Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]

Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]
Ki Maung si cakar iblis


__ADS_3

"Berhenti!" teriak Argani dan Adiwilaga.


Sontak semua orang yang ada di sekitar manatap ke arah mereka berdua. Tidak terkecuali, Ki Maung si cakar iblis. Matanya menatap tajam Argani dan Adiwilaga.


"Saha sia! Lamun sia rek ngadu jajaten jeung aing sok!" Teriak Ki Maung si cakar iblis yang bertanya kepada Argani dan Adiwilaga, jika ingin beradu kekuatan maka silahkan.


Argani dan Adiwilaga langsung melompat ke perkarangan yang luas, menandakan bahwa mereka siap melawan Ki Maung si cakar iblis.


Ki Maung si cakar iblis menyusul mereka lompat ke pekarangan.


"Kakang, biar aku saja yang menghadapinya! Kakang mundur saja terlebih dahulu,'' ucap Argani kepada Adiwilaga.


"Maju saja kalian berdua sekaligus, tidak akan seru jika aku hanya menghajar satu persatu!" tantang Ki Maung si cakar iblis.


Argani dan Adiwilaga yang merasa di sepelekan tidak membuang waktu lama. Mereka berdua langsung menerjang Ki Maung si cakar iblis bersamaan.


"Jangan sombong kau, Tua Bangka!" Teriak Argani sambil melompat menerjang lawan.


Argani menyerangnya dengan golok, sedangkan Adiwilaga menyerangnya dengan tombak. Akan tetapi serangan mereka di patahkan dengan tangan kosong milik Ki Maung si cakar iblis.


Ki Maung si cakar iblis menggunakan ilmu tenaga dalam untuk menangkis serangan ke dua punggawa itu, jelas saja mereka berdua kewalahan. mereka bukan lawan Ki Maung si cakar iblis.


Ke dua punggawa itupun mengerti dengan keadaannya, mereka kembali menyerang Ki Maung si cakar iblis menggunakan tenaga dalam, akan tetapi tenaga lapisan Ki Maung si cakar iblis jauh lebih unggul di bandingkan mereka berdua.


Dan ketika serangan mereka di bendung dengan kekuatan lapisan milik Ki Maung si cakar iblis, mereka berdua kehilangan keseimbangan. yang akhirnya Ki Maung si cakar iblis berhasil memasukan serangannya ke bagian perut milik Argani dan ulu hati milik Adiwilaga.


Des des duar gedebuk.


"Uaarrgggghhh," teriak mereka berdua yang terpental dan terbaring di atas tanah.


Ki Maung si cakar iblis kembali menyerang mereka berdua dengan serangan susulan dengan niat mengakhiri pertarungan dengan membunuh keduanya.


Akan tetapi serangan Ki Maung si cakar iblis berhasil di patahkan oleh Dimas yang tiba-tiba saja ada di hadapan Ki Maung si cakar iblis. Terkejut dengan kehadiran Dimas yang tiba-tiba membuat Ki Maung si cakar iblis mundur lima langkah ke belakang.

__ADS_1


"Siapa kau! Jangan ikut campur!" teriak Ki Maung si cakar iblis.


"Kau jangan berlebihan, Ki. Mereka berdua sudah tidak bisa melawan," ucap Dimas.


"Hahaha! Akhir bagi orang yang menentangku itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah kematian!" pekiknya


"Kau juga akan mati jika terlalu arogan! ingatlah bahwa di atas langit masih ada langit," ucap Dimas.


"Dan aku belum pernah melihat orng yang lebih kuat dariku, hahaha," jawabnya.


"Itu karena kau hanyalah katak di dalam sumur," ucap Dimas.


Perkataan Dimas tentu saja membuat amarah Ki Maung si cakar iblis menjadi-jadi.


"Hey, Anak Muda! Aku ingatkan kau untuk menjaga ucapanmu, atau mati di tanganku! hiaaattttt!" Tegas Ki Maung si cakar iblis yang langsung menerjang Dimas tanpa aba-aba.


Dimas tidak bergerak sedikitpun dari pijakannya dan menahan serangan Ki Maung si cakar iblis yang menggerakan tangannya seperti ingin mencakar. Dimas menahan serangan Ki Maung si cakar iblis dengan satu tangannya.


Ki Maung si cakar iblis terkejut karena untuk pertama kalinya ada manusia yang menahan serangannya dengan tangan kosong.


duaaasshhh


''Arrgghhhhh!" Teriak Ki Maung si cakar iblis menggema di area sekitar dan serangan Dimas membuatnya terpelanting beberapa meter.


"Sial! aku seperti di hantam bongkahan batu besar," lirih Ki Maung si cakar iblis.


Terlihat darah segar mengalir dari sudut bibir Ki Maung si cakar iblis. Nafasnya terlihat berat, tangannya menempel di dada, tapi semangat tarungnya masih menggebu-gebu.


Ki Maung si cakar iblis kembali berdiri dan mengatur nafasnya yang berat kini mulai lebih tenang.


"Siapa kau sebenarnya, Pemuda? Kau mungkin kuat, tapi pengalaman dalam bertarung aku lebih berpengalaman!" tuturnya.


"Kau sudah tua, pengalamanmu memang lebih banyak, tapi caramu memperlakukan orang lain tidak lebih baik dari anak kecil," jawab Dimas.

__ADS_1


Perkataan Dimas tentu saja membuat amarah Ki Maung si cakar iblis semakin menggila, sorot matanya memerah dengan tatapan tajam penuh nafsu ingin membunuh.


Ki Maung si cakar iblis mengeluarkan pecut sebagai senjata andalannya, pecut yang apabila sudah di lihat oleh lawannya, lawannya akan tercabik-cabik seakan telah di serang oleh cakaran iblis.


Ki Maung si cakar iblis memasang kuda-kuda dan menyerang Dimas menggunakan pecutnya, serangannya menggunakan tenaga lapisan sepenuhnya. Dia yakin bahkan batu sekalipun akan hancur jika di serang oleh pecutnya itu. Apalagi dia melihat Dimas tidak beranjak sedikitpun dari pijakannya.


"Hahaha! Mati kau keparat!" teriak Ki Maung si cakar iblis.


Akan tetapi Ki Maung si cakar iblis lebih dari terkejut saat itu. Bagaimana tidak, serangan Ki Maung si cakar iblis tidak meninggalkan luka sedikitpun setelah menerima serangan yang begitu telak di bagian dada Dimas.


Ki Maung si cakar iblis semakin menggertakan giginya, Dia melepaskan semua tenaga lapisannya dan menyerang Dimas dengan membabi buta. Tapi Dimas masih bergeming dalam pijakannya.


Pada saat-saat terakhir, Dimas menangkap pecut Ki Maung si cakar iblis. Dimas mengalirkan Ki iblis dalam pecutnya dan dalam seketika terlihat kilatan cahaya merah yang mengalir pada pecut Ki Maung si cakar iblis.


Cahaya merah itu menghampiri tangan dari Ki Maung si cakar iblis dan ...,


Duar ...


Tubuh Ki Maung si cakar iblis hancur meledak, tidak ada secuil tulangpun yang tersisa, semua tubuhnya menjadi debu dan tertiup angin. Semua orang yang menyaksikan hanya bergeming diam tanpa kata.


Entah apa yang sudah terjadi, tetapi semua orang senang bahwa benalu yang mengekang semua orang di kampung itu akhirnya musnah tak tersisa.


Dimas di sambut banyak pujian dari orang yang menyaksikan. Argani dan Adiwilaga yang sudah menunggu di tempat duduknya hanya bisa terkesima melihat pertarungan elit di depan matanya.


Dimas lalu menghampiri ke dua nya dan lekas duduk di bangku yang tadi dia gunakan. Argani dan Adiwilaga hanya menatap kosong Dimas tanpa sepatah kata pun.


"Aku lapar, bisa pesankan aku makanan?" tanya Dimas.


"Ah, iya aku akan segera kembali," jawab Argani dan lekas pergi memesan makanan.


Beberapa saat kemudian, makanan telah siap di hidangkan, terlihat di sana ada nasi liwet, balado bebek, sambal terasi, lalapan, ikan bakar, semur jengkol dan ayam bakar.


Mereka bertiga pun akhirnya segera menyantap makan siang yang sudah di depan mata.

__ADS_1


Argani dan Adiwilaga mungkin bersikap seperti biasa saja, akan tetapi dalam benak mereka pasti berpikir bahwa Dimas, bukan orang yang sanggup mereka musuhi, bahkan negaranya.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2