![Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]](https://asset.asean.biz.id/temporal-dimension--menguak-sejarah-kerajaan-sunda-.webp)
"Entah apa yang Author pikirkan, biarkan saja. Mungkin ada hikmah yang bisa aku ambil dari tersesatnya aku di Pakuan ini." Gumam Dimas.
"Kenapa malah melamun? Ayo masuk, hari sudah gelap dan di luar itu banyak nyamuk." Cetus Ki Jampang mengajak Dimas masuk ke dalam saung.
Dimas pun menganggukan kepalanya dan memasuki saung milik Ki Jampang.
Dimas duduk di tikar yang di anyam dari daun pandan, sedangkan Ki Jampang menyalakan penerangan dari buah jarak.
Binar cahaya api dari minyak buah jarak menerangi isi saung Ki Jampang, Kala itu Nini Acih, istri dari Ki Jampang menyuguhkan makanan untuk Dimas dan suaminya Ki Jampang.
"Aki ieu bantuan Nini ngakutan kadaharan!" Ucapnya meminta bantuan kepada Ki Jampang untuk membawa makanan ke ruang tengah.
Seraya Ki Jampang membantu Nini Acih menyajikan makanan, Dimas hanya terdiam menunggu di tempat duduknya.
Telihat dari pantulan cahaya yang tak begitu terang, Ki Jampang menyajikan nasi putih beserta lauk pauknya. Ada pais ikan mas yang di bungkus daun pisang, sayur kacang merah serta sambal hijau yang nampak sangat menggugah selera.
Dimas beserta Ki Jampang dan juga Nini Acih segera menyantap makanannya, Dimas terlihat begitu lahap menikmati hidangan yang di suguhkan tuan rumah.
Setelah selesai menikmati makan malam, Ki Jampang dan Dimas menuju pelataran, sambil menikmati secangkir kopi hitam buatan Nini acih.
Saat bintang-gemintang semakin marak di angkasa. Langit demikian jernihnya, sehingga bintang-gemintang pun terlihat bersinar cemerlang.
"Mengapa penerangannya tidak menggunakan minyak bumi?" Dimas bertanya sekedar memecah kesunyian.
"Minyak bumi? Oh, maksudnya cai kalahat bumi?" Tanya Ki Jampang.
Ki Jampang kembali bercerita bahwa sejak dahulu kala, di Negeri Sunda pantang menggunakan cai kalahat bumi untuk menunjang kehidupan. Mungkin cai kalahat bumi berguna bagi kehidupan. Namun Raja mengatakan, ucapan leluhur harus di pegang teguh.
Para leluhur mengatakan bahwa cai kalahat bumi bila di gunakan untuk keperluan sehari-hari akan megundang bahaya ketimbang manfaatnya.
Suatu saat alam akan rusak, namun apabila bahan bakar di ambil dari hewan dan tumbuhan, asalkan kita hormat kepada alam, alam pun akan hormat kepada kita.
Orang tua ini pun kembali melanjutkan omongannya bahwa, betapa alam di tatar Sunda ini tetap lestari dan abadi. Tidak ada musibah banjir tatkala musim hujan, dan tak ada kekeringan tatkala musim kemarau.
__ADS_1
Lantaran ada lingkaran tiga pengabdian dalam kehidupan ini.
"Manusia mengabdi kepada alam, merawatnya dengan segenap jiwa raganya. Yang merusak alam akan di hukum seberat-beratnya. Tetapi yang merawat alam akan di hormati. Karena dia di hormati, alam akan mengabdi kepada binatang. Binatang akan tumbuh subur, dan pada gilirannya, binatang akan mengabdi kepada manusia." Tuturnya panjang lebar.
Dimas memperhatikan dengan seksama. Tatkala Ki Jampang bercerita sembari menggulung tembakau dengan papir yang terbuat dari daun aren yang sudah di keringkan.
"Bisakah Aki menceritakan kelanjutan dari kisah kerajaan Sunda?"
Lalu Ki Jampang kembali bercerita bahwa setiap kali raja Sunda berpindah tempat, di ibukota baru juga didirikan istana yang gaya dan tata letaknya menyerupai keraton di pakuan.
Ketika Prabu Linggawisesa menjadi raja Sunda pada tahun 1333M, pusat pemerintahan pindah ke Kawali. Di ibukota Kawali juga di bangun istana atau keraton yang gayanya mirip di Pakuan. Ketika Prabu lingga buana menjadi raja 1350M. Di bangunlah keraton Surawisesa yang bangunannya terbuat dari kayu jati pilihan.
"Dan apa kau tahu mengapa keraton kerajaan sunda selalu membuat ukiran dan gaya yang sama?" Tanya Ki Jampang.
Dimas hanya menggelengkan kepalanya sembari fokus kendengarkan cerita Ki Jampang.
Lalu Ki Jampang kembali melanjutkan penjelasannya, bahwa keraton Sunda itu memiliki lima bangunan megah yang berjajar. Yang mana Sri Bima menjadi induk dari keraton dan juga tempat bersemayamnya sang Raja.
Dimas menyimak dengan seksama tentang apa-apa yang di ceritakan oleh Ki Jampang,
Malam semakin larut, Ki Jampang undur diri setelah menghabiskan secangkir kopinya untuk istirahat lebih awal. Sedangkan Dimas memutuskan untuk tinggal lebih lama untuk menikmati indahnya malam.
Malam yang sepi di iringi suara jangkrik malah menambah perasaan sunyi. Dimas menuruni tangga dan menghampiri kolam yang ada di pinggir saung Ki Jampang.
Dimas memandangi ikan yang berlalu lalang di hiasi cahaya bulan, sesekali sang ikan membelotkan badannya hingga membuat riak air di atas kolam.
Dimas hanya merenungkan kemana dia akan pergi, dan apa yang dia tuju. Apakah ia akan ke Pakuan? Atau harus pergi ke Kawali. Tak ada sedikitpun petunjuk dari Author.
Ping
"Memicu misi dadakan! Selamatkan putri Dyah Pitaloka dan Prabu Linggabuana beserta rombongannya yang berangkat ke Majapahit dalam waktu lima bulan! Jika berhasil maka akan di hadiahi Artefak pintu 3000 dunia,"
"Wah! Akhirnya aku punya tujuan! Terimakasih System, kau lebih baik dari pada Author ku," celoteh Dimas pada Authornya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan misi baru, Dimas akhirnya masuk ke dalam saung untuk beristirahat.
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
......................
Pagi menyingsing, cahaya fajar menyelusup ke sela-sela dinding bilik saung Ki Jampang. Matanya tersorot kilau cahaya dari sela-sela bilik yang membuat alis di wajahnya mengerut hingga terpaksa membuka matanya dan menutupi cahaya dengan tangannya.
Dimas menyaksikan Ki Jampang yang sedang duduk di pelataran, sembari menikmati secangkir kopi di temani kukusan singkong yang di suguhkan oleh Nini Acih.
Melihat Dimas yang sudah terbangun, Ki Jampang melebarkan senyumnya yang di lemparkan ke arah Dimas.
Dimas hanya membalas dengan senyum kecil di wajahnya, ia lekas pergi untuk mencuci mukanya yang tampak lusuh.
Saat ia kembali menghampiri Ki Jampang, terlihat secangkir kopi telah di suguhkan oleh Nini Acih.
Dimas segera melahap singkong yang di suguhkan di atas pipiti yang terbuat dari anyaman bambu.
"Ki, saya mau undur diri untuk melanjutkan perjalanan. Mohon maaf saya telah banyak merepotkan Aki dan juga Enin," cetus Dimas.
"Hehehe ..., tak apa, Jang Dimas. Aki akan lebih senang jika Jang Dimas tinggal lebih lama. Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang ingin Aki berikan kepadamu," cetus Ki Jampang.
Dimas mengerutkan keningnya saat melihat Ki Jampang menyodorkan keris yang di balut kain putih.
Dimas sangat familiar dengan bentuk dan ukuran keris itu. Dan benar saja, saat Dimas membuka kain putih yang menutupi keris itu, Dimas kaget bukan kepalang.
"Keris Cakra Nagasakti!...," pekik Dimas kaget.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1