Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]

Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]
Culik aku


__ADS_3

"Tapi, Tuan. Pertandingan ini sudah jadi yang terakhir," kata si MC.


"Aku tidak perduli! Mau resmi atau tidak yang aku inginkan itu bertarung dengan dia!" Teriakannya menggema di telinga yang lain.


"Lanjut ... Lanjut ... Lanjut!" Teriak salasatu penonton hingga penonton lain ikut bersorak.


"Lanjut ... Lanjut ... Lanjut!" Teriakan penonton semakin menggema di sekitar arena.


"Baiklah! Ini adalah acara spesial yang di khususkan untuk hari ini, kita akan melanjutkan pertandingan jika kedua belah pihak bersedia untuk bertarung,"


"Baik, dari sisi kiri Benggala Bodas dan di sisi kanan Dimas Sanjaya.


Karena Dimas belum puas dengan pertarungan sebelumnya, ia akhirnya menyetujui untuk pertandingan tambahan.


Kini dua orang saling berhadapan siap untuk saling bertukar pengalaman bertarung mereka.


Gong


Dimas memfokuskan pandangannya kepada musuh, saat ini Dimas sedikit menahan diri dan membiarkan musuh menyerangnya terlebih dahulu.


Benggala Bodas menerjang Dimas menggunakan tinjunya yang besar lalu Dimas memasang kuda-kudanya dan menahan serangan lawan hingga pada akhirnya dua tinju saling beradu dan...


Duar


Serangan Benggala Bodas ditahan oleh tangan Dimas dengan mudah dan menyebabkan hentakan yang luar biasa hingga menyebabkan penonton pun hanya dapat menganga dengan suara benturan keras bak suara batu yang saling beradu.


"Sial! Tangannya keras sekali untuk ukuran tubuh se mungil itu!" Lirih Benggala Bodas.


Benggala Bodas kembali mundur ke belakang dan merenungkan kembali apa yang telah terjadi. Tercengang dengan semua yang telah terjadi, manusia yang setengah iblis itu menahan serangannya dengan mudah


Tatapan Benggala Bodas menjadi waspada dengan lawannya dan tanpa basa-basi Ia menggunakan kecepatannya untuk menyerang Dimas, dia lari kesana kemari mengecoh mata Dimas.Tapi semua pergerakannya Dapat dibaca oleh Dimas.


"Kenapa bola matanya selalu mengikutiku? Sial! Sepertinya aku harus menggunakan itu!" Desisnya dalam hati.


Mata Dimas terus mengikuti pergerakan Benggala Bodas dengan tepat, penasaran dengan Dimas, Benggala Bodas menyerangnya dengan senjata kerambit yang ia gunakan.


Kerambit yang kecil dan tajam membuatnya seperti tak terlihat oleh mata Dimas, kerambit itu mengenai bagian lengan Dimas saat ia menahannya.


sratttt....


Tangan Dimas tergores oleh kerambit yang Benggala Bodas gunakan untuk menyerangnya.


Belum habis rasa terkejut Dimas, Benggala Bodas menendang perut Dimas yang terbuka lebar.

__ADS_1


"Sialan! Aku tidak menyangka orang ini sangat kuat, aku sudah menyerangnya dengan kerambitku namun hanya luka gores yang ia dapatkan." Pekik Benggala bodas dalam hatinya.


Meskipun Dimas hanya terlempar beberapa meter saja, namun Dimas menyadari bahwa dia telah terlalu menyepelekan lawannya, meskipun hanya goresan kecil di tangannya.


Goresan ringan itu cukup untuk membuat Dimas sedikit waspada terhadap musuh yang sedang ia hadapi.


"Sialan, aku lengah!" Gumam Dimas dalam hatinya.


Dimas kembali memasang kuda-kudanya dan Benggala Bodas kembali menyerang Dimas dengan kekuatan penuh menggunakan kerambit senjata andalannya.


Pertarungan semakin sengit dengan banyak gempuran dari kedua belah pihak, serangan dan erangan terdengar jelas di sekitar arena membuat penonton menganga melihat kilatan serta percikan dari gesekan senjata yang silih beradu.


Dimas hanya menahan semua serangan dari Benggala Bodas dan ketika ia sudah tahu bahwa lawan hanya bisa membuatnya mengeluarkan 20% dari kekuatannya, Dimaspun mengakhiri pertarungan dengan serangan telak di perut lawan hingga lawannya terpental keluar arena.


Semua orang yang menyaksikan hening seketika, dan sorak gembira pun datang dari beberapa orang yang mempercayakan taruhannya kepada Dimas, sedangkan kebanyakan orang hanya bisa memegangi wajahnya yang tak percaya dengan hasil pertandingan itu.


"Siapa orang itu?" Ucap salasatu orang yang menggunakan tudung dan jubah yang menutupi wajahnya.


"Entahlah, kita harus segera melaporkan kejadian ini kepada atasan!" Jawab temannya yang menggunakan pakaian yang sama.


Mereka berdua mengamati pertarungan dari posisi yang cukup jauh dari arena, mereka berdua pun lekas pergi meninggalkan posisinya.


Sementara Dimas dan Elfy pergi mengambil hadiah yang mereka menangkan.


Dimas dan Elfy pun kembali ke kediaman Mashut Mathun dengan membawa sekarung keping emas hasil memenangkan pertandingan dan taruhan Elfy.


...----------------...


...Di kediaman Mashut Mathun...


"Elfy, kau kembalilah bergabung dengan yang lain, aku akan beristirahat di kamar!" Titah Dimas.


"Baik,Tuan." Elfy mengangguk dan lekas pergi dari hadapan Dimas.


"Aku tidak menyangka akan berkembang sejauh ini, pelatihan dari Mashut Mathun sungguh luar biasa. Aku akan bersemedi untuk malam ini." Gumamnya.


Keesokan harinya


"Kau akan pulang?" pekik Mashut Mathun terkejut.


"Ya, aku sudah cukup lama meninggalkan pulomajeti. Aku sedikit khawatir jika pergi terlalu lama." Jawab Dimas.


"Baiklah jika kau sudah memutuskannya. Tapi jika kau senggang kau harus rajin menemuiku untuk bertarung." Balasannya.

__ADS_1


Dimas mengangguk dan lekas pergi dari hadapan Mashut Mathun.


Di perjalanan pulang Dimas sadar bahwa ia sedang di buntuti. Dimas sengaja memasuki gang kecil untuk memancing para penguntit.


"Kemana dia pergi?" Tanya si penguntit kepada temannya yang terkejut karena Dimas tiba tiba menghilang di jalan buntu.


"Ada urusan apa kalian mengikutiku?" Tanya Dimas yang sudah berada tepat di belakang kedua orang itu.


Sontak kedua orang itu melompat ke arah berlawanan dengan Dimas memasang kuda-kuda.


"Kenapa kau bisa ada di belakang kami?" Tanya salasatu orang itu.


"Lupakan itu dan jawab pertanyaanku! Kenapa kalian mengikutiku?" Tanya Dimas.


"Kami di suruh oleh atasan untuk membawamu menemui atasam kami, kami tidak bermaksud jahat."


"Hahaha, dengan penampilan kalian yang mencurigakan apa aku akan percaya? Memakai tudung dan menutupi wajahmu dengan masker apa kalian terlihat tidak mencurigakan?"


Kedua orang itu saling tatap dan melepaskan tudung serta penutup wajahnya. Tidak di sangka bahwa kedua orang itu adalah perempuan yang memiliki wajah cantik dan sayap hitam di punggungnya.


"Perkenalan nama saya Parwati Kali Durga. dan ini teman saya namanya Rukmani Siwa Lakshmi." Ucapnya memperkenalkan diri.


"Maaf, tapi aku tak punya waktu untuk ikut dengan kalian," ucap Dimas sambil memalingkan wajah dan tubuhnya yang hendak meninggalkan tempat itu.


"Tunggu!" Ucap Parwati menahan Dimas pergi.


Saat Dimas menoleh ke belakang. ada serangan dadakan mengarah kepada Dimas, tanpa di duga ternyata kedua wanita itu sangat cepat dan kuat, Dimas tak dapat mengelak dari serangan tersebut dan pingsan saat kepalanya di hantam pukulan keras.


"Apa kita harus melakukan ini?" Tanya Rukmani.


"Dia tidak akan mengikuti kita baik baik, lebih baik kita lumpuhkan dan bawa dia segera." jawab Parwati.


Merekapun membawa Dimas pergi menuju markas mereka.


...BERSAMBUNG...


Sejarah dan Asal Usul Kerambit


Karambit merupakan senjata tradisional khas daerah Minangkabau, Sumatera Barat yang berbentuk pisau kecil melengkung.


Jika dilacak sejarahnya, penggunaan senjata Karambit telah dipakai sejak dinasti Dharmasraya abad 12 sampai Kerajaan Melayu Pagaruyung pada abad 14. Senjata ini dikhususkan untuk bela diri dan penyergapan.


Melansir laman unkris.ac.id bahwasanya penyebaran Kerambit hingga mampu mencapai beberapa wilayah semenanjung Melayu dan Jawa ini dibawa oleh para perantau Minangkabau.

__ADS_1


Maka tak heran popularitasnya tersebar melalui jaringan perdagangan Asia Tenggara hingga ke negara-negara seperti Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina dan Thailand.


__ADS_2