
Dini POV
Sesampainya disekolah kulihat lagi Diky sudah ada didepan gerbang sekolah dengan senyumannya seperti biasa, sudah satu Minggu ini Diky selalu menunggu ku seperti ini.
Dasar tidak ada menyerah nya laki-laki ini mendekati ku, bila laki-laki lain kalau sudah aku ketusin dan kutolak sekali akan langsung mengurungkan niatnya mendekati ku berbeda sekali dengan Diky ,setiap hari dia selalu saja berusaha mendekati ku.
"Pagi...?" sapanya padaku ketika aku melewati nya. Aku tidak menjawab sapaannya yang sudah bosan aku dengar setiap pagi, kakiku terus saja aku langkahkan untuk menuju kelas. Yang ku tau langkahku ini diikuti oleh Diky.
"Pasti kamu belum sarapan, nih sarapan dulu" tebaknya dengan mengeluarkan dua buah roti dan sebotol air mineral dalam tasnya lalu memberikannya padaku. Yang kuambil dengan malas tentunya.
Kalian mau tau alasan kenapa dia bisa tau kalau aku belum sarapan? dan kenapa aku mau mengambil pemberiannya ini? Kejadiannya sih seminggu lalu
Flash back on
Pagi itu aku pergi sekolah tidak sarapan karena malas makan dirumah yang pastinya hanya ada aku sendirian dimeja makan.
Setelah aku menaruh tas ku dikelas aku merasakan perih dibagian perutku yang sepertinya akibat maghku kambuh, jadilah hari itu aku menuju kantin yang terpaksa ditemani Fitri dan Ninu karena mereka memaksa mau ikut.
"Mang bubur ayamnya satu jangan pakai sambel" pesanku pada mang Asep penjual bubur ayam dan nasi kuning di kantin sekolah.
"Mang sama aku juga sama Ninu jadi pesennya tiga ya mang" Fitri yang berada dibelakang ku menyerobot memesan pada mang Ujang.
"Iya neng" mang Ujang langsung membuatkan pesanan kami, sedangkan kami memilih pergi menuju kursi dan meja untuk makan yang sudah disediakan di kantin. Tak lama kemudian pesanan kami akhirnya datang.
"Silahkan neng" mang Ujang menaruh pesanan kami satu persatu dengan tambahan teh tawar hangat sebagai pelengkap sarapan kami.
"Kamu jarang sarapan Din dirumah? kok sering banget keliatan sarapan di kantin sih? " tanya Fitri yang sedang mengaduk bubur ayamnya.
"Iya jarang, Emang kenapa?" jawabku yang diakhiri dengan pertanyaan.
"Yah enggak sih, lain kali tuh ajak aku kalau mau sarapan biar bisa nemenin kamu. Kan gak enak kalau makan sendirian" jawab Fitri dengan memasukkan satu sendok bubur kemulutnya.
"Eh lain kali ajak aku juga dong, soalnya aku juga jarang sarapan dirumah. Soalnya dirumah jarang ada orang juga buat bikinin aku sarapan" ucap Ninu.
"Hemmm... nanti aku ajak" ucapku final yang tidak mau berdebat dengan mereka.
~Dini POV End~
__ADS_1
Dari arah pintu masuk kantin terdengar bising suara siswa laki-laki yang sedang bercanda. Yang ternyata merupakan ekskul futsal, tanpa sengaja pandangan Diky terarah langsung kemeja yang diduduki oleh Dini dan teman-temannya.
"Dik pesan apa?" tanya teman Diky, Hamdan yang akan memesan makanan untuk sarapan mereka.
"Sorry Dan kayaknya gue mau sarapan bareng mereka aja deh" ucap Diky yang langsung meninggalkan teman-teman satu ekskulnya.
"Hai, lagi pada sarapan nih?" tanya Diky yang langsung duduk disebelah kiri Dini tanpa permisi.
"Eh Diky, iya nih lagi sarapan. Kita gak sempet sarapan dirumah nih dik" itu Fitri yang menjawab, sementara Dini dan Ninu fokus pada bubur mereka masing-masing.
"Mang buburnya satu ya" teriak Diky sambil mengangkat tangan kanannya pada mang Asep.
"Tumben banget kamu sarapan disini Din..." ucap Diky pada Dini yang malah dijawab oleh Fitri.
"Dini mah gitu Dik, dari kelas sebelas juga jarang sarapan dirumah, padahal nih ya Dia itu punya penyakit magh loh" yang diberikan respon delikan oleh Dini, sementara Diky manggut-manggut paham.
"Ih kamu mah kebiasaan banget Fit kalau ada yang nanya Dini pasti aja kamu yang jawab, yang ditanya siapa yang jawab siapa" cibir Ninu akan tingkah Fitri.
"Ih gak apa-apa dong, lagian aku kan wakilin Dini jawab pertanyaan mereka. Kan kasian kalau gak dijawab" bela Fitri pada dirinya sendiri.
"Tapikan-"
"Udah kalian debat Mulu mending makan dalam hening kaya Dini, iya gak?" tanya Diky kearah Dini dengan menaikkan sebelah alisnya yang dijawab dengan dengusan oleh Dini.
Flash back Off
Dini POV
Semenjak saat itu, dimana Diky mendengar ucapan Fitri tentang diriku yang jarang sarapan membuat Diky esoknya menodongkan sarapan padaku, hingga berlanjut kehari-hari berikutnya dan sialnya bila ku tolak dia akan selalu memaksaku sampai aku menerima pemberiannya itu. Yang diantaranya adalah roti atau masakan rumahan buatan ibunya yang dia berikan padaku.
"Makasih sarapannya..." cicitku padanya.
"sama-sama" Jawabannya dengan nada bahagia.
"Emmmm... Din, Hari ini kamu ikut aku OK!" ajaknya yang lebih terdengar seperti perintah, baru juga aku membuka mulutku untuk menolak ajakannya, dia sudah menutup mulutku dengan telunjuknya.
"Gak ada penolakan, kamu ikut aku hari ini. TITIK!" tegasnya padaku dengan mengerlingkan sebelah matanya. Sungguh tindakannya ini membuat jantungku tiba-tiba berdetak tak karuan. Dan entah kenapa sikapnya ini terlihat sungguh manis dimataku.
__ADS_1
'MANIS? ASTAGA apa pula ini pikiran ku' cepat kugelengkan kepalaku yang berpikiran bodoh akan sikap Diky ini.
"Kenapa? kok geleng-geleng kepala?" dengan raut bertanya dia meneliti tingkah ku.
"Eng-eng-enggak kok, aku gak apa-apa. Udah ah, aku mau kekelas dulu" Aku pun mendorong dada kanannya agar menyingkir dari hadapanku dengan menyembunyikan rona merah pada pipiku. Aneh banget tingkahku kenapa tiba-tiba berubah absurd ya didepannya.
Diky pov's
pagi ini seperti biasa aku menunggu kedatangan Dini didepan gerbang sekolah. aku benar-benar tidak peduli akan penolakan nya selama ini, aku akan selalu berjuang untuk mendapatkan perhatiannya.
kulihat dini keluar dari taksi online namun ada yang aneh, matanya sembab seperti habis menangis.
'Ada apa dengannya pagi ini ya? Haruskah ku tanyakan dia kenapa? Tidak-tidak nanti dia makin tidak mau melihat ku lagi, dia kan paling tidak suka orang yang suka ikut campur urusan nya' Pikirku dalam hati.
'Aku pun mulai berpikir daripada aku bertanya ini itu padanya, sebaiknya aku menghiburnya saja tapi gimana ya cara menghiburnya?' aku pun mulai berpikir keras.
'Ah, aku punya ide hari ini dia harus mau ikut dengan ku bagaimana pun caranya' putusku dengan senyum penuh rencana.
Pulang sekolah aku segera menarik dini dari kelas untuk mengikuti ku ke parkiran, raut jengkel itu yang dia tunjukkan padaku tapi sungguh aku tak peduli pokoknya hari ini dia harus bahagia.
kuserahkan helm untuk dipakainya, dia menerima dengan terpaksa sedangkan aku jangan ditanya senyumku sangat lebar melihat tingkah nya yang menggemaskan ini ingin rasanya kuusel-usel pipi cabinya itu tapi tentunya aku tidak berani, aku takut dia marah yang berimbas tidak jadinya kami pergi. Kami pun menaiki motorku yang seketika meninggalkan area sekolah.
"Pegangan..." teriakku padanya.
"Apa?" teriaknya padaku, aku pun menepikan motor ku terlebih dahulu agar kami leluasan untuk berbicara.
"kalau naik motor itu pegangan..." ucapku padanya dengan kepala yang tertoleh sedikit karena kami masih ada diatas motor.
"gak mau" jawabnya ketus.
kuhembuskan nafasku 'dasar keras kepala' lalu aku pun mulai melajukan kembali motorku namun kini dengan sedikit cepat, mungkin karena takut jatuh akhirnya dini pun memelukku yang tak kusangka pelukannya begitu erat.
"Awww..." pekikku karena ternyata dini mencubit perutku. kudengar kekehan tipisnya dibelakang ku.
__ADS_1
"makannya kalau bawa motor pelan-pelan jangan ngebut-ngebutan kaya orang ketinggalan kereta aja" katanya dengan sedikit candaan yang membuat bibirku tersenyum tanpa sadar, hanya seperti itu saja sikapnya padaku sudah membuat ku bahagia dasar diriku lemah.