
Hari ini Satria mengikuti kemana langkah Sintia. Berharap kali ini dia tidak mengalami kegagalan lagi. Saat itu Sintia dalam ketakutan keluar dari cafe milik nya ntah apa yang membuat nya begitu.
"Hallo"
"Apa hahh"
"Apa kamu mengagap mesin duit kamu trus mengancam saya!!!!"
"Stop saya akan memberikan kamu ,Tunggu saya akan kesana tunggu!!!"
Tut Tut
Berakhir lah telfonan nya Sintia di depan kafe nya sambil memegang Kunti mobil nya hendak pergi. Hal itu di perhatikan sejak lama oleh Satria.
Kini Satria juga menelfon Reza.
"Haloo bos Sintia kayak nya menemui seeorang dengan keadaan marah dan kesal",
"Yah ikutin terus kamu",
"Seperti nya hari ini kita akan menemukan titik terang dari peneroran kekeluarga Bos",
"Saya harap juga begitu"
"Dah yah bos , mobil sinti mau jalan nih"
Kini Satria terus mengikuti kemana jalan mobil yang di bawa oleh Sintia. Mobil yang menurut Satria sangat cepat.
"Aduh, nih wanita bawa mobil kayak mau nyari mati di tengah jalan raya gini bawa mobil dengan kecepatan tinggi. Tapi untuk kali ini aku tidak akan tinggal diam nona Sintia kamu telah main kan api kepada bos ku kau harus terima balasan nya", ujar Satria masih fokus mengikuti Sintia.
Satria hampir dibuat ngos-ngosan mengenai mobil karna mengikuti Sintia dari belakang.Karna Sintia membawa mobil dengan sesuka hati nya.
Tak berapa lama mobil Sintia berhenti di sebuah Bangunan tua dan Sepi.
Dia membawa sekopor Uang di tangan nya.
"Tak tak"
Bunyi langah kaki nya memasuki ruangan itu dengan wajah kesal , dan raut wajah marah serta rambut yang berantakan.
Satria pun langkah berhati-hati mengikuti kemana wanita itu pergi.
"Dasar ini wanita apaan tempat kayak gini berani,gelap, Seram, kotor ,kayak nya juga gak terpakai lagi", kata batin Satria menatap ruangan di sekitar nya sambil mengikuti Satria.
"Tak tak"
Langkah Sintia berjalan cepat menaiki anak tangga bangunan itu, Ntah kemana tujuan dari gadis ini.
" Tak tak tak" , langkah gadis itu makin cepat menaiki anak tangga menuju keatas bagunan tua itu.
"Bakkk",
__ADS_1
Sintia melemar kopor uang ke pada seseorang di atas gedung itu
"Deg"Jantung Satria tiba-tiba saja seakan berhenti berdetak saat melihat sintia.
Satria mulai menghidupkan aplikasi Video nya untuk merekam kejadian itu untuk menjadi bukti.
"Nih uang kamu"
"Makasih anak ku cantik hahaa"kata Peria tua itu sambil Mabuk.
"Aku bukan anak mu bukan , Aku hanya anak mu sewaktu kita di tugas kan bos buat membunuh Angga paham!!!saya harap setelah ini kamu tak meminta uang terus sama saya.Saya bisa bangkrut karna kamu paham!!"
"Jangan belagu kamu Sintia, Apa kah kamu lupa saya masuk penjara bertahun-tahun tapi saya gak mengajak kamu untuk masuk penjaga. Kenapa kamu tak tau terimakasih",
"Hmm bukan kah bagian kita sudah rata, tapi kamu bapak tua kerjaan kamu apa? habisin uang berian Bos besar,kamu buat berjudi mabuk-mabukan apa tuh salah saya!!!!!!"..
"Bukkk"
Tubuh Sintia di dorong Kedinding dengan menahan Sintia dengan sekuat tenaga oleh bapak tua itu
"Ahhkkk, lepasin saya!!!"
"Apa lepasin gak akan kamu berani menghina saya",
"Aakkh, Sakit bapak tua",
"Hah bukan kah kamu tahu kalo saya ini biasa menghabisi nyawa orang jadi kamu jangan buat saya habis kesabaran paham!!!"
"Lepas Pak",
"Ahh, Gak akan",
Tangan orang tua itu kuat menekan tubuh Sintia di dinding membuat Sintia makin kesakitan.
Orang tua itu bernama Pak Rudi bapak tua berumur kisaran 40 Tahun dengan tubuh kekar serta wajah agak brawokan.
"Oke pak Rudi, saya akan usahakan",
"Haha gitu dong, kalo gitu kamu gak akan sakit anak cantik",kata pak Rudi melepaskan Sintia dan mengelus-elus badan Sintia yang di sakiti nya tadi.
"Gak usah gak perlu",Jawab Sintia dengan marah atas perilakuan ayah pura-Pura nya itu.
"Yaudah aku pergi dulu",ucap Sintia lagi
"Yah sana pergi haha" kata pak Rudi memeluk kopor uang itu dan sambil menyium nya.
"Lebih baik aku main judi lagi", kata pak Rudi meninggal kan tempat itu dan mulai meninggalkan gedung itu.
Satria pun keluar dari sembunyian nya karna menurut nya cukup aman.
"Akhir nya kejahatan mu kebongkar juga Sintia . Sepandai apa pun kamu menyembunyikannya kan bangkai itu akan tercium juga. Akan ku berikan bukti ini untuk bos Reza",kata Satria.
__ADS_1
"Siapa kah yang mereka sebut bos besar, Aku harus mencari tahu nya. Aku gak boleh gegabah aku harus mencari bukti sebanyak-banyak nya. Sampai aku tahu sampai ke akar-akarnya"Ucap dari Satia lagi.
"Aku harus cepat meninggal kan tempat ini dan lekas memberikan video ini ke pada bos",Satria pun mulai melangkah meninggalkan tempat itu.
Dengan cepat Sintia menaiki motor nya yang tersembunyi dan membawa nya jauh dan meninggalkan tempat yang menurut Satria sangat menyeramkan kan.
karna Satria memang tubuh kekar ,Tinggi, jago beladiri tapi sangat penakut pada sejenis hantu. Karna Satria lagi kecil pernah jatuh kegot pas melihat hantu.
berapa lama perjalanan Satria kini motor satria berhenti di Sebuah perusahaan besar yah yang tak lain perusahaan milik Keluarga Reza..
"tok tok" ,Satria mengetuk ruangan Eza.
"Masuk aja",
kata Reza dari dalam.
"Maap bos gangu",kata Satria
"Dah lah Satria kamu gak usah basa basi, Kaya orang Jarang ketemu aja kita",
"Hehe maap bos",
"Gimana penyelidikan kamu hari ini",
"nih bos",
kata Satria memberikan Video di hp nya kepada Reza.
Dengan muka serius Eza melihat nya , muka yang memerah dan tatapan tajam ke Hp itu.
"pukkkk"
pukulan keras keatas meja kerja nya. mungkin saja kalo meja itu kalo tidak kuat akan patah tapi karna kuat tidak bereaksi apa pun..
"Bos sabar itu tangan bos Sakit lho"
"Dah jangan Khawatir kan saya, kita harus segera melaporkan kan mereka ke kantor polisi",
"Tunggu dulu bos ini belum waktu nya kita harus menyelidiki ini sampai tuntas"
"Apa? Saya gak mau tunggu lama lagi sat",
"Maap bos,"Satria sambil menunduk kan kepala nya.
"Saya ingin membuat mereka tanggung jawab atas kematian ABG Angga",
"Maap bos ini belum waktu nya , Saya rasa mereka hanya suruhan dari seeorang",
"Maksud kamu apa?"
"Mereka bilang dalam Video itu,kalo mereka telah di beri bayaran yang sama dari bos besar. jadi saya sangat yakin ada seeorang yang menyuruh mereka untuk membunuh Bang Angga",.
__ADS_1
"Jadi menurut mu kita harus menyelidiki nya",
"Yah bos"