TERBIT (Memory NNNED) Kisah Dini

TERBIT (Memory NNNED) Kisah Dini
Sembilan Belas


__ADS_3

"Aku bukan kamu yang rela menyakiti temannya hanya demi seorang laki-laki, Aku juga bukan kamu yang terang-terangan menikam kepercayaan seseorang, dan Aku bukan seorang pendendam setelah apa yang sudah kamu perbuat terhadapku" ~ Dini.Aprillia~


Dini menghampiri Arif di parkiran belakang sekolahnya, Dia melihat Arif yang sedang duduk dijok motor sport merahnya seperti sedang menunggunya.


"Hai Rif, udah nunggu lama?" Dini bertanya ketika jaraknya sudah dekat dengan Arif.


"Eh Din, enggak kok baru aja" ucap Arif yang langsung berdiri ketika Dini sudah sampai dihadapannya.


"Sorry ya ngerepotin kamu, padahal tadi aku udah nolak pas adik aku bilang kamu yang nganterin aku pulang" ucap Dini sungkan kepada Arif.


"Gak apa-apa kali Din, lagian aku juga sih yang inisiatif nawarin nganterin kamu pulang pas adik kamu gelisah dan bilang gimana nganterin kamu pulang" Arif tersenyum lebar memancarkan kebahagiaannya kearah Dini, yang direspon kerutan pada dahi Dini dengan bibir mungilnya yang sedikit mengkerut.



Bagi Arif ekspresi Dini ini begitu imut hingga membuat bibirnya gatal ingin mencium bibir Dini yang begitu mungil didepannya ini. Tapi tentunya itu tidak Dia lakukan bisa diamuk Dia kalau sampai itu terjadi.


"Kenapa kamu mau nganterin aku pulang?" tanya Dini yang dijawab kekehan oleh Arif sambil mengacak rambut Dini.


"Karena kamu udah ngobatin luka aku" tunjuk Arif pada siku tangannya yang terbalut oleh jaket merahnya. "Balas Budi" tambah Arif dengan memamerkan cengirannya, entah mengapa kalau bersama Dini selalu membuatnya tersenyum.


"Ya elah, gak usah merasa seperti itu juga kali" Dini merapihkan rambutnya yang tadi diacak Arif.


"Gak apa-apa dong lagian aku mau juga nganterin kamu pulang" tangan Arif sebenarnya gemas ingin membantu Dini merapihkan rambutnya, tapi sekuat tenaga Dia tahan.


"Pacar kamu gimana? aku takut dia marah kalau melihat kamu boncengin aku" Sebenarnya ini alasan utama Dini tidak mau diantar oleh laki-laki didepannya ini.


"Gak akan marah kok, percaya deh sama aku" Arif meyakinkan Dini, yang dijawab oleh keterdiaman Dini yang menunjukkan raut wajah gelisah.


"Kenapa?" tanya Arif dengan memegang bahu Dini dan memandang tepat dimatanya dengan mensejajarkan tingginya.


"Eh, eng-eng-enggak kok gak kenapa-napa" Dini sedikit kaget akan perlakuan Arif padanya, Dia segera mengusap belakang lehernya merasa tidak enak akan perlakuan Arif padanya.


"Oh iya, nih helmnya" Arif menyerahkan helm berwarna putih kearah Dini, yang langsung diambil dan dipakai oleh Dini. "Yuk!" ajak Dini yang sudah siap untuk menaiki motor sport berwarna merah Arif.


Arif mengulurkan tangan kirinya kearah Dini untuk membantu menaiki motor sportnya, setelah siap mereka pun pergi meninggalkan parkiran. Mereka tak mengetahui, dari arah belakang mereka Diky yang tadinya menyusul kepergian Dini hanya bisa memandang nanar kepergian mereka. Ulu hatinya tiba-tiba saja begitu sakit melihat interaksi yang Dini dan Arif lakukan.


___________


"Gimana cantik gak rambutku?" tanya Delia kepada dua sahabatnya dengan berjalan bahagia keluar dari sebuah salon kecantikan.

__ADS_1


"Ya pastinya cantik dong..." ucap kedua sahabat Delia dengan binar bahagia. "Sekarang kita ke cafe yuk, nongkrong jam segini pasti asyik" ajak Debi yang sudah mengaktifkan kunci alarm pada mobilnya, yang dijawab anggukan oleh kedua sahabatnya.


"Eh,eh,eh tunggu deh itu bukannya motor Arif ya Del?" tunjuk Silvia pada motor sport berwarna merah yang sedang melaju di jalan, melewati salon yang baru saja mereka datangi.


Delia memfokuskan perhatiannya kearah telunjuk Silvia, keningnya dia kerutkan dan matanya Dia tajamkan untuk melihat objek yang sedang berada di motor merah itu.


"Kenapa Dia boncengin cewek Del? Terus cewek itu siapa?" tanya Debi yang kini berada disebelah kanannya. Delia tidak menjawab Dia langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari nama "Sayangku" pada kontak diponselnya, ponsel tersebut pun Dia tempelkan ketelinganya setelah menekan tombol berwarna hijau. Cukup lama Delia menunggu, hingga akhirnya panggilannya pun dijawab.


"Halo yank, kamu dimana?" tanya Delia tanpa basa-basi.


"........"


"Sama siapa?" sebenarnya Delia perasaannya was-was pada saat bertanya ini kepada kekasihnya itu, namun Dia menguatkan hatinya agar perkiraannya tidak salah duga.


"........"


"Kamu tunggu disitu aku segera kesana" Wajah putih pucat Delia berubah menjadi merah dengan raut paniknya, Dia segera mematikan panggilan dan masuk ke mobil Debi. Tingkahnya itu langsung diikuti oleh kedua sahabatnya itu.


"Kenapa Del? kok kamu panik gitu sih?" tanya Debi yang sudah duduk dibelakang kemudi karena heran akan perubahan ekspresi pada Delia.


"Bi kejalan arah lampu merah cepet!" bukannya menjawab Delia malah menyuruhnya meninggalkan area salon dengan ekspresi semakin panik.


"Iya kenapa dulu?" tanya Silvia dari arah belakangnya.


"APA? Boncengin Dini?" kedua sahabatnya kaget akan pernyataan yang Delia lontarkan. "Kok bisa?" timpal Debi.


"Iiiihhhh... jangan nanya mulu ayo pergi!" kesal Delia kepada kedua sahabatnya ini, mereka tidak tau saja ketakutan apa yang ada didepan Delia.


"Iya,iya. Jangan heboh gitu kali Del, ya ampun" Debi menggelengkan kepalanya akan tingkah Delia, Dia pun langsung menstarter mesin mobilnya dan melaju meninggalkan parkiran salon.


"Kenapa Arif boncengin Dini, Del?" tanya kembali Silvia penasaran, "Iya kenapa?" timpal Debi yang juga ikut penasaran.


"Aku gak tau kenapa? tapi Arif gak boleh sampai Deket sama tuh ular" jawab Delia dengan menggebu.


"Ular?" kaget Debi dan Silvia untuk julukan yang diberikan Delia kepada Dini.


"Iya ular, kalian gak tau saja. Dini tuh pernah merebut pacarku dulu yang namanya Anton" terang Delia dengan nada yang menyiratkan kemarahan.


"Masa sih? kayaknya Dia bukan tipikal perempuan seperti itu deh kalau aku lihat" jawab Silvia.

__ADS_1


"Kalian itu ketipu sama sifat dan karakternya selama ini, Dia tuh perempuan jahat makannya gak ada yang mau temenan sama Dia dulu" jawab Delia kembali menggebu.


"Tuh Arif Del" tunjuk Silvia pada laki-laki yang sedang menghampiri mobil Debi setelah berhenti dibelakang motor Arif.


Tanpa ba-bi-bu Delia keluar dari mobil Debi dengan gaya manjanya. "Saayyaanngg... Kok kamu bisa sama Dia sih?" tunjuk Delia kearah Dini, dengan bergelayut manja ditangan kanan Arif.


"Aku mau anterin dia pulang" jawab Arif yang risih akan tingkah manja kekasihnya ini.


"Iiiihhhh... gak boleh, ngapain sih kamu anterin dia pulang" protes Delia dengan nada manjanya yang dibuat-buat, bagi Arif tingkah Delia ini sungguh memuakan membuatnya malu.


"Rif aku pulang sendiri saja ya gak usah kamu antar" usul Dini yang sudah jengah melihat tingkah perempuan bermuka dua didepannya ini.


"Jangan, aku yang anterin kamu pulang!" tekan Arif pada setiap kata-katanya. "Dan kamu, jangan kayak gini bikin aku malu. Lagian bukannya kamu lagi mau hang out ya?"


"Ih sayang biarin dia pulang sendiri ngapain juga dianterin sama kamu, kamu punya hubungan ya sama Dia? kamu selingkuh ya sama cewek ular itu?" Delia memperlihatkan ekspresi manja dan merajuknya dengan jari telunjuknya yang mengarah kearah Dini, yang membuat Dini memutar kedua bola matanya dengan kesal.


'Drama again' monolog Dini dalam hatinya. "Cewek ular kamu bilang?" tanya Dini dingin kearah Delia.


"Iya cewek ular, kamu mau rebut Arif dari aku kan? sama seperti kamu rebut Anton dari aku?" Dini memejamkan matanya menahan perih dihatinya kala nama Anton diungkit lagi oleh Delia.


"Ayo ngaku, kamu mau rebut Arif kan? Gak puas ya kamu udah bikin hubungan aku sama Anton hancur dulu sekarang mau bikin hubungan aku sama Arif yang hancur, dasar ular kamu. Bisa gak sih buat gak merebut pacar orang, gak laku apa kamu sampai harus rebut pacar orang?" maki Delia panjang lebar yang membuat kesabaran Dini habis, Dini pun berjalan kearah Delia.


"CUKUP! Kamu gak nyadar ya, dulu yang merebut dan direbut siapa? Jangan lupa Del, Anton lebih dulu pacaran sama aku bukan sama kamu. Faktanya kamu yang dulunya jelas-jelas sahabat aku merebut dan menggodanya agar berpaling dari aku. Kamu mengkhianati persahabatan kita, memilih menyakitiku dulu, merebut laki-laki yang merupakan cinta pertama sahabat kamu sendiri. Dan ketika Anton bosan sama kamu Dia yang minta kembali sama aku, tentunya aku tidak sudi kembali merajut kasih dengan laki-laki pengkhianat sepertinya. Kamu tau aku menolak mentah-mentah permintaannya itu" Dini sangat kecewa akan masa lalunya dengan mantan sahabatnya ini yang selalu menyalahkan dan mengatainya wanita ular padahal fakta yang sebenarnya Delialah yang pantas menerima semua kesalahan dan sebutan itu.


"Ingat bukan aku dulu yang merebut Anton dari kamu tapi kamu yang merebut Dia dari aku, jadi disini yang jelas-jelas wanita ular bukan aku tapi KAMU!" tunjuk Dini dengan amarah yang memancarkan kekecewaannya.


"BOHONG!" protes Delia dengan wajah paniknya memandang kearah Arif dan para sahabatnya yang tercengang akan fakta yang diungkapkan oleh Dini. Sebenarnya Delia tidak menyangka bahwa Dini kini akan melawannya padahal dulu Dini selalu diam bila dia menyalahkan dan mengatai Dini wanita ular bila sedang bergosip dengan teman satu kelasnya.


"Terserah aku gak peduli mereka mau percaya sama siapa, yang jelas aku enggak ada maksud untuk merebut Arif dari kamu. Aku sama sekali tidak tertarik melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakuin ke aku dulu. Lagi pula aku tidak tertarik sama pacar kamu ini, Dia bukan tipeku" ucapan Dini ini sungguh membuat Arif dan kedua sahabat Delia kaget bukan main


'What? Seorang Arif yang merupakan most wanted dan selalu dielu-elukan oleh para siswi disekolah ini tidak menarik? dan apa tadi katanya, aku bukan tipe idealnya? Wah, perempuan didepanku ini memang benar-benar beda dari yang lain' gumam Arif dihatinya dengan binar kagum.


"Kamu tau sendiri tipeku Delia? mengingat kamu 12 tahun pernah menjadi sahabatku" Dini tersenyum miring dengan penekanan disetiap katanya. Delia mengakui semua perkataan Dini dalam hatinya karena tidak mungkin dia mengakuinya didepan pacar dan para sahabatnya ini, mau taruh dimana nanti mukanya kalau sampai dia mengiyakan semua perkataan Dini ini.


"Arif maaf sepertinya aku pulang sendiri saja, makasih sebelumnya untuk niat baik kamu membantu adikku untuk mengantarkan aku pulang. Tapi sebaiknya lain kali jangan OK!" ucap Dini dengan nada memperingatkan kearah Arif dengan senyum tipisnya. Dini lalu mengalihkan tatapannya kearah Delia dengan raut wajah dinginnya.


"Dan untuk kamu Del, jangan pernah memancing emosiku kalau tidak mau semua tentang kamu aku bongkar Mengerti?" kini ancaman keluar dari mulut Dini, yang begitu terdengar mengerikan dipendengaran Delia. Pasalnya kebohongan yang Delia buat sangat banyak bukan hanya tentang Anton saja namun tentang semua hal yang ada pada dirinya.


Setelah melihat anggukan dari Delia, Dini pun meninggalkan mereka dengan menaiki taksi yang kebetulan melintas.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Dini terus menggumamkan kata sabar, hatinya harus lebih kuat lagi untuk menghadapi kekecewaannya pada mantan sahabatnya Delia jangan sampai dia juga berbuat jahat seperti yang Delia lakukan padanya.


Dini bisa saja membongkar semua kebohongan yang Delia katakan karena Dini mempunyai buktinya, tapi dia enggan berbuat sama jahatnya seperti Delia hanya demi dicap sebagai most wanted sekolah yang selalu terlihat menarik. Dia lebih suka menjadi dirinya sendiri dibandingkan berpura-pura lagi pula dia tidak suka diusik oleh hal yang remeh dan tidak bermanfaat dihidupnya.


__ADS_2