
Elisa menurut dengan ajakan sekertaris itu, ingin rasanya Elisa membantah tapi takutnya bakal percuma. sebelum meninggalkan ruangan Elisa mengambil berkas lamarannya dan mau segera pergi.tapi tiba-tiba ada seorang wanita paru baya masuk ke ruangan menghentikan Elisa.
wanita paru baya itu ternyata ibu Amelia, ia lalu menghampiri Elisa dan mengambil berkas yang ada ditangannya. sambil tersenyum wanita itu bilang?
"Elisa Kirana putri, kamu diterima di perusahaan ini" sambil liat-liat kertas lamaran Elisa.
Elisa kaget mendengarnya, apa yang ia dengar tadi benar atau apa kupingnya salah mendengar nya. Elisa lalu menegaskan lagi pertanyaan.
"maaf, ibu ini siapa yah? tadi aku sudah ditolak. Sekarang ibu menerima aku, maaf Bu aku jadi bingung gini? sahut Elisa galau.
ibu Amelia melihat kearah Adrean dari tadi tertunduk tak bicara apa-apa. mungkin dia tak ingin berdebat dengan ibunya karna lagi-lagi masalah soal karyawan.
"aku adalah pemilik perusahaan ini dan pimpinan yang menolakmu itu anakku" Jawab ibu Amelia.
Elisa kaget mendengarnya kenapa mereka bisa beda pendapat seperti ini, apa Elisa akan bisa bekerja apalagi dia diterimah Karna satu pihak.
"maaf bu tapi aku di tolak, jadi lebih baik aku cari kerjaan lain saja" bilang Elisa.
ibu Amelia pun tahu apa yang dirasakan Elisa, mungkin ia gak enak sama Adrean yang sudah menolaknya.
__ADS_1
"Adrean kamu merima Elisa Kirana putri kerja disini kan?" pinta ibu Amelia memandang Adrean yang daritadi tertunduk.
"iya aku menerima dia kerja di sini" dengan nada yang terpaksa Adrean bicara.
"kamu sudah mendengar nya kan, jadi mulai besok kamu sudah boleh kerja disini. dan Maya perlihatkan dimana ruangannya, jangan lupa juga beritahu resepsionis lamaran desainer sudah ditutup" penjelasan ibu Amelia panjang lebar.
"tapi bu.." Elisa masih ragu dengan apa yang ia dengar.
"sudah kamu cepet pergi dengan Maya, mumpung anakku belum berubah pikiran" Bu Amelia menegaskan sekali lagi.
"iya bu kalau gituh aku permisi dulu, sebelumnya aku terimakasih bu sudah menerima ku disini, makasih juga pak sudah menerima ku disini" pamit Elisa.
Elisa lalu meninggalkan ruangan CEO itu dan pergi dengan Maya sekertaris Adrean menuju ruangan dimana besok akan menempatinya untuk kerja. Bu Amelia juga ikut pergi meninggalkan adrean yang nampak kesel, dalam hati ibu Amelia hanya tersenyum gemas melihat anaknya seperti itu.
sekarang Adrean dalam ruangan sendirian, ia nampak begitu marah dan kesal. Andrean pun meluapkan amarahnya dengan menjatuhkan berkas-berkasnya dengan kasar.
waktu itu Irfan masuk ke dalam ruangan Adrean dan melihatnya, ia juga tahu kenapa Adrean begitu kesal. Irfan lalu mengambil berkas-berkas itu.
"ini berkas penting buat meeting nanti sore drean, jangan di buang-buang lah" bilang Irfan pelan.
__ADS_1
Adrean hanya diam tak bicara apa-apa lalu pergi begitu saja meninggalkan Irfan sendirian di ruangnya.
*****
Elisa kagum melihat ruang yang akan ditempatinya, tempatnya nyaman dan lumayan luas. setelah mengantarkan Elisa, Maya pamit keruangan nya. di samping ruangan Elisa ada ruangan asisten desainer gak nyangka dia ketemu wanita tadi waktu ketoilet.
"kamu tadi yang tabrak aku kan?" tanya Elisa.
"kamu sudah diterima disini!" teriak wanita itu tak percaya.
" iya " jawab Elisa singkat.
"wah hebat, kita 1 rekan loe mohon kerja samanya, ngomong-ngomong namamu siapa buk?" tanya wanita itu sambil tersenyum.
"aku Elisa, jangan panggil buk lah, kamu sendiri siapa?" tanya balik Elisa.
"aku Sasa safitri, panggil Sasa saja buk, salam kenal ya? aku asisten kamu disini gak sopan panggil nama dikantor" sasa pun menyodorkan tangannya ke arah elisa.
tak lama kemudian Elisa pun menyalaminya dengan senang hati, apalagi dia mulai sekarang punya temen baru. walau sekedar asisten pribadinya.
__ADS_1