TAKTIK SELIR NIKA

TAKTIK SELIR NIKA
Napasnya


__ADS_3

"Lalu apa yang kepala pelayan lakukan disini?" Nika melirik pria tua berkacamata itu, soalnya kepala pelayan itu jarang sekali mengurus para selir.


Jack--Pria berusia 50 tahun itu adalah seorang kepala pelayan di istana selir. Dia memakai kacamata, selalu rapi, tampilannya selalu elegan. Jack mengurus tentang masalah pemasukan dan pengeluaran para selir, itulah kenapa pembagian harta para selir selalu sama rata walau tidak ada pemimpin selir. Karna Jack mengurusnya dengan baik pula, makanya istana selir bisa dikatakan tidak kekurangan secara finansial dan makanan.


Jack, selalu adil pada setiap selir, baik pada Nimonia, ketiga selir tinggi, atau 40an selir lainnya. Dia selalu berlaku adil.


"Pintu kamar anda dikunci dari dalam, kami khawatir, kami tidak memiliki kunci cadangan jadi kami memanggil kepala pelayan kesini." Jawab prajurit itu, dia menunduk memberikan hormat pada Nika. Soalnya prajurit itu yang berlari menemui kepala pelayan.


"Oh iyaa aku memang menguncinya tadi." Nika mengingat lagi, itu kebiasaannya, soalnya tengah malam dia kan selalu belajar sihir.


"Lalu, kenapa kau yang menjawabnya? Dia bertanya pada kepala pelayan, maka orang itu juga yang harus menjawabnya." Kata Xander dingin. Semua perkataan yang Xander ucapkan mampu membalikkan situasi. Suasana yang tadinya sudah mulai ringan, kembali berat ketika pria dingin ini membuka mulutnya dengan ekspresi datar dan tatapannya itu.


"Saya datang kemari setelah mendengar Nyonya Selir Vinaika berteriak dan kamarnya terkunci, jadi saya datang untuk memasukan." Jack menunduk penuh dengan hormat. Memang kebiasaan orang-orang disini untuk berbicara dengan Kaisar tanpa menatap matanya, mana ada yang berani juga.


"Iya aku mengerti, sudahlah tidak masalah, kalian boleh kembali keluar. Aku hanya sedikit kaget tadi." Nika tersenyum manis, dia harus tetap tersenyum walau dia sendiri juga takut. Agar bisa menenangkan dan memenangkan hati pada bawahan.


"Baik Nyonya Selir."


Mereka bertiga serentak tunduk dan patuh, mengundurkan diri secara perlahan tanpa membuat keributan apapun.


Nika kembali berbaring, dengan Xander yang juga masih berbaring disebelahnya. Tapi Nika tidak melihat ke arah Xander, dia hanya fokus pada langit-langit kamarnya.


Kira-kira besok ada gosip ga yaa? Kaisar datang mengunjungi salah satu kamar selir. Tapi dari kemarin aku ga mendengar apapun, kenapa gak ada gosip yang bilang aku selir kesayangan kaisar ya? Kami kan sudah sedekat ini? Aku butuh gelar selir kesayangan agar bisa lebih dekat dengan Takhta permaisuri.

__ADS_1


"Yang mulia, kenapa anda disini? Bukannya anda sibuk? Anda kembali saja sana, disini kan sempit." Nika semakin tidak berani menatap sang kaisar, saat pertanyaan itu terceplos saja dari mulutnya. Entahlah, Nika sendiri juga tidak paham, perkataan dari mulutnya keluar atas dorongan hatinya, tanpa izin logikanya.


"..." Sang kaisar hanya diam. Tidak ada jawaban dari pria itu.


Nika tau dia harus berhenti sekarang, dia sadar bahwa Xander mungkin sedang marah atau kesal saat ini, dia yakin pria berhati batu itu sudah melemparkan tatapan menusuk pada dirinya. Nika tau semua itu. Tapi entah kenapa hati dan bibirnya bekerjasama untuk menceploskan rangkaian pertanyaan lagi!


Dan lagi!


"Anda mengusir saya karna merasa risih dengan tubuh saya yang besar kan? Anda mengusir saya agar anda merasa bebas dan luas tidur di kamar anda sendirian kan?" Nika berhenti bernapas untuk beberapa detik, dia juga menutup matanya, takut akan resiko yang akan datang.


"..."


Hening, lagi-lagi tidak ada yang terjadi. Tidak dengan amarah Xander, atau sebuah deheman saja.


Tapi tidak! Tidak ada wajah Xander yang mengerikan di depan wajahnya. Tidak ada tatapan dingin juga, membuat Nika membuka kedua matanya.


Dia tau ini gila, tapi entah kenapa Nika merasa kesal karna tidak direspon. Dia tau bahwa ini lebih baik daripada harus menerima kemarahan Xander, tapi rasanya Nika tidak puas kalau tidak ditanggapi.


Seperti ada yang kurang.


"Yang mulia! Anda dengar tidak sih?! sa--" Perkataan Nika langsung terhenti, saat wajahnya yang menoleh ke samping, bertatapan dekat dengan kaisar Xander yang sedang menutup mata, rupanya ia tidur sejak tadi.


Nika membeku seketika, hidungnya berhenti menghirup oksigen sesaat, ketika dia sadar hidungnya bersentuhan langsung dengan hidung Kaisar Xander. Nika pun bisa merasakan hembusan napas pria itu. Mereka sangat dekat.

__ADS_1


Set!


Secepat kilat Nika kembali membetulkan posisinya sebelumnya, dia kembali telentang menatap langit-langit, tidak mau menoleh lagi, karna rasanya jantungnya bisa berhenti berdetak.


"Aku cape, aku ngantuk, aku mau tidur." Nika menutup matanya dengan segera.


Setengah jam sudah berlalu, akhirnya Nika benar-benar tidur, setelah kejadian itu menghantui dirinya, saat dia menutup mata, dia selalu teringat kejadian barusan, dia bahkan masih ingat jelas sensasi nafas Kaisar Xander yang berhembus kearah dirinya.


"Aneh." Gumam Kaisar Xander, dia bangun sebentar, menarik selimut untuk menutupi tubuh Nika dan tubuhnya sendiri, sebelum dia kembali tidur.


......................


Pagi itu di istana selir, ricuh dengan berita kaisar Xander yang mendatangi Selir Vinaika di malam hari, dan menghabiskan sepanjang malam disana.


Entah darimana berita itu tersebar, satu yang pasti bahwa berita itu sudah sampai ditelinga Nimonia, dan tiga selir atas lainnya. Jangan tanya reaksi Nimonia, dia panas, namun karna dia cerdik dan licik, dia hentikan emosi dan kemarahannya, dan mulai menyusun rencana baru untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dan menyingkirkan Nika dari jalannya, karna untuknya saat ini, selir yang tak berarti itu sudah mengubah banyak hal, dan menjadi batu sandungan paling tajam untuk menjatuhkan dia dan segala rencananya.


Bagaimana tidak? seorang selir yang tampak tak berguna, biasa saja, tidak cerdas, tiba-tiba saja dalam satu bulan sudah membalikkan keadaanya. Selir biasa saja itu mampu memikat perhatian Kaisar berhati batu, siapa yang tidak terkejut?


Pun dengan Irana dan Vanesha, keduanya sedang sibuk melampiaskan emosi pada pelayannya masing-masing, mereka pun sama-sama menghubungi ayah masing-masing untuk meminta bantuan.


Tapi di tempat selir Desha, semuanya tampak tenang, santai, tidak ricuh. Seolah tidak ada kejadian apa-apa yang bisa mempengaruhi situasi kamarnya.


Para pelayan sibuk menggosipkan hal itu, para selir lainnya juga sibuk gigit jari sambil mengutuki Nika. Mereka tidak masalah kalau kaisar berhati dingin tidak memperhatikan mereka, asal jangan memperhatikan perempuan lainnya, agar adil dan tidak menimbulkan rasa iri.

__ADS_1


Sementara Nika di kamarnya, masih sibuk tertidur pulas di dalam pelukan Kaisar, belum tau gosip apa saja yang ada di luar, dan siapa saja yang mulai menargetkan nyawanya saat ini.


__ADS_2