TAKTIK SELIR NIKA

TAKTIK SELIR NIKA
Sistem : Temukan pedangnya!


__ADS_3

Tapi lihat apa yang sistem itu katakan! Dia bilang Nika harus kesana dan mencari pedang terkutuk itu! Pedang yang menjadi alasan utama Selir Vinaika mati dalam alur gamenya.


"Sistem gila! Sistem terkutuk! Semoga kau enyah dan hancur!"


Nika menghela napasnya kesal, dia tidak mau mendekati ruangan tua itu, apalagi mencari sumber kematiannya, tapi hadiahnya cukup menggiurkan.


Hadiah tersembunyi!


Penyesalan kemarin malam karna tidak bisa mendapatkan hadiah tersembunyi membuat tangan Nika gatal untuk mengetik OK dan setuju.


Malam kemarin dia gagal total, malam kemarin pula dia sudah berjanji untuk meninggalkan zona nyamannya, dan akan mulai mendeklarasikan perang.


Nika berpikir sebentar, dia timang-timang jawaban yang akan dia berikan. Memang benar kalau dampak dari event penting ini juga sangat dahsyat!


...Kalau aku berhasil dapat pedangnya, bukan cuma bakal dapat hadiah tersembunyi, aku juga bakal dapat perhatian Kaisar Xander, kayak Nimonia di alur game yang aku mainin! Sekali dayung, dua pulau terlewati. Ini keuntungannya double sih....


Nika mulai tergiur dengan keuntungan besar ini, dia akan bisa langsung ter-notice oleh sang kaisar dan petinggi lainnya seperti Nimonia di game.


Tapi taruhannya nyawa loh! Gimana kalau aku beneran mati karna pedang itu, walau ga ada Nimonia! Gimana kalau takdir kematian aku ada di pedang itu. Gini, keuntungannya emang besar, double lagi, tapi resikonya pun gak main-main loh.


......................


"Sialan! Sistem sialan! Rusak kek apa kek eror kek, enyah sana!"


Walau sejak tadi mengumpat, tapi pada akhirnya Nika tiba juga disini. Akhirnya dia sampai di depan paviliun tua, yang sudah sangat usang, paviliun tua yang sesuai dengan gambar yang Nika liat di gamenya.


Pada akhirnya Nika memilih mengikuti perintah sistem itu dan datang sampai sejauh ini. Nika sebenernya tidak mau, tapi dia masih tergiur tawaran itu, dia takut merasakan penyesalan kemarin malam kalau dia sampai melewatkan event penting lagi yang bisa membuat dirinya lebih dekat dengan Kaisar Xander.


Nika menarik napasnya dalam-dalam, lalu ia hembuskan secara perlahan.

__ADS_1


"Aku harap, aku gak mati disini, dan aku harap aku bisa nemuin pedang itu, dan dapatkan perhatian Kaisar Xander, juga sekaliann hadiah tersembunyi. Semoga aku masih hidup besok, dan pedang itu bukan takdir kematian ku."


Nika menggosok kedua tangannya, lalu ia hembuskan dan usapkan di wajahnya. Dia harap ini bukan akhir hidupnya, karna dia tidak mau menyesali keputusannya yang ini.


Nika berjalan masuk perlahan, matanya terus menangkap detail-detail dari paviliun tua ini. Kalau Nika kembali mengingat alur gamenya, Nimonia akan dikurung oleh orang suruhan Vanesha di paviliun tua ini.


Vanesha yang kesal karna kalah berdebat dan dipermalukan di pesta dansa kemarin, menyewa beberapa assasin, untuk menangkap dan membunuh Nimonia di paviliun tua ini. Agar jasadnya tidak bisa ditemukan.


Harusnya nanti malam Nimonia diculik, dan akan dibunuh di ruangan ini. Namun entah kenapa, orang-orang yang akan membunuh Nimonia pingsan seketika saat ingin menusuknya, mungkin plot armor pemeran utama wanita. Nika tidak tau kenapa itu bisa terjadi, atau itu adalah kekuatan khusus tersembunyi milik Nimonia. Nika tidak tau karna sekali lagi dia menyesal tidak menyelesaikan gamenya lebih dulu sebelum tidur.


Nika melanjutkan mengelilingi Paviliun tua itu, untuk mencari dimana keberadaan pedang terkutuk itu.


Nika sama sekali tidak merasa bersalah akan mengambil pedang itu demi Nimonia, mau bagaimana lagi, bertahan hidup saja untuk Nika sudah sangat sulit.


30 menit


1 jam


2 jam!


Bahkan sampai tiga jam Nika sudah mengelilingi Paviliun tua itu, hingga berulang kali, tapi dia tak kunjung menemukan pedang terkutuk itu juga.


Sudah hampir lima kali Nika mengelilingi Paviliun itu dengan sangat detail, bahkan dia terus memperhatikan sudut-sudut, atau tempat-tempat yang sekiranya susah terjangkau mata, tapi Nika tak kunjung menemukan pedang tua itu.


Nika mengingat lagi tampilan pedangnya dan layar background yang dia liat di laptop saat Nimonia menemukannya, tapi walau diingat bagaimanapun, itu tidak terlihat karena gelap, hanya cahaya pedang itu saja yang menjadi sumber cahaya di ruangan itu.


Tidak ada!


"Gak ada apa-apa disini, yang ada cuma kayu tua yang udah lapuk, dinding yang keropos! Udah itu doang, ga lebih dari itu! Mana pedangnya! Aku udah jauh-jauh datang kesini loh! Udah keliling selama tiga jam juga!"

__ADS_1


Nika mengeluh lagi, dia kesal, padahal dia sudah mengumpulkan niat dan memikirkan segal resikonya jika dia datang kesini, tapi bahkan setelah semua itu, masa Nika harus pulang dengan tangan kosong?


Dia sudah bersusah payah menimbang pilihan sulit timbal balik keuntungan dan resiko saat di kamarnya tadi, di sudah berpikir keras, dia juga sudah semangat dan yakin untuk mengambil pedang itu dan hadiah tersembunyi walau nyawa taruhannya!


Tapi lihat! Apa yang Nika dapat sekarang ini?! Bahkan setelah dia berpikir keras, dan berjalan mengelilingi Paviliun tua ini sendirian selama tiga jam, berulang kali, dan dia masih tetap tidak menemukan pedang itu maupun hadiah rahasianya.


Tidak aneh kan kalau Nika sedang sangat kesal saat ini?!


Akhirnya Nika menyerah!


Setelah lima jam dia berkeliling, dan berulang kali, tidak ada pedangnya maupun hadiahnya!


Nika sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tampaknya pedang itu tidak ingin Nika yang menemukannya.


Nika memutuskan untuk keluar dari paviliun tua itu, dia berhenti mencari, dan ingin segera kembali, dia ingin istirahat, tubuh dan kakinya terasa sangat sakit dan lelah, belum lagi hatinya yang panas dan kesal, seolah-olah diberikan harapan palsu oleh sistem, padahal dia sudah berusaha sangat keras untuk menemukan pedang itu. Kepalanya pusing, ada banyak hal rumit yang hinggap di kepalanya.


Nika beristirahat di bawah pohon di dekat paviliun tua itu.


Dan sepertinya kesialan selalu saja menimpa Nika. Dia baru saja duduk, tapi hidungnya sudah mencium aroma busuk dari sebelahnya, aroma yang sangat menyengat, membuat perut mual dan ingin muntah. Kalau saja Nika sudah makan, dia sudah muntah di tempat, karna memang seburuk itu aroma disana.


Nika melirik ke asal aroma busuk itu, tampak seekor ulat bersayap berwarna hijau kehitaman seperti membusuk, bergerak di jaring laba-laba itu. Ternyata aromanya berasal dari ulat bersayap yang terjebak di jaring laba-laba itu.


"Kesian, Udah mau mati aja. Mending mati sih daripada kamu hidup menderita gitu."


Deg!


Satu kali deguban itu membuat seluruh tubuh Nika membeku, dia terdiam membatu. Perkataannya sendiri mengingatkan pada dirinya yang berusia 16 tahun, dimana dia terbaring penuh luka di rumah sakit setelah kebakaran yang menewaskan semua orang di panti asuhan, dan menghanguskan panti asuhan itu sendiri.


Sakit, sendiri, kesepian, membuat Nika berpikir lebih baik mati saat itu.

__ADS_1


__ADS_2