TERBIT (Memory NNNED) Kisah Dini

TERBIT (Memory NNNED) Kisah Dini
Tujuh


__ADS_3

Bolehkah aku berharap untuk bisa bahagia seperti anak-anak lain? Tidak bisakah aku meminta hak Cinta dan kasih sayang kalian wahai orang tuaku? ~ Dini.Aprillia


Dini POV


pagi ini kujalani hariku seperti biasa penuh dengan kesepian dan kesendirian, aku sudah selesai bersiap untuk pergi ke sekolah. Kuturuni tangga rumahku dengan langkah malas dan gontai, kulihat Bi Reni sudah ada dirumah sedang membereskan rumah.


Kulirik meja makan yang sudah tersedia dengan berbagai masakan untuk sarapan yang sepertinya baru selesai dimasak karena asap dari makanan itu masih mengepul dan bau makanan itu masih sangat tercium.


Harusnya makanan itu membuat selera makanku hadir pagi ini karena makanan yang disiapkan bi Reni adalah masakan kesukaanku Sup Kentang dan ayam goreng, namun karena sadar hanya aku yang akan memakannya tanpa ditemani siapapun selera makan ku itu seperti lenyap tak muncul sama sekali.


Kuhampiri bi Reni yang sedang menyapu ruang tamu dengan muka lelah dan senduku. Bi Reni yang sadar akan kehadiran ku tersenyum dan menyapa ku ramah seperti biasa.


"Sudah mau berangkat neng?" tanyanya padaku yang memang sudah rapih dengan seragam dan atribut sekolah ku.


"iya Bi" jawabku singkat.


"Enggak sarapan dulu neng? bibi sudah masakin masakan kesukaan neng loh" terang Ni Reni padaku.


"Enggak ah bi, belum laper. Nanti aja dikantin sekolah" kulihat wajah bi reni murung mendengar jawaban ku. Kukernyitkan dahiku tanda bingung 'adakah yang salah akan jawabanku?' monolog ku dalam hati.


"Masakan bibi udah gak enak ya neng? Atau neng mau dimasakin yang lain sama bibi?" tanyanya padaku dengan wajah was-was dan khawatir mungkin beliau takut tidak dipekerjakan lagi oleh orang tuaku bila orang tuaku tau kalau aku tidak sarapan, orang tuaku cukup protektif untuk masalah makan terutama pola makanku karena aku punya riwayat magh kronis sehingga mereka selalu mewanti-wanti pada bi Reni supaya aku jangan sampai telat makan dan memilah apa yang harus aku konsumsi dan yang tidak boleh aku konsumsi.


'Kalau mereka peduli kenapa tidak mereka saja yang mengurusku, kenapa menyuruh orang lain?' Pikirku miris.

__ADS_1


Kuhampiri bi Reni yang sudah menggantikan peran ibu untuk aku dan adik-adikku, karena sosok ibu yang sebenarnya selalu sibuk urusannya sendiri. Bi Reni oleh aku dan adik-adikku sudah kami anggap sebagai pengganti ibu untuk kami, karena bi Reni sudah hampir 10 tahun menjadi asisten rumah tangga dirumahku ini walaupun tidak tidak tinggal disini karena setiap sore bi Reni selalu pulang untuk mengurus suaminya yang sakit stroke, tugas Bi Reni disini selain membereskan rumah juga merawat kami anak-anak yang terlantar Bukan tepatnya ditelantarkan tanpa kasih sayang dan cinta dari orang tua.


Beruntung kami yang hidup dengan kondisi seperti ini tidak menjadi anak nakal dan bengal seperti anak-anak lain yang menjadi korban broken home yang memilih jalan hitam dan kelam, kami masih cukup waras dengan tidak melakukan hal yang sama cuman hanya untuk mencari perhatian orang tua tidak perlu menjadi anak nakal sehingga merusak masa depan.


"Enggak usah bi, aku beneran belum laper kok. Lagian masakan bibi mana pernah gak enak, nanti pulang sekolah deh aku makan" jawabku sambil menarik tangan kanannya untuk ku cium tanda pamit untuk segera pergi ke sekolah.


~


Sesampainya disekolah kulihat Diky sudah ada di depan gerbang berdiri dengan posisi punggung bersandar dipintu masuk gerbang dengan bibir yang menyunggingkan senyuman dan tatapan fokus kearahku,  sepertinya dia sengaja menunggu ku pagi ini.


Kulangkahkan kakiku untuk melewati nya, tubuhku belum melewati seluruh gerbang sekolah namun tak disangka tiba-tiba dia mencekal lengan kiriku. Membuat seluruh penghuni sekolah yang berada disekitar kami memfokuskan pandangannya pada kami, jujur aku bingung sekali akan aksinya ini.


Aneh bagiku aksinya ini, Diky kemudian memposisikan tangannya untuk menggenggam tangan ku dan menuntun ku kearah kelas kami aku benar-benar terkejut hingga membuat ku speechless dengan aksinya ini sungguh otakku mendadak bleng dan mulutku mendadak rapat untuk mengeluarkan protesanku terhadap perlakuannya.


Diky mendadak berhenti setelah perlakuan ku padanya lalu membalikkan badannya menghadapku hingga membuat langkahku terhenti.


"Kamu baru sampai?" tanyanya padaku yang tak kujawab sama sekali 'pertanyaan bodoh, ya udah sampai lah makannya ada di sekolah juga'  batinku, ingin rasanya umpatan ini kulontarkan padanya.


"em_em... semalam kamu tak membalas pesanku kenapa?" alisku terangkat sebelah pertanda bingung dengan pertanyaan nya. menyadari akan kebingungan ku dia cepat-cepat menjelaskan pesan yang dia maksud.


"pesan yang bertanya apakah kamu sudah tidur atau belum?"


"oh, itu ternyata nomor kamu" jawabku cuek.

__ADS_1


"Iya itu nomor ku jangan lupa kamu save ya nomornya" ucapnya padaku dengan masih menampakkan senyumannya.


"Sorry kamu gak menyertakan nama dipesan kamu semalam, aku gak pernah balas pesan dari nomor baru yang gak kukenal makannya gak aku balas pesanmu itu" terangku padanya.


"oh gitu ya..." kulihat Diky tampak berpikir.


"Eh, tapi kamu tau nomor ku dari siapa?" tanyaku pada Diky yang baru kusadari bahwa selama ini aku tak pernah memberikannya nomor handphone ku.


"Maaf yah, aku kemarin sore minta ke Novi. Gak apa-apakan?" tanyanya hati-hati padaku.


kuhembuskan nafasku malas mendengar kejujurannya.


"Lain kali jangan minta keorang lain, minta saja Langsung padaku. Aku paling gak suka sama laki-laki yang enggak gentle" yang dijawab anggukan olehnya.


"Nanti pulang sekolah, boleh kuantar kamu pulang?" tanyanya padaku dengan tingkahnya yang menunjukkan kegugupan, rona merah dipipinya juga tak luput dari penglihatan ku.


"kamu mau antar aku pulang?" ulangku untuk pertanyaan nya, kulihat dia menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


kutarik nafasku dan kuhembuskan secara keras, sudah kuduga ada udang dibalik batu akan sikapnya ini. Sudah tidak aneh bagiku sikap laki-laki yang seperti ini, karena sudah sangat banyak laki-laki yang ingin mendekatiku memakai cara ini. Sungguh Kuno.


"Sorry, aku mau jalan dulu sebelum pulang ada sesuatu yang harus kubeli dulu" ucapku dingin padanya.


Sungguh aku tidak mau diantar lagi olehnya yang menunjukkan sikap tertarik lebih dari teman seperti anak laki-laki yang sering mendekati ku selama ini. Karena jujur aku sedang tidak ingin menjalin suatu hubungan dengan siapapun saat ini.

__ADS_1


Bukankah lebih baik bila aku menolak dari awal dan memberikan ketegasan akan keinginan aku yang tidak ingin menjalin suatu hubungan dengan siapapun?, seperti kata pepatah lebih baik mencegah dari pada mengobati bukan. Jadi sebelum mereka sakit hati akan penolakan pernyataan cinta mereka nanti olehku lebih baik pernyataan cinta itu tidak pernah terucap bukan.


__ADS_2