
"Aku akan selalu mengejar dan menemukanmu, seberapa keras pun kau menolak dan menghindariku. Karena aku ingin kamu menjadi pemilik rasa yang kini bersemayam dihatiku" ~ Diky Riawan.
Diky pov's
"Sorry, aku mau jalan dulu sebelum pulang ada sesuatu yang harus kubeli dulu" ucap Dini dingin sedingin es dengan wajah juteknya, Dia pun berlalu meninggalkan diriku yang terus menatap punggungnya.
Sungguh mendapatkan perhatiannya benar-benar memerlukan perjuangan, dia perempuan yang tidak mudah digapai. Benar-benar berbeda dari perempuan lain, biasanya kalau para perempuan lain aku dekati terlebih dahulu mereka langsung memberikan respon tertarik malah ada yang terang-terangan sengaja mendekati lebih dulu.
Walaupun aku bukan most wanted di sekolah tapi aku juga salah satu laki-laki yang paling diincar oleh siswi-siswi disekolah ini. Apalagi dengan riwayatku yang menjadi seorang kapten futsal membuat para perempuan secara terang-terangan mengagumiku.
Tapi aku tidak akan menyerah untuk mendekati Dini karena bagaimanapun caranya Dia akan menjadi kekasih ku, ya kekasih. Kekasih hatiku.
Aku akan terus, dan terus berusaha untuk mendapatkan perhatian juga hatinya tekadku dalam hati sudah bulat.
Dini pov's
Sudah seminggu sejak kejadian orang tuaku tidak pulang kerumah kini mereka sudah berada di rumah, namun suasana yang tadinya tenang mendadak seperti neraka kembali. Kulihat ayahku sudah berada di meja makan, sedangkan ibuku memasak dengan aura permusuhan yang sangat kentara sekali mereka perlihatkan.
Kutarik nafasku kasar dan kuhembuskan secara kasar pula pertanda aku lelah dengan semuanya yang ada didepan mataku. Kulangkahkan kakiku mendekati meja makan, baru saja bokongku duduk di kursi makan suara ayahku yang membentak ibuku dengan keras membuatku terkaget.
"MASAKAN APA INI? PEDAS SEKALI, APA KAU INGIN MEMBUNUHKU? HAH..." bentaknya dengan melemparkan piring yang berisi nasi goreng tersebut kelantai.
"Pedas? aku tidak memberikan cabai pada masakan itu" ibuku yang sedang memasak mematikan kompor dan membalikkan badannya lalu menghadap kearah ayahku dengan raut bingung.
__ADS_1
"TIDAK KAU BILANG, RASAKAN SAJA SENDIRI MASAKANMU WANITA SI\*L. APA KAU LUPA KALAU AKU DILARANG UNTUK MEMAKAN MAKANAN PEDAS HAH...? KAU INGIN LIVER DAN MAGHKU KAMBUH APA? DASAR KAU INI MEMANG TIDAK BECUS JADI ISTRI" bentak ayahku kembali yang kini membuat emosi ibuku terpancing karena ucapannya, sedangkan aku hanya bisa menonton pertengkaran mereka karena sudah biasa dengan masalah yang tersaji didepanku ini.
"HEY, KAU!" telunjuk ibuku mengarah kepada wajah ayahku.
"MEMANG KAU SUDAH JADI AYAH DAN SUAMI YANG BAIK BAGI ANAK\-ANAK MU DAN AKU, HAH? KAU SELALU SAJA MENCARI\-CARI MASALAH DENGANKU, KAU SELALU INGIN BERTENGKAR DENGANKU. KAU TAU SELAMA INI KERJAANMU SELAIN MARAH\-MARAH ADALAH SELINGKUH GAK SADAR YA KAU?" bentak ibuku dengan sorot mata kecewa dan sakit hatinya.
Ayahku yang sudah terbakar emosinya, mulai mengangkat tangannya untuk menampar ibuku. Namun seketika tangannya ku tahan dengan pandangan sangat kecewa. Aku benar\-benar kecewa saat ini pada mereka yang menjadi orang tuaku hingga akhirnya kekecewaan itu untuk pertama kalinya aku utarakan.
"Jangan pernah menampar ibuku lagi, sudah cukup" ucapku dengan pandangan begitu dingin kearah ayahku, lalu kuhempaskan tangannya.
"Sopan? Aku gak tau arti dari kata itu, karena aku tak pernah kalian ajarkan untuk bersikap sopan. Yang kalian ajarkan selama ini pada kami hanya bagaimana cara membalas dendam. Dan mencari uang" ucapku frustasi dengan pandangan nanar.
Plakkk... perih, satu rasa yang kini aku rasakan. Bukan sang ayah yang melakukannya melainkan sang ibu yang tadi Aku bela.
"Cukup DINI APRILLIA, harusnya kamu tidak bicara seperti itu kepada kami. Kamu tau kami berusaha keras untuk membiayai dan memenuhi kebutuhan kalian walaupun dengan kondisi seperti ini" telunjuk ibuku terarah kewajahku. Sungguh kini aku benar\-benar kecewa kepada orang tuaku, untuk pertama kalinya aku mendapatkan tamparan dan itu dilakukan oleh ibuku sendiri sungguh menyakitkan apa yang kualami ini.
__ADS_1
"Kalian berdua benar\-benar bukan contoh yang baik bagi kami, kalian berdua selalu merusak hari\-hari tenang kami tidak sadarkah kalian kami juga butuh kasih sayang selain uang?" ucapku dengan nada kecewa yang sangat kentara dan sorotan mata dingin kepada kedua orangtuaku, mungkin ini benar\-benar sangat tidak sopan tapi jujur aku sudah lelah dan kecewa.
Tidak bisakah mereka berbicara baik\-baik untuk masalah yang sepele dibandingkan harus bertengkar? sungguh memuakkan. Aku putuskan untuk meninggalkan kedua orang tuaku tanpa berpamitan dan langsung pergi menuju sekolah dengan tidak sarapan, aku sudah kenyang dengan kenyataan bahwa aku mempunyai keluarga yang bobrok ditambah dengan pertengkaran mereka tadi.
Hari ini aku menggunakan jasa taksi online untuk berangkat sekolah, tidak seperti adikku yang mengendarai motor nya untuk pergi sekolah aku hampir tidak pernah memakai scooter ku yang dibelikan dua tahun lalu sebagai hadiah ulang tahun dari orang tuaku.
Masih hangat diingatan kala itu mereka masih menjadi sepasang suami istri yang saling mencintai dan masih menjadi orang tua yang sangat mencintai kami anak\-anaknya, sangat layak dicap keluarga bahagia kala itu. Hingga saat badai itu memporak\-porandakan keluarga kami, Dimulailah awal kehancuran keluarga kami. Ayahku ketahuan olehku berselingkuh dengan bawahannya yang ketika itu menelpon ke ponsel milik ayahku yang langsung aku beritahukan perbuatannya kepada ibuku. Sungguh itu adalah hari terkelam dalam hidupku.
Pada hari itu pulalah aku lebih suka naik angkutan umum dibandingkan memakai kendaraan sendiri, selain agar pikiran tentang kekacauan keluarga ku teralihkan menurutku lebih menyenangkan menaiki angkutan umum karena aku jadi bisa mengetahui dan melihat berbagai karakter orang\-orang.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah aku diam\-diam menangis mengingat kejadian tadi ketika di meja makan sungguh hidupku miris sekali, kuhiraukan pikiran buruk supir taksi online yang melihat ku menangis dipagi hari lewat kaca depannya.
Aku benar\-benar butuh pelampiasan akan perasaan burukku dipagi hari ini, lelah sungguh aku lelah. Kapan mereka akan berhenti bersikap seperti ini. Sungguh aku ingin punya keluarga normal seperti anak\-anak lain bukan keluarga yang jauh dari kata harmonis seperti keluarga ku selama ini.
Inilah juga salah satu alasan ku tidak ingin memiliki perasaan cinta dan hubungan lebih dari sekedar teman dengan lelaki, bukan maksud aku ini ingin menjadi seorang yang menyimpang seperti menyukai sesama jenis namun kalau bisa sampai mati pun aku tak ingin menikah agar anak\-anak ku nanti tidak menderita seperti ku dan agar nanti aku dan suamiku tidak saling menyakiti satu sama lain.
__ADS_1
Bukankah tidak menutup kemungkinan masa depanku nanti tidak jauh berbeda dari kedua orang tuaku?. Bukan maksud men\-judge namun seperti kata pepatah buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, aku hanya tidak ingin egoku dan suamiku nantinya akan menyakiti anak\-anak kami.