![Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]](https://asset.asean.biz.id/temporal-dimension--menguak-sejarah-kerajaan-sunda-.webp)
PULOMAJETI
Tiga hari setelah kepergian Dimas. Prabu Siliwangi beserta rombongan telah sampai di perbatasan Kerajaan Pulomajeti. Bendara Wedana menjadi perwakilan dan menghampiri rombongan Prabu Siliwangi.
"Sampurasun, Gusti Prabu. Perkenalkan saya Bendara Wedana, saya di tugaskan oleh Prabu Selang Kuning untuk menyambut kedatangan Gusti Prabu," sambutannya.
"Rampes, Wedana. Maaf atas kedatangan saya beserta rombongan yang tiba-tiba ini. Sudah lama saya tidak bertemu denga Ki Selang Kuning. Saya sangat ingin bertemu dengan beliau" jawabnya.
"Saya sangat menyambut niat ba ...,"
DUAARRRRR
Sebelum Bendara Wedana menyelsaikan pembicaraannya, kepalanya hancur di barengi dengan suara ledakan yang cukup keras, seseorang di dalam rombongan Prabu Siliwangi yang menunggangi kuda menembakan senjata api ke arah Bendara Wedana.
Prabu Siliwangi tahu betul dengan senjata itu, itu adalah senjata jenis Istinggar yang digunakan bangsa Portugis untuk menaklukan Kesultanan Malaka sepuluh tahun lalu di tahun 1511M.
Melihat penembak itu langsung melarikan diri menunggangi kuda Prabu Siliwangi tidak tinggal diam. "Kejar dia! Jangan biarkan dia lolos!" titah nya kepada para prajurit.
Di sisi lain, salah satu prajurit kerajaan Pulomajeti mundur dengan kecepatan penuh dan langsung menuju keraton untuk melaporkan kejadian ini kepada Prabu Selang Kuning.
Keadaan menjadi chaos kala itu. Prabu Siliwangi tidak berniat maju lebih jauh karena kejadian itu, di khawatirkan keadaan akan semakin genting jika lebih dari ini.
Setelah penembak itu tertangkap, tidak ada seorangpun yang mengenali orang itu, saat membuka penutup wajahnya. Dan siapa yang menyangka bahwa orang itu tidak memiliki lidah, lebih tepatnya lidahnya sudah di potong sebelum dia menjalankan misinya.
Tak berapa lama kemudian mulutnya mengeluarkan busa yang cukup banyak, sepertinya dia meminum racun saat melarikan diri tadi karena tahu tidak akan bisa menghindari kejaran.
Prabu Siliwangi hanya bisa menyesalkan dengan apa yang telah terjadi, kejadian ini pasti memicu amarah dari pihat Pulomajeti.
Di situasi lain saat Prabu Selang Kuning bersiap menyambut rombongan Prabu Siliwangi, seseorang yang menggunakan kuda menyampaikan berita buruk, dia melaporkan bahwa Bendara Wedana telah di bunuh oleh rombongan Prabu Siliwangi.
Kepanikan tidak dapat di bendung, mereka tahu jika perang pecah maka Pulomajeti akan musnah.
Prabu Selang Kuning mengumpulkan rakyatnya menuju pusat kota dimana array teleportasi yang di bangun Dimas berada, dan kepanikanpun tidak dapat di hindarkan.
Dengan ekspresi wajah rakyatnya yang sangat cemas. Begitupun para prajurit yang gagah berani berjaga dan menenangkan masyarakat. Terlihat Prabu Selang Kuning dan Sri Manawangi berjalan mendekati batu yang berada di tengah alun-alun kota.
__ADS_1
Majeti Keling Sri Manawangi menghentikan langkahnya. Sedangkan Prabu Selang Kuning terus berjalan mendekati batu array teleportasi. Sesampainya disana terlihat Prabu Selang Kuning mengeluarkan Keris Cakra Nagasakti.
Prabu Selang Kuning mengangkat kedua tangannya memegangi Keris Cakra Nagasakti yang mengeluarkan cahaya keemasan.
KRAKKK
Keris Cakra Nagasakti menembus batu, angin berhembus kencang, langit mendadak gelap gulita, serta kilatan petir menyambar di sekeliling kerajaan.
Prabu Siliwangi yang merasakan getaran kekuatan yang mahadahsyat yang berasal dari kerajaan Pulomajeti mengerutkan keningnya.
Wajahnya bertanya-tanya, apa yang terjadi di sana. Melihat langit yang mendadak di kelilingi awan gelap di sertai sambaran petir. Angin yang berhembus kencang membuat situasi semakin kacau.
BUMMM
Ledakan gelombang kekuatan yang tidak dapat di lihat oleh mata telanjang meledak dari arah kerajaan Pulomajeti, hentakan kekuatan itu membuat orang-orang di sekitar Prabu Siliwangi pingsan tak sadarkan diri.
Prabu Siliwangi merasakan kekuatan yang familiar, ini sama seperti sebelumnya saat dia melewati retakan ruang waktu saat dia tersesat ke dunia yang berbeda. Tetapi kekuatan kali ini puluhan kali lebih kuat.
Tak berapa lama kemudian, setelah ledakan kekuatan itu langit kembali cerah dan awan hitam menghilang dari pandangan. Orang-orang yang pingsan berangsur sadar dan hanya Prabu Siliwangi yang sadar dengan kejadian itu.
"Aku tidak tahu, aku juga baru sadarkan diri," jawabnya berbohong.
Setelah semuanya sadar, Prabu Siliwangi memberikan titah kepada beberapa orang untuk mengecek keadaan di dalam kerajaan Pulomajeti.
Tapi setelah mereka kembali, mereka melaporkan hal yang di luar nalar. Mereka melaporkan bahwa di dalam sana tidak ada apapun, hanya ada hutan belukar yang seakan tidak pernah terjamah sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa di dalam sana pernah ada peradaban sebuah kerajaan.
Tapi salah satu dari mereka melaporkan hal lain, dia melihat ada area luas tanpa satupun tumbuhan yang hidup di sana, dan menemukan puluhan pohon yang sudah hangus dan hancur terbakar. Itu seperti di hancurkan oleh sesuatu yang di luar nalar, tak satupun yang bisa mereka cerna kala itu.
Mendengar laporan tersebut Prabu Siliwangi mendatangi area yang hancur karena penasaran, dan benar saja dia melihat area luas yang mencekung dengan lapisan tanah dan bebatuan yang hancur.
"Mungkin area ini akan menjadi rawa jika di abaikan puluhan tahun," pikirnya.
Saat Prabu Siliwangi menyentuh beberapa akar pohon yang hangus. Dia kembali di kejutkan karena merasakan aura yang sangat dia kenal. "Tidak salah lagi, ini adalah aura iblis tingkat tinggi. Bagaimana dan siapa yang menjadi lawan iblis ini," gumamnya.
Setelah selesai penyelidikan, semua pasukan dan rombongan kembali dan Prabu Siliwangi memutuskan untuk menutup semua akses area Pulomajeti.
__ADS_1
****************
AREA TERLARANG
Di situasi lain, Dimas yang sudah berada di kedalaman kerak bumi di dalam gunung berapi karena ajakan Mashut Mathun.
"Hei, bukankan kau tadi mengajakku ke pemandian air panas? kenapa kita malah datang ke sini?" tanya Dimas penasaran.
"Apa yang kau bicarakan? Kita sudah sampai di pemandian air panasnya," tegasnya.
"Haa? Apa kau menyebut ini air panas? buka matamu lebar lebar bedebahh! ini magma panas!" pekik Dimas.
"Apa kau tidak merasakan kekuatan yang memanggilmu dari sana?" Mashut Mathun bertanya sambil menjulurkan tangannya menujuk ke arah genangan magma panas.
"Entahlah, tapi aku bisa merasakan kekuatan yang luar biasa dari arah sana," jawabnya.
"Buka pakaianmu jika tak ingin pulang telanjang!" tuturnya.
"Apa kau mencoba membunuhku lagi? Meskipun kolam magma itu mengeluarkan aura yang kuat, tapi jika aku masuk kesana aku ...,"
Sebelum Dimas menyelesaikan pembicaraannya, Mashut Mathun menendang Dimas yang membelakanginya dan masuk ke dalam magma panas.
Teriakan serta erangan Dimas hanya di balas tawa dengan wajah puas oleh Mashut Mathun. Melihat tubuh Dimas yang secara cepat terbakar magma panas dan melelehkan kulit dan dagingnya membuat Mashut Mathun tertawa puas.
...****************...
...****************...
...****************...
Ciamis - Di Kampung Siluman, Kota Banjar, terdapat sebuah tempat yang dinamakan Pulo Majeti yang merupakan salah satu cagar budaya. Pulo Majeti kerap didatangi orang untuk berziarah.
Selain memiliki kesan angker, tempat ini pun memiliki cerita legenda yang cukup terkenal. Pulo Majeti ini berada di Lingkungan Siluman Baru, Kelurahan Purwaharja, Kota Banjar. Dikelilingi area persawahan Rawa Onom.
__ADS_1