
Follow instagramku: RosaKawahara
*
*
*
*
**Malam hari
Aldo pov on**
Ketika malam hari Aldo dia sibuk melamun memikirkan kejadian waktu saat sebelum Rasya kecelakaan, harusnya dia tidak melakukan hal itu ke teman sendiri apalagi Rasya itu sangat baik padanya. Tapi tak bisa di pungkiri sosok Rasya memang membuat candu bagi para kaum Adam.
Gue gila sih, tapi gue juga harap Rasya bisa sadar aku juga ingin minta maaf padanya -batin Aldo
Tak lama saat itu pun Rafi datang dengan membawa bungkusan makanan, Aldo yang melihat itu pun menatap tuh cowok bingung lalu ia bertanya dengan sopan.
“Kau untuk apa bawa itu?”
“Eh buat aku makanlah belom makan, apa Rasya sudah sadar?” tanya Rafi sambil memberikan sebungkus nasi pada Aldo lalu ia duduk di sampingnya dan mulai makan
“Belom dia masih dalam keadaan koma, semoga aja cepet sadar!” jawabku singkat sambil ikutan makan nasi yang telah di beli Rafi
Kami berdua menikmati makan bersama dalam keadaan hening, selesai makan kami bergantian menunggu Rasya dari luar, aku membiarkan Rafi menjaga Rasya walaupun dia terlihat lelah tuh anak tidak menyerah bahkan dia tetap ingin di sana tanpa ingin pulang.
__ADS_1
Aldo pov off
********
Bara pov on
Sudah dua hari ini aku tidak menemukan keberadaan Rafi aku curiga dia sudah tau keberadaan Rasya tapi yaudah aku membiarkannya pergi tampan ingin menyusul namun saat itu pun aku mengetahui kabar bahwa orang yang mencelakai ku waktu itu adalah adik angkatku yang bekerjasama dengan adik Rasya hanya untuk merebut warisan dari papa, tentu saja pewaris sah adalah Rafi tapi dia sendiri saat ini banyak yang mengincar nyawanya ketika Rafi meninggal tentu saja warisan itu jatuh padaku makanya ibu tiriku serta adik tiri kami melakukan hal jahat agar warisan itu jatuh pada adik perempuan kita. Tapi kali ini aku juga menemukan fakta yang lebih mengejutkan.
Waktu aku keluar mencari baju untuk Rasya kak Rafi ternyata juga berada di club malam itu bersama dengan wanita dan dua laki-laki yang aku ketahui mereka teman dari adik tiri kita. Kak Rafi diberikan minum yang sudah tercampur obat, mereka membawa Kak Rafi ke arah kamar yang searah dengan kamar Rasya saat di arah belokan Kak Rafi berhasil memukul mereka bertiga hingga terjatuh saat itu dia langsung memasuki kamar tanpa sengaja, aku menyesal saat membawa Rasya kesana karena secara tidak langsung gadis itu dan kakak melakukan hubungan dan Ival adalah anak dari mereka.
Selama setahun aku berusaha untuk sembuh lalu kembali ke indonesia dan akhirnya berhasil, namun saat aku kembali kerumah orang tua asliku, setelah itu aku malah mendapatkan kabar gembira siapa dalang dari semua kekacauan ini dan aku pun juga tau jika Rafi ayah dari Ival tapi kenapa dia tidak ingat?.
Setelah mengetahui fakta dari cctv yang aku lihat dari club aku pulang menuju rumahku, sesampainya dirumah aku mendengar adik tiriku ngobrol bersama ayah kami.
“Papa kak Rafi kok gak pernah kelihatan?” itu tanya adik angkatku
Saat ini kami sedang makan bersama, oh jangan lupa susananya begitu menegangkan apalagi saat aku menatap ibu tiriku gila muka dia baik kalo ada papa tapi kalo gak ada mungkin bentar lagi aku bakal tamat maka dari itu aku memilih cepat menyelesaikan makananku lalu ikutan menyusul kak Rafi yang di Korea aku sangat yakin tuh anak disana.
“Papa aku udah selesai makan, aku pergi kerumah temen dulu ya!” papa ku mengangguk sedangkan mama tiriku dia sempat melirik tidak suka begitu
“Hati-hati Bara!” ujar mama dengan senyum iblis, aku pun mengangguk
Saat keluar dari rumah aku langsung melajukan mobilku dengan kecepatan di atas rata-rata menuju bandara, aku sudah paham jika anak buah mama akan mengikutiku tapi mereka tidak pandai dalam urusan mengebut, karena itulah menjadi keuntungan lebih bagiku jika tidak mengebut pastinya aku akan di celakai lagi.
Setibanya di bandara aku langsung cepet-cepet menuju pesawat yang akan aku tumpangi karena sekitar sepuluh menit lagi akan terbang. Saat pesawat sudah berada di atas awan aku hanya berdoa semoga saja tiba di tempat tujuan dengan selamat.
Korea
__ADS_1
Saat tiba di Korea aku pun langsung menelponnya namun tidak bisa karena ponselnya mati aku mencobanya sampai ke dua puluh kali saat terhubung yang menjawab bukanlah Rasya tapi seseorang yang aku pun tak kenal siapa dia, aku pikir dia pencuri tapi ternyata orang itu adalah teman bisnis Rasya di Indonesia, aku pun mencoba menjelaskan siapa diriku dan apa tujuanku ke Korea hanya demi Rasya. Saat cowok itu mengerti ia menyuruhku istirahat di hotel terlebih dahulu baru besok pagi tuh orang menjemputku dan entah akan membawaku kemana.
Tanpa pikir panjang aku pun menyewa hotel untuk satu hari, orang-orang pada membawa koper sedangakan aku hanya membawa tas kecil yang berisi paspor, dan atm aku bahkan tak sempat membawa baju ganti karena terburu-buru.
Semuanya menatapku aneh aku hanya membalas dengan senyuman, setelah mendapat kunci aku langsung memilih menuju ke kamar untuk mandi, lalu makan dan yang terakhir tidur.
Keesokan paginya
Bara sudah bersiap walaupun dia belum menganti pakaian, ia menunggu seseorang yang menjemputnya cukup lama bahkan jam sudah menunjukkan pukul sembilan orang itu belum muncul, sampai dia mendapatkan pesan Kamu berada di hotel mana Bara tersenyum pahit dia juga bego bisa-bisanya menyuruh orang menjemputnya tapi ia juga tak memberikan posisi ia tidur di hotel mana.
Ia pun memberitahu jika tidur di hotel berlin mitte, tak lama pesan pun masuk dan ternyata tuh cowok malah menyuruhnya ke rumah sakit. Bara pun berpikir bahwa orang itu kecelakaan jadi ia buru-buru kesana.
Setibanya di rumah sakit Charité - Universitätsmedizin Berlin ia pun langsung menuju ke tempat di mana teman Rasya di rawat, tapi saat itu juga ia melihat Rafi yang sedang bersedih sedangkan cowok yang ia yakini teman Rasya juga menangis. Ada apa itulah pertanyaan dalam diri Bara, dengan rasa penasaran dia pun bertanya pada sang kakak.
“Kak ada apa, siapa yang dirawat?”
“Rasya dia koma!”
“Apa, enggak kak padahal aku jauh-jauh kesini untuk memberikan kabar gembira tapi kenapa aku yang mendapat kabar buruk!”
“Kau apakan dia kak?” tanya Bara sambil menguncang tubuh Rafi
“Maaf Bara aku gak tau kalau dia bakal ketabrak mobil!” jawab Rafi menangis
“Kakak lalu aku gimana akhh!” geram Bara menahan emosi sebenarnya ia ingin memarahi dan memukul Rafi tapi bagaimana pun cowok di hadapannya itu kakaknya walaupun bukan kakak kandung ia harus menghormati
Bara memilih terduduk bagaimana pun menangis dan emosi tidak akan menjadikan semuanya berubah menjadi lebih baik.
__ADS_1
**Jangan lupa vote and komentar!!!
Thanks for reading see you next time**!