TAKTIK SELIR NIKA

TAKTIK SELIR NIKA
Tamu di jendela


__ADS_3

Tapi Nika berharap dia bisa tetap disana beberapa hari lagi. Mau bagaimana lagi Xander menyuruhnya kembali ke kamarnya, Nika takut melanggarnya dan jika dia bersikeras ada disana, Nika bisa ditendang. Lagipula, dia sudah cukup puas bisa berjalan-jalan dengan Kaisar Xander selama setengah jam tadi pagi, setidaknya dia bisa menunjukkan pada semua orang kalau dirinya cukup istimewa di mata sang kaisar kan?


Ting!


Jendela sistem tiba-tiba muncul di depannya, yang membuat dirinya cukup kaget!


[Sistem : Selamat, anda mendapatkan perhatian Kaisar! Pilihan sebelumnya membuahkan hasil! Jalan anda lebih dekat menuju Takhta permaisuri! Hadiah akan kami berikan!]


Ting!


Muncul gambar box misteri dari jendela sistem, lalu jatuh tepat di pangkuan Nika.


Nika diam sebentar, suasana hatinya cukup membaik setelah mendapatkan hadiah, sehabis menghadapi hari-hari kejam seperti ini.


Tapi suasana hati selir satu ini kembali memburuk, waktu dia mengingat kejadian dulu, saat sistem memberikannya kotak hadiah misteri, isinya adalah pematik, jedai, dan juga parfum, untuk itu Nika tidak terlalu berekspetasi tinggi saat ini.


Dia membuka kotak itu, meski dia bilang tidak memiliki harapan, sejujurnya dia sedikit berharap alat itu berguna.


Dan benar!


Nika akhirnya mendapatkan barang yang berguna!


Ini alat kejut listrik kan yaa? Aku punya ini di rumah dulu.


Nika menarik senyum pastinya, saat dia yakin bahwa itu alat kejut listrik. Dia ambil, lalu dia gunakan, dan itu benar-benar alat kejut listrik sungguhan, dia percaya saat dia mencobanya, ada aliran listrik dan suara khasnya yang tampak ketika Nika menggunakannya.


Tidak buruk!


Nika tau alat ini akan sangat berguna untuk melindunginya di dunia ini. Di dunia seperti ini, Nika butuh alat menjaga diri. Dan ini yang terbaik.

__ADS_1


Oke, sekarang sistem ini ga terlalu buruk dimataku.


Nika menyimpan alat kejut listrik di sebelah tubuhnya di balik bantal satu lagi. Alat yang menarik, alat dunia modern yang sangat berguna, dan akhirnya Nika punya sesuai harapannya saat kemarin mendapatkan hadiah misteri pertama.


......................


Hari sudah malam, Nika menatap sekeliling kamarnya, kamar yang menemaninya berlatih sihir kalau sudah tengah malam. Tapi saat ini Nika tidak bisa, karna dia masih terluka parah. Dia menatap jendela kamarnya, biasanya Nika kalau sudah jenuh dan ingin mengumpulkan fokus, berdiri disana dan menghirup angin malam.


Nika bosan! Tangannya sudah gatal ingin belajar sihir lagi, dia ingin bisa sihir itu untuk dirinya sendiri, untuk menjaganya, dan dia harap sedikit sihir itu bisa dia bawa ke dunia nyata, agar dirinya bisa hidup dengan lebih mudah, kalau bisa tidak perlu bayar air, di dunia modern air mahal.


"Kau masih belum tidur? Ini sudah larut dasar cengeng."


Mata Nika langsung terbuka lebar saat dia melihat ada sosok itu disana, pria yang katanya berkharisma dan berdarah dingin, pria yang diakui sebagai penguasa negara ini. Kaisar Xander yang itu, tiba-tiba saja muncul dari jendela Nika.


Mimpi gak ya? Ilusi kali? Masa iya ilusi? Tapi masa nyata? Ngapain dia kesini, ga ada gunanya juga dia kesini, gak berfaedah.


Nika masih terus menatap sosok itu, pria itu berjalan mendekat, dan Nika juga menatapnya untuk memperjelas argumennya, ini nyata atau ilusi semata?


"Wah, ternyata nyata!" Nika tersentak, dia bergerak sedikit ke belakang.


"Aduh, sakit!!!" Nika berteriak lagi, saat dia merasakan nyeri di punggungnya akibat benturan kecil itu.


"Dasar cengeng, begitu saja nangis."


"Sakit tau."


"Kalau tau sakit, jangan bergerak sembarangan."


"Memang karena siapa saya jadi bergerak sembarangan?"

__ADS_1


"Memang karena siapa?" Tanya Xander balik. Dia menatap Nika datar, tidak berekspresi, tidak pula iba dan merasa kasihan pada selirnya yang sudah meneteskan satu air mata itu.


Brak!


"Nyonya Selir!"


Ketiga orang itu berhenti seketika, saat melihat Nika sedang berbaring di sebelah Kaisar Xander yang duduk di kasur Nika.


Mereka adalah Lien, satu orang ksatria yang ditugaskan untuk menjaga pintu kamar Nika, dan satu lagi adalah pria yang cukup tua-- kepala pelayan di istana selir, yang biasanya mengurus soal keuangan dan segalanya soal istana selir.


Mereka bertiga mematung, tidak yakin dengan pemandangan ini.


"Kenapa kalian masuk tanpa izin? Begitu tata Krama kalian pada selir ku?" Tatapan Kaisar begitu dingin dan menusuk, dia menatap satu persatu mereka yang berani menginjakkan kaki di kamar selirnya tanpa izin dari sang selir itu sendiri.


Jangan tanya, ketiganya langsung gemetar ketakutan. Siapa yang tidak gemetar jika ditatap sedingin itu oleh pria penguasa Kekaisaran ini, dan digadang-gadang sebagai pria paling hebat dan juga berdarah dingin, tanpa hati dan emosi.


"Anu .. itu, saya ... " Lien menjawab dengan tubuh yang sedikit gemetar, barangkali karna rasa takut yang menyelimuti tubuhnya, dia jadi susah bicara dengan jelas, Nika paham akan perasaan itu, perasaan takut yang Lien alami terhadap Kaisar Xander.


"Ada apa Lien? Katakan saja, tidak apa-apa, aku tau kau melakukan ini untuk sesuatu yang baik." Nika tersenyum hangat, dia harap senyuman dan perkataannya bisa memberikan ketenangan bagi Lien, agar dia bisa menjelaskan semuanya dengan baik.


Ayo Lien, bicaralah dengan baik, kalau kau salah kau akan mati loh. Jadi usahakan jangan salah bicara di depan pria dingin ini oke? Dia dingin, dan dia punya kuasa untuk menghukum mu dengan kejam.


Nika memberikan semangat yang tulus dari hatinya paling dalam. Tapi syukurlah Lien tidak mendengar kalimat dukungan Nika di dalam hati. Kalau dia mendengarnya, bukannya tenang dan berhenti gemetar, yang ada Lien akan semakin takut hingga terjatuh karena kakinya terlalu lemas hingga tidak bisa berdiri menopang beban tubuhnya.


Lien menarik napasnya pelan, lalu dia maju satu langkah dengan wajah yang sedikit lebih berani. Mungkin ini efek perkataan Nika. Baguslah, Nika senang kalau perkataannya barusan memberikan Lien keberanian untuk bertahan hidup dari kaisar saat ini.


"Katakan." Kata Kaisar lagi menambah ketakutan mereka. Nika melirik sinis kaisar sebentar, dia kesal, padahal Nika sudah berusaha menenangkan mereka, tapi kaisar satu ini malah menakutinya lagi.


"Kami mendengar Nyonya Selir berteriak, jadi kami masuk ke dalam! Maafkan kami yang mulia kaisar, kami tidak tau kalau anda ada di dalam!" Lien mengatakannya dengan cepat. Wah Nika agak terkejut dia bisa menjelaskannya dengan cepat.

__ADS_1


"Lalu apa yang kepala pelayan lakukan disini?" Nika melirik pria tua berkacamata itu, soalnya kepala pelayan itu jarang sekali mengurus para selir.


__ADS_2