TERBIT (Memory NNNED) Kisah Dini

TERBIT (Memory NNNED) Kisah Dini
Sepuluh


__ADS_3

Diky POV


Kami akhirnya sampai disalah satu mall yang ada di Bandung, setelah memarkirkan motor kuajak dini memasuki sebuah tempat yang dinamakan surga permainan bagi anak-anak muda. Awalnya dini menolak tapi karena paksaanku akhirnya dini menurut dan mulai memainkan satu demi satu permainan yang tersuguh didepan kami.


Tidak henti-hentinya bibirnya menyunggingkan senyuman ketika bermain, sungguh senyumannya begitu manis tidak sia-sia ku ajak dia kemari. Sesudah lelah bermain, dini mengajakku ke sebuah toko buku. Dia begitu senang melihat deret buku-buku yang berada di rak. Dia mulai memilah-milah buku yang tersedia didepannya.


"Kamu suka baca buku?" tanyaku padanya penasaran.


"Iya, suka banget" jawabnya dengan senyuman, tetapi fokusnya tetap tertuju pada buku yang sedang di pegang olehnya.


"Buku apa yang kamu suka baca?"


"Aku suka baca semua buku, tapi aku lebih suka baca buku novel. Apalagi novelnya adaptasi dari kisah nyata" jawabnya panjang lebar. Aku hanya menganggukkan kepalaku paham.


'Ternyata dini hobbinya membaca buku apalagi buku novel, hobbinya ini harus aku ingat nih' batinku.


"Aku udah selesai nih nyari bukunya, yuk kekasir!" ajaknya membuyarkan lamunanku.


kami pun melangkah beriringan menuju kasir, dengan dini yang menenteng tiga buku novel.


"selamat siang, tiga buku novel ya kak?" ucap sang kasir ramah dengan menerima tiga buku novel dari Dini.


"Semuanya jadi Rp.245.000,- kak" ucap sang kasir.


"Ini mbak" ucapku dengan menyodorkan tiga lembar uang berwarna merah.


"Eh, gak usah dik. aku ada uangnya kok" cegahnya padaku.


"Gak apa-apa Din, lagian aku kan yang ngajak kamu main. Anggap aja ini traktiran dari aku"


"Tapi dik, ini-" segera kututup mulutnya dengan jari tengahku.


"Udah gak apa-apa, Ok!" kupandang mata coklatnya, lalu tak lama kemudian anggukan pun dia berikan padaku.


"Ini kak kembaliannya" ucap sang kasir dengan memberikan struk belanja beserta paper bag kearahku. Aku pun mengambilnya dan langsung kugandeng tangan Dini keluar dari toko buku tersebut yang entah kenapa tangannya terasa gugup.

__ADS_1


Selesai membeli buku kuajak dini untuk makan disebuah cafe yang masih dikawasan mall.


"Kita makan dulu ya?" tanyaku yang mendapatkan anggukan darinya. Rona merah terlihat dipipi cabi nya sungguh menggemaskan, mungkin dia malu akan perlakuanku padanya. Ah, sepertinya ini pertanda bahwa dia mulai luluh padaku.


Sambil menunggu pesanan kami datang kuajak dini untuk mengobrol.


"kamu senang hari ini?"


"Hem... senang makasih ya" jawabnya dengan senyuman yang begitu manis, senyumnya ini benar-benar mampu menggetarkan hatiku.


Hujat saja aku dengan kata lebay, alay, bucin atau apalah tapi sungguh senyumannya yang langka itu sangat, eh ralat terlalu kalian tau TER-LA-LU manis sampai-sampai aku bisa kena diabetes hanya karena senyumnya.


"Sejujurnya aku... baru kali ini main permainan seperti tadi" tuturnya ragu. Aku kaget sekali dengan pengakuannya, sungguh kami hidup di zaman modern tapi dia belum pernah main ditime zone seperti tadi sungguh ajaib.


"Kenapa mukamu kaget begitu?" tanyanya padaku, yang membuyarkan segala pikiran dalam hatiku.


"eh, eng-eng-enggak. cuman aneh aja kamu belum pernah main di Time zone padahal zamankan sudah modern kaya gini" kugaruk kepalaku yang tak gatal.


"Sejujurnya aku gak ada temen buat main ditempat tadi, kayaknya gak asik aja kalau main sendirian" ucapnya lesu yang membuatku mendapatkan ide cemerlang untuk sering-sering mengajaknya bermain disini.


"Aku sukanya ke toko buku atau perpustakaan kota saja, sekedar untuk merilekskan pikiranku" ucapnya dengan menundukkan kepalanya.


"Tapi... pacar kamu nanti gimana?" ucapnya ragu.


"Pacar? Aku gak punya pacar, aku ini jomblo. Sudaaahhh... 2 bulan, kasiankan aku?" ucapku dengan mimik wajah dibuat semengenaskan mungkin.


Kulihat Dini mulai tersenyum melihat ekspresi ku.


"Kamu 2 bulan jomblo aja udah merasa menyedihkan. Apa kabar aku yang udah 8 bulan gak punya pacar"


"Jadi kamu juga jomblo?" ucapku girang mendengar pernyataannya.


"Bukan jomblo aku hanya gak mau punya pacar aja" jawabnya dengan tersenyum manis, hari ini dia banyak tersenyum sungguh berkah buatku yang dapat melihatnya.


"Sama aja kali, jadi gimana? mau kan nonton sama aku malam Minggu ini?" aku berharap dia mengiyakan ajakanku ini.

__ADS_1


"Ya udah aku mau" jawabnya yang seketika membuat senyumku terbit dan hatiku bersorak riang.


Akhirnya pesanan kami datang, kami pun mulai menyantap makanan kami sambil sesekali bercanda dan saling bercerita. Setelah selesai makan aku mengajak dini ke sebuah tempat yang cukup indah dengan pemandangan alamnya ketika malam hari didaerah Lembang.


"kita kesini dulu ya, pasti kamu suka" kugandeng tangannya agar tidak tertinggal olehku, tidak ada penolakan dari perbuatanku padanya tidak seperti hari-hari biasanya. Kami menaiki satu demi satu anak tangga untuk menuju sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Sesampainya disana kulihat binar matanya yang terpana akan pemandangan yang disuguhkan dibawah bukit.


"suka?" tanyaku padanya yang dijawab anggukan kepala olehnya.


Cukup lama kami menikmati pemandangan alam yang terhampar di bawah bukit, sampai kulihat Dini menggosokkan tangannya merasa kedinginan aku pun berinisiatif melepaskan jaketku lalu menyampirkannya di bahunya.


"Eh, dik ini..." ucapnya kaget dengan perilakuku.


"Pakai aja, kamu pasti kedinginan" ucapku tulus dengan tersenyum kearahnya.


"Tapi kamu nanti kedinginan?" ucapnya dengan raut wajah tidak enak.


"Aku gak apa-apa kok, asal kamu bahagia" ucapku alay.


"Ih apaan sih, gombalnya receh banget" ucapnya dengan tawa kecilnya dan pipi yang merona merah sungguh manis.


Andaikan aku bisa menghentikan waktu, aku ingin sekali hari ini saja waktu berhenti berputar asalkan dia selalu bersikap manis seperti ini.


"Kalaaauuu... boleh tau, tadi pagi kamu kenapa?" tanyaku hati-hati, kulihat Dini kaget akan pertanyaan ku namun segera raut wajahnya berubah sendu.


Hening tidak ada jawaban ataupun niatku untuk mulai pembicaraan. Aku hanya mendengar tarikan dan hembusan berat napasnya seperti sedang menahan kesedihan.


"Ma-" belum selesai aku mengutarakan maaf atas pertanyaan ku tadi, ucapankku terpotong oleh pernyataannya.


"Sejujurnya hari ini aku benar-benar lelah dengan hidupku. Marah, kecewa, sedih bercampur jadi satu didalam hatiku" Pandangannya lurus kedepan seperti sedang mengenang sesuatu yang membuatnya kecewa.


"Kenapa? Apa yang kamu alami hingga, sepertinya bebannya begitu berat" tubuhku kuposisikan menghadapnya.


"Orang tuaku selalu bertengkar, tidak pernah akur. Sedangkan kami anak-anaknya mereka abaikan, mungkin kami tidak kekurangan materi tapi sungguh kami kekurangan kasih sayang bisa dibilang SANGAT mungkin bukan kurang lagi. Hidup keluarga ku terlalu rumit Dik" ucapnya sambil menolehkan kepalanya kepadaku. kulihat matanya berkaca-kaca namun tidak menangis, kugenggam tangannya untuk memberikan kekuatan.


"Datang padaku kalau nanti kamu bersedih, aku akan selalu menghiburmu. Ingat selalu aku bila kamu butuh sandaran untuk bercerita, aku akan selalu ada untukmu. Ingat itu Din" ucapku serius, kutarik tubuhnya untuk kupeluk dan pecahlah tangisnya yang membuatku pilu mendengarnya. Dukanya pasti sangat dalam.

__ADS_1


'Mulai saat ini aku akan jadi orang yang selalu menghibur dan membahagiakannya' tekadku dalam hati.



__ADS_2