan helaian rambut Raisa ke telinga Raisa.


Sekali lagi Rangga ******* bibir Raisa. Ci*man Rangga begitu menuntut. Lidah Rangga memb*Lit lidah Raisa. Sehingga menimbulkan sensasi g*li tapi n*kmat. Untung saja kaca mobil Rangga gelap, sehingga aktivitas mereka tidak terlihat dari luar.


Dan ketika ci*man Rangga menjalar ke leher kemudian ke dua b*kit Kemb*r Raisa, Raisa mendorong bahu Rangga untuk menghentikan aksi Rangga.


"Mas, s-udah ...., ja-jangan di- sini," ucap Raisa terbata. Raisa merasa bagai terjun dari awan. Perlu perjuangan untuk menghentikan antara akal sehat dan rasa n*km*t.


Rangga terpaksa menghentikan aksinya. Sambil mengacak rambut Raisa, Rangga duduk tegak kembali sambil tersenyum.


"Kita lanjut ya di apartemen," katanya.


Raisa terlihat bersemu merah. Tak menjawab perkataan Rangga. Tapi Rangga tahu, Raisa pasti setuju.


Ranggapun menjalankan mobilnya kembali. Satu tangannya memegang stir, satu tangannya menggenggam tangan Raisa. Rangga kemudian mencium tangan Raisa. Raisa tersipu mendapat perlakuan manis dari Rangga. Hatinya terasa membuncah. Semakin bertambahlah cinta Raisa pada suaminya.


Karena Rangga harus fokus menyetir, dilepaskannya tangan Raisa. Sambil menoleh pada Raisa, Ranggapun membuka obrolan lagi.


"Bilang pada Mama. Rencana dari Mama berhasil," kata Rangga sambil tersenyum.


"Apa sih Mas," Raisa merasa malu.


"Iya. Aku enggak rela kalau kamu dekat dengan laki-laki lain. Kamu hanya milikku," kata Rangga lagi.


Pipi Raisa semakin merona. Rangga semakin merasa gemas melihatnya. Tapi ia harus sabar melanjutkan perjalanan sampai nanti tiba di apartemennya.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


Nantikan kebucinan Rangga. Tinggalkan jejakmu ya gaes biar Othor semangat menulis.


__ADS_2