
Setelah selesai membersihkan kelas dan membereskan peralatan kebersihan, Novi, Eva, Ninu, dan Fitri pun pulang terlebih dahulu meninggalkan Dini yang menunggu iman menjemputnya didepan kelas.
"Yuk pulang, Din!" ajak Novi Kepada Dini yang sedang merapihkan baju dan memakai tas selempang nya.
"Duluan aja Vi, aku nunggu adikku"
"Oh ya udah kalau gitu, kita duluan ya"
Sementara Arif sudah dari sejak Lima menit yang lalu pergi untuk kumpul ekskulnya karena ada rapat dadakan, sedangkan Diky yang baru selesai menutup pintu kelas pun mengurungkan niatnya untuk pulang karena melihat Dini berdiam diri sendiri didepan kelasnya seperti sedang menunggu seseorang.
"Kamu belum pulang?" tanya Diky.
"Iya" hanya itu yang terucap dari bibir Dini.
"Nungguin siapa?"
"Adik aku" jawab Dini singkat yang mendapatkan anggukan dari Diky.
"Kok adik kamu belum datang?" tanyanya lagi.
"Gak tau" jawab Dini pelan.
"Kenapa enggak-"
"Bisa kamu jelaskan?" potong Dini pada ucapan Diky dengan membalikkan badannya kearah Diky dengan kedua tangan terlipat didada, hingga membuat kerutan dikeningnya Diky mendengar pertanyaan Dini yang menurutnya ambigu.
"Maksud aku yang waktu itu diparkiran, kejadian antara ekskul kamu sama adik aku" terang Dini yang membuat Diky paham akan maksud ucapannya tadi.
"Jadi sekarang kamu mau dengar penjelasan dari aku?" tanya Diky dengan raut wajah menilainya.
"Ya... aku harus tau yang sebenarnya agar enggak salah pahamkan?" terang Dini yang membuat Diky menganggukkan kepalanya lagi dan mulai bercerita.
"Jadi awalnya itu Akbar lagi sama aku jalan ke mall buat beli peralatan sekolah yang masih belum lengkap, terus kita gak sengaja ketemu di mall sama Irfan dan Arif yang kebetulan lagi sama Delia dan Khusnul" ucap Diky yang mulai duduk di pagar sekolah yang terbuat dari tembok yang tingginya hanya sepahanya maklum Diky kan tinggi, yang kemudian diikuti oleh Dini.
"Terus Akbar menghampiri Khusnul karena Khusnul kan pacarnya Akbar, lalu nanya kenapa Dia bisa sama Irfan padahal tadi ditelpon bilang ke Akbar lagi belajar dirumah" dengus Diky kesal karena mengingat tingkah Khusnul yang berbohong pada Akbar.
__ADS_1
"Si Khusnul gak langsung jawab, Dia kayak kaget gitu ketemu Akbar dimall. Sedangkan Irfan langsung nanya ke Akbar kenapa kepo nanya-nanya Khusnul lagi ngapain sama Dia di mall, Ya Akbar jawab jujur aja kalau si Khusnul itu ceweknya Dia. Tapi si Khusnul enggak ngaku, dia bilang kalau Akbar bohong dan disitulah awal mula terjadi pertengkaran Irfan dan Akbar. Awalnya cuman adu mulut doang tapi lama-kelamaan main urat dan otot, Irfan yang duluan ninju mukanya Akbar sih sambil maki-maki gak tau malu karena ngakuin pacar orang. Sedangkan Akbar yang gak terima berusaha nanya lagi ke Khusnul kenapa Dia bohong soal status mereka mengabaikan tinjuan dan makian Irfan, Eh Akbar malah dipukul lagi sama Irfan. Akbar yang gak terima balas mukul Irfan, ya lanjutannya pasti ketebak sama kamu" terang Diky panjang lebar.
"Saling pukul antara Irfan dan Akbar, terus dibantuin sama kamu dan Arif. Udah gitu karena so solidaritas belain teman kalian akhirnya bawa-bawa anggota ekskul hingga perkelahian itu terjadi? iya gitu?" terang Dini yang sebal akan perilaku laki-laki yang so jago dan so bersikap solidaritas cuman karena hal sepele.
"Padahalkan segala masalah itu harusnya diselesaikan secara baik-baik dan dengan kepala dingin, bukan dengan adu otot apalagi ditambah emosi yang menggebu-gebu. Harusnya kalian yang lebih tua itu memisahkan mereka bukannya ikut-ikutan, kenapa kalian gak obrolin secara baik-baik sih ketimbang harus pakai otot?" delikkan tidak suka Dini berikan kearah Diky.
"Sebenarnya kami udah gak mau ada urusan sama mereka apalagi bawa-bawa ekskul. Tapi karena ekskul basket kehasut sama omongan Irfan membuat mereka nyerang kita duluan apalagi Arif mengiyakan semua ucapan irfan, ya kita sih maksudnya cuman bela diri gak lebih pas mereka mukulin kita semua. Gak mungkinkan kita diem aja pas dipukulin" bela Diky, yang membuat Dini yang tadinya bersikap sinis menjadi paham mengapa mereka semua ikut-ikutan main otot.
"Emang Irfan bilang apa ke anak-anak ekskul basket?" tanya Dini dengan nada yang sudah melunak.
"Dia bilang kalau kami ngomongin hal jelek dan menghina ekskul basket karena mereka kalah dalam lomba antar sekolah tahun kemarin. Terus katanya, Dia gak sengaja denger semua omongan jelek kita" Diky mulai memperhatikan ekspresi wajah Dini yang menunjukkan bahwa dirinya mulai paham.
"Katanya juga Dia negur kita supaya jangan bicara yang enggak-enggak tentang ekskul basket tapi kami malah pukul Dia, ya denger semua aduan itukan bikin anak-anak ekskul basket makin marah" Dini tidak berkomentar akan setiap ucapan Diky, Dia hanya menyimak setiap ucapan Diky.
"Kebohongan mereka ini bikin kami semua kayak gini, padahal yah ekskul kami dulu itu kompak banget kita suka bagi lapangan dulu kalau salah satu lapangan ekskul kita lagi di renov, saling support kalau lagi latihan dan ada lomba. Tapi gara-gara kejadian ini kita jadi jauh, jadi saling melemparkan tatapan tidak suka dan terang-terangan saling hina" ungkap Diky dengan pandangan seperti sedang menerawang masa lalu.
"Kenapa Arif ikutan bohong kaya Irfan?" tanya Dini hati-hati, karena Dia penasaran akan sosok Arif yang sepertinya baik dan pendiam kenapa bisa ikutan berbohong.
"Ya mungkin karena pas kejadian di mall, kayaknya Dia marah atau tersinggung deh karena kena pukul Akbar" ucap Diky dengan kedikkan dikedua bahunya.
Sebelum menjawab terdengar dengusan kecil yang Diky lontarkan.
"Kita udah coba menjelaskan kejadian sebenarnya sama anak-anak ekskul basket, tapi yah kamu tau sendiri respon mereka sama kaya adik kamu. Gak percaya, katanya kita bohong" ucap Diky dengan pasrah.
"Tapi kok kamu sama Arif kayak biasa aja, maksud aku seperti baik-baik saja tidak ada masalah? Padahalkan kalian satu kelas"
"Emang kita harus gimana? Jambak-jambakan? atau Saling sindir?" tanya Diky dengan senyum gelinya.
"Ya enggak juga sih..., cuman asli kalian tuh kayak baik-baik aja tanpa masalah" Dini sedikit meringis akan ucapannya.
"Kita ini laki-laki Din, cara berantem kita beda dari para perempuan. Cukup dengan tidak saling tegur dan sapa udah cukup mempertegas hubungan kami yang sedang gak baik-baik aja"
Dini hanya menganggukkan kepalanya paham akan penjelasan Diky.
"Jadi kamu percayakan sama aku?" tanya Diky dengan raut wajah berharap.
__ADS_1
"Yah Sebenarnya aku gak peduli siapa yang salah dan siapa yang benar karena yang terpenting bagiku itu adikku baik-baik aja, gak bonyok kayak dulu" jawaban Dini ini benar-benar membuat hati Diky sedikit tertohok, jujur saja bukan jawaban ini yang ingin Diky dengar. Tapi mau bagaimana lagi Diky tidak bisa memaksa Dini untuk percaya padanya bukan?.
"Oh iya ajakan nonton aku waktu itu bagaimana? Apakah kamu masih mau nonton sama aku?"
"Sorry aku gak bisa sebelum kamu baikan sama adik aku, aku gak bisa pergi sama kamu atau dekat-dekat. Sebenarnya ini juga sudah melanggar aturannya adikku" ucap Dini santai dengan pandangan yang kini beralih pada ponselnya yang bergetar karena telpon yang masuk ke ponselnya. Dini segera menggeser tombol hijau pada ponselnya lalu menempelkan benda berwarna hitam tersebut ketelinganya.
Samar-samar Diky dapat mendengar percakapan Dini dengan sipenelepon yang merupakan iman adiknya.
"Halo, dimana?"
"Kak maaf ya aku gak bisa nganter pulang"
"Kenapa?" Dini mengerutkan keningnya.
"Latihan dadakan kak buat lomba soalnya"
"Oh ya udah" jawab Dini pasrah.
"Tapi kakak gak pulang sendiri, kak Arif mau nganterin katanya"
"Gak usah aku naik angkot aja" tolak Dini.
"Ih jangan, pokoknya sama kak Arif titik. kak Arif udah nunggu diparkiran sekarang, kakak kesana aja sekarang?" Tegas iman dengan nada posesifnya.
"Iya" jawab Dini singkat ada nada pasrah dan kesal pada kata terakhirnya itu.
PIP...
Dini mematikan sambungan telponnya dengan wajah ditekuk kesal.
"Kenapa?" tanya Diky penasaran akan ekspresi Dini saat ini.
"Enggak apa-apa kok, Oh iya bahas yang tadi lagi. Jadi kalau kamu mau nonton kita jadi, baikan dulu sama adik aku atau enggak minta ijin Dia. Ok Dik" Dini mengedipkan sebelah matanya dengan bibir menyinggungkan senyum. Lalu melangkah meninggalkan Diky dengan tatapan terpesona.
"Ya ampun itu beneran tadi dia ngedipin matanya sambil senyum? Berasa terbang nih aku liat Dia kaya gitu, boleh teriak bahagia gak sih?" monolog Diky pelan dengan nada dan tingkah lebaynya.
__ADS_1