Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]

Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]
Menguak sejarah


__ADS_3

Rukmani Siwa Lakshmi dan Parwati Kali Durga membawa Dimas pergi menuju markas mereka. Tapi mereka tidak tahu bahwa orang yang mereka bawa hanyalah clone dari tubuh Dimas yang ia gandakan sebelumnya.


...----------------...


Tadi malam saat bermeditasi.


Ting.


"Selamat karena telah mencapai level 100, anda mendapatkan kemampuan baru pengganda tubuh. Anda dapat menggandakan tubuh dengan berbagi kemampuan dan kesadaran." Notifikasi system.


"Wah hebat, aku bisa menggandakan tubuh dan berbagi kesadaran!" Ucap Dimas senang.


...----------------...


Saat ini.


"Untung saja aku sebelumnya sudah berjaga-jaga dan sempat menggandakan tubuhku. Kalo tidak, mungkin aku sudah terkena hal yang sangat merepotkan." Lirih Dimas.


Dimas lalu pergi meninggalkan tempat itu tanpa ada lagi masalah yang menimpanya. Dimas menuju ke array teleportasi yang di tunjukkan Mashut Mathun untuk menyebrang ke dunia manusia.


Dan benar saja, Dimas mendarat di tempat acak dan untung saja dekat dengan tempat dimana ia menyebrangi dunia lain dan bumi.


Dimas tak banyak membuang waktu dan langsung saja ia membuka retakan ruang dan memasukinya.


"Aneh, kenapa rasanya distorsi ruang dan waktu saat ini semakin kacau?" Gumam dimas. Tapi ia tidak terlalu memikirkan hal itu. Lalu beberapa saat kemudian Dimas keluar dari retakan ruang waktu.


Dimas pun keluar dari retakan ruang dan mendapati dirinya berada di lereng gunung yang tak asing, dia sangat ingat waktu mendaki gunung salak di umurnya yang ke 20 tahun saat itu bersama teman temannya.


"Tidak salah lagi, ini adalah lereng gunung salak. Aku sangat mengingat geografis dan topografi wilayah ini." Gumam Dimas.


"Pantas saja Beliau moksa di sini, ternyata ada retakan ruang waktu yang menghubungkan bumi dan dunia lain. Tapi kenapa aku bisa keluar dari sini, apakah ini karena keanehan yang aku rasakan sebelumnya di dalam ruang hampa?" Celetuk Dimas yang keheranan.


Dimas memutuskan untuk pergi mencari pemukiman terdekat, dia masih ingat dengan geografis dataran gunung salak yang dia kunjungi waktu umur 20an.


Tak lama kemudian, Dimas berpapasan dengan penduduk yang kebetulan sedang mengambil rumput untuk ternaknya.


"Sampurasun, Kisanak. Apakah benar ini jalan menuju kota Bogor?" Tanya Dimas.


"Rampes, Bogor?" Saut orang itu kebingungan.


Dimas lupa bahwa nama Bogor menurut bahasa Sunda, berarti tunggul kawung atau tunggul pohon aren yang hangus. Mari kita pungkas sejarah nama kota bogor.


Nama Bogor menurut bahasa Sunda, berarti tunggal pohon aren atau kawung yang hangus.


Penamaan ini dilatarbelakangi peristiwa yang dialami rombongan kumpeni Belanda pada tahun 1689 ketika berada di pusat kekuasaan Pajajaran. 

__ADS_1


Asal Mula


Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Camphuys tahun 1684-1691, perhatiannya sangat besar terhadap pedalaman Priangan.


Ia menugaskan pasukan tentara di bawah pimpinan seorang opsir pribumi, yaitu Taunjiwa untuk mendirikan pangkalan kekuasaan kumpeni di pedalaman.


Tahun 1689, saat sampai di pusat kekuasaan Pajajaran, rombongan kumpeni berhenti di sana dan membabat hutan dengan maksud untuk membuat babakan.


Usai dibabat, hutan tersebut kemudian dibakar. Setelah api padam, di antara tunggul-tunggul yang hangus, muncul pohon aren.


Berawal dari situ, disebutlah tempat itu sebagai Bogor.


Bogor dalam bahasa Sunda berarti pohon aren yang sudah tua atau pohon aren yang hangus karena tersambar petir atau terbakar api.


"Maaf, Kisanak. tahun berapa sekarang?" Tanya Dimas.


"1278 saka, Tuan." Jawabnya.


1278 saka itu artinya Dimas berada sekitar tahun 1357 masehi. Rupanya Dimas terlempar 163 tahun ke masalalu lagi setelah sebelumnya ia terlempar ke 1520 masehi.


"Ah sial, lagi-lagi aku terlempar ke tahun antah berantah." Gumam Dimas.


"Kisanak, apa Kisanak baik baik saja?" Tanya orang itu kebingungan melihat tingkah Dimas yang aneh.


"Ah, aku baik-baik saja. Oh iya, Kisanak. Apakah anda tau jalan menuju kota terdekat?"


"Terimakasih, Kisanak." Kata Dimas yang lekas pergi meninggalkan orang itu.


Dan benar saja, Dimas mendapati perkampungan kecil dan langsung bertanya kepada salasatu warga yang ada di sana. Setelah cukup mendapatkan beberapa informasi mengenai jalan, Dimaspun melanjutkan perjalanannya menuju kota Pakuan.


Di perjalanan Dimas mendapati sebuah saung kecil dan bertemu dengan pria tua yang sedang mengasah peralatan bertaninya.


"Sampurasun, Ki. Bolehkah saya ikut beristirahat sejenak di sini." Tanya Dimas.


"Rampes, eh Jang! Ya silahkan duduk dulu." Jawab si kakek sambil bergegas merapikan peralatannya dan menyambut hangat Pemuda Dimas.


"Silahkan duduk dulu, Aki akan mengambil air sebentar." Cetusnya sembari berlalu meninggalkan Dimas ke dalam saung.


Tak perlu lama untuk Dimas menunggu empunya saung untuk mengambil seceret air minum dari dalam saungnya.


"Terimakasih, Ki. Padahal tidak usah repot-repot menyuguhkan air, Ki. Saya tidak akan lama." Jawab Dimas.


"Tidak repot kok, Jang. Oh iya kalo boleh tau siapa nama Ujang ini, kalo nama saya, panggil saja Ki Jampang." Tanya Ki Jampang sambil memperkenalkan dirinya.


"Nama saya Dimas, Ki. Ngomong-ngomong apa Aki tinggal sendiri di sini?" Tanya Dimas.

__ADS_1


"Aki tinggal dengan Nini, kebetulan Nini sedang masak di dapur. Ngomong-ngomong hari sudah mau gelap, kenapa Jang Dimas tidak menginap saja di sini dulu." ajak Ki Jampang.


"Kalo tidak merepotkan saya mau Ki." Sahut Dimas yang memang membutuhkan tumpangan agar ia tidak tidur di hutan.


"Sebetulnya Jang Dimas ini dari mana mau ke mana?" Tanya Ki Jampang.


"Saya cuma pengembara, Ki. Kebetulan saya hendak pergi ke Pakuan." Jawab Dimas.


"Oh, jadi Jang Dimas itu pengembara! Aki jadi teringat masa muda dulu, Aki sering bepergian kesana kemari untuk mencari pengalaman." Sahut Ki Jampang.


"Oh, benarkah! Bisakah Aki ceritakan sedikit pengalaman Aki waktu masih muda?" Celetuk Dimas penasaran.


"Hahaha, pengalaman apa Jang Dimas? Apa pengalaman soal perempuan?" Celoteh Ki Jampang sambil tertawa lepas.


"Hahaha, Aki bisa saja. Saya ingin mendengar sejarah kerajaan di tanah Pasundan ini Ki." Jawab Dimas membuyarkan tawa Ki Jampang.


"Entahlah, Aki tidak terlalu paham akan sejarah di tanah pasundan ini. Tapi bukan berarti Aki tidak tau apapun. Seperti yang kamu tau, sekarang pajajaran di pimpin oleh Raja Prabu Linggabuana." Ucapnya


"Pusat pemerintahan ada di kawali saat ini, dari dulu hingga sekarang pusat pemerintahan kerajaan selalu aja berpindah-pindah." Sambungnya.


Dimas hanya menyimak penjelasan Ki Jampang sambil sesekali mengerutkan alisnya.


Lalu, Ki Jampang menerangkan lagi, Bahwa semua kerajaan-kerajaan kecil di pulau ini dulunya satu kerajaan.


Kawali adalah pusat kerajaan Sunda kala itu, Tatkala kerajaan Sunda di bangun oleh Prabu Tarusbawa. Ibukotanya berpusat di Pakuan.


Di zaman Prabu Tarusbawa, istana megah di bangun di Pakuan dan di beri nama keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati.


Tapi jauh sebelum itu, kerajaan Salakanagara lah yang paling pertama muncul, kemudian berdiri kerajaan Tarumanagara yang menghancurkan kerajaan sebelumnya Salakanagara.


Lalu, Tarumanagara pecah menjadi dua, yaitu Sunda dan Galuh. Pada dasarnya kita semua itu masihlah satu rumpun.


Ki Jampang kembali menyebutkan bahwa pada dasarnya orang Sunda itu pernah menjejakkan pengaruhnya di beberapa kepulauan di nusantara ini.


Hampir semua rumpun yang ada di tanah jawa ini ada hubungannya dengan Sunda. Sang Wretikandayun, pendiri kerajaan Galuh, berputra Mandiminyak, Mandiminyak itu kemudian menjadi Raja di Bumi Mataram, putra Mandiminya diantaranya adalah Senna, kemudian Senna inipun menjadi raja di Bumi mataram.


Senna berputra Sanjaya. Sanjaya ini termasuk kesatria keturunan Sunda yang gagah dalam berperang. Dia menaklukan beberapa wilayah di Jawa Tengah.


Berhasil menaklukan perompak di Sellat Sunda yang di dukung kerajaan Sriwijaya. Dan pada akhirnya Sanjaya pun berhasil menaklukan pasukan Sriwijaya yang kala itu di perintah oleh Raja Sriwijaya ke lima.


"Begitulah yang Aki tau, Jang Dimas." Pungkasnya.


Dimas mendengarkan penjelasan Ki Jampang dengan seksama dan ia pun bertanya-tanya dalam bebaknya.


"Jika pusat pemerintahan sekarang ada di Kawali, lalu kenapa Author mengirimku ke dekat Pakuan? Apakah dia tidak tahu bahwa ibukota kerajaan saat ini ada di Kawali?" pikirnya.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2