
Seluruh anak sekolah angkatan tahun terakhir dikumpulkan ditengah lapang untuk mengikuti bimbingan dari kepala sekolah dan seluruh staf pengajar juga untuk membahas peraturan tata tertib sekolah, sekaligus pemeriksaan kelayakan seragam yang dipakai sebelum memasuki kelas masing-masing. Tidak heran ini semua dilakukan karena sekolah ini sangat mengutamakan kedisiplinan dan juga ketaatan murid-muridnya akan peraturan. Setelah selesai barulah anak-anak dibubarkan lalu memasuki kelas mereka masing-masing itupun setelah mereka melihat daftar kelas yang dihuni ditahun akhir ini yang ditempelkan dimading sekolah.
Dan disinilah mereka lima gadis yang akan bermetamorfosa menjadi sahabat dimasa depan dengan kelas baru mereka, dengan suasana baru mereka, juga dengan teman baru mereka pula karena kelas yang dulunya satu kelas setiap naik tingkat selalu diubah-ubah atau dipecah posisi muridnya. Ada yang kembali satu kelas adapula yang dikelas berbeda. Tujuannya adalah agar semua murid mengenal satu sama lain dan membuat mereka tidak berkelompok ataupun membuat geng tentunya.
Seorang siswi bernama Dini ini contohnya dia sudah terlebih dahulu memasuki kelas dengan perasaannya yang biasa saja tidak perduli akan sekitarnya, bibir yang sangat rapat di kunci kontras dengan anak-anak lain yang mulai berisik dikelas entah untuk membicarakan apa Dia benar-benar tidak perduli karena fokusnya kini hanya diberikan pada buku novel yang ada di tangannya.
Setelah menemukan bangku yang ingin dia duduki tepatnya bangku kedua baris ke satu yang berada disebelah kiri tepat dekat jendela yang menampilkan pemandangan lapangan tempat berolahraga selalu menjadi tempat duduk favoritnya dari sejak pertama kali masuk Sekolah Menengah Atas ini. Segera setelah bokongnya didudukan di kursinya lalu tasnya disimpan diatas meja, Dini langsung saja membuka buku novel yang sudah setengah isinya Dia baca. Tapi tak lama kemudian ada seorang siswi yang menghampiri dan menyapanya.
"Hai, Aku duduk sama kamu ya?" sapa seorang siswi tersebut dengan senyumannya yang ramah, wajahnya yang mirip sekali seperti orang China dengan kulit putihnya yang mulus dan bermata sipit bernama Ninu. Dini hanya melirik sekilas dan hanya mengangguk kecil sebagai persetujuan.
"Namaku Ninu, kalau kamu?" lagi Ninu mengajak Dini berkenalan.
__ADS_1
"Aku Dini" jawab Dini seadaanya yang terdengar seperti cicitan kecil untuk menjawab pertanyaan tanpa membalas uluran tangan Ninu. Ninu hanya bisa mengedikkan bahunya lalu dia mulai duduk disamping Dini dan segera menaruh tasnya ke atas meja. Kini Ninu hanya fokus pada handphone yang baru saja dia keluarkan dari dalam saku roknya.
~
Novi dan Eva memasuki kelas 12B dengan senyum manisnya, dan seketika kelas yang tadinya begitu ruih dengan bisingnya murid-murid berhenti pada saat mata mereka memandang Dia yang masuk kelas. Siapa lagi kalau bukan Eva si Primadona sekolah. Siapa yang tidak terpesona yang masuk kelas mereka kan Eva si cantik yang diincar para siswa untuk mereka jadikan pacar walaupun tidak semua siswa contohnya Diky sahabat Nina Bobo Eva juga Novi dia hanya tersenyum bahagia karena akhirnya mereka kembali satu kelas. Seluruh siswa dikelas berlomba memulai aksi cari perhatiannya kepada Eva tentunya untuk bisa dekat dengan Eva. Ada yang bersiul, ada yang merapihkan rambut dan melambaikan tangannya, ada juga yang tersenyum memamerkan ketampanan mereka masing-masing. Dan tentunya respon yang diberikan oleh Eva hanyalah senyum meremehkan terhadap para siswa tersebut, sementara para siswi mereka memandang tidak suka pada Eva. Malah ada yang terang-terangan mencibirnya, contohnya saja Silvia dia benar-benar tidak suka dengan Eva karena merupakan saingan terberatnya dalam mendapatkan para siswa yang tentunya yang menjadi most wanted sekolah.
"Ya ampun, males banget yah aku satu kelas sama cewek itu. Cewek ganjen kaya Bit** itu harusnya jangan sekelas sama kita yang merupakan primadona sekolah iya gak?" cibir Silvia pada para sahabatnya Delia dan Debi yang mendapatkan dukungan dari kedua sahabatnya itu. Sedangkan Eva seperti biasa tidak pernah peduli pada cibiran atau gunjingan para siswi yang syirik akan dirinya. Eva hanya sibuk mengalihkan pandangannya kesana kemari untuk mencari spot yang nyaman untuk dirinya dan Novi tinggali selama satu tahun ini berada di kelas baru.
"Va duduknya disini aja" teriak Zam-zam dengan telunjuk yang mengarah pada bangku yang berada disebelahnya, Zam-zam merupakan siswa yang lumayan tampan tetapi sayang dia terlalu percaya diri hingga membuat Eva ilfeal akan sosok Zam-zam yang so tampan. Zam-zam sendiri merupakan salah satu laki-laki yang mengincar Eva untuk dijadikan pacar, Dia sangat menyukai Eva dari zaman kelas sebelas dulu hingga membuat Zam-zam menjadi bucinnya Eva. Eva pun mulai menghampiri Zam-zam dan tersenyum manis tentunya agar Zam-zam luluh akan pesonanya.
Zam-zam pun yang diberikan respon seperti itu oleh Eva merasa terbang melayang ke Nirwana dia pun langsung mengiyakan permintaan Eva. Novi disebelah Eva hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah kaum lelaki yang bucin seperti itu. Menurutnya Zam-zam dan para siswa yang bucin ke Eva itu bodoh, Eva ini kan gak suka sama mereka mau aja mereka kemakan pesona yang dibuat Eva.
__ADS_1
~
"Din" sapa Fitri sesaat setelah memasuki kelas barunya, Fitri sangat senang ketika melihat Dini yang berada kembali dikelas yang sama dengannya. Dini yang sedang fokus membaca bukunya langsung mendongak begitu mendengar suara si manja yang sudah dua tahun ini mengekorinya, kalian pasti bisa menebaknya. Ya, tidak salah lagi anak itu adalah Fitri.
"Hemmm..." Dini hanya merespon sapaan Fitri dengan berdehem, sambil memandang lawan bicaranya dengan malas.
"Aku duduk sama kamu ya?" mohon Fitri dengan wajah memelasnya, bukannya dia tidak mau langsung duduk sebangku dengan Dini hanya saja ternyata bangku yang seharusnya Dia duduki bersama Dini menurut pikirannya sudah terisi oleh orang lain.
Dini pun melirik kearah kanannya ,lalu fokusnya kini kepada Fitri.
"Kamu duduk didepan aja aku udah ada teman sebangku" jawab Dini final dan kembali fokus untuk membaca novelnya, Fitri hanya bisa mengerucutkan bibirnya, Dia sudah hapal benar sifat Dini yang cuek sekali dan tidak mau dibantah. Akhirnya Dia hanya bisa pasrah tanpa mau merusak mood Dini pagi ini dengan membantah usulnya.
__ADS_1
Fitri akhirnya duduk didepan Dini ditemani dengan seorang siswi yang menurut Fitri cukup Nerd dalam kamus anak-anak gaul disekolahnya bernama Yuni, dengan rambutnya yang keriting mirip seperti mie instan, lalu kulitnya yang hitam, dan tubuhnya yang gemuk.
Fitri tentunya tidak banyak bicara setelah duduk di bangkunya, setelah meletakkan tasnya diatas meja Dia membalikkan badannya untuk memandang Dini yang fokus membaca kebiasaan dirinya setelah dua tahun mengenal dan satu sekolah bersama Dini.