
Sahabat hanya akan menjadi sahabat bagiku tidak akan berubah statusnya, Dia adalah salah satu orang yang special dihidupku namun Dia tidak akan pernah menjadi orang special yang mampu menempati relung hatiku dan pikiranku.
~ Diky Riawan ~
Setelah Novi mendengar cerita dari Diky yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Dini. Novi, Eva, Ninu, dan Fitri mulai paham akan masalah yang terjadi namun mereka maksudnya Novi, Ninu, dan Fitri bingung karena tidak bisa untuk membantu membuat Diky dan Dini dekat lagi untuk saat ini. Sedangkan Eva dirinya seperti mendapatkan angin segar mendengar fakta antara Diky dan Dini kali ini.
"Gimana dong Vi? masalahnya mereka rumit karena adiknya Dini" tanya Fitri dengan wajah sendunya. Mereka saat ini sedang berada di kantin sedang menikmati istirahatnya minus Dini yang memutuskan untuk menghabiskan jam istirahatnya di perpustakaan dengan membaca.
"Haduh bingung juga aku fit" Novi menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia mencoba berpikir, solusi apa yang tepat untuk masalah antara Dini dan Diky saat ini.
"Ya udahlah biarin aja mereka, lagian itukan urusan mereka berdua bukan urusan kita" Sebenarnya entah kenapa Eva berkomentar seperti itu dengan keadaan yang Dini dan Diky alami padahal dirinya mati-matian untuk menahan semua ucapan itu. Tetapi karena suasana hatinya merasa lega mendapati fakta bahwa Dini dan Diky tidak akan seperti dulu mendorongnya untuk mengatakan semua itu.
Katakanlah dirinya jahat tapi sungguh harapan Diky akan mau membalas perasaannya selalu terbayang kini dibenaknya. Ya, Eva memang mulai menyukai Diky lebih dari sahabat sejak kejadian dimana Diky mengantarkan Dini pulang pada saat itu. Maka dari itu dirinya tidak suka bila melihat Diky dan Dini sangat dekat apalagi mendapati fakta bahwa Diky sepertinya menaruh hati pada Dini membuat hatinya panas terbakar api cemburu.
"Kamu kok gitu sih va? Dini dan Diky kan sahabat kita, kok kamu kayak seneng sih melihat mereka jauh kaya gini?" Fitri tidak terima akan pernyataan yang Eva lontarkan.
"Iya, kamu kok gitu sih Va?" timpal Ninu dengan kerutan di dahinya yang tidak paham kenapa Eva berbicara seperti itu.
"Va sebenarnya kamu kenapa sih? akhir-akhir ini aku liat kamu kayak gak suka gitu sama kedekatan yang terjalin antara Dini dan Diky" Novi memandang Eva dengan tatapan intimidasinya.
"Masa sih Vi? emang aku kaya gitu ya? perasaan aku biasa aja kok" ucap Eva dengan nada tidak suka, lalu dia pun berdiri meninggalkan kantin dan teman-temannya yang memandangnya dengan tatapan bertanya akan Tingkah laku Eva sekarang.
"Kenapa sih dia Vi?" tanya Ninu yang dijawab gelengan kepala oleh Novi.
"Mungkin Eva suka kali sama Diky" tebak Fitri yang membuat Novi kaget.
"Ah, gak mungkin fit. Kami kan sahabatan dari kecil gak mungkin Eva suka sama Diky" Novi sebenarnya tidak yakin akan ucapannya sendiri, didalam hatinya dia pun sebenarnya berpikiran hal yang sama dengan Fitri. Namun dirinya mati-matian menepis semua pikirannya itu.
"Tapi ya Vi, menurut aku yang diucapkan Fitri itu bisa aja terjadi. Lagian gak akan pernah ada persahabatan murni antara perempuan dan laki-laki tanpa salah satunya melibatkan perasaan, yakin deh sama aku Vi kalau Eva tuh sebenernya ada affair sama Diky" ucap Ninu yakin.
"Iya Vi, bisa jadi tuh" Fitri memberikan dukungannya atas persepsi yang Ninu utarakan.
"Udah ah jangan bahas itu lagi sekarang mending kita makan dulu, keburu dingin nih bakso kita!" Novi mengalihkan pembicaraan agar tidak semakin meluas kemana-mana.
__ADS_1
Eva memasuki kelas dan segera menghampiri Diky yang tengah duduk sendirian di bangkunya dengan pandangan lurus kedepan dengan tatapan kosongnya seperti sedang melamun.
"Hai dik..." Eva menyentuh pundak Diky yang membuyarkan lamunannya, lalu duduk disebelah Diky tanpa permisi.
"Ngelamun Mulu sih Dik ntar kesambet lagi" kekeh Eva pelan.
"Udahlah, Dini gak usah dipikirin masih banyak kan cewek disekolah ini bukan dia aja" ucap Eva dengan tangannya yang mulai menggenggam tangan Diky yang berada diatas meja.
Pandangan Diky dialihkan kearah Eva, dirinya merasa risih akan pandangan dan perlakuan Eva padanya kali ini. Dia segera menarik tangannya yang digenggam oleh Eva.
"Emang banyak Va, tapi yang kaya Dia itu susah nyarinya" ucap Diky tulus dengan pandangannya yang kembali ia luruskan kedepan.
"Va, kenapa aku rasa kamu kayak gak suka gitu sih sama Dini" raut wajah Eva kini berubah kaget.
"Aku bukan gak suka sama dia, tapi aku gak suka liat kedekatan kalian Dik" Eva memandang Diky dengan serius.
"Kenapa va? Dini itu bukan perempuan jahat dan licikkan? dia juga tipe cewek aku banget, tapi kenapa kamu gak suka?" tanya Diky serius.
__ADS_1
"Karena aku, aku..." Eva menundukkan pandangannya, ragu dirinya untuk mengatakan apa yang sesungguhnya dirinya rasakan.
"Kamu kenapa Va?" Diky penasaran akan perkataan yang akan Eva ucapkan.
"Karena aku suka sama kamu Dik" cicit Eva akan pengakuannya, Diky bukan orang bodoh dia tau maksud Eva namun dirinya menepis semua dugaan yang otaknya pikirkan. Diky berpikir positif bahwa maksud Eva bukanlah seperti apa yang ada di pikirannya sekarang.
"Ya pasti kamu suka aku Va Kitakan sahabatan dari orok malah, iya kan?" Diky tersenyum kearah Eva, jenis senyuman yang mengartikan bahwa ucapannya benar.
"Bukan Dik, bukan seperti itu. Aku suka sama kamu sebagai seorang lelaki bukan sebagai seorang sahabat, Mungkin sejak kamu mengantarkan Dini pulang dulu aku mulai suka sama kamu. Jadi kumohon Dik, lupakan Dini dan mulailah pandang aku sebagai seorang perempuan bukan sahabat" terang Eva dengan pandangan berharapnya.
Diky menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya akan pengakuan serta permintaan Eva padanya. Dia pun berdiri dari bangkunya, dengan pandangan tidak percayanya Dia melontarkan kata\-kata yang mampu membuat hati Eva seketika patah hati.
"Sorry Va, kamu hanya sahabat bagiku enggak lebih. Karena kamu status kamu buat aku akan selamanya jadi sahabat gak akan pernah berubah, apalagi berubah menjadi kekasih itu tidak akan pernah mungkin. Setelah pengakuan kamu ini tolong bersikap seperti biasa saja, anggap semua ini tidak pernah terjadi" setelah mengucapkan semua itu Diky pun meninggalkan Eva dengan tangisannya yang tergugu.
Sementara Novi menutup mulutnya dengan pandangan melotot karena kaget atas pengakuan Eva kepada Diky, Dirinya yang tidak sengaja dari tadi mencuri dengar pembicaraan yang terjadi antara Diky dan Eva sugguh tidak percaya akan semua yang terjadi. Eva ternyata benar\-benar mempunyai perasaan lebih dari sekedar sahabat Kepada Diky, tapi Novi yakin perasaan itu hanya perasaan cemburu semata bukan tulus dari hatinya. Karena Diky kini mulai perhatian dan menomor satukan Dini dibandingkan Eva sahabatnya, Diky sekarang memang jarang sekali berangkat sekolah bersama dengan Novi dan Eva karena ingin lebih awal sampai sekolah supaya bisa menunggu Dini digerbang sekolah, Diky juga jarang berkumpul dengan mereka karena sibuk memperhatikan Dini sekarang ini.
Hingga Eva yang kini berstatus jomblo merasa kesepian tanpa celotehan dari Diky, dan Eva juga yang sekarang tidak punya pacar yang perhatian padanya jadi iri karena Diky begitu perhatian dan manis terhadap Dini. Hingga tanpa Eva sadari perasaan itu semua Eva asumsikan sebagai rasa suka padahal bila diartikan yang sesungguhnya semua perasaan itu hanyalah perasaan karena dirinya iri saja, yang akan hilang sekejap mata.
__ADS_1
"Eva benar\-benar harus disadarkan dari rasa sesaatnya ini" monolog Novi dengan tekad bulatnya.