![Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]](https://asset.asean.biz.id/temporal-dimension--menguak-sejarah-kerajaan-sunda-.webp)
...Di depan gerbang Lawang Saketeng...
Dimas, Argani dan Adiwilaga telah sampai di Keraton Sri Bima. Mereka sampai dan bergegas turun dari atas kuda. Dimas melihat-lihat ke sekeliling keratong yang terbuat dari kayu jati pilihan, serta taman dan kolam ikan yang berada di depan Keraton.
"Mari kita masuk, Dimas," ajak Argani.
"Ah, tidak! Aku akan menunggu di depan taman saja untuk melihat-lihat. Silahkan kalian berdua selesaikan laporan kalian." Tolak Dimas sambil mengikat kudanya di bawah pohon.
"Baiklah, kami pergi dulu, kamu bisa melihat-lihat sekeliling dulu." Ucap Argani yang berlalu pergi bersama Adiwilaga.
"Hey, kenapa kau mengikatku? Aku tidak akan kabur kok," ucap si kuda.
"Maaf aku tidak percaya omongan kuda." Jawab Dimas menyeringai dan pergi meninggalkan kudanya yang di ikat.
"Hey, Sialan. lepaskan aku, aku ingin pipis!" ucap si kuda kesal.
Dimas tak menghiraukan celotehan kudanya dan melanjutkan langkahnya.
Dimas berjalan menyusuri taman bunga di sisi kolam yang cukup luas, dia berjalan mengarah ke sebuah saung jati di sisi kolam.
Dimas menghentikan langkahnya tatkala melihat seorang gadis tengah duduk di saung itu dengan tatapan sendu, terhanyut dalam lamunan sehingga tak sadar ada orang yang memperhatikannya dari kejauhan.
Gadis yang memiliki paras yang sangat cantik, bola mata yang coklat, hidung mancung dan bibir kecilnya yang terlihat lembut membuat semua jejaka yang menatapnya pasti akan langsung jatuh cinta.
Dimas memperhatikan wajah si gadis yang perlahan menjatuhkan butiran bening dari sudut kelopak matanya. Entah apa yang ada dalam lamunannya, sehingga membuat dia terhanyut dalam kesedihan yang begitu dalam.
"Sangat di sayangkan paras yang begitu cantik memasang ekspresi wajah yang begitu sedih," gumam Dimas.
Hari sudah hampir gelap, gadis itu beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Gadis itu terlihat tidak fokus menempatkan kakinya di antara anak tangga sehingga kehilangan keseimbangan dan melewati satu anak tangga yang membuat dia terjatuh.
Dimas yang melihat kejadian itu tanggap. Pria itu langsung berteleportasi, bermaksud menangkap tubuh si gadis yang melayang jatuh dari tangga. Beruntung Dimas tiba tepat waktu, hingga tubuh gadis itu berakhir dalam pelukan Dimas.
Kedua pasang mata itu saling bersua pandang, dengan wajah yang begitu dekat. Membuat siapapun yang melihat kejadian tersebut menjadi iri. Hanyut dalam pandangan, keduanya terlena dalam buaian. Sampai saat keduanya sadar dengan keadaan itu, keduanya saling melepaskan.
"Apa kau tidak apa, Nyimas?" tanya Dimas.
"Terimakasih, Kakang. berkatmu aku baik." Jawabnya sambil menunduk malu.
"Lain kali berhati-hatilah, Nyimas. Jangat terlalu terhanyut dalam lamunan, itu bisa membahayakan keselamatanmu," tegas Dimas.
"Iya, Kakang, lain kali aku akan lebih berhati-hati," jawabnya lirih.
"Ah, iya. Perkenalkan nama saya Dimas." Sapa Dimas sambil menyodorkan lengannya.
"Hari sudah mulai gelap, saya pergi dulu, Kakang." Jawabnya sambil membalikan badan dan belalu pergi.
"Hei, siapa namamu?" Tanya Dimas sambil sedikit berteriak.
__ADS_1
"Panggil saja Citra!" Jawab gadis itu berlari dengan wajah sedikit menoleh ke arah Dimas.
"Citra, ya?" Gumam Dimas yang tak memalingkan wajahnya dari punggung gadis yang berlari menjauh darinya.
Entah apa yang ada dalam pikiran Dimas, dia terus tersenyum melihat Citra yang berlalu meninggalkannya.
Citra yang telah hilang dari pandangan Dimas, telah sampai di kamarnya. Dia menutup pintu dan bersandar di baliknya. Entah apa yang dia pikirkan, wajah yang tadinya seperti melihat tsunami, kini seperti melihat kebun bunga indah di musim semi.
Kedua tangan diletakannya di dada yang berdebar begitu kencang, entah itu karena dia telah berlari, atau hal lain. Matanya menatap lurus. Dia tersenyum sipu sehingga lesung pipi di kedua sudut bibirnya terbentuk dengan indahnya.
"Kakang Dimas." Lirihnya seraya menunduk dan menutupi wajahnya yang memerah, dia melangkahkan kaki mendekati hamparan permadani, dan menjatuhkan dirinya sendiri berguling-guling tak menentu.
Sedangkan Dimas yang tinggal sendiri terduduk merenung menatapi kolam yang berada di hadapannya, Sesekali ia terlihat melebarkan senyum di kedua sudut bibirnya. Kira-kira apa yang sedang mereka berdua pikirkan?
Sedangkan di situasi lain, Argani dan Adiwilaga yang sedang melaporkan hasil misi yang di berikan Prabu Sri Baduga Linggabuana.
"Apa! Melebur jadi debu?" Teriak Prabu Linggabuana dengan ekspresi wajah yang seakan tak percaya dengan laporan kedua punggawanya.
"Benar, Gusti," jawab Adiwilaga singkat.
"Bawa dia ke tempat istirahat dan berikan layanan yang baik, besok siang aku akan mengadakan jamuan makan bersamanya," titahnya.
"Baik, Gusti, kami undur diri." Jawab kedua punggawanya yang berlalu meninggalkan singgasana sang Raja.
Argani dan Adiwilaga menghampiri Dimas yang sedang duduk termenung sambik sesekali tersenyum menatapi kolam. Kedua punggawa itupun terheran-heran melihat tingkah Dimas yang tak biasa.
"Mas! Dimas, Dimaass!!," panggil Argani.
"Ah, iya maaf aku ngelamun," jawab Dimas.
"Apa yang kau lamunkan," tanya Argani.
"Ga ada, cuma menikmati suasana aja, apa kau sudah selesai?" sahut Dimas.
"Sudah, ayo aku antar ke tempatmu istirahat, " ajak Argani.
Dimas tak menjawab dan langsung mengikuti Argani dari belakang, dia di bawa ke tempat istirahat yang lumayan megah. bangunan klasik dari kayu jati di hiasi ukiran yang sangat rapi nan indah.
"Jika kau membutuhkan sesuatu kau minta saja ke para pelayan di sini, aku akan menugaskan satu pelayan yang akan selalu ada di dekatmu agar jika kau butuh sesuatu kau bisa meminta lanhsung kepadanya," jelas Argani.
"Baik, terimakasih," jawab Dimas singkat.
Argani dan Adiwilaga pergi meninggalkan Dimas di tempatnya beristirahat. Dimas pun lekas masuk ke dalam bale saung galah. Bale saung galah adalah nama bangunan yang dimas tinggali saat ini, bale ini di gunakan untuk menjamu para tamu istana kerajaan sehingga di tempatkan pula beberapa penjaga di sekita untuk memastikan keamanan para tamu.
Dimas masuk menaiki anak tangga karena bangunan ini terbuat dari kayu jati, sehingga desain bangunan ini berbentuk rumah panggung.
Saat Dimas membuka pintu, dia terkejut karena tiga wanita cantik telah menunggunya di di dalam bale, meskipun Argani tadi sudah bilang akan menyiapkan pelayan, dia hanya bilang satu, bukan tiga.
__ADS_1
"Maaf, sepertinya saya salah masuk ruangan," ucap Dimas.
"Tidak, anda tidak salah, Juragan. Ini memang ruangan anda," ucap salasatu wanita itu.
"Kami sudah menyiapkan makan malam anda, Juragan. Silahkan makan dulu sebelum anda beristirahat," lanjutnya.
Dimas tak banyak bicara dan mengikuti alur seperti yang sudah di arahkan oleh ketiga pelayan tersebut, dan setelah selesai menyantap makanannya, Dimas masuk ke kamarnya.
"Aku akan beristirahat, kalian juga pergilah beristirahat! Aku tidak memerlukan apapun lagi," tuturnya.
Mereka mengangguk sambil membereskan dan membawa sisa santapan makan malam Dimas.
Ceklak
Dimas menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju tempat tidurnya.
"Sudah lama aku tidak melihat papan statusku," gumamnya
System open status!
Nama: Dimas putra sanjaya
Umur: 25th
Level: 120
Hp: 21 900
Mp: 22.802
Daya serang: 4300
Pertahanan: 6700
Skil: Ruang dan waktu. Pembuat Artefak. Pengganda tubuh.
Julukan: Penjelajah ruang dan waktu. God slayer.
Ras: Manusia iblis
"Astaga! Apa-apaan ini? Kenapa statusku meningkat sepesat ini? Terakhir kali aku masih di level 100, kenapa bisa menambah 20 level padahal aku tidak melakukan pertarungan, ya meski aku pernah melawan Ki Maung si cakar iblis, tapi aku cuma memakai 1% dari kekuatanku," gerutu Dimas.
"System, apa kau bisa menjelaskan semua ini,"
Kemungkinan ini ada kaitannya dengan clone anda yang di bawa pergi waktu itu, anda bisa menghubungkan kesadaran anda dengan clone yang di bawa pergi untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Bagaimana caranya?"
__ADS_1
System akan menjelaskan semuanya di bab berikutnya.
...BERSAMBUNG ...