
Dini berada di perpustakaan dari awal jam istirahatnya, Dia memilih menyendiri untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Serta menghindar dari pertanyaan yang pastinya akan dilontarkan oleh para Sahabatnya tentang kejadian tadi pagi.
Dini memilih satu buku novel bertema fantasi untuk dibacanya, Dini melangkahkan kakinya menuju meja khusus untuk membaca yang disediakan di perpustakaan sekolahnya. Sepi itu yang tampak pada perpustakaan sekolahnya ini, memang jarang sekali ada anak yang mau menghabiskan waktunya di perpustakaan bisa dihitung dengan jari berapa anak yang mengunjungi perpustakaan setiap minggunya itu pun karena ada tugas yang diberikan oleh para guru atau sedang masa ujian karena murid-murid banyak yang menghapal.
Disinilah Dini ditemani keheningan, dan sendirian sedang membaca bukunya. Karena penjaga perpustakaan sedang tidak ada ditempat karena sedang beristirahat, begitulah sikap penjaga perpustakaan dia sedikit cuek bila bukan masa ujian karena jarangnya murid yang berada di perpustakaan.
Saat Dini sedang asyik membaca dirinya terkejut akan suara yang sangat keras seperti suara seseorang yang terjatuh.
Gubrak...
Dia pun menutup bukunya dan mulai mencari dimana sumber suara itu berasal. Tatapannya dia edarkan ke setiap penjuru perpustakaan, hingga dia melihat seorang laki-laki yang sedang kesakitan dan mengusap-usap kepalanya dengan erangan kesakitan dibawah lantai.
"Aduh... sial banget sih gue. Mau mimpi enak malah jatuh lagi kelantai pake nyungsep lagi ini kepala. Sial..." umpatnya masih dengan mengusap-usap kepalanya yang sakit. Dini segera menghampiri laki-laki yang sepertinya merupakan teman sekelasnya ini, namun untuk namanya sepertinya dia lupa.
"Kamu... gak apa-apa?" tanya Dini dengan berjongkok meneliti tubuh laki-laki yang berada didepannya ini yang sepertinya tidak ada memar atau luka serius pada tubuhnya. laki-laki yang ditanya oleh dini pun mendongak dan terkejut akan kehadiran dini yang ada didepannya. Dia segera berdiri dan menepuk-nepuk bajunya yang sedikit Kotor akibat terjatuh.
"Aku gak apa-apa kok, kamu ngapain disini?" laki-laki tersebut tersenyum secerah mungkin kearah Dini.
"Oh, aku lagi baca terus denger suara jatuh. Kukira ada maling ternyata kamu yang jatuhnya" jawab Dini, ekspresinya seperti biasa cuek.
"Ya udah kalau gitu aku mau balik lagi baca, sepertinya kamu juga gak ada yang cedera ataupun luka" ketika Dini akan membalikkan badannya tangannya ditahan oleh laki-laki yang berada didepannya ini.
"Tunggu, siku aku kayaknya lecet deh. Bisa tolong kamu bantu obati?" tanya laki-laki itu dengan menunjukkan sikunya yang memang sedikit lecet. Dini pun menganggukkan kepalanya, lalu menginterupsi laki-laki itu untuk mengikuti langkahnya mengambil kotak P3K.
"Ssseehhttt... sakit pelan-pelan dong" pinta laki-laki itu pada saat Dini membersihkan lukanya dengan menggunakan alkohol.
"Payah" hanya itu ucapan dari Dini yang membuat si laki-laki tersebut mengalihkan pandangannya dari lukanya kini kearah Dini.
"Kok payah sih?" tanyanya dengan kerutan pada dahinya.
__ADS_1
"Iya payah, kamukan laki-laki tapi luka segini aja udah bikin kamu meringis kesakitan" ucap Dini dengan pandangan masih fokus kepada luka si laki-laki.
"Yakan emang sakit, kalau gak sakit juga aku gak akan kesakitan" ucap si laki-laki dengan sedikit memajukan bibirnya.
"Selesai, luka kamu udah selesai diobati nya" Dini mulai membereskan kotak P3K yang dipakainya.
"Makasih ya Din" ucap laki-laki itu tulus yang membuat Dini mengalihkan pandangannya kearah laki-laki tersebut.
"Kenapa?" tanya laki-laki tersebut yang heran dengan pandangan yang diarahkan Dini.
"Kamu tau nama aku?" tanya Dini penasaran, bukannya menjawab si laki-laki itu malah tertawa.
"Kok ketawa sih bukannya dijawab" kini Dini mengerutkan keningnya bingung akan tingkah laki-laki didepannya ini.
"Kamu aneh, ya aku kenal kamulah" jawab laki-laki itu dengan meredakan tawanya.
"Aku gak ngerasa kenal sama kamu deh" perkataan dini ini sontak membuat si laki-laki didepannya menepuk jidat.
"Aku Arif yang dulu pernah main kerumah kamu bareng adik kamu" terang si laki-laki tersebut yang ternyata bernama Arif. Membuat Dini berpikir untuk mengingat siapa saja teman adiknya yang pernah main kerumahnya, namun nihil dia tetap tidak mengingat siapa laki-laki dihadapannya ini.
"Sorry aku lupa" ucap Dini sedikit meringis melihat ekspresi Arif yang tidak percaya akan ucapan Dini.
"Ya ampun masa kamu gak kenal aku, aku ini satu ekskul sama adik kamu lagi pula aku juga satu kelas sama kamu. Masa kamu sebagai absensi gak kenal sih sama aku" tuntutnya panjang lebar.
"Ya sorry, aku kan belum hapal semua murid yang sekarang satu kelas sama aku kecuali yang dulunya pernah satu kelas sama aku di kelas sebelas"
"Ya udah sekarang kan kamu tau sama aku, ingat ya nama aku Arif Budiman awas jangan sampai lupa" terang Arif yang membuat Dini tersadar akan nama itu.
"Jadi kamu yang namanya Arif Budiman, yang kalau aku lagi ngabsen dipanggil-panggil gak nyaut" delikan Dini berikan kearah Arif. Sedangkan Arif menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan bibirnya menyunggingkan senyum cengengesannya.
__ADS_1
"Sorry deh, habisnya aku sengaja pake banget kaya gitu"
"Kenapa?" tanya Dini dengan raut wajah bingungnya.
"Soalnya aku suka banget liat ekspresi kamu yang kesel apalagi bibirnya pake manyun, Gemes tau" pengakuan Arif ini entah kenapa membuat Dini mengingat Diky yang juga beberapa kali menyebutnya gemes.
Wajahnya tertunduk lesu akibat mengingat peristiwa hari ini diparkiran. Sadar akan perubahan ekspresi Dini, Arif pun merasa bahwa ucapannya tadi menyinggung Dini.
"Kamu tersinggung ya? Maaf ya" ucap Arif dengan wajah merasa bersalahnya.
"Eh, enggak kok enggak. Bukan gitu kok maksud aku, aku cuman lagi banyak pikiran aja" sangkal Dini dengan memberikan senyum tipisnya.
"Oh kirain kesinggung sama ucapan aku, Kalau boleh tau, emang ada masalah apaan?"
"Cuman masalah pribadi doang kok" jawab Dini singkat, dirinya memang tidak ingin ada yang tau masalah apa yang sedang dihadapinya.
Dini memang tipikal orang yang banyak memendam perasaan dibandingkan harus bercerita tentang perasaannya karena baginya percuma bercerita ke orang karena mereka belum tentu bisa memberikan dirinya solusi, atau malah lebih buruknya mereka yang menjadi tempat ceritanya itu malah menyebarkan masalahnya dan menggosipkannya sungguh itu adalah hal yang sangat tidak dirinya inginkan. Jadi, daripada semua itu terjadi lebih baik dipendam sendiri saja bukan.
Teng...Teng...Teng...
"Eh, itu bel masuk udah bunyi. Yuk ke kelas!" ajak Dini Kepada Arif setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Kamu duluan aja, nanti aku nyusul"
"Oh, ya udah. Aku duluan" Dini pun berdiri dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju keluar perpustakaan.
"Din..." panggil Arif ketika dirinya baru sampai didepan pintu perpustakaan, badannya dia balikkan untuk menghadap kearah Arif yang memanggilnya tadi.
"Ternyata kamu orangnya memang baik, rasa sukanya aku benar-benar gak salah" ucap Arif tulus dengan senyum manisnya yang membuat Dini bingung akan maksud dari ucapan Arif.
__ADS_1