TAKDIR CINTA RANGGA

TAKDIR CINTA RANGGA
BAB 26. PENYUSUP CANTIK


__ADS_3

Dan ketika aku berbalik untuk ke mobilku yang terparkir di pinggir jalan, segerombolan laki-laki berwajah sangar sedang berjalan ke arahku. Aku menelan saliva dengan susah payah. Jangan-jangan itu ....


Bugh, bugh, bugh!


Orang-orang itu tanpa bicara apa-apa, langsung menghajarku. Aku dikeroyok hingga terkapar.


Dari sebuah mobil, turunlah seseorang berkaca mata hitam. Aku yang sudah babak belur dan berada diambang batas kesadaran, sempat melihatnya. Ternyata Kak Daffa, Kakak iparku.


Aku yang dalam keadaan tertelungkup tidak berdaya, rambutku dijambaknya hingga wajahku mendongkak.


"Laki-laki b*ji*ng*n sepertimu lebih baik kubiarkan hidup, agar kamu bisa merasakan kehancuranmu, karena telah menyakiti hati adikku!" katanya dengan suara yang dingin penuh ancaman. Aku merinding dibuatnya.


"M-ma-maafkan aku, Kak!" ucapku terbata karena menahan sakit.


"Cuih! Aku tak sudi punya adik ipar sepertimu! Lebih baik kau bunuh dirimu saja karena aku khawatir kamu tidak sanggup melihat apa yang akan aku lakukan pada adik dan kedua orangtuamu!" Kak Daffa meludahiku.


"Tolong! Jangan ganggu mereka! Jangan sakiti mereka! Biar aku saja yang Kak Daffa hukum! Aku menyesal telah mengkhianati Wulan! Aku salah! Aku pantas dihukum!" kataku ditengah ketidakberdayaan ku.


Kak Daffa kemudian diam. Dia seperti sedang berpikir. Aku hanya pasrah menunggu apa yang akan dia lakukan padaku.


"Heiii ....! Kalian sedang apa .....?! Apa yang kalian lakukan....?!" sebuah teriakan mengejutkan kami semua. Tampak derap langkah kaki berlarian menghampiri kami.


"Ayo kita pergi saja! Dan kamu ...., kali ini kamu selamat!" ucap Kak Daffa kemudian bergegas pergi sebelum orang-orang semakin dekat. Anak-anak buahnya pun segera mengikuti Kak Daffa pergi. Mereka masuk ke dua buah mobil. Lalu segera tancap gas menghindari amukan massa.


Beberapa orang langsung berkerumun memberi pertolongan padaku.


"Apa yang terjadi Bang? Mereka siapa?" tanya mereka.


"Kita lapor polisi saja!" sahut yang lainya.


"Jangan! Tidak perlu diperpanjang urusannya ke kantor polisi. Tolong, bawa saya saja ke rumah sakit," pintaku dengan suara lemah.


Merekapun menggotong tubuhku masuk ke mobilku. Ada tiga orang yang mengantarku ke rumah sakit. Satu orang yang menyetir mobil, dua orang duduk di sebelah kanan dan kiriku dibelakang. Lukaku cukup parah sehingga membuat iba penduduk sekitar kosannya Mely.


Selagi dalam perjalanan, aku pingsan. Aku tak ingat apa-apa lagi.


Varrel POV off


********


Mely yang dibawa pergi oleh orang-orang suruhannya David, mengantarkan Mely hingga ke sebuah bangunan tua yang terlihat menyeramkan.


Tapi setelah masuk kedalamnya, ternyata tidak seseram yang terlihat diluar. Justru ruangan di dalam sana terasa hangat, rapi dan bersih.


Sebelum bertemu dengan David, Mely di jamu dengan makan siang yang terlambat yang cukup lezat. Sepertinya Tuan David tahu, Mely telah kehilangan sebagian energinya karena telah dianiaya anak buah Daffa. Jadi Mely harus memulihkan tenaganya terlebih dahulu.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Mely diantar ke depan sebuah ruangan. Orang yang mengantar mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Masuk!" kata suara di dalam.


Mely dan seorang anak buah David masuk ke ruangan.


Tampak seorang laki-laki sedang duduk membelakangi. Dia sedang menelepon seseorang. Ketika ia selesai menelepon, kursinya berputar menghadap ke depan.


Tampaklah seorang laki-laki gagah yang usianya sudah matang menatap kedua orang yang ada di depannya.


"Ini Nona Mely Tuan. Misi sudah berhasil. Rumah tangga adiknya Rangga berantakan," kata anak buah David.


Orang yang duduk di sofa empuk itu siapa lagi kalau bukan David. Mendengar laporan dari anak buahnya, ia tersenyum samar.


"Silahkan anda berbincang dengan Tuan David, Nona. Tuan David, saya permisi dulu," kata anak buah David. David hanya mengangguk.


Mely menatap takjub laki-laki yang ada di depannya. Laki-laki itu terlihat tampan dan berwibawa. Aura dingin dan sadis tampak menyelimuti wajah David. Tapi hal itu membuat Mely merasa tertantang untuk menaklukkannya.


Selama ini ia hanya mendapat perintah dari telepon. Tidak pernah melihat dan berbicara langsung dengan si pemberi perintah. Kadang-kadang, Mely hanya dapat menghubungi asistennya David.


Mely berdehem untuk menutupi kegugupannya. Berhadapan langsung dengan pria yang menawan hatinya membuat ia sedikit grogi. Dengan anggun, Mely mendekati David. Ia menyentuh pundak David, lalu membetulkan dasi David.


"Ternyata Tuan David itu sangat gagah dan tampan! Saya senang berjumpa dengan anda. Saya siap melayani apa yang anda mau," ucap Mely tanpa basa basi.


Jari jemari Mely menyusuri dada bidang David yang tertutup kemeja. David seperti membiarkan dan menunggu apa yang akan Mely lakukan. Dan ketika tangan nakal Mely akan membuka satu kancing bagian atasnya, David mencengkeram tangan Mely dengan keras hingga Mely menjerit kesakitan. David sampai bangkit dan mendorong tubuh Mely hingga terdesak ke dinding.


"Kamu kubawa kesini untuk menjagamu dari kejaran Daffa dan anak buahnya! Kamu malam ini harus pergi ke sebuah pulau untuk menghilangkan jejak! Mereka tidak boleh tahu kalau kamu disuruh olehku! Menghilanglah kamu beberapa tahun di sana! Kamu tahu apa akibatnya kalau kamu membangkang. Kamu bisa mati di bunuh oleh anak buah Daffa atau kamu akan mati dibunuh olehku!" ancam David.


Seketika wajah Mely menjadi pucat. Ia tak menyangka akan berurusan dengan orang-orang sadis.


"Jacky! cepat kesini!" teriak David.


Tak lama datanglah orang yang bernama Jacky. Ia tampak ngos-ngosan menghadap tuannya.


"Bawa dia segera pergi dari hadapanku! Aku muak dekat-dekat dengannya! Dia kira aku seperti laki-laki bodoh itu!"


"Sebelum malam, dia harus pergi dari sini! Jangan sampai kita ketahuan oleh Daffa!" kata David dengan aura dingin.


"Baik, Tuan!" kata anak buahnya yang bernama Jacky itu.


Jacky mendapat panggilan telepon. Ia tampak sedang berbicara dengan orang yang menghubunginya.


"Tuan, helikopter telah siap!" katanya kemudian setelah mengakhiri teleponnya.


"Bawa dia!" tunjuk David.

__ADS_1


Mely ditarik paksa karena masih berdiri mematung melihat David. Ia tak menyangka akan berurusan dengan laki-laki kasar dan angkuh seperti itu. Padahal ia berharap bisa menaklukan laki-laki itu.


"Kamu tidak boleh kemana-mana selama dua tahun! Kamu juga tidak boleh menghubungi siapapun! Termasuk keluargamu! Kalau kamu membangkang, kamu tidak akan pernah bertemu dengan keluargamu lagi!" kata Jacky tajam.


"Iya, aku tahu!" jawab Mely ketus.


Mely masuk ke helikopter yang telah menunggunya. Ada seorang wanita duduk di sana selain pilot.


"Siapa dia?" tanya Mely pada Jacky.


"Perkenalkan. Nama saya Dewi. Saya akan bersamamu selama kamu dalam persembunyian," wanita itu yang menjawab sambil tersenyum.


Mely mendengus kesal. Ternyata wanita itu yang akan mengawasinya selama Mely dalam persembunyian. Dia itu yang akan memantau Mely agar tidak berulah karena wanita itu akan melaporkan segala sesuatu yang dilakukan Mely selama di pulau itu kepada David.


Ketika helikopter itu terbang semakin tinggi dan menjauh, Mely melihat pemandangan ke bawah yang samar-samar terlihat karena hari yang mulai gelap.


Angannya melayang jauh ke masa saat ia yang sedang kebingungan untuk mencari pekerjaan karena ia telah dilabrak oleh istri seorang bos karena ketahuan selingkuh. Bos yang selama ini menjamin hidupnya tak lagi peduli padanya karena takut pada istrinya. Ditambah lagi ia kehilangan pekerjaan karena di pecat oleh sang Bos. Bahkan Bosnya itu dengan tega tidak memberikan uang pesangon. Padahal Mely sudah bekerja bertahun-tahun. Dan Mely bekerja sebagai staf di kantor itu telah bertahun-tahun pula memberikan tubuhnya pada sang Bos di kala Bos menginginkannya.


Hal itu terjadi lagi padanya saat ia menjalin affair dengan Bosnya ketika ia mendapat pekerjaan sebagai sekretaris. Tapi bedanya, ia dibayar untuk itu oleh Tuan David.


Ia berharap mendapat dua keuntungan dengan melakukan perintah Tuan David. Pertama, mendapat bayaran dari Tuan David karena telah menghancurkan rumah tangga Bosnya, kedua, ia mendapat laki-laki kaya yang akan menjamin hidupnya lagi.


Tapi ternyata harapan tidak sesuai kenyataan. Ia memang telah sukses menjadi penyusup di PT Angkasa Raya itu untuk menggoda Varrel. Ia mendapat bayaran tinggi dari Tuan David untuk melaksanakan aksi itu. Tapi harapannya pada laki-laki yang menjadi Bosnya di kantor itu tak sesuai impiannya. Ternyata istri Varrel yang berkuasa. Perusahaan dan segala kemewahan itu ternyata milik keluarga istrinya Varrel. Varrel hanyalah seorang direktur yang digaji dan bekerja pada keluarga istrinya. Selain itu Varrel tak punya apa-apa. Ia hanya dari keluarga biasa. Orangtuanya hanyalah pedagang bakso di sebuah warung tempat keramaian.


Dalam hati kecilnya Mely sebenarnya menyukai Varrel. Makanya ia menerima tawaran dari Tuan David melalui seorang anak buahnya. Ketika melihat foto target, Mely langsung tertarik. Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang atletis, ditambah jabatan Varrel yang seorang Direktur. Mely pernah bermimpi akan mengakhiri petualangannya dengan menikahi laki-laki seperti yang ia idamkan. Semua itu ada pada Varrel. Tapi setelah tahu, Varrel tidak punya kekuasaan atas harta dan perusahaan itu, ditambah dipermalukan oleh istri Varrel, Ia memilih membuka kedoknya pada Varrel dan kabur dari ulahnya yang telah menghancurkan rumah tangga Varrel.


Ketika sedang mengingat aksinya selama ini, udara malam yang dingin diatas ketinggian, membuat ia terkenang lagi saat-saat percint*an panas dengan Varrel.


Mely teringat saat ia memijat Varrel. Tubuh indah laki-laki itu telah membuatnya kecanduan untuk menyentuh dan disentuh laki-laki itu.


Di setiap kesempatan berdua, mereka menyempatkan untuk bercint*. Apalagi setelah beban pekerjaan kantor yang padat dan menumpuk, membuat mereka rileks kembali dengan melakukan ML.


"Selamat tinggal. Maafkan aku, cintaku ....," gumamnya hanya dalam hati.


Setelah perjalanan selama satu jam akhirnya sampai di sebuah pulau. Pulau kecil itu merupakan sebuah resort yang dikelilingi lautan.


Ada dua laki-laki penjaga resort yang menyongsong mereka. Mereka membantu dua wanita itu turun dari helikopter. Mereka sepertinya sudah tahu akan kedatangan dua wanita itu.


Kedua penjaga resort berbadan kekar itu mengantar dua wanita itu ke kamar hotel mereka masing-masing. Satu orang penjaga mengantar Dewi dan satu orang lagi mengantar Mely.


Ketika Mely sudah masuk ke kamar hotel dan penjaga itu pamit untuk kembali bertugas, Mely menarik tangan laki-laki itu. Mengingat percint*annya dengan Varrel, membuat libid*nya bangkit.


"Temani saya sebentar ya Mas," kata Mely sambil mengerling. Penjaga resort itu mengerti. Siapa yang dapat menolak untuk menemani wanita cantik dan s*xy di kamar. Iya kan?


Setelah laki-laki itu melihat ke sekeliling, iapun ikut masuk ke kamar Mely dan menguncinya. Mely tersenyum dan menggoda penjaga itu. Ia men*nggalkan seluruh pakaiannya lalu berjalan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Penjaga itu terpesona dan menelan salivanya melihat pemandangan indah di depan matanya. Iapun segera menyusul wanita yang baru datang ke pulau itu ke kamar mandi. Sepertinya malam ini dahaganya akan terpuaskan setelah berbulan-bulan ia jauh dari istrinya karena bekerja di pulau itu.


TO BE CONTINUED


__ADS_2