TERBIT (Memory NNNED) Kisah Dini

TERBIT (Memory NNNED) Kisah Dini
Enam Belas


__ADS_3

"Hei ngelamun aja kamu" Ninu membuyarkan lamunan Dini yang sedang mengingat kembali kata-kata terakhir Arif sewaktu diperpustakaan tadi.


"Siapa juga yang ngelamun" sangkal Dini akan tuduhan Ninu.


"Alah kamu ini ngelak aja, Eh iya tuh kata si Deri kamu dipanggil sama pak Rulli katanya sih nanyain absen" ucap Ninu sambil dia mendudukkan dirinya di sebelah Dini.


Dini menepuk jidatnya, karena baru ingat tugasnya yang seorang absensi dikelas.


"Oh iya, ya ampun aku lupa belum setor laporan absen Minggu ini. Anter ya Nu ke kantornya?" pinta Dini yang mendapatkan anggukan setuju dari Ninu.


Mereka berdua pun bergegas untuk menuju ke ruangan kantor para staff pengajar yang jaraknya terhalang oleh dua kelas, setelah Dini mengambil laporan absensi kelas dari tasnya. Namun saat berjalan menuju keluar kelas Dini sempat melirik kearah Diky yang sedang bercengkrama dengan teman sebangkunya namun Diky sempat mengalihkan perhatiannya kearah Dini. Tatapan mereka sempat terkunci sesaat sebelum Dini segera memalingkan wajahnya kearah Ninu.


Dalam hatinya Dini sangat merutuki matanya yang jelalatan tak tau diri. Masih sempat-sempatnya dia memperhatikan laki-laki yang secara tidak sengaja sudah dia sakiti.


Sementara dipojok kelas Arif yang sedang mendengarkan celotehan pacarnya Delia diam-diam memperhatikan gerak-gerik Dini dari awal dirinya masuk kelas, Arif menyunggingkan senyum di bibirnya dengan tangan mengelus sikunya yang tadi diobati oleh Dini.



Sebelum memasuki kantor tempat guru\-guru berada Dini sempat berhenti didekat pintu yang bertuliskan Kantor & Ruang Guru Dia menarik nafasnya secara kasar pertanda menguatkan, karena entah mengapa perasaannya tiba\-tiba berdebar, jantungnya juga dag Dig dug tidak karuan.



'Ya ampun padahal cuman mau nemuin Pak Rulli tapi dag dig dug nya kok berasa mau dibagi hasil ujian ya?' monolognya dalam hati, sementara Ninu yang memperhatikan tingkah sahabatnya ini hanya bisa menggelengkan kepalanya.



"Ya ampun Din, bukan mau ketemu penghulu juga kali" ejek Ninu.



Dini hanya memajukkan bibirnya kesal mendengar ejekan Ninu terhadapnya. Mereka pun memasuki ruangan kantor para guru yang ternyata masih ramai karena para staff pengajar baru ada sebagian yang memasuki kelas masing\-masing untuk melaksanakan tugasnya dan ada pula yang baru datang entah sudah darimana.



Dini dan Ninu pun segera mencari meja Guru yang mereka tuju, Namun langkah Dini mulai melambat lalu berhenti kala pandangan didepannya terlihat jelas. Ternyata sang Guru yang dituju tidak sedang sendirian, Gurunya tersebut sedang bersama seorang Guru perempuan bernama Siska yang terkenal amat cantik disekolahnya sedang mengobrol dan tertawa dengan mata memancarkan binar bahagia.



Senyum yang tadinya tersungging dibibir mungil Dini pun seketika memudar dan hatinya seperti terbakar sesuatu karena kini Dini merasakan hawa panas yang berasal dalam hatinya. Ninu yang sudah selangkah didepan Dini pun memberhentikan langkahnya ketika sang sahabat tak kunjung menyusul langkahnya dia membalikkan badannya lalu melangkahkan kakinya kembali ketempat Dini berhenti , paham akan raut wajah sang sahabat dan arti tatapannya kearah sang Guru Ninu hanya bisa menggelengkan kepalanya kembali.



"Ya ampun ni kantor perasaan ber\-AC deh, tapi kok kaya panas sih gak ada adem\-ademnya gitu?" ejek Ninu dengan tawa cekikikannya.



"Sialan kamu Nu" umpat Dini dengan mendelikkan matanya yang kemudian meringis merasakan sakit pada bagian kepalanya. Dia mengusap bagian kepalanya tersebut lalu membalikkan badannya untuk mengetahui siapa pelaku dari kesakitan yang dirinya alami.



"Dilarang mengumpat ya neng disini!" ucap pelaku penjitakkan kepalanya yang ternyata Pak Erik, Pak Erik ini Guru yang terkenal killer diseantero sekolah.



"Eh bapak, maaf pak lidah saya kepeleset" ucap Dini dengan senyum cengengesannya.


__ADS_1


'Waduh gawat singa, bisa berabe nih kalau sampai diamuk sama nih perjaka tua bisa\-bisa nanti diajak ke KUA lagi" monolognya dalam hati yang bergidik ngeri, pasalnya ini Guru kata gosip yang beredar mau lamar kakak kelasnya yang baru lulus tahun kemarin.



Bayangin aja usia mereka terpautnya cukup jauh sekitar 20 tahun. Emang enggak salah sih, tapikan perbedaannya jauh amat berasa nikah sama om\-om kali ya walaupun Pak Erik ini bisa dibilang awet muda sih padahal umurnya udah mau kepala empat.



Sementara Ninu diam\-diam menertawakan tingkah laku Dini, jarang sekalikan liat Dini bersikap seperti ini. Jadi mumpung ada kesempatan segera saja dimanfaatkan, jarang\-jarang kan liat si dingin misuh\-misuh ditambah malu.



"Kalian mau kesiapa?" tanya Pak Erik yang kini sedang mengambil air minum di tempat dispenser yang ada disebelah Dini.



"Mau ke Pak Rulli pak, kalau begitu kami permisi ya pak" pamit Dini yang segera meninggalkan Pak Erik.



"Awas kamu ya Nu, bikin malu aja untung tuh singa enggak ngamuk" bisik Dini dengan nada memperingatkan.



"Alah kamu sih, Kalau baper liat sitkon juga kali masa diruang guru sih" bisik Ninu masih dengan senyum mengejeknya, yang kemudian membuat Dini memajukkan kembali bibirnya karena kesal akan ejekkan Ninu.



"Assalamualaikum pak" ucap Ninu yang membuat obrolan antara Pak Rulli dan Bu Siska berhenti, Pak Rulli dan Bu Siska pun mengalihkan perhatiannya kearah Ninu dan Dini.




"Oh iya jadi gimana absensi Minggu kemarin?" tanya Pak Rulli yang sudah duduk kembali dikursinya.



"Alhamdulillah pak absensi semua teman\-teman saya bagus Pak cuman ada dua orang yang tidak masuk karena sakit namanya Siswanto sama Ramdhani Pak. Ini pak buku absennya" terang Dini, kemudian menyerahkan buku absensi kelasnya.



"Oh iya baik, Bapak tanda tangan disini?" tanya Pak Rulli dengan menunjuk kearah tempat tanda tangan yang ada dalam buku absensi.



"Iya Pak disitu, oh iya sama buku jurnal kelas ini juga harus diisi dan ditandatangani Pak" Dini menyerahkan buku jurnal kelasnya kearah Pak Rulli yang segera menerima buku tersebut. Dini tersenyum manis sekali dengan pandangan tak lepas dari wajah Pak Rulli.



Dia benar\-benar mengagumi pahatan Tuhan yang ada didepannya ini, rahangnya yang ditumbuhi bulu halus sungguh membuat tangannya gatal ingin mengelus, senyum Pak Rulli yang manis membuat matanya betah untuk memandang, belum lagi penampilannya yang selalu rapih type idealnya sekali.



Ninu seperti biasa hanya menggelengkan kepalanya melihat tindak tanduk Dini yang bucin kepada pria didepannya ini yang merupakan wali kelas mereka dikelas.


__ADS_1


Dalam hatinya Dia miris melihat sahabatnya yang sudah jatuh hati kepada wali kelasnya ini, masalahnya apakah bisa Dini mendapatkan hati wali kelasnya ini? Atau nanti Dia malah patah hati lagi. Sungguh kasihan kalau benar nanti Dini patah hati, karena sekalinya jatuh cinta ke orang yang sulit untuk digapai lagi.



"Oh iya, Bapak sebenarnya mau bilang kekalian semua bahwa Bapak menjadi wali kelas kalian sepertinya hanya akan satu semester saja" ucap Pak Rulli setelah selesai menandatangani buku absensi dan buku jurnal kelasnya.



Ucapan Pak Rulli ini membuat Dini kaget, Dia yang tadinya terpesona akan sosok didepannya ini seketika memandang dengan tatapan kaget bukan main.



"Kok bisa sih Pak? Bapak memangnya mau pindah?" tanya Dini dengan nada sedikit meninggi.



"Pelan\-pelan aja neng nanyanya, orang Pak Rulli nya ada didepan kamu" kekeh Pak Firman yang kaget akan ucapan Dini ,yang kebetulan dirinya sedang melewati meja Pak Rulli.



Dini hanya meringis malu akan tingkahnya yang tidak sengaja bicara kencang karena kaget akan ucapan Pak Rulli.



"Iya insyaallah Bapak mau pindah ngajar sekolah SMP tapi disubang biar bisa dekat pulang kerumah" jawab Pak Rulli masih dengan senyumnya, membuat raut wajah Dini menjadi lesu.



"Yah Pak jangan pindah dong, kita nanti gimana dong?" tanya Dini lesu dengan wajah yang ditundukkan kebawah.



"Iya pak nanti yang jadi wali kelas siapa coba Pak?" kini Ninu pun ikut bertanya.



"Insyaallah Bapak akan digantikan sama Ibu Yuli, lagian ini juga masih rencana kalau Bapak udah ACC dari dinas insyaallah pindah kalau gak di ACC Bapak masih disini kok" perkataan Pak Rulli barusan memberikan sedikit angin segar untuk Dini.



"Astaghfirullah Bapak belum Dzuhur, udah gak ada lagi kan yang harus dicek?" tanya Pak Rulli setelah melihat jam tangan yang menempel ditangan kanannya.



"Udah gak ada pak" jawab Dini dengan menggelengkan kepalanya.



"Ya udah sekarang kalian kembali lagi kekelas, sekarang pelajaran siapa?" tanya Pak Rulli yang sedang membuka sepatunya.



"Pelajaran Bu Imas Pak, tapi Bu Imasnya gak masuk katanya sakit. Jadi cuman ngasih tugas ngisi LKS aja Pak" Jawab Ninu.



"Kalian udah pada sholat belum? Kalau belum, sholat dulu ya. Kalau mau bareng sholatnya sama Bapak kalian langsung ke mushola saja sekalian Bapak imamin"

__ADS_1



'Kalau diimaminnya berumah tangga gimana pak?' monolog Dini dalam hati dengan bibir tersenyum geli sendiri dengan pemikirannya.


__ADS_2