TEKAD

TEKAD
01. KEHILANGAN


__ADS_3

Siang hari cuaca semakin panas membuat siapa saja malas keluar rumah namun berbeda dengan Rasya,  Kinar, dan Ziu ketiganya itu malah berkeliaran menikmati cuaca yang panas, mereka mengitari jalanan sudah lebih dari lima kali sangking gabutnya namun saat melihat beberapa orang pria yang mereka yakini adalah Bara dan teman-temannya ketiga gadis itu pun langsung mengajaknya pergi ke suatu tempat.


Para laki-laki itu menaiki motor dengan ugal-ugalan bahkan nyaris saja mereka terkena tilang untung pak polisi yang bertugas sedang baik hati membiarkan mereka melanjutkan perjalanan dan hanya memberikan nasehat untuk hati-hati.


“Wuah kita kesini?” tanya kinar


“Yoi!” ucap Leon


“Lo pada kuat minum kan?” tanya Nando


“Gue gak bisa minum!” jawab Rasya


“Yaelah tadi bilang lagi sedih yaudah kita minum aja!” kata Ziu membuat para laki-laki setuju


“Jangan dong dia kan belum pernah minum kalo ada apa-apa gimana?” tanya Bara


“Udah dicoba dulu ayoklah!” sahut Alga yang sudah tidak sabar untuk bersenang-senang


Mau tidak mau Rasya menurut, mereka masuk ke sebuah bar dan memesan ruangan pribadi untuk bersenang-senang. Para laki-laki memesan banyak minuman beraneka merek. Rasya hanya diam saja dia duduk disamping Bara, sedangkan Kinar dengan Leon dan Ziu bersama Nando sedangkan yang lainnya sibuk minum sambil karaokean.


“Lo mau minum yang mana?” tanya Bara pada Rasya yang hanya diam sedari tadi


“Gak tau aku gk pernah minum!”


Bara ingin menuangkan segelas anggur namun Nando sudah terlebih dahulu memberinya minuman yang menurut Rasya rasanya aneh.


“Kalian pacaran?” tanya Leon saat melihat tingkah Bara dan Rasya yang terlihat akrab padahal selama ini Bara sangatlah terkenal tidak suka dekat dengan para wanita


“Tidak!” jawab Rasya lalu meminum kembali alkohol yang diberikan oleh Nando

__ADS_1


Perlahan tubuh Rasya mulai mabuk melihat hal itu Bara membawa Rasya pulang ke hotel. Saat di apartemen milik Rasya gadis itu terlihat seperti kesakitan entah apa yang di masukkan pada minumannya,  Bara tidak peduli dan lebih memilih pergi namun tiba-tiba saja tangannya di tarik oleh Rasya tetapi bara memaksa pergi.


Ke esokan paginya Rasya terbaring dengan selimut yang menutupi tubuh munggilnua di sampingnya terdapat seorang pria tanpa baju tetapi masih memakai celana.


“Kau apa yang kau lakukan?” tanya Rasya sambil membalut tubuhnya dengan selimut


“Maaf Sya aku kemarin mabuk jadi gak sadar!” bohong Bara


“Huhuhu harusnya aku kemarin gak ikut!”


“Aku harus gimana?”


Rasya benar-benar bingung kesedihan dalam dirinya selama ini tak kunjung hilang namun tiba-tiba saja ia mendapat hal yang lebih menyedihkan dari sebelumnya, Rasya memang memiliki kekayaan yang cukup namun baginya itu semua tidak ada apa-apanya jika ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang keluarga. Sejak kecil hidupnya bagaikan daun yang berlebih orang tuanya selalu mengabaikannya, demi mendapatkan perhatian kedua orangtuanya Rasya berusaha menjadi anak yang terbaik, berusaha mendapat peringkat pertama, selalu memenangkan perlombaan namun itu semua masih tidak cukup bagi orang tuanya tetapi giliran sang adik dia selalu terus-menerus mendapat kasih sayang. Rasya yang sudah muak lebih memilih meninggalkan rumah saat kelas tujuh ia berusaha bekerja saat sepulang sekolah demi biaya hidup dan sekolah.


Beberapa tahun kemudian dia sukses dan saat ini sudah membangun dua restoran dan tiga perusahaan yang cukup terkenal di kotanya bagi orang tua lain mereka pasti akan puas dengan kerja keras sang anak namun sampai saat ini kedua orang tuanya itu tidak pernah puas apa yang ia rasakan.


“Aku akan tangung jawab!”


“Kondisimu yang seperti ini kami takut jika kau tidak mengurus anakmu!” ucap Ziu


“Maka dari itu kami memilih membawakanmu seorang pembantu!” sambung Kinar


“Terimakasih!” jawab Rasya dengan tatapan kosong


“Bi tolong bantu ya kalo ada apa-apa tolong beritahu kami!” ucap Kinar sebelum dia benar-benar pergi


“Baik!” jawab Bi Leha


Dengan langkah gontai tak terarah Rasya melangkahkan kakinya menuju balkon apartemen menikmati suasana malam hari yang begitu sepi dan dingin. Rasya hanya melamun hatinya benar-benar sakit Bi Leha yang melihat hal itu juga merasa miris melihatnya walaupun dia baru sehari kerja tapi Bi Leha juga sudah tau tentang masalah yang terjadi pada Rasya.

__ADS_1


Bahkan Bi Leha sangat sedih saat mendengar jika gadis secantik Rasya malah di buang oleh keluarga aslinya.


“Non mau makan apa?”


“Tidak lapar bi!” jawabnya dengan tatapan kosong


Perlahan Rasya memilih masuk kedalam kamar untuk tidur namun saat tidur dia benar-benar kesusahan karena selalu memimpikan Bara. Demi agar bisa tidur dia harus meminum obat tidur.


Ke esokan paginya Rasya tidak berangkat sekolah karena dia susah meminta izin untuk cuti selama setahun dengan alasan sakit yang membuatnya harus di operasi di luar negeri. Kesehariannya selalu berubah dia minum, merokok, bahkan ikutan balapan liar hanya untuk menenangkan suasana hatinya yang benar-benar kacau.


*******


Saat ini pada malam hari seperti biasa Rasya akan melakukan balapan liar lalu mabuk-mabukan. Rasya sangat di kenal sebagai ratu jalanan karena tidak seorang pun bisa mengalahkannya tak hanya di jalanan saja dia juga ahli minum, pintar dalam bidang di sekolah. Maka tak heran jika banyak yang jatuh cinta padanya namun yang dipilih adalah Bara.


Selesai balapan ia menuju bar untuk minum dengan di temani Ziu dan Kinar, saat agak mabuk gadis itu meminta izin pergi mencari angin. Saat diluar karena mabuk dia tidak tau berjalan kemana saat benar-benar lelah dia lebih memilih duduk di dekat pagar sambil menikmati rokok miliknya.


“Bara lo jahat!”


“Kenapa lo tingalin gue sih!” isak tangis bercampur asap rokok bukan membuat gadis ini tenang dia malah semakin sedih


“Bara jangan tinggalin gue!”


“Hiks kalo gak ada elo siapa lagi yang bikin gue bahagia?”


“Bara tolong kembali!”


“Hiks Bara hiks gue kangen elo!” ucapnya sambil menenggelamkan kepalanya di lutut


Jangan lupa vote and komentar!

__ADS_1


Thanks for reading see you next time!


Instagram: rosakawahara


__ADS_2