TERBIT (Memory NNNED) Kisah Dini

TERBIT (Memory NNNED) Kisah Dini
Dua Belas


__ADS_3

Disaat aku harus memilih antara kepercayaan dan keluarga. Disaat inilah aku harus melupakan semua tentang kebersamaan kita.


~ Dini Aprillia ~


Dini memasuki kamarnya setelah menutup pintu dan menguncinya, disandarkannya punggungnya pada pintu kamarnya dengan mengeluarkan lelehan bening pada matanya.


Dengan perasaan yang campur aduk yang kini dia rasakan dia merutuki nasibnya yang selalu dirundung kesengsaraan, seharusnya malam ini hatinya sudah lega dan sedikit merasa tenang setelah apa yang dilaluinya dengan Diky.


Namun kenyataan pahit yang menantinya sudah menghancurkan semua kelegaan dan ketenangan hatinya.


Tangis dari pagi hingga malam ini tidak pernah pudar ataupun berhenti, entah kenapa dirinya begitu cengeng hari ini.


Nasibnya selalu tidak baik, baru saja dia mengecap kebahagiaan kini kebahagiaan itu harus pupus karena fakta tentang adiknya dan Diky.


Cukup lama Dini menangis matanya bahkan sudah sangat membengkak, hingga jam pun sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dirinya memutuskan untuk membersihkan diri, setelah menaruh tas sekolah, mancarge handphone nya, dia pun menanggalkan semua pakaiannya lalu memasuki kamar mandi yang berada dikamarnya.


Suasana hatinya kini sudah lebih tenang. Setelah selesai membersihkan tubuhnya Dini pun bergegas keluar dari kamar mandi lalu mengenakan piyama bergambar karakter katak berwarna hijau favoritnya yaitu Kerropi.



Dini pun duduk di pinggir tempat tidurnya dengan mengaktifkan handphone nya yang sedang dicarge. Banyak sekali notifikasi yang masuk kedalam handphone nya.


Dini hanya memperhatikan notifikasi itu masuk satu persatu tanpa berniat membukanya sebelum bunyi notifikasi itu berhenti.


BIP...BIP...BIP...


**Brother calling...


Kini suara panggilan yang berasal dari adiknya pada handphone nya yang terdengar. Dini segera menggeser tombol warna hijau yang ada pada handphone nya.


"Kak pesanku kenapa gak dibalas? Aku juga tadi ketuk-ketuk pintu kamar kakak, kakak gak buka kenapa?" iman memberundung Dini dengan pertanyaannya.


"Tadi handphone ku batreinya habis baru dicarge, terus tadi aku lagi mandi makannya gak buka pintu pas kamu ketuk-ketuk tadi" jawab Dini.


"Kenapa? mau bahas masalah yang tadi lagi?" tanya Dini dengan nada sedikit malas.

__ADS_1


"Iyalah kak kan belum beres, aku kekamar kakak aja ya. Masa kamar sebelahan gini teleponan sih"


"Jangan kesini kakak lagi males liat muka kamu, lewat telpon aja ngomong nya!" tegas Dini.


"Yaelah sayang pulsa kali" protes iman.


"Mau ngomong atau aku matiin nih telpon?" tanya Dini final.


"Iya,iya aku ngomong, Sensi amat sih. Pokoknya aku gak mau liat kakak bareng atau Deket lagi sama tuh cowok brengsek" nyolot iman.


"Diky, namanya Diky bukan cowok brengsek" potong Dini pada ucapan iman.


"iya terserah, namanya siapa aku gak peduli. yang jelas kakak gak boleh Deket lagi sama dia, TITIK!" ucap iman dengan menggebu.


"Man, Diky belum jelasin apa-apa sama kakak. Lagian belum tentu juga dia biang masalah dari perkelahian kalian bisa jadi dia cuman ikut-ikutan belain temennya kayak kamu belain Irfan" terang Dini pada adiknya iman yang terkenal keras kepala.


"Pokoknya aku gak mau liat kakak bareng dia lagi, apalagi sampai pacaran" kekeh iman.


"man kakak-" ucapan Dini terpotong oleh interupsi dari iman.


"udah gini aja kakak pilih kalau kakak Deket sama si Diky-Diky itu aku gak bakalan sekolah lagi mau jadi brandal aja kayak temen-temen SMP ku, tapi kalau kakak jauhin tuh anak aku pastikan aku gak akan ke warnet buat main game lagi, aku juga bakalan putusin Pirli, dan pastinya aku bakalan rajin sekolah" ucap iman dengan nada yang sangat serius.


Lama Dini berpikir, hatinya bergejolak bingung. Pikirannya kalut antara Diky dan adiknya, apa yang harus dia lakukan sekarang? Memilih jelas bukan keinginan Dini, tapi kini dirinya harus melakukan itu.


"Jadi gimana kak? pilih mana?" tanya iman lagi.


Tarikan dan hembusan nafas berat Dini lakukan untuk meyakinkan hatinya dalam memilih.


"Oke, kakak akan pilih kamu. Tapi janji besok kamu putusin Pirli dan kamu jangan pernah main game online di warnet lagi dan ingat sampai absensi kamu ada kata izin atau Alfa satu kali saja jangan salahkan kakak kalau kakak sampai pacaran sama Diky atau musuh kamu sekali pun!" jawab Dini final denga nada ketegasan.


"Oke, kakak liat aja besok Pirli hanya akan jadi mantan setelah kata pacar. Dan satu lagi mulai besok kakak berangkat dan pulang bareng aku, aku gak mau sampai kecolongan. Entar diam-diam dia deketin kakak lagi" Tuturnya posesif.


"Terserah" hanya itu jawaban yang Dini berikan, lalu memutuskan panggilan telponnya.


"Ih si kakak, main matiin aja. Dasar jutek, judes, cewek dingin. Bbbbeeeerrrrr..." monolog iman dengan gaya misuh-misuhnya kepada handphone yang berada ditangannya. Lalu dia pun memutuskan untuk tidur.

__ADS_1


Sementara Dini setelah memutuskan percakapannya dengan adiknya hanya bisa memandang handphone nya yang menampilkan pesan dari Diky tanpa berniat membuka ataupun membaca pesan itu.


 


Pagi ini Iman sedang memanaskan motornya sambil menunggu Dini yang sedang memakai sepatunya, diteras rumah.


"Kalian udah mau berangkat?" tanya Yulia yang muncul dari pintu depan rumahnya.


"Iya mah, kakak berangkat bareng aku mulai hari ini" jawab iman dengan senyuman manisnya.


"Aku berangkat" ucap Dini dingin tanpa melihat kearah ibunya.


"Mamah mau kesekolah Anjani hari ini" ucap Yulia yang membuat langkah Dini berhenti.


"Kamu sama iman mau titip sesuatu buat Anjan?" tanya Yulia kembali.


"Aku titip pesan aja mah bilangin ke Anjani jaga kesehatan jangan makan seblak Mulu" pesan iman dengan tawa jenakanya.


"Kalau kamu kak?" tanya Yulia yang masih belum mendapatkan Jawaban dari Dini.


Dini segera membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah surat yang sudah dua Minggu lalu dia tulis untuk adiknya Anjani yang sangat dia rindukan, tampilan surat itu seperti biasa beramplop ungu dengan gambar kerropi buatan tangannya sendiri.



Warna ungu adalah warna favoritnya dan tokoh kartun kerropi adalah tokoh kartun favoritnya, sangat berbeda sekali dari gadis yang lain. Ketika para gadis banyak yang menyukai tokoh Hello Kitty atau Doraemon Dini lebih menyukai kerropi dan ketika para gadis banyak yang menyukai warna merah muda atau merah dia lebih menyukai ungu.


Bahkan tak jarang adiknya iman dan Anjani dulu mencibir apa yang menjadi favoritnya tersebut.


Dini membalikkan badannya kearah ibunya Yulia, lalu menyerahkan suratnya tersebut dengan wajah yang senantiasa ditundukkan.


"Aku titip ini buat Anjan" Dini langsung membalikkan badannya setelah surat itu diterima oleh ibunya, tanpa Dini tau hati ibunya sakit melihat sikap anak pertamanya yang dingin ini.


"Kak..." panggil ibunya dengan nada rendah yang masih dapat didengar oleh Dini, yang seketika menghentikan Langkah Dini menuju motor iman.


"Maafin mamah ya?" ucap ibunya dengan nada tulus. Dini tidak menjawab ataupun membalikkan badannya dia hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu melanjutkan langkahnya menuju motor iman.

__ADS_1


 


 


__ADS_2