
Setelah dirasa cukup puas sudah menikmati pemandangan bukit pada malam hari dan tangis Dini pun sudah reda, akhirnya Diky mengantarkan Dini pulang kerumahnya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dengan bibir keduanya yang tidak henti-hentinya tersenyum karena bahagia.
Diky bahagia karena akhirnya Dini mulai luluh untuk menerimanya dihidupnya terbukti dengan Dini yang memeluknya saat ini diatas motornya tanpa disuruh ataupun dipaksa sedangkan Dini bahagia karena akhirnya bebannya terasa lebih ringan setelah bercerita dan menangis dipelukan Diky.
"Yap, sudah sampai" ucap Diky ketika sudah sampai didepan gerbang rumah Dini. Dini pun mulai turun dari motor sport Diky.
"Makasih ya dik" ucap Dini tulus ketika sudah turun dari motornya Diky. Dini yang agak kesusahan ketika membuka helmnya membuat Diky berinisiatif untuk membantu membukanya.
"Sini aku bantu" ucap Diky yang langsung membantu membuka helmnya Dini, pada saat pengait pada helmnya terbuka sesaat pandangan keduanya terkunci.
Mereka saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat tanpa berkedip, entah mengapa ada perasaan aneh yang menjalar kehatinya Dini saat ini. Sedangkan Diky, dia benar-benar menikmati wajah Dini yang manis dimalam ini. Ditambah malam ini rembulan sungguh baik hati dengan memancarkan cahayanya yang begitu menawan membuat suasana semakin romantis saja antara Dini dan Diky. Hingga tepukan di bahu Dini membuat kesadaran mereka kembali.
"Kak, baru pulang?" tanya iman yang keluar dari arah gerbang rumahnya.
"Eh, i-iya" jawab Dini gugup dengan menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga.
"Siapa kak?" tanya iman seraya menunjuk Diky menggunakan dagunya.
"ini... temen sekelas kakak. Kenalin namanya Diky, Dik ini adik aku namanya Iman" Entah kenapa dirinya saat ini gugup, terpergok oleh adiknya sendiri sedang bersama laki-laki perasaannya seperti maling yang kepergok sama warga deg-degannya minta ampun.
Wajar saja sih ini kali pertama bagi Dini, jalan sama laki-laki apalagi sampai terpergok oleh adiknya sendiri.
"Diky" Diky mengulurkan tangannya kearah iman. Dia mengamati adiknya Dini yang merupakan adik kelasnya ini dengan raut wajah yang sedang berpikir.
"Kamu anak ekskul basket ya?" tanya Diky yang sudah mengurai jabatan tangannya dengan iman.
"Iya kak" jawab iman sekenanya.
"Oh, pantes kaya kenal" jawab Diky dengan senyuman yang aneh bagi Dini, berbeda dengan iman yang merespon senyum Diky dengan dengusan tanda tidak suka.
"Kakak anak ekskul futsal itu kan?" iman sedikit meninggikan dagunya saat bertanya, sedangkan Diky menganggukan kepalanya sebagai Jawaban.
Namun Dini yang peka melihat ada sesuatu yang tidak beres antara interaksi Diky dan iman tidak tahan dan akhirnya memutuskan untuk menengahi percakapan mereka.
"Kalian saling kenal?" tanya Dini yang sangat penasaran.
"Terakhir aku liat kak Diky ini lagi sama kelompok ekskul nya nyerang kelompok ekskul aku" jawab iman dengan pandangan tajamnya kearah Diky.
"Tunggu? yang waktu itu kamu pulang dengan wajah penuh lebam juga bibir sobek itu bukan?" tanya Dini memicingkan matanya sedang mengingat masa lalu.
"iya yang itu kak" iman menganggukkan kepalanya.
Dini menarik nafasnya berat, baru saja dia mengira Diky adalah teman yang baik untuk nya. Tapi kenyataan yang adiknya lontarkan menghempaskan semua pemikiran nya itu. Dini memandang Diky dengan raut kecewa, sungguh Dini sangat tidak suka dengan laki-laki yang selalu main kasar dan hanya mengandalkan ototnya dibandingkan otak.
__ADS_1
"Aku bisa jelaskan ke kamu apa yang terjadi sebenarnya" Diky yang menangkap raut wajah Dini yang berubah menjadi kecewa segera memberikan pembelaannya.
"Kayanya besok aja deh kak, sekarang udah malam" jawab iman dengan tegas lalu segera menggandeng tangan Dini untuk segera masuk kedalam rumah, meninggalkan Diky sendirian tanpa ingin repot melihat wajah Diky yang kini berubah kaku.
"Sial, baru juga aku bahagia dan mendapatkan celah untuk mendapatkan Dini Rintangan baru kembali muncul" umpatnya.
"Ini semua karena si Akbar, awas aja pokoknya besok Akbar harus jelasin ke Dini salah paham ini" monolognya dengan segera melajukan motornya menjauhi rumah Dini dengan perasaan kesal.
"Kak sebaiknya mulai besok jauh\-jauh deh dari cowok tadi!" ucap iman yang lebih tepatnya seperti perintah.
"Tapi kakak harus tau dulu alasan kalian sampai berantem waktu itu"
"Gak perlu, kakak gak perlu tau. Yang harus kakak tau itu cuman satu hal tentang dia. Dia.laki\-laki.buruk udah itu aja!" ucap iman menggebu
"Kakak pacaran sama dia?" tanya iman dengan nada yang sedikit meninggi.
"Enggak, dia cuman teman" jawab Dini tegas.
"Bohong, gak mungkin kakak terus belain dia kalau dia bukan pacar kakak" bentak iman dengan raut wajah marahnya.
"Kakak gak belain man, kakak cuman\-" ucapan Dini terpotong oleh kedatangan ibunya, yang keluar dari arah kamar orang tuanya yang berada dilantai satu.
"Ada apa ini? Mamah dengar ada teriakkan tadi?" Dini yang melihat ibunya hanya bisa memalingkan wajahnya. Dia masih marah akan kejadian tadi pagi yang ibunya lakukan.
__ADS_1
"Ini mah, tadi kakak diantar pacarnya yang anak ekskul futsal yang mukulin ekskul aku waktu itu. Aku larang jangan deket\-deket cowok gak jelas itu kakak malah belain terus tuh cowok" adu iman.
"Bukan pacar, temen" bela Dini.
"Sudah\-sudah, kalian ribut aja masalah kaya gitu juga. Iman sebaiknya jangan pakai emosi kalau ngomong secara baik\-baik kamu ini lama\-lama kayak bapakmu emosi Mulu kerjaannya. Dan kamu kak bisakan dengerin nasihat adiknya jangan ngebantah Mulu" Nasihat Yulia yang merupakan nama ibu Dini dan Iman.
"Kalau gak tau masalahnya apa sebaiknya gak usah ikut campur apalagi so nasihatin" ucap Dini ketus sambil berlalu meninggalkan adik dan ibunya yang masih berada diruang tamu.
"Hey kak, kak, DINI, DINI APRILIA" Teriak ibunya yang membuat langkah Dini terhenti ditangga ketiga rumahnya.
"Apa?" satu kata itu yang terucap dari mulutnya Dini.
"Jam berapa ini? Kenapa kamu baru pulang?" tanya ibunya Dini dengan nada suara yang mulai melembut. Sedangkan Dini tidak ada niatan dirinya untuk menjawab pertanyaan ibunya itu, dia hanya diam tanpa melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Mamah udah masak, jangan lupa makan ya" ucap ibunya dengan tutur kata selembut mungkin, karena dilubuk hatinya yang terdalam ibunya merasakan rasa bersalah pada Dini atas perilakunya tadi pagi.
"Gak usah so peduli" jawab Dini pada akhirnya dengan nada sedingin mungkin, dia mati\-matian menahan air matanya untuk menangis ketika mengatakan itu.
Jujur sebenarnya bukan itu yang ingin dia ucapkan namun karena rasa ego dan sakit hati masih menguasainya hingga pada akhirnya hanya kata itu yang bisa dia ucapkan kepada ibunya.
Langkahnya menuju kamar pun dia lanjutkan , sedangkan ibunya Yulia merutuki kejadian tadi pagi yang terjadi antara dirinya dan anak pertamanya itu. Semenjak pertengkaran antara dirinya dan suaminya sering terjadi entah kenapa emosinya selalu cepat naik dan mudah untuk melayangkan pukulan untuk anak\-anaknya.
Dirinya yang dulunya adalah seorang ibu yang lemah lembut dan perhatian berubah menjadi seorang ibu yang temperamental dan egois dimasa sekarang.
__ADS_1