![Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]](https://asset.asean.biz.id/temporal-dimension--menguak-sejarah-kerajaan-sunda-.webp)
*Ditengah perjalanan menuju kerajaan Galuh.
"Lusi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke kerajaan Galuh?" tanyaku.
"Dari sini kurang lebih menghabiskan waktu 6 hari berjalan kaki. Kalau tidak ada kendala di jalan mungkin bisa lebih cepat" jawabnya.
Dari sini butuh 6 hari untuk sampai ke kerajaan galuh, sekarang Dimas sudah berada di level 30 berkat double expert dari system kemarin.
"Kang Dimas, boleh saya bertanya.?" tanya Lusi.
"Tentu saja boleh, apa yang ingin kau ketahui Lusi?"
"Aku penasaran, bagaimana kamu bisa tiba tiba berada di belakang monster Wolf itu kemarin? apa kamu bisa menghentikan waktu atau semacamnya?"
Dimas terkejut insting Lusi begitu tajam, "wanita memang menakutkan" pikir Dimas.
"Tebakanmu tidak salah Lusi, tapi juga kurang tepat jika kau bilang aku menghentikan waktu. aku tidak bisa menghentikan waktu di seluruh dunia, meskipun aku bisa menghentikan waktu di area sekitarku tapi ada batasnya, dan kalian kemarin berada di luar jangkauanku. Jadi aku hanya bergerak sangat cepat sehingga waktu tak berpengaruh padaku. ketika aku bergerak sangat cepat, maka waktu berjalan lebih lambat."
Lusi masih tidak mengerti dengan apa yang Dimas katakan, karena tubuh manusia mempunyai batas, "tapi bagaimana kau bisa bergerak begitu cepat hingga kami tak menyadarinya?
"Apa kau bisa melihat cahaya matahari mengenai tubuhmu?"
"Tentu saja tidak" jawabnya.
"Cahaya juga tidak secara instan mengenai tubuh kita, cahaya juga membutuhkan waktu untuk mengenai suatu benda. Cahaya mempunyai kecepatan 300.000 KM/detik dan itu selalu dalam kecepatan yang sama. Dan ketika kita bergerak dalam kecepatan yang sama dengan kecepatan cahaya maka kita akan terurai menjadi atom atom, maka hukum waktu tidak berlaku lagi."
"Itu memang masuk akal, tapi yang aku tanyakan itu bagaimana kau bisa bergerak begitu cepat?"
"Ahahaha maaf aku belum menjelaskannya. Meskipun aku bilang bergerak, tapi aku tidak benar benar bergerak, aku hanya menggunakan mana dan memasuki alam Quantum tanpa harus memicunya dengan kecepatan, ketika aku berubah menjadi partikel atom, aku bergerak melalui gelombang listrik dan berhenti di tempat tujuan. Aku menamai kemampuan ini dengan nama teleportasi."
"Entah kenapa aku tidak bisa mencerna apa yang kamu bicarakan Kang" begitu sahut Lusi dengan wajah yang tersenyum.
"Ahahaha benar juga"
__ADS_1
"Apa maksudmu benar? apa kau sudah menduga kemampuan berpikirku?"
Mereka tertawa dan bercanda saat dalam perjalanan, Sri Manawangi hanya diam dengan wajah yang sedikit kesal melihat ke akraban mereka berdua. sedangkan kedua pengawal berjalan menuntun kuda karna kereta yang mereka kendarai telah rusak akibat serangan monster kemarin.
...****************...
Dimas
Karena hari sudah mau gelap, kami memutuskan untuk berkemah di area yang cukup luas di pinggir sungai, sebenarnya jika ini di bumi hal ini tidak di anjurkan, karena di malam hari agresivitas binatang lebih tinggi dari pada siang hari, berkemah di pinggir sungai cukup beresiko karena binatang akan cenderung mendekati sumber air untuk minum dan memangsa binatang lainnya di dekat air.
Tapi berhubung di dunia ini ada partikel sihir dan sumber mana, jadi ini akan aman karena lusi sudah mempunyai artefak pelindung sihir, pelindung ini bisa mengusir binatang buas dan monster yang mencoba mendekat.
kami mendirikan tenda dan perapian, suana ini sangat nostalgia, mengingatkanku saat liburan musim panas saat sekolah, tapi ini terasa sangat tenang, tanpa suara gaduh dari gitar dan nyanyian anak anak yang sedang berpesta.
Lusi sudah lelap dalam tidurnya, kedua penjaganya bergantian untuk istirahat, yang satu tidur terlebih dahulu dan yang satu berjaga, sedangkan aku dan Sri masih terjaga dalam diam, sesekali kami saling bertemu tatap, silih berganti dengan api yang menari.
Di bawah terangnya bintang-bintang tanpa bulan membuat sungai memantulkan binar sang bintang, ku pandang wanita di sampingku tanpa perduli lagi dengan tarian sang api. Sesekali dia terlihat memeluk erat kaki yang dia lipat. "Nyimas apa kau kedinginan?" tanyaku.
Entah kenapa jawabannya terasa lebih dingin dari pada udara malam ini, "Nyimas apa aku membuat kesalahan?"
Dia hanya diam tanpa kata sambil sesekali memalingkan wajahnya, sikapnya membuatku semakin bingung. "Jawablah Nyimas, jika kau tidak berucap, maka bagaimana aku bisa mengerti dimana salahku."
"Ka ... Kakang apa kau menyukai nona Lusi.?" suaranya sangat berat seakan sedang membendung sendu di pelupuk matanya.
"Apa yang kau bicarakan Nyimas? tentu saja aku menyukainya," sebelum aku menyelsaikan ucapanku Sri seketika berdiri dan membalikan badannya memunggungiku.
Sekarang aku mengerti kenapa dengan sikapnya, dia hanya terbakar api cemburu kala melihat aku dekat bersama Lusi.
Aku ikut berdiri dan menghampiri wanita yang sedang terbakar api cemburu itu, aku memasukan tanganku di antara tangan dan pinggulnya yang ramping. Ku raih tanganku yang lain dan menempelkan dadaku di punggungnya. Kepalaku berdiri sejajar dengan kepalanya. Lalu kubisikan kata.
" Aku memang menyukai Lusi, tapi itu hanya sebatas teman, aku sudah jatuh cinta denganmu Nyimas, Nyimas, aku mencintaimu, sudikah kau menikah dengaku?"
Tercengang dengan kata yang ku ucapkan, seketika Sri mengangguk dan air mata yang telah ia bendung sedari tadi keluar dengan derasnya, di bendung karna cemburu, tumpah karna bahagia. Ku dekap dia yang sedang menangis tersedu-sedu seketika dia lupa bahwa rasa sakit karna cemburu itu tak pernah ada.
__ADS_1
Ketika sudah tènang dia melepaskan pelukanku, membalikan badanya dan meraih tanganku dan bertanya, "apakah akakang bersungguh sungguh.?"
"Aku tak akan singgah jika tak sungguh." sembari ku hentikan waktu dan ku raih pipi kanannya yang lembut. wajahnya terlihat lebih tenang sekarang, ku pandang wajahnya , semakin mendekat dan semakin dekat matanya mulai menutup.
Hingga akhirnya bibir kami saling nengecup, sesekali aku menggit bibir manisnya yang tipis, membuat dia sedikit mengeluarkan dessahan, pelukannya mulai mengancang dan nafasnya tak beraturan, meskipun ini pertama baginya, dia tampak sangat menikmatinya.
Gadis 17 tahun itu merasakan kebahagiaan dunia untuk yang pertama kalinya semalaman, bersama orang yang dia cintai, membuat wajah nya berseri seri di pagi hari.
"Hey apa Sri baik baik saja? kenapa dia selalu tersenyum seperti itu dari tadi, padahal kemarin ekspresinya cukup datar" tanya Lusi yang penasaran.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman, dan sepertinya dia mengerti tanpa harus ku jelaskan.
6 hari sudah kami berjalan hingga akhirnya kami sampai di kerajaan Galu, Lusi sebagai perwakilan negaranya di sambut hangat oleh para petinggi di sana.
Pemandangan di ibukota kerajaan ini cukup mengagumkan. Dengan tembok yang mengelilingi kota sebagai tameng pertahanan, juga ada sebuah parit yang dalam di sisi tembok nya.
Ini lebih seperti abad pertengahan di timur tengah, bisa di bilang dunia ini lebih maju daripada bumi saat ini, saat aku memasuki kota, kota ini terlihat sangat ramai. Orang-orang berlalu lalang di keramayan kota, bahkan ada banyak demihuman di sini.
Aku bersama Sri masuk tanpa kendala karena aku berpura pura sebagai pengawal Lusi, sedangkan Sri menjadi pelayannya.
"Lusi, apa di kota ini memang selalu seramai ini?" tanya Sri kepada lusi, ya sejak malam itu Sri terlihat lebih akrab dengan Lusi.
"Ya mereka adalah petualang, karena kota ini yang paling dekat dengan dungeon" penjelasan sri cukup simpel dan mudah di mengerti.
"Dungeon? apa itu?" tanya Sri penasaran.
"Kami juga tidak tahu bagaimana cara dungeon bekerja, tempat itu memiliki banyak monster di dalamnya, tapi monster-monster itu tidak pernah keluar, lantai dan susunan ruangan di dalam duneon sering berubah ubah.
Jika kau membunuh monster di sana, mereka akan menjatuhkan batu mana/spirit stone, batu itulah incaran para petualang. Batu yang berharga karena batu itu menyimpan mana dan bisa di gunakan untuk membuat berbagai alat sihir."
"Monster yang mati tubuh nya akan menghilang dan hanya meninggalkan spirit stone, tapi manusia yang mati tidak akan meninggalkan apa-apa, dia seperti di serap oleh dungeon itu sendiri."
...BERSAMBUNG...
__ADS_1