
dari sisi bayu
nama ku bayu pratama, aku adalah anak tunggal. ayah ku pemilik perusahaan di bidang arsitek, sedangkan ibu ku pemilik salon terkenal yang ada di kota ini.
karena aku anak tunggal otomatis perusahaan ayah aku yang harus pegang.
aku mempunyai satu sahabat, entah lah aku harus menyebut nya apa. karena aku telah mempunyai perasaan suka terhadap nya ketika pertama kali bertemu dengan dia.
pertemuan pertama kami bisa di katakan sangat lucu, waktu itu umurku baru menginjak 9 tahun.
aku sedang berjalan - jalan di sebuah taman dekat rumah ku, dan aku melihat ada anak kecil yang sedang menangis.
aku pun datang menemuinya, ternyata dia terjatuh dari sepeda. aku melihat lutut nya berdarah, aku pun menggendongnya dan membawanya pulang kerumah karena aku tidak tahu harus mengantar kan nya kemana.
setelah sampai rumah aku mengobati lutut nya sambil terus menghiburnya. setelah lutut nya selesai aku obati dia pun berhenti menangis.
dia tersenyum ke arah ku, senyum yang sangat manis, dan tiba - tiba dia memeluk ku dan mencium pipi ku.
entah kenapa setelah dia melakukan itu jantung ku berdebar sangat kencang. apa aku sakit..? fikir ku
" terima kasih kamu malaikat penolong ku.. sekarang lutut ku sudah tidak berdarah lagi.. kamu mau kan menjadi penjaga ku sekaligus sahabat ku.. " ucap nya sambil terus memainkan rambut.
aku pun tersenyum dengan tingkah nya,
" apa kamu mau jadi sahabat ku, karena aku tidak mempunyai teman selain adik ku ion.. " tambah nya lagi.
aku pun menganggukan kepala ku tanda setuju.
" hore.. hore.. sekarang aku punya teman.. " ucap nya sambil loncat - loncat
" nama kamu siapa..? " tanya ku
" nama ku amelia, kalau nama kamu siapa..? "
" aku bayu.. "
" bayu.. " ulang nya.
__ADS_1
sejak saat itu kami selalu bersama - sama, aku seperti penjaga nya. aku akan menjaga nya kapan pun dia butuhkan, pernah dulu sewaktu dia SMP ada yang mengolok - ngolok nya sampai dia tidak berani untuk masuk sekolah beberapa hari.
aku pun langsung memberes kan anak itu.
dan hingga sekarang aku tidak pernah membiarkan siapa pun menyakitinya dan keluarganya.
beberapa tahun menjadi sahabat nya aku jadi tau sifat - sifat nya. mungkin kalau di lihat dari luar dia sangat tegar, tapi sebenarnya dia rapuh.
dia terkadang selalu menangis sendiri di makan papah nya, mengadukan semua keluh kesalnya.
dan menurut ku itu wajar, di usia nya yang masih muda dia harus mengambil tanggung jawab besar untuk menjadi tulang punggung keluarga.
hari itu aku harus meninggalkan nya sendiri di bandara, aku harus segera pergi ke paris selama hampir 4 bulan lama nya.
dan selama itu pula aku tidak pernah menghubungi nya, bukan nya aku sudah tidak mau menjaga nya lagi.
tapi aku cuma ingin meyakin kan diri ku kalau aku memang menyayanginya lebih dari seorang sahabat.
dan nyata nya aku sangat tersiksa dan merindukan nya, aku hanya dapat mendengar kabar nya lewat ibu ku atau mamah nya.
aku bertekad setelah aku kembali nanti aku ingin menyatakan perasaan ku terhadapnya.
hari itu aku sengaja tidak memberi tahu kepulangan ku, aku ingin memberinya kejutan, dia menyambutku dengan hangat.
tidak ada yang berubah dari diri nya hanya saja, dia memberi tahu ku kalau dia sudah punya kekasih.
aku marah, aku merasa sesak, tapi aku tidak bisa berbuat apa - apa. dia telah memilih laki - laki itu bukan aku.
sesuai janji aku pun bertemu dengan lelaki yang beruntung itu, kami mengobrol dan tidak lama telepon ku berbunyi.
ternyata itu dari pekerja yang sedang membangun vila ku di bali. sebenarnya aku membangun vila itu untuk ku dan lia, tapi seperti nya itu tidak akan terwujud.
selama beberapa hari aku harus pergi ke bali, dan setelah kembali seperti ada sesuatu yang menghantam ku.
dia mengatakan kalau kekasih nya itu tidak suka kami dekat, aku tahu lia tidak akan bisa menjauhi ku, maka dari itu aku memutuskan biar aku saja yang menjauh dari mereka.
toh aku lihat lia juga sudah bahagia dengan laki - laki itu, tanpa pamit kepada lia aku kembali ke paris.
__ADS_1
tapi aku masih tidak bisa melupakan nya, aku pun diam - diam suka berhubungan dengan dion atau pun mamah nya lia. aku bisa tahu apa pun tentang lia dari mereka.
sesekali aku pulang ke indonesia tapi aku tidak pulang kerumah melainkan ke vila ku yang di bali.
dan setelah setahun lebih kepergian ku, aku mendapat kabar dari mamah lia kalau lia sudah dua hari mengurung diri di kamar dia juga tidak mau makan, sekakinya di paksa paling hanya masuk dua suap.
akhirnya aku memutuskan untuk kembali menemuinya, kerena aku tidak bisa melihat nya seperti itu. sesampai nya aku di rumah dia mamah lia langsung menyuruh ku untuk ke kamar nya.
aku pun terus mengetuk pintu kamar nya sampai dia membuka nya. setelah pintu terbuka aku melihat matanya sangat sembab dan bengkak, mungkin dia sudah banyak menangis.
dia terus memeluk ku, begitu pun aku tidak mau melepaskan pelukan ku. aku pun membujuk nya untuk makan karena tadi sebelum kerumah nya aku sudah beli makanan kesukaan nya nasi padang.
aku kembali lagi ke kamar nya dengan membawa sepiring nasi dan air putih.
aku pun menyuapinya tetapi dia juga malah menyuapi ki makan juga.
memang sudah tidak aneh kalau kami makan satu piring berdua, karena terkadang kami suka melakukan nya.
aku pun mulai menghiburnya, dan aku berniat untuk kembali tinggal di sisi nya. saat aku dan dia sedang makan, aku meninggalkan nya sebentar ke toilet dan itu hal terbodoh yang aku lakukan.
aku meninggalkan nya sendirian disana tanpa pengawasan ku. saat aku kembali aku melihat lia sedang menangis dan di peluk oleh seorang laki - laki dari arah belakang.
aku pun menarik laki - laki itu aku meninggal kan dia dan menarik tangan lia, aku fikir laki - laki itu akan menyerah tapi nyata nya tidak dia malah mengejar kami sampai parkiran.
karena aku sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan nya aku pun menghajar nya habis - habisan. kami pun berkelahi dan tidak lama security datang melerai kami.
tadi nya aku masih ingin membalas nya karena dia sudah membuat wanita yang paling aku cintai menangis tapi lia memeluk ku sangat erat dan akhirnya aku mengalah dan membawa lia pulang.
saat sampai di rumah nya dia meninta ku masuk, dia pergi meninggalkan ku di ruang keluarga, dan tak lama dia datang dengan membawa kotak obat.
aku melihatnya menangis dan terus mengatakan kata ' maaf ' entah keberanian dari mana aku berani mengecup bibir nya.
aku menunggu reaksi nya, aku melihat dia memejamkan mata nya sehingga aku bertindak lebih jauh lagi aku melumat bibir nya. bibir yang selama ini selalu aku impikan.
setelah kejadian itu aku merasa canggung dan gugup jika bertemu dengan nya. aku takut aku tidak bisa mengendalikan nya lagi.
aku takut ingin merasakan bibir itu lagi. aku menutupi rasa gugup ku, aku bersikap biasa saja, padahal batin ki aku sangat tersiksa.
__ADS_1
apakah kalau aku jujur sekarang dia akan tetap di sisi ku, atau dia malah akan meninggal kan ku. aku tidak ingin mengambil resiko kehilangan dirinya untuk selama lamanya aku tidak siap.
biar lah seperti ini, biar hanya aku yang mengetahui perasaan ini biar kau mencintai mu dalam diam. dan aku berharap suatu saat nanti dia akan bahagia.