
"Aku tidak akan protes dan menurut! Aku akan mengucapkan selamat pagi setiap hari, sudah puas?!"
Wah gila, Irana kena pukul telak.
Nika daritadi hanya diam saja memperhatikan, ini bukan ranahnya untuk ikut campur. Nimonia sedang dalam keberuntungannya. Jangankan Nika, Irana saja terdiam dibuat Nimonia.
"Apakah begitu cara anda berbicara dengan pemimpin selir, selir Irana? Apa anda menyepelekan gelar yang sudah diberikan yang mulia Kaisar Xander?" Nimonia tampaknya masih belum puas dengan jawaban angkuh Irana.
Nika bertepuk tangan di dalam hatinya, Nika mengakui bahwa Nimonia benar adalah pemeran utama, kharisma, pesona, dan pola pikirnya benar-benar mencerminkan pemeran utama.
Irana terdiam, dia semakin kesal, sangat kesal! Nimonia selalu saja membawa Kaisar Xander dalam setiap kalimatnya. Karna Nimonia tau jelas, semua orang takut pada Kaisar Xander, dia tau dengan pasti kalau tidak akan ada yang berani melawan perintahnya, jika dia membawa nama Kaisar Xander di belakangnya.
"Maafkan saya pemimpin selir. Saya akan memberi salam kepada anda setiap pagi mulai besok." Irana benar-benar kesal, dia menahan kebenciannya setengah mati pada perempuan yang duduk dengan angkuh disana.
"Baiklah, mungkin untuk sekarang hanya itu. Peraturannya di mulai besok, jangan sampai terlambat teman-teman selir ku." Nimonia tersenyum sangat puas.
Nika memilih diam bukan karna takut kali ini, karna Nika tau bahwa bagaimanapun Nimonia di lawan saat ini, dia selalu menang karena posisinya memang sangat menguntungkan.
"Ayo kita kembali Nyonya Selir." Seseorang berbicara di belakang Nika, suaranya menyita perhatian Nika.
Nika berbalik, melihat ada dua dayang di belakang seorang selir. Ah, Nika tau siapa selir itu. Itu adalah Selir Desha. Jelas itu adalah dia, Nika tau pasti. Dari penampilannya saja yang mewah dan megah itu, Nika tau, bahwa selir itu bukan selir biasa, pasti ada keluarga kaya dan berpengaruh yang mendukungnya, dan dia adalah selir pertama-Desha.
Dia sangat cantik, memiliki rambut ungu yang gelap, wajahnya sangat cantik dan elegan, secara penampilan, dia memang kandidat terbaik untuk menjadi Permaisuri, apalagi dia berasal dari keluarga Duke terkemuka.
__ADS_1
Wah, fisik kalah, harta kalah, gila aku kalah semuanya, nekat aja lah, gagal mati loh! jadi aku harus berhasil
Nika berjalan kembali, dia ingin segera melanjutkan belajar sihir air yang sudah dia miliki. Membuang segala kekesalannya hari ini.
Meski dia juga cukup sedih sih, hampir satu bulan dia disini, tapi tidak ada interaksi langsung antara dirinya dan sang Kaisar Xander. Rasanya impiannya untuk menjadi Permaisuri sangat jauh, dan apapun yang Nika lakukan, tidak membuatnya dekat dengan Kaisar Xander.
......................
"Maafkan saya yang mulia Kaisar! Ampuni saya! Wahai Kaisar Xander Xanji De Landish yang terhormat, sudikah engkau matahari kekaisaran memberikan pengampunan pada hamba yang hina, bodoh, dan ceroboh ini?"
Permintaan lirih itu berasal dari pria berambut merah terang yang saat ini sedang berlutut di hadapan Kaisar Xander di ruang kerjanya.
Dia adalah Jendral Zeanda, dia sedang berlutut memohon ampun dan maaf sang kaisar atas kesalahan yang sudah dia perbuat, sepertinya begitu.
"Apakah kau tau kesalahan mu dimana?" Kaisar bertanya tanpa melihat ke arah Zeanda, sementara Zeanda masih setia berlutut.
Memang itu yang sebenarnya terjadi, pada hari Nimonia mendapatkan pedang terkutuk itu, itu adalah hari dimana Kaisar Xander sedang beristirahat dan Zeanda yang menyamar menjadi Kaisar Xander menjalankan tugas keliling istana memastikan keadaan.
Dan saat Zeanda sebagai kaisar Xander berkeliling, dia akhirnya bertemu dengan Nimonia yang berhasil membangkitkan pedang terkutuk, dia yang senang bukan kepalang karna menemukan pedang legendaris itu memberikan Nimonia gelar pemimpin selir detik itu juga, dihadapan orang banyak, jadi karna itu tidak mungkin bagi Kaisar Xander yang asli mencabut perintahnya. Jika itu terjadi, semuanya akan semakin rumit.
Orang-orang akan tau Zeanda sering menyamar menjadi kaisar. Karna itu Kaisar Xander pada akhirnya memberikan gelar pemimpin selir pada Nimonia karena kesalahan Jendral Zeanda.
"Dimata ku semua selir itu sama, tidak berarti, hanya alat dan tawanan semata. Karna itu gelar mereka semua sama. Akan terjadi masalah dan ketimpangan kalau ada salah satunya memiliki gelar lebih tinggi secara resmi." Kata Kaisar Xander dengan wajah datar, karna dia sungguh tidak tertarik pada istana selir itu.
__ADS_1
Termasuk selir penyendiri itu, dia hanya tawanan agar kerajaan kecilnya disana tidak memberontak.
Baginya mereka semua hanya alat, bahkan termasuk Vinaika yang akhir-akhir ini menyita perhatiannya.
"Saya salah, jadi tolong beri hukuman lain, jangan kematian!" Zeanda masih memohon.
Kaisar Xander menatap Zeanda tajam. "Bunuh semua monster di hutan terlarang, setelah selesai kau boleh kembali. Kedepannya jangan ulangi kecerobohan itu."
"Baik yang mulia!"
...***********...
Nika terbangun dari tidurnya, saat ini sudah tengah malam. Dan Nika baru saja terbangun, karna dia tertidur sore tadi.
Semuanya tampak sama, Nika bangun di kamarnya, diatas kasur yang sama, dengan menatap langit-langit yang sama.
Tapi bedanya saat ini adalah, ada buku tua di dada Nika. Dia duduk, menyentuh buku itu secara hati-hati, semua hal tidak lazim ada di dunia ini, karna itu Nika harus ekstra hati-hati.
Nika menatap buku tua dan usang itu, sampulnya juga sudah tidak jelas, entah apa warna asli sampul buku itu, tapi yang jelas Nika melihatnya sebagai warna coklat tua. Nika tidak bisa melihat ukiran pada sampul buku itu, tapi dia bisa merasakan dengan tangannya sendiri, bahwa ada yang terukir di sampul bukunya.
"Loh? Gelang aku dimana? Perasaan sebelum tidur aku pake deh." Saat meraba ukiran itu, Nika menyadari, gelang hitam dengan hiasan safir biru miliknya tidak ad di tangannya, gelang itu hilang? Aneh bukan?
Detik kemudian, ada cahaya biru yang bersinar dari buku itu. Setelahnya sampul buku itu langsung berubah seketika. Sampul asli buku itu berwarna hitam, dengan ukiran gambaran sebuah perempuan yang sedang menggenggam baru bercahaya berwarna biru.
__ADS_1
Nika mulai menyimpulkan bahwa gelang safir biru miliknya sudah berubah menjadi buku. Apa itu mungkin? Tentu saja, di dunia ini peri dan sihir saja ada, masa gelang yang berubah menjadi buku mustahil?
Nika cukup merasa takjub, sensasi terkejut ini tidak akan dia lupakan seumur hidupnya.