![Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]](https://asset.asean.biz.id/temporal-dimension--menguak-sejarah-kerajaan-sunda-.webp)
Matahari terbit di ufuk timur, menyinari embun di pucuk daun. kicauan burung pipit, mengiringi petani yang hendak pamit. lantunan harmoni suling, membangunkan Dimas yang terbaring.
Dimas keluar dari kamarnya, seperti biasa Dimas mendapati Sri sudah menunggu di depan pintu ruangannya. Dengan kebaya hijau yang senada dengan hijaunya dedaunan yang bersih bermandikan embun pagi.
"Apa kau sudah lama, Nyimas?" tanya Dimas.
"Aku baru saja tiba, Kakang. Bagaimana dengan tumbuhmu, Kakang? Apa kau sudah lebih baik?" tanya Sri.
"Aku sangat baik, Nyimas. lihatlah tubuhku yang segar bugar ini." sambil memperlihatkan otot di lengannya dimas melakukan gerakan binaraga.
Sri tertawa melihat tingkah lucu Dimas saat itu. Dimas terbengang melihat Sri yang tertawa lepas di depannya saat ini, ini pertama kalinya Dimas melihat Sri tertawa begitu lepas! membuatnya semakin bahagia di suasana pagi yang cerah ini.
Merekapun mulai berjalan menuju ruang takhta untuk bertemu dengan Prabu Selang Kuning. Tetapi sebelum mereka masuk ke ruangan takhta mereka mendapati Prabu Selang Kuning sedang berada di taman halaman istana sedang berolahraga melakukan peregangan tubuh.
Pantas saja dia terlihat sangat sehat dengan janggutnya yang sudah beruban, ternyata dia sering melakukan olahraga. Dengan rambut putih panjang dan janggutnya yang beruban, tubuhnya terlihat kekar untuk ukuran pria tua berumur 65 tahunan.
Dimas dan Sri pergi menghampiri beliau yang terlihat berkucuran keringat dari wajah dan tubuhnya. Sri mengambil handuk kecil dari pelayan yang berdiri di sana dan memberikannya kepada Prabu Selang Kuning.
"Terimakasih, Nyai." sambil mengambil handuk yang Sri sodorkan.
Prabu selang kuning mengangguk sambil tersenyum ke arahku. merekapun pergi ke saung lesehan yang berada di dekat taman untuk berbincang, sambil berbincang mereka di suguhkan lahang yang baru saja di ambil dari lodong yang di bawa petani dari kebun.
^^^
Refleksi lodong dan lahang.^^^
Sambil menikmati kesegaran lahang di pagi hari, Dimas pun membuka topik hal yang ingin dilakukannya hari ini.
"Sesuai yang saya katakan kemarin, Paduka. Saya akan memasang array teleportasi hari ini. saya membutuhkan beberapa orang untuk membuatnya" papar Dimas.
"Lakukan apa yang sudah kau rencanakan, Dimas! Aku akan menyiapkan orang untuk membantumu" pungkasnya.
__ADS_1
Setelah selesai berdiskusi kami pun pergi ke pusat kerajaan. Ki Selang sudah menyiapkan 16 orang untuk membantuku memasang array teleportasi.
"Kalian akan di bagi menjadi delapan kelompok untuk tugas ini, kalian cukup memasang batu mana yang sudah aku siapkan di setiap sudut kerajaan hingga membentuk
oktagon. kalian mengerti!" seru Dimas.
"Mengerti!" jawab mereka.
"Kalian tanam batu mana ini sedalam siku tangan kalian di setiap titik yang sudahbaku tandai, sekarang kalian pergi!" perintah Dimas.
Merekapun pergi ke titik setiap sudut kerajaan yang telah di tandai Dimas di dalam peta. sekarang Dimas mulai melakukan tugasnya di pusat kota sebagai inti dari array.
Dimas menyusun delapan batu mana berdiameter delapan meter hingga membentuk oktagon. Sedangkan di tengahnya ia meletakan batu berdiameter 80cm ke samping dan tinggi 30cm.
Dimas akhirnya selesai melakukan tugasnya. Dimas pergi menghampiri Prabu Selang Kuning dan Sri yang sedari tadi memperhatikan pekerjaannya.
"Saya sudah selesai membuat artefak teleportasi, Paduka. ini adalah keris cakra nagasakti yang sebelumnya, anda hanya perlu menancapkan keris ini di batu yang sudah saya susun itu." sambil menyodorkan keris cakra nagasakti kepada Prabu Selang Kuning.
Sepertinya Ki Selang Kuning mengerti apa yang harus dia lakukan. dan setelah selesai melakukan tugasnya. Dimas pergi ke belakang keraton untuk memenuhi janjinya.
"Pergilah! aku sudah menunaikan tugasku," ucap Dimas.
"Ikutlah denganku ke Dunia iblis! aku akan memberikanmu latihan yang bagus sebagai kompensasi atas kejadian kemarin, aku tau kau senggang dan tugasmu sudah selesai disini" tawarnya.
Dimas berpikir sejenak.
"Baiklah! lagipula tugasku di sini sudah selesai dan masalah negara sebelumnya biarkan Prabu Selang Kuning yang mengurusnya" jawab Dimas.
Merekapun pergi meninggalkan bumi menuju Dunia iblis. Mereka tiba di dunia lain dan Mashut Mathun membawa Dimas ke dalam gua di kedalaman hutan. dan ternyata gua itu adalah penghubung dua dunia itu.
Dimas merasakan aura ruang dan waktu, perasaan yang sama seperti sebelumnya. tapi ini sudah di atur oleh seseorang yang lebih ahli. sehingga pintu ini bisa di gunakan permanen oleh siapapun. mereka cukup memasukan mana ke alat yang sudah tersedia di gagang pintu ini.
"Luar biasa! jika saja aku dapat mempelajari teknik orang yang menciptakan pintu ini mungkin akan sangat berguna untuku di masadepan" gumam Dimas di dalam hatinya
Setelah mereka melawati pintu itu mereka akhirnya tiba di dataran Dunia iblis. tanah kering tandus berwarna merah menyambut mereka di sana.
__ADS_1
"Dimana ini?" tanya Dimas.
"Entahlah, sepertinya kita berada di barat daya dari kerajaan raja iblis" jawabnya.
"Apa yang kau maksud entahlah?" tanya Dimas bingung.
"Karena setiap menggunakan pintu teleportasi itu kita akan di lemparkan ke tempat acak dan selalu berubah ubah. entah itu dari sana ke sini ataupun sebaliknya" jelasnya.
"Lalu mengapa kau bisa menemukan aku cesepat itu?" tanya Dimas.
"Itu karena kau membawa batu mana milik bawahanku! tentu saja aku bisa melacak dan merasakan keberadaanmu" jelasnya.
Dimas akhirnya mengerti dan merekapun pergi ke arah kerajaan berada.
Bebatuan dan langit yang merah menjadi background dari dataran dunia iblis ini, dataran yang tidak rata yang memiliki banyak celah dan lembah di aliri dengan lahar panas sebagai pengganti sungai untuk dataran iblis ini.
"Bagaimana bisa ras kalian hidup di tempat seperti ini, bahkan hembusan anginnya saja sudah sepanas ini?" tanya Dimas.
"Jika kau tidak meminum darahku sebelumnya, tubuhmu bahkan akan langsung meleleh hanya dengan hembusan angin tadi" jelasnya.
"Oh jadi kau sudah merencanakan untuk membawaku kesini sebelumnya!" sungut Dimas.
"Ya begitulah, kau cukup menarik perhatianku jadi aku membawamu kesini untuk jadi mainanku," jawabnya menyebalkan.
"Coba saja kalau kau berani sialan!" jawab Dimas kesal.
Mereka melanjutkan langkah kakinya hingga akhirna menemukan jurang yang sangat dalam, lembah jurang itu menghembuskan aura yang sangat panas dari dalam.
"Hahaha aku duluan ya!" teriak Mashut Mathun sembari mengeluarkan sayapnya dan terbang di udara.
Lalu Dimas menyeringai membuat senyum licik di sudut bibirnya, Dimas menggunakan sihir teleportasi dan berpindah tempat dalam sekejap sejauh mata memandang.
Mashut Mathun hanya bisa melongo melihat Dimas sudah berada jauh di depannya.
"Cih dasar picik!" decak nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.