
Happy Reading...😍💜😘
hati-hati typo bertebaran... 💜🙏
Tok...Tok...Tok...
Iman mengalihkan perhatiannya yang sejak tadi berfokus pada konsol gamenya kearah suara ketukan pada pintunya yang terbuka, yang ternyata menampilkan sosok sang kakak Dini sedang berdiri dengan bibir menyinggungkan senyum.
"Sibuk?" tanya Dini. "Enggak kak, masuk sini!" iman menyimpan konsol gamenya lalu membenarkan posisi duduknya hingga dirinya kini menghadap kearah sang kakak yang sudah duduk dipinggir tempat tidurnya.
"Main game lagi?" tanya Dini berbasa basi dengan pandangan ia arahkan kepada meja belajar iman yang terdapat sebuah konsol game.
"Ehehe... dikit kak abisnya gabut nih" jawab iman dengan cengiran khasnya, "Jangan sering-sering main game gak baik buat mata kamu" nasihat sang kakak yang dijawab dengan anggukan.
"Oh iya kak, kakak benar tentang Pirli selama ini. Dia bukan cewek yang baik buat aku" iman menundukkan wajahnya dengan ekspresi sendunya mengingat kejadian tadi siang didekat gudang sekolah yang mengharuskannya benar-benar memutuskan hubungannya dengan Pirli.
"Memangnya Pirli kenapa?" kerutan pada dahinya langsung tercetak jelas.
"Dia selama ini selingkuh kak dibelakang aku dan parahnya Dia selingkuh sama sahabat aku sendiri" terang iman dengan menggebu.
"Sama siapa?" kini raut wajah Dini berubah menjadi marah, jujur saja Dini sangat tidak suka bila ada yang menyakiti keluarganya.
"Sama Irfan kak, tadi siang aku liat Dia lagi kissing sama Pirli dekat gudang sekolah" Dengusan tidak suka iman keluarkan bila mengingat kejadian tadi siang antara Irfan dan Pirli yang terpergok olehnya.
"Jadi gini yah kak si Irfan itu ternyata playboy abis, Dia selingkuh dengan Pirli dibelakang aku lalu Dia juga selingkuh sama Khusnul dibelakang Akbar pokonya kisah cinta yang rumit bikin pusing. Jadi aku putusin langsung deh si Pirli tanpa mau denger penjelasan apa-apa lagi dari Dia" Terang iman panjang lebar yang mendapatkan respon senyuman bahagia oleh Dini karena adik laki-lakinya akhirnya terlepas dari perempuan jahat seperti Pirli yang hanya memanfaatkan adiknya selama ini.
"Dan kabar baiknya lagi aku sama kelompok ekskul ku tau keburukan Irfan yang bohongin kita soal ekskul futsal yang dituduh menjelek-jelekkan ekskul basket. Jadi kami anggota ekskul futsal memutuskan untuk meminta maaf sama anggota ekskul basket, yang Alhamdulillahnya mereka menerima dengan baik niat kami dan gak dendam sama kami" raut wajah iman kembali ceria dengan senyuman yang lebar.
"Bagus deh kalau gitu, jadi tenangkan gak ada musuh-musuhan" anggukan iman berikan kepada pernyataan kakaknya ini.
"Kak Arif juga udah minta maaf udah ikut-ikutan mengiyakan kebohongan Irfan kak, katanya sih kak Arif marah dan kesel karena dulu kena bogem Akbar dan kak Diky waktu di mall" senyuman lega serta anggukan paham kembali Dini berikan untuk pernyataan adiknya ini.
"Kak tadi dianterin sama kak Arif sampai rumah kan?" pertanyaan iman ini seketika memudarkan senyum yang berada di bibirnya.
__ADS_1
"Man lain kali jangan nyuruh Arif buat anterin kakak ya?!" bukannya menjawab Dini malah mengutarakan permintaannya kepada sang adik.
"Kenapa kak?" iman tentu saja bingung akan permintaan sang kakak, bukannya tadi baik-baik saja ya waktu kakaknya diantar pulang?.
"Kasihan Arif berantem sama pacarnya" ucapan Dini ini sedikit membuat iman kaget, pasalnya iman kira selama ini Arif itu jomblo.
"Hah punya pacar, bukannya baru seminggu yang lalu ya kak arif putus sama kak Winda?" Dini yang mendengar penuturan iman hanya bisa mengedikkan bahunya.
"Emang yah, yang populer mah beda gonta ganti pacarnya cepet amat. Siapa sih kak pacarnya sekarang?" tanya iman dengan wajah penasarannya.
"Delia" mendengar nama Delia disebut seketika wajah penasaran iman berubah menjadi kaget.
"Delia?" ulangnya.
"Iya Delia" Dini menganggukkan kepalanya membenarkan.
"Jangan bilang kak Delia yang itu?" ucap iman hati-hati.
"Sayangnya memang Delia yang itu, karena disekolah kita nama Delia cuman ada satu dan itu Dia" wajah sendu kini tercetak jelas di wajah Dini, matanya pun sudah berkaca-kaca. Bagi Dini bila mengingat Delia selalu membuat luka lamanya terbuka kembali.
Iman juga tau betul butuh waktu lebih dari satu tahun untuk sang kakak dapat berhenti menangisi perpisahannya dengan Anton dan move on dari cinta pertamanya itu yang merupakan seorang laki-laki brengsek yang sudah menduakan kakaknya.
"Maaf kak aku gak tau kalau kak Arif pacarnya kak Delia" iman duduk disebelah kakaknya lalu memeluk kakaknya erat yang dibalas elusan sayang pada punggung sang adik.
__________
"Kalian tau, apa yang kalian lakukan dulu itu membuatku trauma akan sebuah hubungan cinta dan persahabatan" diusapnya foto yang menampilkan dua orang wanita yang sedang tersenyum bahagia dengan seorang laki-laki yang sedang merangkul salah satu dari perempuan tersebut pada sebuah bingkai. Difoto itu menampilkan dirinya, Delia, juga Anton Dua tahun yang silam.
"Dan kini kejadian yang aku alami dulu harus adikku alami juga" Dini tersenyum miris dengan mengusap sudut matanya.
"Apa Allah gak puas membuatku tersakiti dan kecewa? hingga adikku pun harus merasakan apa yang aku rasakan?" air matanya sungguh sudah tidak bisa ia bendung, Dini menelungkupkan kepalanya diantara lipatan kedua tangannya.
Dirinya menangis dalam diam, sungguh perih jalan hidupnya selama ini. Dikhianati sahabat dan kekasihnya ditambah hubungan orangtuanya yang tidak pernah harmonis, kapankah dirinya akan bahagia? Tangisan dan derita selalu melandanya, entah sampai kapan dirinya bisa bertahan dengan derita yang silih berganti datang di kehidupannya.
__ADS_1
_________
Tidak bisa tidur, itulah yang kini dia rasakan padahal jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Dengan langkah gontai Dini menuruni ranjangnya menuju meja belajar untuk mengambil ponselnya.
Dia membuka akun media sosialnya untuk menemani seperempat malamnya yang beberapa jam lagi menuju pagi. Tatapannya terpaku pada gambar sebuah ikon pesan yang menunjukkan angka seratus dua puluh tiga berwarna merah.
Tangannya diarahkan untuk membuka ikon tersebut, tak berani membuka pesan yang terpampang didepannya itu adalah hal yang dirinya rasakan selama tujuh bulan ini. Dia takut hatinya akan sakit bila membuka pesan tersebut yang ternyata hanya berasal dari Anton.
Memang sudah sejak tujuh bulan setelah putus dari Delia, Anton intens sekali menghubunginya melalui sosial media karena untuk menelpon atau mengirim pesan teks pada ponsel Dini tidak mungkin. Dikarena Dini sudah mengganti nomor ponselnya dan Anton tidak tau akan nomor terbarunya itu.
Dini juga tidak bisa untuk memblokir akun Anton karena entah kenapa hatinya masih merasa berat untuk melakukan hal tersebut. Dini mengabaikan pesan disosial mesianya dan kembali menutup akun sosial medianya lalu menyimpan ponselnya dimeja belajarnya.
Tiba-tiba otaknya ingat akan sosok Pak Rulli wali kelas yang kini menghuni sebagian hatinya yang gersang, senyum tipis Dini sunggingkan kala mengingat senyum manis Pak Rulli. Dirinya jadi teringat akan niat Pak Rulli untuk pindah mengajar ke Subang semester dua nanti.
"Pak Rulli sebentar lagi pindah, aku harus cepet-cepet bilang soal perasaan aku ini. Tapi gimana caranya ya?" telunjuknya Dia arahkan kedahi sebelah kiri dengan mengigit bibir bawahnya.
"Apa aku kirim surat saja ya sebagai permulaan?" tangannya lalu Dia arahkan untuk mengambil buku tulis beserta pulpen, lalu mulai menulis sebuah surat.
Srek...
Tuk...
Srek...
Tuk...
Srek...
Tuk...
Entah sudah berapa banyak kertas yang sudah Dini robek dan buang pada tempat sampahnya, kepalanya Dia garuk karena pusing memikirkan kata-kata yang cocok untuk Dia tulis pada suratnya ini.
"Ya ampun susah amat sih bikin surat..." erangnya kesal. Tangannya kemudian Dia arahkan pada ponselnya untuk mencari contoh surat cinta, dilaman internet.
__ADS_1
"Contoh surat cinta untuk gebetan" gumamnya, dengan pandangan Dia fokuskan pada ponselnya. Setelah terbuka laman webnya lalu Dini mulai memilah dan memilih kata-kata yang sekiranya cocok menurutnya, hingga akhirnya Dia mendapatkan contoh surat cinta yang menurutnya pas untuknya.
"Ah ini ajalah, pasti Pak Rulli suka" ucapnya final lalu kemudian menyalinnya kedalam kertas suratnya. Dengan senyum bahagia setelah selesai menulis surat cintanya Dini memasukan surat tersebut kedalam tasnya untuk siang nanti Dia berikan kepada Pak Rulli laki-laki pujaanya.