
...***********...
"Yang mulia, anda harus menemui Archduke Jinka--"
Urat-urat kekesalan sudah muncul di kepala Starta. Sungguh belum ada sepuluh menit dia meninggalkan sang kaisarnya duduk sendirian di singgasananya, saat Starta kembali, seorang pria dingin itu sudah hilang dari tempatnya.
Starta sangat kesal, dia mengedarkan pandangannya, tak dapat ia temukan dimana Kaisar Xander berada. Dan ini akan menambah pekerjaan Starta.
Tapi, sesaat kemudian dia sadar, suasana pesta jauh lebih ceria dan tampak ringan menyegarkan setelah Xander pergi. Tampaknya hadirin pesta tidak nyaman dengan kehadiran Xander yang membawa aura dingin mencekam, yang sangat berbanding terbalik dengan aura pesta.
Starta menghela napasnya kasar, dia tidak akan memaksa Kaisar Xander untuk disini lagi. Seperti Kaisar Xander yang tidak suka keramaian, pun dengan mereka semua, yang tidak bisa menikmati keadaan pesta karna aura Kaisar Xander.
"Baiklah, di pesta selanjutnya, bukan hanya tidak bisa pergi dari pesta. Aku akan membuat anda berdansa dengan seseorang di pesta selanjutnya! Lihat saja! Kekaisaran ini butuh penerus, astaga kaisar ini!"
Benar, Starta adalah satu-satunya yang berani mengeluh soal kaisar dengan mulutnya, bukan hanya di dalam hati. Orang kedua biasanya adalah Zeanda, tapi kalau Zeanda biasanya langsung di kirim ke sarang monster jika dia berani mengeluh soal Kaisar Xander.
......................
Nika akhirnya menemukan tempat yang bagus untuk beristirahat, merehatkan tubuh, hati, jiwa dan pikirannya yang sudah tertampar, terjungkal atas fakta yang baru tersaji di hadapannya.
Nika duduk santai di sebuah kursi yang di sediakan di balkon, dengan pemandangan bulan purnama yang begitu terang dan indah.
Tak lama, Nika melihat ada burung gagak hitam bermata merah yang terbang, hinggap di pinggiran pembatas balkon.
Nika mengambil beberapa roti, berjalan tanpa sepatu menuju burung gagak itu. Sepatunya ia lepas, karena terasa begitu sakit saat memakainya, kakinya bisa terluka kalau lama-lama memakainya.
"Mau?" Nika memberikan burung gagak itu roti, burung itu tanpa ragu langsung memakan roti dari telapak tangan Nika.
Nika tersenyum tipis, selanjutnya dia kembali menatap purnama yang bersinar begitu terang. Di dunia modern juga ada yang namanya purnama, tapi ini adalah purnama yang terindah yang pernah Nika lihat.
__ADS_1
"Menjadi gagak itu pasti keren ya. Tidak peduli di dunia manapun, di desa, di kota, dimanapun mereka berada, mereka akan memakan apa saja dan dari siapa saja untuk bertahan hidup. Keinginan mereka bertahan hidup jauh lebih besar dari sekedar gengsi." Nika bergumam sendiri, dia tersenyum pahit, tatapannya sendu menatap purnama. Entah apa maksud perkataan Nika yang ini, burung gagak itu tidak paham, dia hanya melanjutkan makan dari tangan Nika.
Makanan di tangan Nika sudah habis, burung gagak itu menatapnya sebentar, lalu terbang ke langit malam yang gelap, hingga ditelan dalam kegelapan malam.
Pun dengan Nika, dia tau di tidak boleh hanya berdiam diri disini sampai pestanya selesai, jadi karena itu, Nika memutuskan untuk kembali ke dalam pestanya.
Nika berjalan santai, syukurlah dia sudah memberi tanda dimana hanya dia yang bisa mengenali tanda itu, agar gadis kecil ini tidak tersesat saat kembali ke aula. Karna istana ini sangat besar, dan Nika baru pertama kali kesini, wajar kan kalau dia takut tersesat?
Nika baru saja kembali ke aula pesta, tapi lihat di depan matanya sudah tersaji, sebuah perang dingin kecil, antara Vanesha, Irana dan juga Nimonia.
Mereka sedang bersitegang, Irana dan Vanesha mencoba menghina dan merendahkan Nimonia yang berasal dari kerajaan kecil di luar Kekaisaran Archerian, tapi Nimonia sang pemeran utama berhasil membalikkan semua kata-kat mereka.
Tiba-tiba sebuah jendela sistem muncul dengan berbagai macam pilihannya.
Sistem :
A. Ikut campur dengan pendirian sendiri
C. Pulang meninggalkan pesta
D. Membela Irana dan Vanesha
Wah, ada pilihan manusiawi
Tanpa pikir panjang, Nika langsung menekan menu [C]
[Sistem : Jawaban kami terima, silahkan kembali pulang, hadiah tersembunyi hangus. Sayang sekali pengguna melewatkan hadiah tersembunyi yang bagus]
Sistem sialan, jika bisa Nika benar-benar ingin menghancurkannya!
__ADS_1
Kenapa sistem ini tidak bilang kalau ada hadiah tersembunyi?! Sistem sialan! Sistem terkutuk! Entahlah sana!
Nika mengumpat di dalam hatinya, tapi apapun yang terjadi, nasi sudah menjadi bubur, Nika sudah memilih pilihannya, dan dia kehilangan hadiah tersembunyi dari jawaban ini.
aku penasaran.
Siapapun jelas akan sangat penasaran kalau jadi Nika. Dia mulai menyesal, dia harap tadi di memilih yang lain, barangkali di akan memilih A, sekalian mencari perhatian semua orang.
......................
Nika sudah kembali ke kamarnya, dia sudah mengganti pakaiannya menjadi piama tidur yang nyaman, tapi sayang hatinya sedang tak senyaman tubuhnya, jiwanya tidak tenang, rasanya masih gundah, masih ada penyesalan soal pilihan yang dia buat.
Untuknya sangat menyebalkan melewatkan hadiah tersembunyi itu, Nika berharap dia bisa merubah ulang pilihannya.
Nika mulai menyesali pilihan itu.
Keknya udah dua kali deh aku lewatin kesempatan emas buat cari perhatian Kaisar Xander, cuma karena ego aku, dan alasan aku buat nenangin hati dan pikiran.
Padahal berhati-hati dan takut itu sangat berbeda. Selama ini aku cuma takut, aku takut kehidupan ku yang tenang dan damai ini hilang saat aku mulai ikut campur ke dalam perang dingin perebutan takhta permaisuri. Aku takut, kalau aku ikut campur, mereka semua satu persatu bakal ganggu ketenangan hidup aku. Padahal aku sudah cukup bahagia dengan kehidupan tenang dan nyaman disini.
Nika menghela napasnya kasar, saat dia mulai mengakui kebenarannya, hatinya terasa lapang. Nika sadar, bahwa selama ini dia selalu memilih pilihan menghindar bukan karna ingin menyusun rencana yang matang, bukan pula untuk menata hati, jiwa dan mentalnya untuk menghadapi para pemeran utama.
Nika hanya takut, dia takut kehidupan tenang dan damai yang sudah dia peroleh sampai saat ini akan hilang. Selama Nika disini, dia sudah cukup tenang dan damai.
Kehidupan disini tidak terlalu buruk untuk Nika. Siapa yang bisa menolak? Nika merasa cukup nyaman disini, berbanding terbalik dengan kehidupannya sebagai Vivionika sang kasir dengan gaji pas-pasan di dunia modern, belum lagi dia harus mengganti yang, apabila terjadi hitungan selip.
Sedangkan disini, Nika setelah bangun sampai dia ingin tidur, dia selalu dilayani. Dia makan-makanan yang enak, memiliki pakaian yang bagus, memiliki waktu luang untuk dihabiskan membaca buku.
Nika takut kehilangan semua kenyamanan itu, saat dirinya sudah mulai menginjakkan kaki dalam zona perang.
__ADS_1
Nika menghela napasnya, dia sudah benar-benar mengakuinya. Tapi apakah Nika salah? Bukankah wajar untuknya yang sudah menjalani hidup yang cukup berat, ingin hidup tenang?