Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]

Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]
Terbaring


__ADS_3

Dahulu kala di Selat Sunda ada suatu kerajaan yang benama kerajaan Galuh yang di dirikan pada sekita tahun 612 M. Kerajaan Galuh sendiri sering terlibat perang saudara dengan kerajaan Sunda, kerajaan ini pun sempat di satukan pada tahun 723-739 M, namun pecah membali. Kerajaan Galuh mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Wastukancana (1371-1475M).


Kerajaan Sunda dan Galuh kembali di satukan oleh Jayadewata Sri Baduga Maharaja pada tahun 1482.


...****************...


*Di kamar Dimas.


Terlihat sesosok wanita yang tertidur menggunakan salasatu lengannya menjadi sebuah bantal dan sebelahnya mengganggam tangan Dimas. Dimas perlahan mulai membuka matanya, dan seketika tatapannya fokus terhadap sesosok wanita di sampingnya, ia mengangkat tangannya yang lain mengusap rambut wanita yang tengah tertidur pulas tatkala itu.


Tak satupun kata yang terucap dari mulut mereka berdua, hanya saling tatap setelah keduanya sadar. Tatkala bola mata mereka saling bertemu perlahan keduanya mulai berkaca, Sri yang tak mampu lagi membendung air matanya jatuh membasahi pipi, sembari mengusap air mata Sri, Dimas memasang wajah menenangkan.


Mereka yang mengkhawatirkan satu sama lain pun memasang wajah penuh rasa syukur dan lega. Sri Manawangi memeluk erat Dimas dan mendaratkan kepalanya di dada Dimas.


Isak tangis Sri lirih tak bersuara. Dimas hanya mengusap rambut Sri, dan mencoba menenangkannya. Hening menghantar khawatir yang perlahan hilang.


"Tok tok tok" terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk" jawab Sri yang seketika berdiri dari dekapan Dimas sembari mengusap isak tangisnya.


Terlihat Prabu Selang Kuning memasuki kamar Dimas. Dengan ekspresi wajah yang lega beliau sedikit menghela nafas lega sembari tersenyum.


"Syukurlah kau sudah siuman, Dimas. aku khawatir melihat anaku siang dan malam selalu menjagamu tanpa henti, bagaimana keadaanmu saat ini?" cetus Ki Selang Kuning.


"Saya baik-baik saja Paduka" jawab Dimas singkat.


"Sepertinya kau masih belum bertenaga, Nyimas pergilah ambilkan makanan untuk Suamimu!" lanjut Ki Selang Kuning.


Sri mengangguk dan lekas pergi meninggalkan ruangan Dimas, dan tinggalah Ki Selang Kuning dan Dimas di dalam ruangan.


"Dimas, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepadamu! salasatu mata mata di dekat perbatasan melihat rombongan Raja Sri Baduga Maharaja telah mendekat kemari, sepertinya beliau ingin menemuiku" tuturnya.


Dimas memasang wajah kaget dan terdiam sejenak.


"Berapa lama mereka akan tiba?" tanya Dimas.


"Tiga hari paling lambat" jawabnya.


"Lalu apa rencana anda, Paduka?" tanya Dimas.


"Aku belum memutuskannya, maka dari itu aku ingin menanyakan pendapatmu" tuturnya.


"Kita harus melihat dulu apa tujuannya datang kemari, kita tidak bisa bertindak gegabah paduka" jawab Dimas.


"Kau benar, Dimas. kita harus mempunyai beberapa strategi untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan" cetusnya.


"Besok saya akan memasang array teleportasi di kerajaan ini, itu untuk berjaga jaga apabila ada hal yang tidak diinginkan terjadi, kita bisa langsung pindajkan sagu kerajaan ini ke dunia lain" pungkas Dimas.

__ADS_1


"Jangan memaksakan dirimu, Dimas. kau masih harus memulihkan diri" ucapnya.


"Tidak apa paduka! besok aku pasti sudah pulih sepenuhnya" jawab Dimas.


"Semoga saja begitu" tutupnya.


Tak lama kemudian Sri datang membawa makanan dan mengupas buah apel untuk Dimas. Ki Selang Kuning pamit undur diri dan lekas meninggalkan kamar Dimas sedangkan Sri menyuapi kekasihnya itu yang terbaring lemas. setelah selesai menyantap makanannya, Dimas menyuruh Sri untuk pergi beristirahat.


"Pergilah beristirahat, Nyimas. Kau pasti lelah setelah beberapa hari ini kau terus menjagaku, sekarang aku sudah baik-baik saja" ucap Dimas.


Sri mengangguk dan tersenyum lalu lekas pergi dari kamar Dimas. Dimas kini tinggalah sendiri dan mulai bersemedi.


Dimas memusatkan inti tenaga dalamnya untuk mensuplai mana ke dalam tubuhnya, tapi dia mengalami kesulitan karena luka di tubuhnya cukup parah. semua ototnya yang terkoyak setelah pertarungan sebelumnya membuatnya harus merasakan sakit di sekujur tubuh.


Setelah beberapa saat dia gagal menyerap mana, ia pun menghentikannya.


"Keluarlah! aku tau kau di sana" ketus Dimas.


Dari sudut kamar Dimas muncul asap kecil yang mulai membesar dan berubah wujud menjadi kasat mata, ternyata dia adalah Mashut Mathun yang memperhatikan sedari tadi berada di pojok ruangan.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Dimas.


"Tentu saja aku menunggumu bangun, ayo bergegas dan antarkan aku pulang!" pintanya.


" Hei apakah kau tidak bisa melihat tubuhku tidak bisa bergerak, seluruh kulit dan dagingku terkoyak Aku bahkan tidak bisa menggerakkan jariku" jawab Dimas.


" Aku akan memberikanmu obat pemulih tapi kau harus cepat membukakan retakan ruang sebelumnya." cetus Mashut Mathun sambil mengeluarkan botol berisi cairan berwarna ungu dari balik bajunya.


Melihat Dimas diam saja setelah mengeluarkan ramuan obat yang dia sodorkan ia kembali menarik tangannya karena kesal.


"Yasudah kalo tidak mau" cetusnya.


"Bukannya aku tidak mau, aku sudah bilang sebelumnya bahwa aku tidak bisa bergerak"


"Dasar sialan!" gerutunya kesal.


Mashut Mathun membuka botol ramuannya dan memasukan bibir botol itu ke mulut Dimas secara paksa.


"Uhuk uhuk ... Dasar iblis kau!" pekik Dimas kesal dengan apa yang di lakukan Mashut Mathun kepadanya.


Tapi setelah meminum ramuannya, tubuh Dimas mulai merasakan panas dan sakit yang teramat sangat. Mashut Mathun memasang arai kedap suara di kamar Dimas.


Dimas mulai meringis kesakitan dan berteriak sangat keras menandakan betapa sakitnya dia saat ini, tubuhnya menggeliat panas dan seketika bangun dari posisi berbaring sebelumnya, kulitnya terlihat mengeluarkan sedikit asap seperti panas terkena dingin.


Setelah Dimas berhasil menahan rasa sakit itu diapun mulai berhenti meringis kesakitan, tapi nafasnya masih terengah-engah setelah menahan rasa sakit sebelumnya Setelah dirinya tenang dan menghirup nafas panjang ia mulai membuka mulutnya.


"Minuman apa ini? apa kau ingin membunuhku dengan ini!" dengus Dimas kesal.

__ADS_1


"Apa yang kau keluh kan? bukannya tubuhmu sudah tidak sakit lagi?" jawabnya.


Sebelum Dimas menjawab pertanyaannya, tinju dari Mashut Mathun menyerang ke arah wajahnya, Dimas refleks menahan serangan dengan tangannya mengepal tinju dari Mashut Mathun.


Dimas cukup terkejut Iblis itu menyerangnya cukup pelan. tapi di luar itu dia tidak menyadari bahwa Mashut Mathun sudah menyerangnya lebih dari 30% kekuatannya yang mana itu bisa membuat Dimas terpental cukup jauh.


"Kenapa kau menyerangku tiba tiba?" tanya Dimas.


"Apakau tidak sadar sekarang kau jauh lebih kuat?" jelasnya.


"Benar juga, cairan apa yang kau berikan padaku?" tanya Dimas


"Itu adalah darahku! Darah murni ras iblis dapat menyembuhkan luka manusia yang sekarat, dan juga bisa membuat manusia menjadi sekuat tubuh iblis" jelasnya.


"Kau membuat aku meminum hal menjijikan seperti itu?" gumam Dimas kesal.


"Apa yang kau gumamkan? Harusnya kau bersyukur bisa mendapatkannya dariku secara gratis, ingat bahwa tidak mudah untuk mendapatkan darah kami. kau sebaiknya segera memurnikan semua darahku. kau baru memprosesnya 10% dari semuanya" pungkasnya.


Mashut Mathun kembali berubah menjadi asap tipis dan meninggalkan ruangan Dimas. dan Dimas segera memurnikan darah oblos yang tadi di minumnya.


Setelah menghabiskan waktu lebih dari semalaman, Dimas akhirnya selsai memurnikan semua darah iblis itu.


"Open System!" gumam Dimas.


Nama: Dimas putra sanjaya


Umur: 25th


Level: 75


Hp: 1320


Mp: 1270


Daya serang: 389


Pertahanan: 375


Skil: Ruang dan waktu


Julukan: penjelajah ruang dan waktu.


Dimas terkejut melihat pencapaiannya yang semakin kuat.


"Aku tidak menyangka bisa sepesat ini perkembanganku, ini luar biasa! apakah ini karena aku meminum darah iblis"


Setelah selesai memulihkan diri, Dimas pergi bersiap untuk memasang array teleportasi.

__ADS_1


__ADS_2