
"Din kamu tuh beneran suka sama Pak Rulli?" tanya Ninu yang sedang mengerjakan tugas kimia yang diberikan oleh Ibu Imas. Sekarang ini Dini dan keempat sahabatnya sedang mengerjakan tugas bersama dilantai depan kelas, biasalah kerja kelompok walaupun tugas ini sebenarnya tugas individu. Alasannya satu biar cepat selesai, kalian yang pernah dikelasnya cuman dikasih tugas sementara gurunya tidak ada pasti pernah merasakannya.
"Iya Nu aku suka sama Pak Rulli, kayaknya dia cocok kalau aku jadiin kandidat calon pendamping hidup" ucap Dini dengan rona merah di pipinya.
"Ih apaan sih Din, kok suka sama Pak Rulli sih?" protes Novi.
"Ya biarin dong Vi, kan gak dosa suka sama Pak Rulli" bela Dini.
"Ya ampun Din, Pak Rulli itu Guru kita lagian Dia tuh udah tua pantesnya jadi Bapak kita kali. Masa mau ikut-ikutan jejaknya Pak Erik sih nikahin muridnya" Novi menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir akan perasan Dini ini. Bisa gagal ini rencananya jodohin Dini sama Diky kalau Dini nya aja suka sama Pak Rulli.
"Eh beda dong Vi, kalau Pak Erik itu sama pasangannya beda usia 20 tahun. Nah kalau aku sama Pak Rulli itu beda usianya cuman 13 tahun jadi masih gak terlalu jauh" ucap Dini menggebu.
"Iya Vi, betul kata Dini. Beda segitu mah masih wajar" Fitri ikut membenarkan ucapan Dini.
"Iya wajar buat kamu, soalnya kamu sama Mas Ali mu itu juga bedanya segitu" Fitri memajukan bibirnya mendengar ucapan Novi tersebut.
"Udah-udah jangan pada ribut" Eva menengahi perbincangan para sahabatnya.
"Denger ya Din, aku aneh deh sama kamu kok bisa sih kamu suka sama Pak Rulli? Padahal tuh ya disekolah ini masih banyak cowok yang ganteng dan keren buat dijadiin list tambatan hati" nasihat Eva dengan pandangan kini tertuju kearah meja yang Diky duduki. Sementara Novi melirik kearah Eva dengan lirikan menilai setelah Eva mengucapkan nasihatnya kepada Dini.
"Aku ke Pak Rulli itu lebih dari suka Va, bisa dibilang aku jatuh cinta sama Dia. Jujur aja aku tipikal cewek yang susah jatuh cinta, tapi sekalinya jatuh cinta susah ngelupain" Dini mengucapkan pengakuannya, Sekarang ini Dini mulai terbuka kepada para sahabatnya.
"Kok kamu bisa jatuh cinta sih sama Pak Rulli" Novi mulai mengorek informasi, lumayankan bisa dijadikan rencananya nanti buat deketin Dini sama Diky.
"Dia itu punya karisma tersendiri yang bikin aku jatuh cinta sama dia, terus nih ya senyumnya itu manis banget, belum lagi penampilannya yang rapih, apalagi bulu halus di rahangnya dong ughhhh... bikin tangan aku gak tahan pengen ngelus hehe... Terus Dia itu calon imam yang baik buat aku karena gak pernah lupa sama yang namanya ibadah sholat. Tadi aja aku diimamin sama Dia sholat Dzuhur" jawab Dini panjang lebar tentang kriteria yang Pak Rulli miliki untuk jadi list calon dambaan hatinya.
"Bukan kamu aja yang diimamin ,aku juga kali Din" potong Ninu pada ucapan Dini.
"Iya,iya Nu. Intinya dari bayangan yang aku bayangkan tiap liat Pak Rulli itu Cerah banget. Kalau nanti aku udah nikah sama Pak Rulli jangankan sholat lima waktu, sholat sunahnya juga pasti gak akan kelewat Dia imamin. Terus adegan sweet yang pastinya terjadi tiap hari itu adalah Kalau udah selesai sholat terus nanti Dia tuh ngecup kening aku sambil mengucapkan kalimat sederhana tapi romantis. Berasa keluarga samawa gitu..." ucap Dini panjang lebar dengan pandangan seperti menerawang masa depan dengan bibir yang tak hentinya terus menyunggingkan senyuman.
'Pokoknya gak akan kaya keluarga yang dibikin sama orang tuaku' ucap Dini dalam hati.
"Iyuh... alay banget sih kamu. Emang dia mau gitu kalau kamu jadi jodohnya Dia?" tanya Eva.
"Ya aku gak tau, kan Pak Rulli gak tau sama perasaan aku. Pokoknya aku bakalan bikin Pak Rulli melihat kearah aku, aku bakalan kasih kode kedua, kalau enggak aku deketin dia duluan aja biar Dia tau kalau aku suka sama Dia. Terus gak lupa juga aku berdo'a supaya Allah menjodohkan aku sama Dia, Allahkan maha pembolak balik hati manusia" ucap Dini dengan gaya so agamisnya.
"Cieeee... mamah Dedeh dadakan" ledek Ninu dan Fitri sambil tertawa terbahak-bahak, membuat pandangan seluruh kelas tertuju pada mereka kini.
"Ih apaan sih mereka berisik banget" Delia mendelikkan matanya kearah Ninu dan Fitri.
"Biasa gengnya orang kampung mah gitu berisik kaya keresek" timpal Debi.
"Iya bener banget, so oke mereka" pernyataan Silvia diamini oleh Delia dan Debi.
"Hus, udah jangan berisik. Tuh lihat geng gongnya si Delia pada nyinyirin kita" peringat Novi.
"Ih apaan sih mereka, sewot aja" delik Fitri kearah gengnya Delia, Dini mengikuti arah pandang Fitri kearah gengnya Delia yang ternyata ada Arif yang duduk disebelah Delia.
__ADS_1
Arif tersenyum dengan kepala yang manggut sedikit kearah Dini yang dibalas senyuman tipis oleh Dini, yang kemudian memfokuskan kembali perhatiannya pada lembar tugasnya.
"Yank kamu senyum sama siapa sih?" tanya Delia yang melihat Arif tersenyum manis entah pada siapa.
"Enggak kok yank, aku gak senyum sama siapa-siapa kok" bohong Arif pada kekasihnya ini, mana mungkin dia jujur bisa berabe kalau sampai dirinya jujur.
Saat ini Dini sedang menjalankan piketnya dikelas karena hari ini adalah hari giliran dirinya untuk melakukan piket yang ternyata satu kelompok piket dengan Novi, Diky, Arif serta Delia juga para dayang\-dayangnya.
Sementara Ninu, Eva, dan Fitri menunggu sahabatnya yang sedang piket diteras kelas, sambil mengobrol dan berselfie ria.
"Jadi siapa nih yang nyapu sama ngepel?" tanya Dini.
"Sorry ya kita gak mau ngepel, kita nyapu aja yuk girls..." ajak Delia pada dayangnya untuk mengambil sapu.
"Ya udah kita yang ngepel Vi" ucap dini yang mendapat anggukan setuju dari Novi.
"Kita udah selesai nyapu ya jadi kita pulang duluan" ucap Delia dan segera pergi bersama para dayangnya.
"Cepet amat mereka nyapu" monolog Dini.
"Yaiyalah cepet gak pada bersih tuh nyapunya" tunjuk Novi pada sampah yang masih berserakan dilantai.
Dini hanya bisa membuang nafasnya secara kasar lalu mulai menyapu ulang kelasnya.
"Udahlah Din laporin aja kewali kelas tingkah mereka yang rese itu, masa piket pada gak bener sih" ucap Novi dengan nada jengkelnya.
__ADS_1
"Udahlah Vi gak usah jadi masalah ketimbang nyapu ulang ini, aku males kalau harus jelasin ini itu sama Pak Rulli" Novi hanya bisa pasrah akan jawaban Dini.
"Kok kalian yang nyapu? Bukannya Delia, Debi, sama Silvia ya yang nyapu?" tanya Diky yang sudah menaruh ember berisi air pel.
"Mereka udah pulang, nyapunya pada gak bener" adu Novi dengan nada jengkelnya.
"Ya udah yang pel biar aku aja" putus Diky yang langsung mengambil lap pel.
"Nanti aku bantu kalau udah selesai nyapu" usul Dini yang diangguki oleh Diky, sementara Novi tersenyum akan interaksi yang terjadi antara Dini dan Diky.
"Nih air pelnya" ucap Arif yang sudah menyimpan air pelnya.
"Rif kasih tau tuh pacar kamu, kalau nyapu itu yang bener. Kita kan jadi caoe sendiri" kesal Novi dengan memajukan bibirnya.
"Vi udah ah, inikan cuman nyapu jangan dibesar\-besarkan masalahnya" sela Dini yang sedang memerah air pada kain pelnya.
"Ya tetep aja kan Din kalau dibiarin terus keenakan mereka" ucap Novi yang masih kesal.
"Udah Rif gak apa\-apa kok ketimbang bersih\-bersih ini aku sih gak ada masalah"
Arif yang melihat Diky dan Dini yang sedang mengepel lantai berdua merasa tidak suka akan kejadian didepannya ini, dirinya langsung mengambil alih kain pel yang sedang Dini pakai dan langsung mengambil alih pekerjaan Dini.
"Biar aku aja yang ngepel Din, kamu tadikan udah nyapu" Dini pun membiarkan kain pelnya berpindah tangan kepada Arif. Dan mereka pun fokus kepada pekerjaan masing\-masing dengan keadaan hening.
__ADS_1