Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]

Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]
Sri Rajasanagara


__ADS_3

Setelah selesai menyantap makanan yang mereka pesan. Dimas beserta Argani dan Adiwilaga-- memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Pakuan. Masing-masing dari mereka berangkat dengan menunggangi kuda yang gagah dan sangat terawat. Karena jarak sudah dekat, mereka tiba hanya dalam waktu satu batang dupa, atau sekitar dua puluh sampai tiga puluh menit saja.


Setelah sampai di Pakuan, mereka mengikat kuda-kuda mereka pada sebuah batang pohon akasia yang sangat rindang. Kedua punggawa itu langsung menuju alun-alun untuk memberikan pengumuman kepada masyarat sekitar.


...****************...


...Majapahit...


Satu bulan yang lalu. Jauh dari tempat Dimas berada, ada sebuah Kerajaan yang sangat terkenal di pulau Jawa bagian timur, yang bernama kerajaan Majapahit, dan dipimpin oleh seorang Maharaja yang bernama Prabu Hayam Wuruk.


Hayam Wuruk adalah maharaja keempat Majapahit yang memerintah dari tahun 1350. Ia bergelar Maharaja Sri Rājasanagara. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya.


Semasa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mampu mempersatukan Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan beberapa wilayah Filipina.


"Sembah saya, Gusti Prabu," ucap Sungging Prabangkara.


Sungging Prabangkara adalah seorang juru lukis dari Majapahit. Karyanya sudah terkenal dimata para petinggi kerajaan, saudagar, juga masyarakat kelas atas. Hasil guratan tangannya tidak perlu dipertanyakan lagi, karena bisa dibilang sangat mirip dengan visual dari objek yang ia lukis.


Malam itu, Sungging Prabangkala diutus untuk melukis kecantikan wajah putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari kerajaan Galuh.


"Bagaimana tugas yang aku berikan? Apakah kau berhasil memenuhi harapanku?" tanya Prabu Hayam Wuruk.


"Ampun, Gusti. Saya telah berusaha semaksimal mungkin. Ini adalah lukisan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi yang telah saya buat," ujarnya sambil menyodorkan sebuah gulungan hasil lukisannya.


Prabu Hayam Wuruk tertegun dengan kecantikan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi yang di gambarkan oleh juru lukis Sungging Prabangkara.


Gadis yang ada dalam lukisan itu, terlihat sangat ayu menawan. Matanya yang seoalah sedang menatap tajam siapa pun yang sedang memperhatikan gambar dirinya, alisnya terukir rapih, hidung nya yang mancung, dan bibir tipis yang menyunggingkan senyum dan mampu membuat jantung berdebar, ditambah rahang yang tegas membingkai dengan sempurna kecantikan Putri Dyah Pitaloka Citraresmi.


Rambut yang terurai panjang dan bergelombang, dilengkapi dengan sebuah mahkota yang terbuat dari tempaan emas, serta bertabur dengan batuan alam. Pada sisi kanan kepala sang putri, menjuntai dengan sangat indah rangkaian ronce bunga melati


“Berita yang selama ini beredar benar adanya


Paduka. Putri Dyah Pitaloka memang pantas untuk


dijadikan istri Paduka,” lapor utusan tersebut.


Setelah membuktikan langsung kabar yang selama


ini di dengar, akhirnya Raja Hayam Wuruk mengutus seorang menteri yang cukup bijaksana untuk meminang


Putri Dyah Pitaloka. Menteri yang diutus tersebut


bernama Madhu.


“Paman Madhu, saya menginginkan Putri Dyah


Pitaloka menjadi istriku. Oleh karena itu saya mengutus


Paman untuk melamarnya,” sabda Raja Hayam Wuruk.


“Hamba siap melaksanakan perintah Paduka,” sahut


Menteri Madhu.


“Terima kasih paman, ini surat lamaranku tolong


sampaikan kepada Sri Baduga Maharaja di Sunda,”


sabda sang raja.


Berbekal surat lamaran dari Raja Hayam Wuruk,


berangkatlah Menteri Madhu ke Kerajaan Sunda. Sang


Menteri menempuh jalur laut. Perjalanan tersebut

__ADS_1


memakan waktu selama enam hari.


Enam hari berlalu, maka sampailah menteri utusan


Kerajaan Majapahit di Pelabuhan Sunda. Sesampainya


di gerbang istana, sang menteri di hadang oleh prajurit


Kerajaan Sunda.


“Dari mana Anda berasal Tuan?” tanya prajurit


penjaga.


“Saya Menteri Madhu utusan dari Kerajaan


Majapahit bermaksud menemui Sri Baduga Maharaja


untuk menyampaikan pesan penting dari Raja Hayam


Wuruk,” jelas Menteri Madhu.


“Baiklah, saya laporkan dahulu kedatangan Anda


kepada paduka raja,” kata prajurit penjaga.


Sang Menteri pun menunggu untuk beberapa saat,


hingga akhirnya dipersilakan masuk ke dalam istana.


Sri Baduga Maharaja yang melihat kehadiran


Menteri Madhu segera menyambut dengan ramah.


“Selamat datang di kerajaan kami, Menteri Madhu,”


“Ada apakah gerangan hingga Raja Majapahit


mengutus Anda kemari?” lanjut sang raja


“Hamba diutus Raja Hayam Wuruk untuk menyam-


paikan surat lamaran kepada Dyah Pitaloka, Putri Paduka,” jawab Menteri Madhu seraya memberikan


surat lamaran Raja Hayam Wuruk kepada Sri Baduga


Maharaja.


Sri Baduga Maharaja menyambut surat dari Raja


Hayam Wuruk dan segera membacanya. Raut cerah


tampak menghiasi wajah sang raja.


“Satu kehormatan bagi kami menerima lamaran


dari raja besar seperti Hayam Wuruk,” kata Sri Baduga


Maharaja.


“Sambil menunggu balasan dari saya, silakan Anda


istirahat dahulu,” lanjut sang raja.


Sri Baduga Maharaja kemudian memanggil Dyah

__ADS_1


Pitaloka, putrinya untuk menyampaikan kabar tersebut.


“Putriku, Raja Hayam Wuruk dari Majapahit


menginginkan engkau menjadi istrinya. Bagaimana


pendapatmu putriku?” sang raja meminta persetujuan


putrinya.


“Hamba menyerahkan persoalan ini kepada


Ayahanda,” jawab Putri Dyah Pitaloka sambil menunduk.


Sri Baduga Maharaja mengerti maksud putrinya.


Hal ini berarti putrinya bersedia menjadi istri Raja


Hayam Wuruk.


Adapun Menteri Madhu setelah mendapat balasan


dari Sri Baduga Maharaja segera kembali ke Majapahit


untuk menyampaikan kabar gembira tersebut kepada


Raja Hayam Wuruk.


Raja Hayam Wuruk gembira lamarannya diterima.


Segera sang raja mempersiapkan penyambutan


kedatangan raja Sunda berserta rombongannya. Acara


penyambutan dipersiapkan secara meriah.


...----------------...


...****************...


......................


...Pakuan...


*Saat ini.


Setelah memberikan pengumuman kepada Publik, ke dua punggawa itu lansung menuju me arah Dimas.


"Urusan kita di sini sudah selesai, kami akan langsung kembali ke Kawali, bagaimana denganmu,Dimas?" Tanya Argani.


"Entahlah, aku tidak punya tujuan," Jawab Dimas


"Bagaimana jika kau ikut saja bersama kami. Dengan kemampuan bertarungmu yang hebat, tidak mustahil bagimu bekerja di lingkungan keraton," ajak Argani.


Dimas langsung saja setuju dengan ajakan Argani, karena sejak awal memang itulah niatnya.


Mereka pun kembali memecut kuda dan berangkat menuju Kawali, mula-mula mereka menuju ke arah utara melewati Cileungsi, kemudian menuju wilayah Tanjungpura(Karawang kini), dari Tanjungpura lurus ke timur menuju Sagaraherang (subang kini), terus belok ke selatan menuju Tanjungsiang, semakin ke selatan mereka memasuki wilayang Sumedang larang, ke selatan lagi ke Sindangkasih, talaga, terus ke selatan. Dan berakhir sampai di kerajaan Sunda yaitu di Kawali.


Senja hari tatkala ratusan kalong beterbangan keluar dari hutan larangan, mereka sang penunggang kuda berlari kencang menuju lawang gintung (gerbang utama) Keraton Surawisesa.


Lawang gintung itu terbuka lebar tanpa memiliki pintu, pertanda bahwa siapapun boleh masuk ke wilayah Keraton. akan tetapi belasan punggawa tetap di siagakan sebagai pengamanan.


Dimas dan 2 punggawa yang bersamanya menurunkan kecepatannya, Argani dan Adiwilaga menyapa para penjaga dengan kuda yang tetap berjalan, sedangkan Dimas hanya tersenyum ramah tatkala ada yang menatap dirinya.


Mereka bertiga terus masuk ke dalam dan melewati empat gerbang, lawang gintung, lawang kori, lawang kaca-kaca dan yang terakhir lawang saketeng.

__ADS_1


Dan sampailah mereka di bangunan keraton utama yang paling megah, keraton Sri Bima. Keraton utama tempat bersemayamnya sang Raja.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2