
"Ayo!" ajak Diky yang sudah ada didepan Dini dengan motor sport warna merahnya.
"Helmnya kali dik, masa Dini gak pake helm sih..." sindir Novi.
"Eh iya, nih helmnya" Diky menyodorkan helm berwarna coklat kepada Dini yang langsung diambil dan dipakai oleh Dini.
"Ini naiknya gimana?" tanya Dini yang Bingung untuk naik keatas motor sport Diky, pasalnya motornya Diky ini tinggi sedangkan dirinya yang mempunyai tinggi tidak lebih dari 150cm sulit untuk menaiki motor tersebut.
"Sini pegang tangan aku!" Diky mengulurkan tangan kanannya kearah Dini untuk membantunya menaiki motor sportnya. Sedangkan Novi tersenyum bahagia atas interaksi Diky dan Dini yang mulai intens, sedangkan Eva ditempatnya merasakan hal yang aneh melihat interaksi Diky dan Dini. Entah kenapa hatinya terasa sakit dan ada rasa tidak suka melihat Dini yang mulai dekat dan intens hubungannya dengan Diky.
"Sudah siap?" tanya Diky pada Dini yang sudah duduk di jok penumpang.
"Sudah" jawab Dini.
"Pegangan ya, nanti jatuh lagi" peringat Diky pada Dini.
"Iya" Dini pun mulai memegang baju yang ada pada bagian pinggang Diky.
"Vi, Va kita pergi dulu ya" pamit Diky dengan senyum yang menunjukkan kemenangan.
"Iya hati-hati ya dijalannya" Pesan Novi yang diangguki oleh Diky dan Dini.
"Aduh kayanya bakalan ada pasangan baru nih" ucap Novi dengan bahagianya kepada Eva.
"Pasangan apaan mereka gak cocok" jawab Eva ketus.
"Kok gitu sih va? menurut aku mereka cocok kok" jawab Novi dengan keyakinannya.
"Enggak mereka gak cocok, mereka terlalu bertolak belakang" kekeh Eva.
"Tapi va, Diky kayaknya suka deh sama Dini. Lagian Dini juga kayaknya anak yang baik buat Diky"
"Pokoknya mereka gak cocok, TITIK!" Eva masuk kerumahnya dengan wajah kesal meninggalkan Novi yang benar-benar heran akan respon yang diberikan oleh Eva.
"Dia kok aneh banget sih, biasanya dukung kalau Diky mau deketin cewek ini kok malah sebaliknya ya?" Monolognya.
__ADS_1
~
Dini POV
"Sudah sampai" ucap Diky padaku yang sejak tadi melamun. Aku pun tersadar dari lamunanku dan langsung turun dari motor Diky dan membuka helm yang membalut kepalaku dan kuberikan helm itu kepadanya.
"Makasih ya" ucapku tulus.
"Iya Din sama-sama" kulihat Diky tersenyum manis padaku lalu mengalihkan pandangannya seperti meneliti kearah rumahku.
"Sorry gak bisa ajak kamu masuk udah sore" ucapku sungkan padanya, sebenarnya ini hanya alasan saja. Jujur aku tidak mau Diky tau kondisi keluarga ku yang terlihat baik diluar tapi berantakan didalamnya.
Sungguh hidupku ini penuh dengan ironi, andai Tuhan tidak menciptakan aku dirahim ibuku mungkin hidupku tak akan semenyedihkan seperti sekarang. Kapankah hidupku akan senormal anak-anak lainnya?.
"Iya gak apa-apa kok, tapi lain kali boleh dong aku datang atau main ke sini?" tanyanya padaku yang kujawab hanya dengan senyuman tipis, bukan dengan anggukan karena jujur aku tidak mau dia tau lebih dalam tentang hidupku.
"Ya udah aku pulang ya" aku pun hanya mengangguk kecil kepadanya.
"Hati-hati" ucapku yang mengundang respon senyum dari Diky, setelah itu Diky pun memakai helmnya kembali dan melajukan motornya menjauh dari rumahku. Aku membalikkan badanku menghadap kearah rumah yang berada tepat didepanku, kakiku seperti sangat berat untuk melangkah memasuki rumah itu, untuk beberapa saat Kupandangi rumah bercat hijau muda yang ada didepanku sebelum aku membuka pintu gerbangnya dan memutuskan untuk masuk.
'welcome to the hell' ucapku pada diri sendiri, sungguh miris. Ketika orang-orang menganggap rumah adalah surga bagi mereka, aku malah sebaliknya.
Iman ini satu sekolah dengan ku kami hanya beda 2 tahun, sekarang dia duduk di bangku kelas 1 SMA. Sedangkan adik perempuan ku Anjani yang usianya kini menginjak 13 tahun tidak tinggal bersama kami. Dia memutuskan masuk Boarding School setelah lulus sekolah dasar.
Aku yang tidak mendapati orang lain selain diriku dirumah pun memutuskan untuk masuk ke kamarku dan beristirahat.
~
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, belum ada juga yang pulang kerumah. Aku kini sedang menonton televisi sendirian diruang keluarga 'cih, namanya saja ruang keluarga tapi hanya aku yang ada. Miris banget sih hidupku' ucapku dalam hati. Kuputuskan untuk menghubungi keluargaku.
Aku
Kamu dimana? Mau pulang gak?
"Ting..." Kudengar ada notifikasi balasan di handphone pintar ku.
__ADS_1
**Brother
Maaf kak, kayanya aku gak pulang. Hari ini aku nginep dirumah temanku Irfan ada tugas kelompok
Aku
Mah dimana? Kok belum pulang?
Mamah
Maaf ya sayang mamah gak pulang, hari ini mamah pergi ke Banten sama bang Cahya. Biasa lagi ada masalah sama bapakmu males mamah ketemu bapakmu. Mamah sudah suruh Bi Reni besok untuk kerumah beres-beres dan urus keperluan kamu.
Aku
Pak dimana? Mau pulang gak?
Bapak
Bapak lagi numpuk kerjaan kak, mungkin pulangnya Minggu depan soalnya ada meeting keluar kota.
Kutarik napasku lelah, selalu seperti ini SENDIRIAN. Mereka benar-benar egois apakah aku tidak penting bagi mereka? apa mereka tidak khawatir terhadap ku? bagaimana kalau ada bahaya dirumah ini sedangkan aku seorang diri dirumah ya walaupun ada pak satpam diluar rumah tetap saja bahaya bukan?. Miris sekali jalan hidupku ini, akhirnya Kuputuskan untuk kembali ke kamarku dan beristirahat. Aku berharap hari esok akan lebih baik dan semoga saja hidupku berubah.
"Ting..." baru saja kumenutup pintu kamar, ada pesan masuk pada ponselku.
0818567*****
"Sudah tidur?"
Kukernyitkan dahiku, karena ada pesan dari nomor baru. Kuabaikan saja karena menurutku tidak penting. Kurebahkan diriku diranjang sambil menutup mata, semoga saja dengan cepat tidur rasa sepi dihatiku ini berkurang.
~
Diky POV
Kupandangi rumah Dini diwarung kopi dekat rumahnya. Rumahnya sangat sepi seperti tidak ada kehidupan didalamnya. Dari cerita yang kudengar dari mamang tukang kopi disini, Ayah dan ibu Dini itu sering bertengkar, hampir setiap kali mereka bertemu pertengkaran tidak pernah terelakkan.
__ADS_1
Dini juga sering kali sendiri dirumah atau berdua bersama adik laki-lakinya entah kemana orang tuanya pergi, tapi satpam dirumahnya selalu standby makanya rumahnya selalu aman walaupun tidak ada orang. Dini dan adik-adiknya sungguh kurang kasih sayang, orang tuanya sangat abai akan anak-anaknya. Sungguh kasihan hidupnya, ternyata dibalik sifatnya itu menyimpan duka dan kesepian.
Kukirim pesan padanya, tapi sudah hampir satu jam tidak ada balasan. Mungkin karena dari nomor yang tidak dikenal. Aku tau nomornya dari Novi, setelah mengantar dini pulang tadi sore aku langsung kerumah Novi dan meminta nomor nya Dini. Novi sudah tau bahwa aku tertarik padanya, Novi benar-benar mendukung hubunganku dengan Dini.