Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]

Temporal Dimension [Menguak sejarah kerajaan Sunda]
Dua punggawa


__ADS_3

Keris Cakra Nagasakti benar-benar ada di tangannya. Ki Jampang pun heran mengapa Dimas seakan-akan mengenalinya. Ki Jampang tahu betul bahwa keris itu sudah berada di tangannya sedari puluhan tahun yang lalu selagi dia masih muda.


Tetapi Ki Jampang mengingat kembali pesan yang di ucapkan oleh orang yang memberikan keris itu. Bahwa dia harus memberikan keris itu kepada pemuda yang di takdirkan.


"Mungkin ini adalah takdir," lirih Ki Jampang dalam hatinya.


"Apakah kau mengenali keris ini?" tanya Ki Jampang.


"Ehh ... ti--tidak, Ki. Saya tidak pernah melihatnya. Saya hanya terkejut melihat keris sebagus ini!" Ucap Dimas sambil memalingkan wajah.


Ki Jampang tahu betul ketika seseorang berkata jujur atau bohong. Namun Ki Jampang tidak memperdulikan hal tersebut.


"Bawalah keris ini, Jang Dimas! Suatu saat mungkin ini akan berguna untukmu," tutur Ki Jampang.


Dimas cukup terkejut dengan apa yang Ki Jampang katakàn. Bagaimana tidak, Dimas adalah seseorang yang kemarin sore Ki Jampang kenal.


"Saya tidak bisa menerimanya begitu saja, tolong terima ini sebagai mahar," sahut Dimas sambil menyodorkan sesuatu yang di ikat dengan kain berwarna hitam.


Ki Jampang hanya tersenyum dan menerima bingkisan dari Dimas, dia tahu bahwa Dimas akan menolak keris itu jika Ki Jampang menolak pemberiannya, "Dia adalah pemuda yang baik," pikir Ki Jampang.


Setelah selesai bersiap, Dimas pun pamit undur diri untuk melanjutkan perjalanan. Betapa terkejutnya Ki Jampang dan Nini Acih ketika membuka bingkisan dari Dimas. Bagaimana tidak, seratus koin emas murni terdapat di dalam bingkisan dari Dimas.


"Siapa kau sebenarnya, Dimas?" Gumam Ki Jampang.


...****************...


Dalam perjalanan menuju Pakuan, Dimas menjumpai dua pemuda yang sedang bertarung dengan segerombolan orang. Terlihat dua melawan lima orang bersenjata tengah bertarung sengit, meskipun hanya dua orang, akan tetapi kedua pemuda itu mampu mengimbangi ke lima orang tersebut.


Dimas hanya memperhatikan pertarungan itu dari kejauhan.


Telihat pemuda yang sebaya dengan Dimas memiliki badan tegap berisi, dan satu lagi sekitar umur 30 tahunan dengan kumis tipis. Keduanya memakai ikat kepala yang sama serta pakaian yang sama, seperti seorang punggawa di suatu kerajaan.


Dimas terus memperhatikan pertarungan itu, akan tetapi di karenakan kalah jumlah, kedua pemuda itu terlihat terdesak. Dimas akhirnya memutuskan untuk melerai pertarungan mereka.


"Berhenti!" teriaknya Dimas.


Seketika semua orang mundur 2 langkah, dan semua mata tertuju kepada Dimas.

__ADS_1


"Saha Dia! ulah pipilueun dia kanu urusan kami!" Pekik salasatu dari lima orang itu untuk tidak ikut campur urusan mereka kepada Dimas.


"Semuanya, tahan dulu. semua masalah bisa di bicarakan, mari kita diskusikan dulu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Dimas.


"Hahaha! Ya sudah, serahkan semua harta yang kamu miliki, termasuk dua orang ini juga!" Sahut seseorang kawanan perampok yang memiliki tubuh besar, suaranya lantang hingga menggema di telinga.


"Oh! Jadi kalian perampok?" Tanya Dimas sambil tersenyum.


"Sebaiknya kalian segera angkat kaki dar sini!" Dengan nada yang tidak terlalu tinggi, Dimas mengerluarkan aura membunuhnya yang sangat kuat. membuat lutut kelima orang itu lemas sehingga berguguran pula senjata yang mereka genggam.


Kelima orang itu menjatuhkan lututnya, tak tau apa yang sudah terjadi, rasa takut yang amat sangat telah melanda hati dan jiwa mereka. Perasaan takut yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, kini bersarang di benak mereka.


Kelima perompak itu lalu bersujud karena tak sanggup melihat sedikitpun bagian dari tubuh Dimas.


Kedua orang yang melihat kejadian tersebut hanya bergeming. Bingung dengan kerjadian tak terduga itu, apalagi saat Dimas melangkah maju ke arah mereka. Mereka secera spontan memasang kuda-kuda


"Tak perlu takut, mari kita pergi dari sini," ajak Dimas.


Mereka berdua pun silih tatap dan menganggukan kepanya, menandakan setuju dengan ajakan Dimas. Mereka lekas melangkahkan kaki mendekati dua kuda yang menunggu mereka.


"Tu--tunggu, Tuan. Tolong bawa kuda saya yang di sana," Ucap salasatu orang yang bersujud sambil menunjukan jarinya ke arah kuda yang berwarna hitam legam. Tubuh kuda itu sedikit lebih besar dengan kuda lainnya.


"Halo, Tampan," sapa Dimas kepada kudanya.


"Jangan so kenal, Sialan," celetuk kuda hitam itu kepada Dimas.


"Ehh ... judes banget jadi kuda," sindir Dimas.


"Tu---tunggu, kenapa aku bisa mengerti ucapanmu?" tanya si Kuda bingung.


"Entahlah, mungkin aku punya bakat yang aneh sehingga bisa berbicara dengan kuda," jawab Dimas singkat.


Dimas serta kedua penggawa itupun lekas pergi meninggalkan para prompak itu menuju ke arah Pakuan.


Setelah sedikit lebih jauh, mereka menemukan warung makan di pinggir jalan, terlihat beberapa pendekar sedang menikmati hidangannya, serta berbagai jenis buah-buahan seperti pisang, anggur, jeruk bergelantungan di depan warung makan tersebut.


"Kisanak, mari kita makan siang dulu di warung depan! Sebagai ucapan terimakasih karena Kisanak sudah menyelamatkan kami berdua, saya yang akan traktir," ajak salahsatu Pria yang seumuran dengan Dimas.

__ADS_1


Dimas hanya mengangguk dengan sedikit senyuman di bibirnya.


Setelah mereka mengikat kuda, mereka bertiga akhirnya duduk di bangku bambu dan meja yang sudah di sediakan di warung tersebut.


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena Kisanak sudah menyelamatkan kami berdua. Nama saya Argani Adhinatha," ucap seorang yang seumuran dengan Dimas.


"Nama saya, Adiwilaga Biantara," ucap seorang lagi yang berumur 30 tahunan.


"Nama saya, Dimas. senang bertemu dengan kalian berdua," sahut Dimas memperkenalkan diri.


"Benar juga, kenapa kalian bisa di kejar oleh orang-orang tadi?" tanya Dimas.


"Kami berdua sedang dalam perjalanan menuju Pakuan. Kami di tugaskan untuk membawa berita untuk warga di Pakuan bahwa Putri Dyah Pitaloka akan menikah dengah Raja Hayam Wuruk dari kerjaan Majapahit," jelas Argani.


"Jadi kalian berdua adalah punggawa dari kerajaan Sunda?" tanya Dimas.


"Benar! Tapi, kami di serang oleh perampok dan mengejar kami hingga kami terpaksa melawan lima orang sekaligus. Jika saja Tuan tidak membantu kami, entah apa yang akan terjadi terhadap kami berdua," jelasnya.


Perbincangan mereka tertahan oleh teriakan seseorang yang menggema di sekitar warung makan itu.


"Cepat bayar upetinya sekarang juga!" teriak seseorang kepada pemilik warung.


Seseorang yang sedang makan di meja sebelah bertanya kepada temannya.


"Siapa orang itu? Kenapa dia berteriak begitu kasar meminta upeti?" ucap seseorang kepada temannya.


"Apa kau tidak tahu? Dia adalah Ki Maung si cakar iblis," jawab temannya.


"Ki Maung si cakar iblis?" tanya temannya.


Dia menjelaskan kepada temannya bahwa, Ki Maung si cakar iblis adalah jawara di kampung ini. Dia orang yang sangat arogan, suka berbuat seenaknya. Tapi tidak ada orang yang berani melawannya karena tidak ada yang berakhir baik setelah menentangnya.


Semua lawannya selalu di bunuh tanpa ampun. Bahkan dia pernah membunuh satu keluarga hanya karena anak kecil tidak sengaja menabraknya ketika sedang bermain.


Mendengar hal itu, Argani dan Adiwilaga tak bisa tinggal diam. mereka serentak berdiri dan berteriak.


"Berhenti!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2