TAKTIK SELIR NIKA

TAKTIK SELIR NIKA
Kemarahan Irana


__ADS_3

...*************...


Prang!!


Tubuh Irana bergetar hebat, giginya merapat menahan amarah, matanya membesar penuh kebencian yang berapi-api, yang ditujukan hanya untuk satu nama.


Selir Vinaika.


Irana sangat membenci Nimonia, tapi posisi Nimonia terganti dengan Nika. Irana paling membenci Nika di dunia ini. Karna, tidak ada yang menduga, Irana yang diam dan tenang itu ternyata menyimpan banyak rencana untuk mencuri perhatian sang kaisar.


"Dasar ular licik sialan! Beraninya dia bermain taktik dengan ku! Apa dia tidak tau aku adalah perempuan paling cerdas di kekaisaran ini?!"


Suasana di kamarnya panas membara, api cemburu itu terus membakar Irana dan seluruh tubuhnya.


"Apakah kau jujur? Apa pelayan selir rendahan itu berani menghina ku?!" Tanya Irana, pada Mina yang saat ini sudah berlutut di depannya. Bukan hanya Mina, enam pelayan lainnya juga berlutut di hadapan Irana.


Kamar Irana berantakan, ada banyak barang yang pecah berserakan, vas mahal berhamburan, dan pakaiannya yang indah dan mahal juga sudah tergantung tak karuan.


Baik wajah, telinga, atau tangan para pelayan tampak penuh dengan darah. Wajah para pelayan itu sudah dihiasi dengan tamparan kuat dari Irana, telinga mereka berdarah terkena sayatan benda tajam, tangan mereka juga terluka untuk melindungi tubuh Irana dari pecahan vas yang Irana pecahkan sendiri.


Bukan hanya barang dan kain, tapi semua pelayan termasuk Mina menjadi pelampiasan amukan Irana yang membabi-buta.


"Iya yang mulia, Henza nama pelayannya, pelayan itu telah berani mengatakan bahwa selir Vinaika adalah selir tersayang yang mulia kaisar. Dia juga membandingkan saat anda sakit dan saat selir Vinaika sakit. Dengan anda yang mulia kaisar tidak peduli, tapi dengan selir Vinaika yang mulia kaisar bahkan sampai mengizinkannya tidu--"


Plak!!


"Tutup mulut mu pelayan rendahan! Beraninya kau berkata seperti itu pada ku!" Irana memberikan tamparan keras yang membuat pipi Mina membiru.


"Bukan saya yang mengatakannya yang mulia, tapi pelayan selir Vinaika."


"Ah ya, dia si pelayan sampah dan selir rendahan itu. Beraninya mereka, menghina ku, dan mencoba mengambil apa yang menjadi hak ku. Mengambil hak orang lain itu namanya pencuri, kalau pencuri harus dihukum, benar kan, Mina?" Irana menghela napasnya, dia menatap Mina datar.

__ADS_1


"Iya yang mulia, itu benar, pencuri harus di hukum!" Mina mengangguk saja, dia harus mendukung seluruh pendapat Irana, atau dia yang akan dihajar habis-habisan sampai mati. Bahkan jika mati pun tidak ada yang berubah, jika Mina mati ya sudah seperti angin lalu, Irana atau keluarganya tidak akan terkena sanksi apapun.


"Baiklah, sudah saatnya aku memberikan mereka pelajaran yang bagus. Mina, bawakan pulpen dan kertas, aku ingin mengirimkan surat pada ayah ku. Aku harap ayah memberikan saran yang bagus untuk mengurus lalat-lalat sialan ini."


Irana berjalan berbalik menuju kasurnya, dia melihat pecahan kaca yang berserakan di bawah karna ulahnya sendiri. Serpihan kecil yang pasti akan melukai tubuhnya jika terkena.


"Apa yang kalian lihat, letakkan tangan kalian. Apa kalian mau aku pecat?! Kalian tau kan akibatnya kalau berurusan dengan ku? Tuan putri keluarga Gaverin? Benar, seluruh keluarga kalian akan musnah tanpa jejak." Irana melirik sinis pelayannya satu persatu.


Dengan cepat dan penuh ketakutan, para pelayan itu meletakkan tangan mereka diatas lantai yang bertabur serpihan vas bunga itu.


"Tch, begitu saja harus diberitahu, kenapa sih aku tidak pernah punya pelayan yang kompeten?!" Kesal Irana, dia berjalan menginjak tangan para pelayan itu, agar kakinya yang indah dan mulus tidak terkena pecahan vas sampai dia tiba di kasurnya yang nyaman dan empuk.


Para pelayan itu menahan tangisan dan teriakannya, karna mereka tau, mereka akan dibunuh kalau bersuara. Makanya mereka mati-matian menahan rasa perih butiran kaca yang melukai tangan mereka ketika Irana menginjaknya dengan kuat, itu sakit sekali, ini sangat perih, tapi bagi mereka ini lebih baik daripada kematian, dan kemusnahan untuk keluarga mereka.


......................


"Henza? Kenapa melamun disitu?" Nika bertanya pada pelayannya saat dia menyadari sang pelayan itu hanya diam tak bergerak, memandang kearahnya sambil tersenyum tipis.


Nika bertanya-tanya apa yang terjadi pada Henza, membuatnya menatap Nika secara serius.


"Masa lalu, memangnya kenapa?"


Kesempatan bagus buat cari tau lebih lengkap soal masalalu Vinaika, aku cuma ingat setengah-setengah, dan ingatan itu perlahan punah dan hilang, baguslah kalau aku bisa nambah informasi.


.......


...----------------...


Berkat obrolan Nika dengan Henza sore tadi, Nika jadi tau cukup banyak hal tentang dirinya, setidaknya menambah pengetahuannya soal kenangan pemilik tubuh yang kini dia pakai.


Malam sudah larut, Nika sejak tadi melihat ke arah jendela yang kosong, dia melihat ke sisi kasurnya juga kosong. Seperti ada yang kurang.

__ADS_1


Dia gak datang ya? Hum, mungkin dia sibuk


Nika baru saja memutuskan untuk tidur, dia memejamkan matanya sebelum beberapa menit kemudian, dia mendengar suara dari jendelanya.


Nika bersiap membuka matanya, dan menoleh, apa yang berisik itu.


"Tidak ada, tidurlah cengeng." Pria itu menutup mata Nika dari belakang.


Nika diam ditempatnya dan kembali memejamkan matanya saat dia yakin dengan pasti, siapa pemilik tangan yang dingin dan suara yang berat seperti ini, hanya satu, dan hanya sang kaisar Xander Xanji De Landish.


Nika sudah cukup dekat dengan sang kaisar untuk mengenali Xander dari suara dan tangannya saja.


"Anda punya kama--"


"Jangan berisik, aku lelah."


Setelah mendengar itu, Nika mendadak diam sempurna.


Dih songong, kan cuma nanya!


Tapi setelahnya Nika menghela napasnya dan kembali tidur dengan mata Xander masih menutup matanya walau Nika sendiri memang sudah memejamkan matanya lagi, dia berani sekali tidur memunggungi sang kaisar Archerian.


Nika diam, dia rasanya bisa tidur lebih nyenyak, entah kenapa dia merasa lebih baik dari beberapa saat tadi. Seperti sudah ada yang terisi?


......................


"Apa yang terjadi pada mu Henza? Kenapa wajah mu begitu? Kenapa punggung mu berdarah, dan kenapa dengan tangan mu itu?!"


Nika baru saja bangun di pagi hari, dan saat dia memanggil pelayannya--Henza. Henza sudah datang dengan wajah yang membiru, mata yang bengkak, bibir yang berdarah, serta tangan yang sudah terbalut perban putih.


Nika tidak tau apa yang terjadi!

__ADS_1


Dia ingat Henza kemarin masih baik-baik saja, mereka masih bertukar cerita soal masa lalu Vinaika dengan seksama dan tawa. Tapi tiba-tiba perempuan yang semulanya sehat sudah terluka sangat parah hanya dalam satu malam.


"Tidak, tidak ada yang terjadi nyonya Selir. Ini hanya karena saya ceroboh dalam bekerja, makanya terjatuh dan terluka."


__ADS_2