TERBIT (Memory NNNED) Kisah Dini

TERBIT (Memory NNNED) Kisah Dini
Tiga belas


__ADS_3

Seperti biasa Diky menunggu kedatangan Dini digerbang sekolahnya, namun kini dia tidak sendirian ada Akbar yang menunggu bersamanya.


Setelah kejadian semalam dirinya dengan iman, kini niatnya untuk menjelaskan kepada Dini duduk masalah yang sebelumnya dialami oleh kelompok eksulnya juga dengan kelompok ekskul iman.


Namun yang ditunggu ternyata kini tidak datang sendirian, dia kini datang bersama dengan adiknya menggunakan sepeda motor. Sedikit pesimis dirinya untuk bisa bicara dengan Dini hari ini karena setelah kejadian semalam pun Dini tidak membalas puluhan pesan dan tidak mengangkat ratusan panggilannya.


Namun dirinya membulatkan tekadnya untuk bisa menjelaskan semuanya apapun yang terjadi.


Dirinya bersama Akbar memutuskan melangkah menuju parkiran roda dua yang berada disekolahnya, menghampiri Dini yang sudah turun dari motor adiknya dan sedang membuka helmnya.


"Din, aku mau bicara sama kamu. Kasih aku waktu buat jelasin semuanya" pinta Diky yang sudah ada disamping Dini. Dini yang sudah menyerahkan helmnya pada adiknya hanya memandang Diky sekilas sebelum membuang pandangannya ke arah adiknya.


iman yang mendengar ucapan Diky segera mendekati kakaknya, dengan posesif iman menggenggam tangan kakaknya lalu tatapan tidak bersahabatnya dia hunuskan ke arah Diky.


"Gak ada yang perlu kamu jelasin, mendingan kamu jauh-jauh deh dari kakak aku!" ucap iman dengan nada sedikit mengeram pertanda tidak suka.


"Aku bawa Akbar buat jelasin semuanya, karena duduk permasalahannya berawal dari Akbar dan Irfan. Aku disini cuman mau jelasin kalau aku waktu itu cuman mau belain teman aku" ucap Diky dihadapan iman, namun pandangan matanya selalu tertuju pada Dini yang enggan menatap kearahnya.


"Udahlah gak ada yang perlu dijelasin, yang pasti kamu itu bukan teman yang baik buat kakak aku. Jadi sebaiknya mulai hari ini jauhin kakak aku ngerti!" iman memperingatkan Diky dengan sedikit mendorong dada Diky.


Diky sempat sedikit tersinggung, bukan karena dorongan iman namun karena ucapan iman yang menganggap dirinya bukan orang yang baik untuk kakaknya walaupun hanya berteman padahal dirinya menginginkan Dini lebih dari sebagai teman. Tapi rasa tersinggung itu mati-matian dia tekan. Dalam hatinya Diky merapalkan kata sabar agar tidak tersulut oleh emosi.


"Man kak Diky benar ini bukan salah kak Diky ini sebenarnya salah Irfan. Aku cuman bela diri waktu itu" Akbar menengahi percakapan Diky dan iman.


"Eh, diem deh loe! Seharusnya loe itu minta maaf sama Irfan karena udah mukul dia" iman terpancing emosinya setelah mendengar kata-kata Akbar.


"Yang mukul duluan itu dia man kalau loe mau tau, karena dia udah ngerebut pacar gue si Khusnul. Dia mukul gue karena gue bilang kalau Khusnul belum putus sama gue waktu dia kepergok lagi jalan di mall. Apa salah kalau gue ngakuin pacar sendiri? Kenapa gue dia pukul? ya gue gak terimalah, gue bales pukul dia. Tapi kenapa jadi kalian juga ikut-ikutan mukul gue sama kelompok ekskul futsal?" terang Akbar panjang lebar.


"Alah, bokis banget sih loe gue gak percaya. Udah yuk kak ke kelas!" tarik iman pada Dini yang sedari tadi enggan untuk berkomentar.


"Gue gak bokis kalau gak percaya tanya aja sama Kak Arif dia ada pas kejadian terjadi" Akbar menghalangi langkah iman yang ingin meninggalkan parkiran.

__ADS_1


Iman mendengus mendengar pembelaan Akbar, senyum miring terbit pada bibirnya. Telunjuknya iya arahkan pada pundak Akbar dengan sedikit dorongan.


"Loe bilang Kak Arif liat semua kejadiannya? Tapi loe tau apa yang dia katakan sama kita semua? Kalau yang salah itu loe bukan Irfan dan kejadian yang terjadi bukan seperti yang loe ceritain" iman pun segera menarik tangan Dini kembali untuk meninggalkan parkiran yang kini menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang melewati parkiran.


Namun langkahnya harus terhenti karena ternyata tangan Dini yang bebas ditahan Diky. Dini memalingkan wajahnya kearah Diky yang memperlihatkan ekspresi memohonnya.


"Tolong Din, kamu percaya sama ucapan Akbar, Semua yang Akbar ucapkan itu kenyataan yang sebenarnya"


"Eh, lepasin tangan kakak gue sebelum gue bertindak kasar ya!" iman yang sudah tersulut emosinya memperingatkan dengan mimik wajah yang marah.


"Aku mohon Din, aku cuman-" ucapan Diky terpotong oleh geraman amarah iman.


"LOE YA-" Namun geraman amarah iman pun kini terpotong oleh ucapan Dini. Dini menghempaskan kedua tangannya yang digenggam oleh iman dan Diky.


"Stop! Bisa kalian pagi-pagi gak bikin gaduh? Kalian semua bikin aku malu, lihat kita jadi tontonan. Aku gak peduli siapa yang salah dan benar, aku cuman gak suka kalau kalian menyelesaikan masalah dengan otot kalian" ucap Dini dengan nada sedikit tinggi. Lalu dia memutuskan untuk meninggalkan parkiran, tetapi baru dua langkah Dia kembali membalikkan badannya untuk menuju kearah Diky.


Diky sempat tersenyum tipis akan yang dilakukan oleh Dini, namun senyumnya memudar saat matanya menangkap wajah datar serta tatapan dingin dari Dini. Dan yang membuat ulu hatinya sakit seperti dihantam baja gada adalah saat mendengar ucapan yang terlontar dari Dini padanya.


"Aku mau kamu jauhin aku mulai sekarang, jangan pernah deketin ataupun negur aku. Anggap kita gak saling kenal" setelah mengucapkan itu Dini melangkah meninggalkan Diky dengan raut wajah tidak percayanya.


"Sorry ya kak!" Akbar menepuk bahu Diky tanda menguatkan kakak kelasnya ini yang kemudian kepalanya dia tundukan sebagai tanda rasa bersalahnya, karena masalah yang sudah dirinya alami kemarin Diky harus ikut kena imbasnya.




"Hai, Din" sapa Novi pada Dini yang baru saja menundukkan bokongnya dikursi. Ninu, Eva, dan Fitri ikut duduk didekat Dini.



"Tadi rame\-rame diparkiran ada apa?" tanya Novi kemudian to the point.

__ADS_1



"Gak ada apa\-apa" jawab Dini malas, mut nya pagi ini benar\-benar buruk akibat kejadian diparkiran tadi.



"Ye... masa gak ada apa\-apa tapi kayak bersitegang gitu sih. Seperti ada hawa\-hawa panas gitu" ucap Novi dengan kedua tangan yang sedang mengipas\-ngipas.



Dini memutar kedua bola matanya melihat tingkah Novi yang alay menurutnya.



"Gak ada apa\-apa Vi, udah ah jangan dibahas males" Dini menelungkupkan wajahnya diantara lipatan kedua tangannya.



"Ih Vi, jangan dipaksa dong nanti Dini marah loh. Tanya Diky aja sana biar jelas!" Fitri mengibaskan sebelah tangannya kearah Novi dengan memberikan kode lewat matanya untuk menemui Diky ketika melihat Diky memasuki kelas.



"Kok bawa\-bawa Diky sih?" Eva memperlihatkan wajah herannya.



"Ye... yang tadi diparkiran kan ada Diky va. Kamu sih sibuk dandan Mulu pas kita lagi kepo nontonin Dini diparkiran lagi direbutin tiga cowok" kikik Ninu pelan.



"Masa sih? emang ada masalah apaan?" tanya Eva yang mendapatkan sorakan dari Novi, Fitri, dan Ninu.

__ADS_1



"Dasar kamu ya va, makannya pas kita tadi lagi ngomong itu dengerin bukannya dandan Mulu. Jadi kudetkan, udah Vi sana cari tau dari Diky ada masalah apa!" seru Fitri kearah Novi yang mau tidak mau dituruti oleh Novi karena dirinya juga penasaran apa masalah yang sedang dihadapi oleh kedua Sahabatnya ini.


__ADS_2